{"id":10620,"date":"2020-04-01T04:51:15","date_gmt":"2020-04-01T04:51:15","guid":{"rendered":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/?p=10620"},"modified":"2020-05-09T08:30:56","modified_gmt":"2020-05-09T08:30:56","slug":"berbahasa-arab-dan-kearab-araban-bukan-keharusan-dalam-berislam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/2020\/04\/01\/berbahasa-arab-dan-kearab-araban-bukan-keharusan-dalam-berislam\/","title":{"rendered":"Berbahasa Arab dan Kearab-araban bukan Keharusan dalam Berislam"},"content":{"rendered":"\n<p>Langkah pertama yang harus kita lakukan adalah memperhatikan poin \nberikut, bahwa tidak ada urgensitas bahwa wahyu Ilahi itu harus \nditurunkan dengan bahasa yang paling sempurna, sebagaimana kita juga \nbisa menyaksikan sebagian dari kitab-kitab langit telah diturunkan \ndengan bahasa selain Arab.<br>Dari sisi lain, menganalisa secara jeluk \nstruktur sebuah bahasa dan mengkomparasikannya dengan bahasa-bahasa yang\n lain, selain harus berada di bawah keahlian para cendekiawan ilmu-ilmu \nIslam, juga harus dianalisa dari perspektif para ahli linguistik. Secara\n sepintas dalam kitab-kitab dan dunia maya, kita bisa menyaksikan dengan\n baik adanya perbedaan-perbedaan teori di kalangan para ahli lingusitik \nberkaitan dengan masalah ini.<br>Sebagian menganggap kebergantungan \nmakna bahasa Arab dengan perubahan-perubahan kalimatnya merupakan sebuah\n hal yang baik, sebagian yang lain menganggap bahwa peng-i\u2019rab-an \n(pemberian tanda baca) yang ada dalam bahasa ini telah menempatkannya \nsebagai sebuah bahasa yang sulit.<br>Namun bagaimanapun, bahasa Arab \nmemiliki karakteristik-karakteristik yang menarik dalam menyampaikan \nmakna dan konteks sastra, oleh karena itu banyak kalangan penyair Arab \ndan Persia yang memanfaatkan bahasa yang tidak bisa diingkari kelayakan \ndan kapabilitasnya ini.<br>Dalam Al-Quran pun, pada banyak kasus yang \nmengisyarahkan pada ke-Arab-an al-Quran, menurut penjelasan para \ncendekiawan linguistik Arab[1], yang dimaksud dengan ke-Arab-an al-Quran\n di sini adalah kefasihan dan interpretasinya yang jelas: \u201c(Ialah) \nAl-Qur\u2019an dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) \nsupaya mereka bertakwa.\u201d[2]<br>Sementara itu, dalam kaitannya dengan \nditurunnya Al-Quran dalam bahasa Arab, hal ini berkaitan dengan kondisi \nnegeri tempat diturunannya wahyu ini dan karakteristik-karakteristik \nyang dimiliki oleh penduduknya. Karena demikianlah sunatullah, \nsebagaimana Dia berfirman, \u201cDan jika Kami jadikan Al-Qur\u2019an itu suatu \nbacaan dalam selain bahasa Arab, tentulah mereka mengatakan, \u201cMengapa \njelas ayat-ayatnya? Apakah (patut Al-Qur\u2019an) dalam bahasa asing, sedang \n(rasul adalah orang) Arab?\u201d Katakanlah, \u201cAl-Qur\u2019an itu adalah petunjuk \ndan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan pada telinga orang-orang \nyang tidak beriman terdapat sumbatan, sedang Al-Qur\u2019an itu suatu \nkegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) orang-orang yang \ndipanggil dari tempat yang jauh.\u201d[3]<br>Dari perspektif riwayat pun \ntidak pernah ada anggapan bahwa bercakap dengan bahasa Arab dianggap \nsebagai sebuah kemuliaan, bahkan memperlihatkan kesombongan karena \nke-Arab-an dianggap sebagai sebuah hal yang tercela[4], dan dijelaskan \nbahwa \u201cSesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah\n ialah orang yang paling bertakwa\u201d.[5]<br>Jikapun sebagian dari \nperspektif hadis, bahasa Arab dianggap sebagai sebuah bahasa yang lebih \nbaik dari bahasa-bahasa lainnya, akan tetapi secara lahiriah hal ini \ndikarenakan bahasa ini merupakan bahasa yang dipergunakan oleh para \npenghuni surga. Kendati tidak ada pemahaman yang detail mengenai riwayat\n ini, akan tetapi tidak bisa dikatakan bahwa bahasa Arab sebagai sebuah \nbahasa dengan struktur yang lebih baik.[6] <\/p>\n\n\n\n<p>[1]. Raghib Ishfahani, Mufradat Alf\u00e2zh Al-Qur\u00e2n, hlm. 557, \nDarulqalam, Beirut, cetakan pertama; Mushtafawi, Hasan, At-Tahq\u00eeq f\u00ee \nKalimati al-Qur\u00e2n al-Kar\u00eem, jil. 8, hlm. 74, Dar al-Kutub al-\u2018Alamiyah, \nMarkaz Nasyr Atsar Alamah Mushtafawi, Beirut \u2013 Kairo \u2013 London, cet. \nKetiga.<br>[2]. (Qs. Al-Zumar [39]: 28)<br>[3]. (Qs. Fushilat [41]: 44)<br>[4].\n Kulaini, Muhammad bin Ya\u2019qub, Al-K\u00e2f\u00ee, diedit oleh Ghaffari dan \nAkhundi, jil. 8, hlm. 246, Darul Kutub Al-Islamiyah, Teheran, 1407 H.<br>[5]. (Qs. Al-Hujurat [49]: 13).<br>[6].\n Hanya dalam satu riwayat marfu\u2019 dalam kitab tertentu yang telah \nmenukilkan dari Rasulullah Saw yang mengisyarahkan terhadap keungulan \nbahasa yang dipergunakan oleh Rasul, tentunya, tampaknya yang dimaksud \ndi sini adalah dialek Quraish. Bagaimanapun dari riwayat ini tidak bisa \ndiambil kesimpulan yang pasti seperti ini. Mufid, Muhammad bin Muhammad,\n Ikhtish\u00e2h, diedit oleh Ghaffari wa Muharrami, hlm. 187, Al-Mawatir \nal-\u2018Alimi Lialfiyah Al-Syaikh Al-Mufid, Qom, 1413 HQ.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Langkah pertama yang harus kita lakukan adalah memperhatikan poin berikut, bahwa tidak ada urgensitas bahwa wahyu Ilahi itu<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":10713,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[6],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10620"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10620"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10620\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":10622,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10620\/revisions\/10622"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media\/10713"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10620"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10620"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10620"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}