{"id":11519,"date":"2020-09-07T09:42:08","date_gmt":"2020-09-07T09:42:08","guid":{"rendered":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/?p=11519"},"modified":"2020-09-07T09:42:09","modified_gmt":"2020-09-07T09:42:09","slug":"peristiwa-mubahalah-bukti-keagungan-ahlul-bait-di-sisi-allah-swt","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/2020\/09\/07\/peristiwa-mubahalah-bukti-keagungan-ahlul-bait-di-sisi-allah-swt\/","title":{"rendered":"Peristiwa Mubahalah: Bukti Keagungan Ahlul Bait di sisi Allah SWT"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>ICC Jakarta &#8211; <\/strong>SAAT ini kita memperingati hari Mubahalah, hari ketika Allah Swt membuktikan keagungan Ahlulbait. Peristiwa mubahalah adalah sebuah peristiwa yang Allah Swt mengenalkan kepada kita akan kemaksuman Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib, kesucian Fathimah Zahra, dan kebesaran al-Hasan dan al-Husain.\u00a0 <\/p>\n\n\n\n<p>Tanggal 24 Zulhijah tahun 10 Hijriah atau menurut sebagian\nriwayat tahun 9 Hijriah, Rasulullah saw kedatangan sekelompok orang Nasrani dari Najran. Mereka mengajak diskusi dan berdialog tentang kebenaran agama\nketika mereka tidak lagi menerima apa yang disampaikan\noleh Nabi\nsaw. Beliau saw mengajak mereka untuk melakukan mubahalah, saling mendoakan yang berdusta akan dikutuk oleh\nAllah Swt. Pada kaitan ini Allah Swt menurunkan ayat suci-Nya yang ayat suci itu dikenal dalam istilah dengan\nsebutan ayat Mubahalah.<\/p>\n\n\n\n<p>Mubahalah berarti saling melaknat. Dalam tradisi Arab, ketika dua pihak berbicara mengenai kebenaran\nkemudian tidak menemukan titik temu diantara keduanya, pembicaraan mereka membentur jalan yang buntu, maka untuk\nmenyelesaikan permasalahan ini mereka akan meminta, memohon kepada Allah Swt dan berdoa kepada Allah Swt untuk menghukum siapa yang berdusta di antara\nkeduanya. Ini\nmerupakan salah satu tradisi yang terjadi di Arab pada saat itu, dan sesuai dengan pengalaman, orang yang berdusta\nakan mendapat celaka dan dihukum oleh Allah Swt.<\/p>\n\n\n\n<p>Tahun 10 H merupakan\ntahun ketika bangsa Arab menyaksikan Rasulullah saw\ntelah berhasil memenangkan banyak medan peperangan,\nkemenangan demi kemenangan diraih oleh Rasulullah saw\ndan kaum muslimin. Bahkan Kota Makkah yang merupakan pusat perlawanan terhadap Rasulullah\nsaw\nberhasil ditundukkan oleh Rasulullah saw. Benteng Khaibar, yang dikenal dengan kokohnya, juga\nberhasil dikuasai.\nDemikianlah, berbagai macam keberhasilan diraih oleh Rasulullah saw\ndan para sahabatnya. Melihat kenyataan seperti itu, banyak sekali delegasi\ndari suku-suku\ndan kabilah-kabilah\nArab dari berbagai daerah berdatangan kepada Rasulullah saw\nmenyatakan bergabung dengan Rasulullah saw. Termasuk di antaranya ada sekelompok orang dari Najran.<\/p>\n\n\n\n<p>Najran adalah satu kota yang berada di barat daya yang\nsekarang negara Arab Saudi dan berdekatan dan berbatasan dengan Yaman. Sekelompok orang dari Najran datang ke Rasulullah saw, &nbsp;termasuk di antaranya kelompok\nyang beragama Kristen, dan diterima oleh Rasulullah saw\ndi kompleks Masjid Nabawi. Tentunya Rasulullah saw\nmenerima mereka bukan di tempat beliau melaksanakan\nsalat, tetapi di\nberanda atau di pekarangan masjid karena tidak diperbolehkan orang kafir masuk\nmemasuki Masjid\nNabawi, di tempat salat beliau.<\/p>\n\n\n\n<p>Ketika mereka berada di Masjid Nabawi, tiba bagi mereka untuk melaksanakan salat dan ibadah\nmereka. Manakala waktu untuk beribadah tiba, mereka membunyikan lonceng yang\nmereka bawa. Kemudian\nmereka melaksanakan ibadah mereka di Masjid Nabawi. Para sahabat yang menyaksikan itu memprotes\ndan bertanya kepada Rasulullah saw,\n&nbsp;\u201cYa Rasulullah saw, apakah mereka diperbolehkan untuk melaksanakan ritual\nkeagamaan mereka di tempatmu, di masjidmu seperti ini?\u201d Rasulullah saw lalu menjawab, \u201cBiarkan mereka melaksanakan ibadah\nmereka.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Setelah ibadah mereka selesai, mereka mendekati\nRasulullah saw dan\nbertanya, \u201cSeruan apa yang Anda bawa untuk kami?\u201d Rasulullah saw menjawab, \u201cSeruan untuk mengakui bahwasanya tidak ada tuhan\nkecuali Allah,\ndan bahwa aku adalah utusan Allah, dan bahwa Isa adalah hamba Allah.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Kemudian Rasulullah saw\nmengatakan bahwa Isa, yang merupakan hamba Allah,\nadalah manusia biasa, dia makan-minum dan berbicara layaknya manusia. Saat itulah kemudian orang-orang Nasrani Najran bertanya\nkepada Rasulullah saw, \u201cKalau Isa dikatakan sebagai manusia biasa, katakan kepada kami siapa ayah Isa?\u201d Saat itulah Nabi saw kemudian diperintahkan oleh Allah Swt untuk menanyakan kepada mereka perihal Nabi Adam. Nabi saw pun bertanya, \u201cWahai orang-orang Nashara Najran, kenalkah kalian dengan Adam? Bukankah Adam adalah\nmanusia yang dia makan minum dan berbicara layaknya manusia.\u201d Mereka menjawab, \u201cIya benar, Adam adalah manusia seperti itu.\u201d Lalu Nabi saw bertanya lagi kepada mereka, \u201cJika demikian, katakan kepadaku, siapa ayahnya Adam?\u201d Mereka tidak bisa menjawab dan bungkam seribu bahasa.<\/p>\n\n\n\n<p>Ketika itu Allah Swt menurunkan ayat suci-Nya kepada sang Nabi saw, ayat 59 hingga 61 surah Al-Imran. <\/p>\n\n\n\n<p><em>Sesungguhnya\nmisal (penciptaan) Isa di sisi All<\/em><em>a<\/em><em>h, adalah\nseperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah\nberfirman kepadanya: &#8220;Jadilah&#8221; (seorang manusia), maka jadilah dia<\/em><em> <\/em>(kun\nfayakun)<em>.<\/em><em> (Apa\nyang telah Kami ceritakan itu), itulah yang benar, yang datang dari Tuhanmu,\nkarena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu. <\/em>(3: 59-60)<\/p>\n\n\n\n<p>Kemudian Allah\nmelanjutkan firman-Nya, <em>Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah\ndatang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): &#8220;Marilah\nkita memanggil anak-anak kami dan anak-anak ka<\/em><em>lian<\/em><em>, istri-istri\nkami dan istri-istri ka<\/em><em>lian<\/em><em>, diri kami dan diri ka<\/em><em>lian<\/em><em>; kemudian\nmarilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya la<\/em><em>k<\/em><em>nat Allah\nditimpakan kepada orang-orang yang dusta.<\/em><em>\u201d<\/em><em><\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Dalam pertemuan dengan orang-orang Nasrani Najran, Rasulullah saw menjelaskan maksud dari misi risalah yang beliau bawa. Nabi mengajak mereka untuk bersyahadat tidak ada tuhan\nselain Allah dan bersaksi bahwa beliau adalah utusan Allah, dan bersaksi bahwasanya Isa adalah putra Maryam, manusia biasa bukan anak Tuhan sebagaimana yang mereka katakan. Isa bukanlah satu dari tiga oknum Tuhan yang mereka\nyakini.\nSemua itu disampaikan oleh Rasulullah saw supaya mereka beriman kepada risalah kenabian\nMuhammad saw.<\/p>\n\n\n\n<p>Akan tetapi, mereka enggan menerima ajakan dan seruan Nabi saw. Maka&nbsp; itu turun\nayat 61 surah al-Imran\nyaitu ayat Mubahalah. Dengan ayat itu, Rasulullah saw kemudian mengajak mereka untuk bermubahalah. Nabi &nbsp;saw mengatakan\nkepada mereka, \u201cMari kita bermubahalah. Jika aku berkata jujur, laknat Allah\nakan jatuh kepada kalian, dan jika aku berdusta, laknat Allah akan menimpaku.\u201d Mereka menjawab, \u201cEngkau telah bersikap adil, wahai\nMuhammad.\u201d\nAkhirnya disepakati esok harinya, yaitu tanggal 24 Zulhijah, kedua belah pihak\u2014dari pihak Rasulullah saw\ndan pihak Nasrani Najran\u2014akan melakukan mubahalah.<\/p>\n\n\n\n<p>Setelah kesepakatan dicapai, kaum\nNasrani Najran kembali ke tempat mereka tinggal bersama di Kota Madinah. Malam harinya orang yang paling dituakan di antara\nmereka angkat bicara dan mengatakan, \u201cJika Muhammad saw\nbesok datang bersama dengan sahabat-sahabatnya, dengan orang-orang yang mengikutinya dan beriman\nkepadanya,\nkita akan bermubahalah dengannya. Namun jika dia datang bersama dengan Ahlulbaitnya, dengan keluarga terdekatnya, maka kita tidak akan\nbermubahalah dengannya. Sebab dia pasti berada dalam kebenaran, dia yakin dengan kebenaran yang dia bawa karena orang\ntidak akan mengorbankan keluarganya. Kalau dia datang dengan keluarga yang paling dicintai,\nketahuilah bahwa dia memang sedang berbicara jujur.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Esok paginya Rasulullah saw\ndatang ke tempat yang disepakati. Beliau menggendong al-Husain\ndan menggandeng al-Hasan. Bersama dengan beliau adalah putri beliau, Fathimah az-Zahra\ndan saudara beliau serta menantu beliau, Ali bin Abi Thalib. Melihat orang-orang itu kepala kaum Nasrani kemudian bertanya kepada orang-orang Kota\nMadinah yang ikut menyaksikan peristiwa itu, \u201cSiapa\nmereka yang dibawa oleh Nabi kalian?\u201d Dijawab, \u201cPerempuan itu adalah putrinya Fathimah, sementara yang digendong dan yang digandeng adalah\ncucu beliau, [masing-masing] yaitu Al-Husain dan Al-Hasan, laki-laki yang\nbersama dengan beliau adalah menantu sekaligus saudara dan putra pamannya, Ali\nbin Abi Thalib.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Kepala kaum Nasrani Najran langsung mengatakan, \u201cWahai orang-orang Nashara, aku melihat wajah-wajah yang jika mereka berdoa\nkepada Allah memohon supaya Allah mencabut gunung, maka akan diijabah oleh Allah.\nJangan bermubahalah dengan mereka. Jika kalian tetap bersikeras bermubahalah\ndengan mereka, kalian akan binasa.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Kemudian mereka meminta maaf kepada Rasulullah saw\ndan menyatakan urung untuk melakukan mubahalah dengan Nabi saw. Beliau pun kemudian menerima damai dengan mereka\ndengan catatan mereka akan memberikan jizyah kepada Nabi saw dan akan membantu Nabi saw dalam beberapa keperluan\nbeliau.Tidak terjadi mubahalah, tapi kemudian mereka kemudian pulang ke Najran\nwalaupun mereka tidak memeluk agama Islam. Mereka harus membayar jizyah kepada Rasulullah saw.\n<\/p>\n\n\n\n<p>Kisah ini dengan berbagai macam detailnya disebutkan di\ndalam kitab-kitab sejarah, tafsir, dan hadis yang ditulis oleh para ulama kita. Sebagian menyebutkannya secara ringkas dan sebagian\ndengan detailnya. Yang\ntadi saya sebutkan hanya sekelumit dari ringkasan kisah yang berhubungan dengan\nmubahalah ini.<\/p>\n\n\n\n<h2>Pelajaran Penting<\/h2>\n\n\n\n<p>Dari kisah ini ada beberapa pelajaran penting yang\nbisa kita petik. Salah\nsatunya adalah kisah ini mengungkapkan dan membuktikan keagungan dan kebesaran\nserta kedudukan tinggi Ahlulbait disisi AllahSwt. Bagaimana Allah Swt merekam peristiwa itu dan Rasulullah saw\nmembawa mereka pada sebuah peristiwa yang sedemikian genting\ndalam permasalahan akidah, padahal di saat itu di sekeliling Nabi ada&nbsp; para\nsahabat besar,\nada orang-orang lain, tetapi justru Nabi saw yang\nmelibatkan orang-orang yang paling beliau kasihi. Di sini juga Allah Swt merekam peristiwa itu dengan menyebutkan\nmasing-masing dengan gelarnya yang pertama adalah menyebut Sayidah Fathimah az-Zahra dengan sebutan <strong><em>nis\u00e2\u2019an\u00e2<\/em><\/strong><strong>,<\/strong> wanita-wanita kita atau wanita-wanita kami, yang mengisyaratkan bahwasanya Fathimah bisa mewakili\nseluruh wanita yang mengikuti syariat Rasulullah saw.\n<\/p>\n\n\n\n<p>Kemudian Allah Swt menyebut al-Hasan dan al-Husain dengan sebutan <em>abn\u00e2\u2019an\u00e2, <\/em>yaitu anak-anak kami, yang menunjukkan bahwasanya mereka berdua mewakili\nseluruh anak-anak yang ada di dalam Islam, atau juga menunjukkan hubungan Rasulullah dengan al-Hasan dan al-Husain, walaupun secara garis keturunan adalah hubungan\nseorang kakek dengan cucunya tetapi di sini dinisbatkan langsung seakan-akan\nmereka adalah anak dari beliau. Kemudian yang paling agung dari semuanya ketika\nRasulullah, ketika Allah Swt, menyebut Ali bin Abi Thalib sebagai jiwa Nabi dengan\nsebutan <em>wa anfusan\u00e2<\/em>. Sebutan <em>anfusan\u00e2<\/em>&nbsp;\nmengisyaratkan bahwasanya Ali adalah jiwa Rasulullah saw. Mengapa layak untuk disebut sebagai jiwa Rasulullah saw? Karena dari semenjak lahir sampai Rasulullah saw wafat, Ali selalu bersama dengan Rasulullah saw. <\/p>\n\n\n\n<p>Yang memberikan pendidikan kepada Ali adalah Rasulullah saw,\nkata-kata yang keluar dari lisan Ali banyak yang\ndiilhami oleh Rasulullah saw, dia menafsirkan apa yang dikatakan oleh Rasulullah saw.\nPerilaku Imam Ali adalah perilaku yang meniru\nRasulullah saw sebagai\ngurunya,\ndan segala hal yang berada pada Rasulullah saw diwujudkan dalam bentuk apa yang dikatakan, dilakukan,\ndan ditunjukkan oleh Ali bin Abi Thalib.<\/p>\n\n\n\n<p>Pelajaran penting kedua yang bisa kita ambil adalah\nmetode berdialog yang ditunjukkan oleh Nabi saw. Dengan sebuah dialog yang tenang yang mengedepankan\nkepala dingin (akal sehat), Rasulullah saw membuka pintu untuk melakukan dialog, walaupun berhubungan dengan masalah yang paling\nsensitif,\nmasalah ketuhanan,\nmasalah tauhid juga masalah kenabian yang beliau bawa. Apalagi kalau seandainya kita berhadapan dalam\nkehidupan kita dengan pembahasan-pembahasan yang hanya berkutat soal masalah\npolitik,\nekonomi,\nsosial dan yang lainnya yang mana hal itu tidak lebih penting dari masalah\ntauhid dan masalah kenabian, dialog harus dikedepankan dan dialog yang\ndikedepankan adalah dialog yang penuh dengan suasana keakraban, bukan untuk\nmenjatuhkan pihak lain atau dengan emosi yang meledak-ledak.<\/p>\n\n\n\n<p>Islam tidak pernah mengajarkan kita untuk menyerang\npihak lain hanya berbeda keyakinan dan kepercayaan. Islam mengajarkan kepada\nkita untuk berdialog bahkan dengan orang-orang yang secara akidah berbeda\ndengan kita. Dalam\nmetode Alquran juga disebutkan, kita disuruh mengajak orang-orang di luar kita untuk\nberdialog,\nbukan kemudian kita serang mereka. Ini adalah metode yang dibawa oleh Islam. Islam tidak\nmengajarkan kepada kita untuk membenci dan menyerang pihak-pihak lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Pelajaran ketiga adalah Rasulullah saw\nsedemikian memiliki hati yang lapang, memperlakukan orang-orang Nashara (Nasrani) dengan ramah. Bahkan ketika mereka akan\nmelaksanakan ibadah, mereka dipersilakan untuk melaksanakan ibadah mereka di\ndalam (pekarangan) Masjid Nabawi, bahkan dengan cara membunyikan lonceng-lonceng. Mereka dipersilakan oleh Nabi saw dan beliau tidak melarangnya. Nabi saw tidak pernah memerintahkan para sahabatnya untuk\nmengeluarkan mereka secara paksa dari masjid atau menyerang mereka. Inilah akhlak yang diperlihatkan oleh Nabi saw. Inilah ajaran yang dibawa oleh beliau.[]\n<\/p>\n\n\n\n<p>Naskah ini merupakan khotbah Jumat\nDirektur ICC Dr. Abdulmajid Hakimelahi,\nJumat&nbsp; 14 Agustus 2020, di ICC, Jakarta.\nDitranskrip dan disunting seperlunya oleh redaksi Buletin Nur al-Huda.<\/p>\n\n\n\n<p>Staf Redaksi: Rudhy Suharto, Arif Mulyadi, Hafidh Alkaff <\/p>\n\n\n\n<p>Pemesanan Buletin Hubungi: Islamic\nCultural Centre (ICC) <\/p>\n\n\n\n<p>Jl. Buncit Raya Kav.35 Pejaten\nBarat, Jakarta Selatan 12510. Telepon: (021)7996767<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ICC Jakarta &#8211; SAAT ini kita memperingati hari Mubahalah, hari ketika Allah Swt membuktikan keagungan Ahlulbait. Peristiwa mubahalah<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":11335,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[18],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11519"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11519"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11519\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":11520,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11519\/revisions\/11520"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media\/11335"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11519"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11519"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11519"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}