{"id":11521,"date":"2020-09-08T08:44:49","date_gmt":"2020-09-08T08:44:49","guid":{"rendered":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/?p=11521"},"modified":"2020-09-08T08:44:50","modified_gmt":"2020-09-08T08:44:50","slug":"in-memoriam-prof-malik-fadjar-intelektual-di-dapur-diskursus-para-aktivis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/2020\/09\/08\/in-memoriam-prof-malik-fadjar-intelektual-di-dapur-diskursus-para-aktivis\/","title":{"rendered":"IN MEMORIAM PROF. MALIK FADJAR; INTELEKTUAL DI DAPUR  DISKURSUS PARA AKTIVIS"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>ICC Jakarta &#8211;<\/strong> Sosok  yang lama mengabdikan dirinya di dunia pendidikan ini telah tiada. Setelah  mengalah atas penyakit yang dideritanya beberapa bulan terakhir, beliau kini  telah kembali kepada Tuhannya. Kiprahnyalah yang akan tetap hidup dan dikenang  terutama di dinding-dinding kampus dan ruang belajar yang disesaki gagasan  tentang ilmu dan kemanusiaan. <\/p>\n\n\n\n<p>Abdul\n Malik Fadjar, lahir di Yogyakarta, 22 Februari 1939 dan menghabiskan waktu\n mudanya di dalam iklim keilmuan ini pernah aktif di Himpunan Mahasiswa Islam\n (HMI). Intelektual muslim sangat dikenal oleh kalangan aktivis organisasi\n kemahasiswaan, dalam dan luar kampus. Sosok yang ketika menjabat Rektor\n Universiotas Muhammadiyah Malang (UMM) ini tak segan menyambangi kegiatan\n diskusi mahasiswa yang digelar di emperan kampus. <\/p>\n\n\n\n<p>Lama\n di kampus. Itulah yang lebih banyak dikenang dari hidup seorang Malik Fadjar.\n Selain dirinya adalah jebolan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel,\n ia juga aktif di Muhammadiyah. Karirnya sebagai dosen melejit ketika menekuni\n karirnya itu di lembaga pendidikan tinggi Muhammadiyah. Seiring pesatnya\n perkembangan UMM sebagai salah satu perguruan tinggi ternama di Jawa bahkan di\n Indonesia, karir beliau melejit. Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyetujui ketika\n beliau diajukan menjabat rektor. <\/p>\n\n\n\n<p>Tujuh\n belas tahun menekuni pekerjaan sebagai rektor, Malik Fadjar dilirik oleh\n istana. Presiden BJ. Habibie melantiknya sebagai Menteri Agama (1998-1999)\n dalam Kabinet Reformasi Pembangunan. Suatu ketika, ia kembali ada di tengah\n kerumunan mahasiswa saat memberi ceramah di Universitas Muhammadiyah Jakarta,\n dirinya banyak bercerita tentang diskursus pemikiran keislaman di kampus.\n \u201cMahasiswa tidak boleh sepi dari diskursus pemikiran social, keilmuan, dan\n keagamaan. Pergerakan tanpa keilmuan akan kehilangan arah.\u201d Begitulah Malik\n Fadjar bercerita ringan dengan para aktivis. <\/p>\n\n\n\n<p>Malik\n Fadjar sembari selalu mengenang aktivitasnya di HMI, tidak pernah lupa tentang\n diskursus \u201cNilai-nilai Dasar Islam\u201d. Pada tahun 1963-1967 menurutnya, puncak\n aktivitas diskusi pemikiran keislaman dialami oleh mahasiswa Islam. Mereka\n menggerakkan diskusi berbagai topik penting Alquran dalam hubungannya dengan\n teologi, kosmologi, dan sosiologi. Malik Fadjar mengaku tenggelam dalam\n diskursus itu. Pengalamannya itu lalu diterapkan saat menjadi Menteri\n Pendidikan Nasional Kabinet Gotong Royong (2001-2004). <\/p>\n\n\n\n<p>Beliau  kembali ke kampus ketika tugasnya sebagai menteri telah rampung. Malik Fadjar  yang dulu akrab dengan mahasiswa dan ruang diskusinya, kini makin melebur,  hingga pemerintah kembali memintanya mengabdi. Presiden Joko Widodo menunjuk  beliau sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) pada Januari  2015. Mengajar, meneliti, menulis, dan melakukan kegiatan pengabdian sosial  tetap ditekuninya. Oktober 2019 beliau berhenti dan kembali ke kampus lagi  hingga akhirnya wafat, 7 September 2020. Selamat Jalan, Prof!<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ICC Jakarta &#8211; Sosok yang lama mengabdikan dirinya di dunia pendidikan ini telah tiada. Setelah mengalah atas penyakit<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":11522,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[4],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11521"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11521"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11521\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":11523,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11521\/revisions\/11523"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media\/11522"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11521"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11521"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11521"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}