{"id":11525,"date":"2020-09-08T09:05:33","date_gmt":"2020-09-08T09:05:33","guid":{"rendered":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/?p=11525"},"modified":"2020-09-08T09:05:34","modified_gmt":"2020-09-08T09:05:34","slug":"asyura-musibah-terbesar-penduduk-bumi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/2020\/09\/08\/asyura-musibah-terbesar-penduduk-bumi\/","title":{"rendered":"ASYURA MUSIBAH TERBESAR PENDUDUK BUMI"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>ICC Jakarta &#8211; <\/strong>Saat ini adalah hari-hari pertama bulan Muharam. Muharam adalah bulan pertama dari bulan-bulan hijriah. Orang-orang jahiliah menyebut bulan ini dengan sebutan Muharam karena di zaman jahiliah mereka mengenal tradisi untuk tidak menumpahkan darah di bulan ini. Akan tetapi, Bani Umayah menyalahi dan menentang tradisi ini dan di bulan Muharam melakukan sebuah kejahatan besar dengan menumpahkan darah <em>Sayyid al-Syuhada<\/em> Imam Husain as, keluarganya dan para sahabatnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Mengenai bulan Muharam ini, Imam Ridha as telah menjelaskan\ndalam sebuah hadis bahwasanya bulan Muharam adalah\nbulan di mana orang-orang jahiliah terbiasa untuk menahan diri dari menumpahkan\ndarah di bulan itu. \u201cTetapi yang terjadi pada kami, Ahlulbait, darah-darah kami ditumpahkan di bulan Muharam. Di bulan ini kehormatan kami diinjak-injak, wanita-wanita dan keluarga kami ditawan, kemah-kemah kami dibakar, barang-barang yang kami miliki dirampas, dan mereka tidak mengindahkan kehormatan Rasulullah saw\nsedikitpun di bulan ini.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam sebuah riwayat Imam Ridha as mengatakan, \u201cBulan Muharam\nadalah bulan ketika ayahku memasukinya, dari awal bulan, terlihat ayahku akan nampak sedih. Raut kesedihan sangat kelihatan di wajah beliau. Hal itu terjadi sampai 10 hari. Pada hari yang ke-10 kesedihan beliau semakin memuncak. Saat itulah beliau mengucapkan kata-kata, \u2018Hari ini\nadalah hari di mana Al-Husain bin Ali dibunuh di Padang Karbala dan syahid.\u2019\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagaimana\nkita baca dalam ziarah-ziarah, terkhusus ziarah Asyura, kita mengatakan dalam\nziarah itu bahwasanya ini musibah yang sedemikian besar. Musibah yang merupakan satu petaka bagi penduduk bumi\ndan juga musibah yang dialami oleh penduduk langit. Dalam ziarah kita katakan bahwasanya yang menangisi\nAl-Husain,\nyang berkabung untuk Al-Husain, bukan hanya\npenduduk bumi tetapi juga penduduk langit.<\/p>\n\n\n\n<p>Para Imam Ahlulbait as memerintahkan Syi\u2019ah dan para pengikutnya\nuntuk menghidupkan apa yang telah diajarkan oleh Ahlulbait, terkhusus mengenai musibah Abu Abdillah Husain. Dalam sebuah riwayat Imam Shadiq as telah mengatakan\nkepada seorang sahabatnya bernama Fudhail bin Yasar yang saat itu sedang\nberkumpul dengan sahabat-sahabatnya, \u201cWahai Fudhail, engkau sedang\nduduk di\nsini untuk melakukan sesuatu dan berbicara.\u201d Ia menjawab, \u201cBenar, wahai putra Rasulullah saw,\nkami sedang membicarakan tentang musibah-musibah yang menimpa Ahlulbait.\u201d Lalu Imam Shadiq as mengatakan, \u201cMajelis majelis seperti ini adalah majelis-majelis yang\naku sukai. Hidupkanlah perkara-perkara dan urusan-urusan kami, semoga Allah Swt merahmati orang-orang yang menghidupkan ajaran kami.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Majelis-majelis inilah yang bisa menghidupkan\nhati-hati yang berkarat, hati-hati yang sekarat. Dalam sebuah riwayat Imam Shadiq as telah mengatakan, \u201cBarang siapa yang duduk di satu majelis, yang di dalam majelis itu perkara-perkara dan ajaran\nkami disebut dan diulang-ulang&nbsp; dan diingatkan, hatinya tidak akan mati di\nsaat hati-hati orang-orang lain mati.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam sebuah riwayat Imam Shadiq as menyebutkan tentang\napa yang akan dialami oleh orang yang menghidupkan\nperkara-perkara Ahlulbait. \u201cJika kita tahu bahwasanya setiap mata kelak di hari\nkiamat akan menangis, bahwa di hari\nkiamat nanti semua amal ibadah, semua amal perbuatan manusia akan dihisab, tetapi ada mata-mata di sana yang tidak menangis.\u201d <\/p>\n\n\n\n<p>Imam Shadiq as dalam sebuah riwayat mengatakan, \u201cTidak\nada satupun mata dan tidak ada air mata yang lebih dicintai daripada orang yang\nmenangis dan bersedih untuk air mata al-Husain as. Setiap air mata yang menetes untuk musibah itu akan\nsampai kepada Fathimah dan akan menggembirakan hatinya,\ndan air mata itu juga akan sampai kepada Rasulullah saw,\nair mata itu adalah air mata yang menunaikan hak-hak\nkami atas umat.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Riwayat\nini selanjutnya mengatakan,\n\u201cTidak ada seorang hamba\npun kelak yang akan dikumpulkan dan dibangkitkan di hari kiamat kecuali matanya\nakan menetes air mata karena ketakutan, kecuali mata orang-orang yang dulu\nketika hidup di dunia menangisi kakekku,\nal-Husain. Karena orang yang menangisi kakekku, al-Husain, kelak akan dibangkitkan di hari kiamat nanti\nsementara matanya akan bersinar-sinar. Dia akan mendapatkan kebahagiaan dan keceriaan\nini tampak sekali pada wajah-wajah mereka. Sementara semua orang yang ada di Padang Mahsyar saat itu dalam keadaan ketakutan, dicekam oleh sebuah ketakutan yang sangat besar, ketika semua makhluk harus mempertanggungjawabkan\namal perbuatan mereka di dunia. Para pencinta al-Husain akan mengerumuni al-Husain, berada di\nbawah Arasy<em>.<\/em> Pada saat itu mereka tidak memiliki rasa gentar dan\nkegelisahan sedikitpun. Sampai dikatakan kepada mereka, \u2018Wahai orang-orang yang\nmencintai al-Husain!\nSilakan kalian masuk ke dalam surga!\u2019 Tapi mereka enggan masuk ke dalam surga, mereka lebih memilih untuk bersama dengan al-Husain.<\/p>\n\n\n\n<p>Ini adalah sebagian manfaat dan faedah yang bisa\ndidapatkan orang dari menghadiri majelis-majelis Imam Husain as. Tapi tentunya tidak hanya sekadar duduk di suatu majelis. Ada hal-hal lain yang harus diperhatikan saat orang\nmenghadiri majelis-majelis al-Husain. Pertama,\ndi majelis-majelis seperti ini orang harus mengenal Ahlulbait, orang harus\nlebih mengenal sejarah kehidupan Ahlulbait, orang harus lebih mengenal\nilmu-ilmu Ahlulbait, orang harus juga lebih mengenal dan memiliki keyakinan\nyang lebih dalam atas imamah dan keunggulan Ahlulbait dalam memimpin umat\nmanusia.<\/p>\n\n\n\n<p>Kedua, Selain juga mengenal Ahlulbait, sirah mereka, perilaku mereka, keteladanan-keteladanan mereka.\nTugas dan tanggung jawab kedua adalah mengenalkan Ahlulbait kepada orang lain, mengajarkan apa yang diajarkan oleh Ahlulbait. Mengenalkan kepada mereka perilaku dan keteladanan Ahlulbait, ilmu-ilmu Ahlulbait dan kedudukan kedudukan Ahlulbait yang telah Allah berikan kepada mereka, keutamaan-keutamaan yang dimiliki oleh Ahlulbait dan akidah bahwa mereka adalah para pemimpin bagi umat\nmanusia.<\/p>\n\n\n\n<p>Dari Imam Ridha as diriwayatkan bahwa orang yang\nmenghidupkan perkara-perkara Ahlulbait adalah mengenalkan Ahlulbait. Ketika\nmengenal Ahlulbait, manusia mengetahui\nkedudukan Ahlulbait,\nniscaya mereka pasti akan mengikuti Ahlulbait.<\/p>\n\n\n\n<p>Ketiga, kita harus\nmenghidupkan majelis-majelis yang mengenang musibah yang menimpa Ahlulbait\nterutama Abu Abdillah al-Husain,\nyang menimpa Ahlulbait Imam Husain, dan para sahabat Imam Husain di Karbala. Karena\nmajelis-majelis ini adalah majelis majelis yang memberikan kita ilmu dan makrifah\nkepada Ahlulbait dan akan menjadikan kita mengenal apa sebenarnya yang\ndiajarkan oleh Islam dalam arti makna yang sebenarnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Keempat adalah kita mesti menunjukkan kesedihan dalam\nkeseharian kita selama hari-hari kesedihan ini untuk ikut serta bersedih\nbersama Ahlulbait.\nTunjukkan kesedihan itu, raut wajah kesedihan, hiasan\nrumah yang menunjukkan kesedihan, memasang kain kain hitam, mengenakan pakaian dan hal-hal yang menunjukkan\nkesedihan,\ntidak melakukan hal-hal yang bisa menunjukkan kegembiraan dan keceriaan. Itulah yang diharapkan dari seorang pengikut Ahlulbait, dimana Ahlubait sedang bersedih mereka juga akan bersedih. Setidaknya kita mengenakan pakaian berwarna hitam yang\nmenunjukkan kesedihan di 10 hari pertama bulan Muharam. Jika ada orang yang bertanya, \u201cMengapa kalian\nmengenakan pakaian berwarna hitam dan mengapa kalian bersedih?\u201d Kita akan dengan bangga menjawab, \u201cKami bersedih\nbersama dengan kesedihan Ahlulbait untuk syahadah Imam Abu Abdillah al-Husain.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Menangisi\nAl-Husaian <\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Peristiwa terbesar yang pernah terjadi di kehidupan\numat manusia adalah peristiwa yang terjadi di Karbala.\nSedemikian besarnya musibah ini sampai-sampai yang\nmenangisi Abu Abdillah Husain bukan hanya manusia dan penduduk bumi tetapi juga\npenduduk langit. Bukan\nhanya manusia jin juga menangisi Abu Abdillah, bahkan burung-burung dan hewan-hewan yang Allah\nciptakan bahkan lebih itu benda-benda mati pun menangisi menangisi al-Husain.<\/p>\n\n\n\n<p>Yang menambah besarnya peristiwa ini adalah bahwa\nperistiwa itu terjadi di zaman ketika sebagian sahabat Nabi masih hidup. Sebagian orang yang menyaksikan perlakuan Nabi saw yang penuh dengan kasih sayang kepada Imam Husain\nmasih hidup. Mereka\nmenjadi saksi atas Imam Husain as dan kedudukannya ketika Rasulullah bersabda, \u201cAl-Hasan dan Al-Husain adalah dua penghulu pemuda surga.\u201d Semua orang masih menyaksikan dan mereka tahu kedudukan\nImam Husain,\nmeski demikian hal itu tidak mencegah terjadinya peristiwa di Karbala.<\/p>\n\n\n\n<p>Jangan dikira bahwa orang-orang yang berada di Karbala\ndan membunuh Imam Husain mereka tidak mengenali Imam Husain. Mereka mengenali Imam Husain dengan baik, bahkan dalam percakapan antara Imam Husain dan dialog\nbeliau dengan Umar bin Sa\u2019ad, Umar mengakui, \u201cEngkau, wahai Husain, adalah\nmanusia terbaik di muka bumi saat ini. Engkau adalah manusia yang memiliki ayah, ibu dan kakek terbaik.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Meski demikian, hal itu tidak bisa mencegah mereka\nuntuk melakukan kejahatan terhadap Imam Husain.<\/p>\n\n\n\n<p>Jangan\njuga pernah beranggapan bahwa mereka yang membunuh Imam Husain di Karbala itu\norang-orang yang tidak mengenal Allah, tidak pernah beribadah, tidak pernah\nmelakukan salat dan penghambaan kepada Allah. Sebagian mereka yang berada di perkemahan Umar bin Sa\u2019ad di malam Asyura, mereka sedang asyik beribadah dan melakukan salat. Mereka\nbukan orang-orang Yahudi, bukan orang-orang Masehi, dan bukan orang-orang Hindu. Mereka semua adalah\norang-orang yang mengaku sebagai muslim. Meski demikian, mereka membunuh putra nabi mereka dengan\npembunuhan yang sedemikian keji.<\/p>\n\n\n\n<p>Tak\ncukup dengan itu mereka juga menawan dan\nmenjadikan\nAhlulbait Imam Husain sebagai tawanan mereka;\nmenawan mereka dengan cara-cara yang paling keji yang mungkin\nbisa dilakukan terhadap tawanan. Yang menjadi pertanyaan mengapa orang bisa\nsampai sebengis itu? Bukankah kita tahu bahwasanya salat bisa mencegah\npelakunya dari perbuatan <em>fahsya<\/em> dan\nmungkar, dan bukankah mereka orang yang melakukan salat? Tapi mengapa salat yang\nmereka lakukan tidak mencegah mereka dari <em>fahsya<\/em> dan mungkar? Bahkan mendorong\nmereka untuk melakukan <em>fahsya<\/em> dan\nmungkar.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam salah satu riwayat\ndisebutkan ada seorang ulama Sunni menceritakan\ntentang seseorang. Dia bercerita bahwasanya pernah dia sedang melakukan haji,\nlalu ada orang yang menangis sedih karena dia pada saat ihram membunuh seekor\nnyamuk,\nlalu dikatakan kepadanya,\n\u201cEngkau menangis dan bersedih gara-gara sedang ihram&nbsp; lalu\nmembunuh seekor nyamuk, bukankah kalian terlibat pembunuhan terhadap cucu\nRasulullah saw,\ntanpa pernah kalian menyesali perbuatan itu?\u201d Mengapa\norang-orang yang melakukan ibadah itu malah justru terlibat dalam pembunuhan\nImam Husain? Jawabannya\nadalah karena mereka jauh dari hakikat agama. Semakin jauh orang dari hakikat\nagama, dia akan semakin jauh dari agama itu sendiri\ndan siap untuk melakukan segala hal keburukan yang\ndilarang oleh agama.<\/p>\n\n\n\n<p>Jika orang jauh dari hakikat agama, jauh dari mengenal Rasulullah saw\ndan ajarannya dengan sebenar-benar\npengenalan, ibadah dia dan salat dia tidak akan memberikan\napa-apa kepada dia kecuali dia akan semakin jauh dari kebenaran, bahkan sampai bisa dan tega untuk melakukan\npembunuhan terhadap putra sang nabi.<\/p>\n\n\n\n<p>Kita\nbersyukur kepada Allah atas anugerah yang Allah telah berikan kepada kita,\nkarena Allah telah mengenalkan kita kepada hakikat agama, mengenalkan kita\nkepada Rasulullah saw dan keluarganya, mengenalkan kita kepada wilayah Ahlulbait,\nmaka sujud yang kita lakukan dari sekarang sampai hari kiamat masih belum bisa\nuntuk bisa mensyukuri nikmat besar yang telah Allah berikan ini.[] <\/p>\n\n\n\n<p>Naskah ini merupakan khotbah Jumat\nDirektur ICC Dr. Abdulmajid Hakimelahi, Jumat&nbsp;\n21 Agustus 2020, di ICC, Jakarta. Ditranskrip dan disunting seperlunya\noleh redaksi Buletin Nur al-Huda.<\/p>\n\n\n\n<p>Staf Redaksi: Rudhy Suharto, Arif Mulyadi, Hafidh Alkaff ; <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ICC Jakarta &#8211; Saat ini adalah hari-hari pertama bulan Muharam. Muharam adalah bulan pertama dari bulan-bulan hijriah. Orang-orang<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":11526,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[4],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11525"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11525"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11525\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":11527,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11525\/revisions\/11527"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media\/11526"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11525"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11525"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11525"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}