{"id":11541,"date":"2020-09-09T07:03:45","date_gmt":"2020-09-09T07:03:45","guid":{"rendered":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/?p=11541"},"modified":"2020-10-02T03:23:26","modified_gmt":"2020-10-02T03:23:26","slug":"kewajiban-melindungi-diri-dari-penyakit","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/2020\/09\/09\/kewajiban-melindungi-diri-dari-penyakit\/","title":{"rendered":"Kewajiban Melindungi Diri Dari Penyakit"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>ICC Jakarta &#8211;<\/strong> Seiring dengan laporan terbaru, akhir-akhir ini jumlah penderita Corona di Indonesia menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Pada kesempatan ini saya ingin berbicara mengenai masalah Islam dan kesehatan. Islam memberikan perhatian yang sangat besar terhadap masalah kesehatan manusia dan menganggap bahwa kesehatan manusia merupakan salah satu kenikmatan besar yang Allah berikan kepada umat manusia.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam\nsebuah riwayat dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib dikatakan bahwa ada dua\nnikmat yang seringkali dilupakan, yaitu kenikmatan kesehatan dan kenikmatan\nrasa aman. Dalam riwayat lain beliau\njuga mengatakan bahwa kesehatan adalah salah satu kenikmatan yang terbaik yang\nAllah berikan. Dalam\nsebuah riwayat dari Imam Shadiq as, beliau menjelaskan tentang masalah betapa Allah Swt\nmemberikan dua nikmat yang besar dalam kehidupan\nmanusia di dunia dan di akhirat. Ketika Imam Shadiq menjelaskan apa makna kenikmatan di dunia, beliau mengatakan kenikmatan di dunia adalah ketika\nseseorang mendapatkan rasa aman dan mendapatkan kesehatan. Kemudian ketika\nberbicara mengenai masalah kenikmatan di akhirat, beliau mengatakan bahwa kenikmatan di akhirat berupa\nmasuknya seseorang ke dalam surga. Di dalam hadis yang singkat ini, beliau ingin menjelaskan bahwa nikmat yang terbesar\nyang mungkin bisa didapatkan di dua kehidupan ini adalah yang pertama di dunia\nadalah kesehatan dan keamanan, dan di akhirat adalah masuk surga.<\/p>\n\n\n\n<h4><strong>Dimensi Kesehatan<\/strong><\/h4>\n\n\n\n<p>Kalau kita berbicara mengenai masalah kesehatan, ini bisa dilihat dari dua dimensi: pertama dimensi yang berhubungan\ndengan kesehatan pribadi, kesehatan individual. Dalam masalah kesehatan individual ini adalah manusia\nmemiliki kecenderungan untuk menjaga dirinya dari kemungkinan dia terkena\npenyakit,\napalagi&nbsp; penyakit yang berhubungan dengan\nvirus\n&nbsp;yang berbahaya\nbagi kesehatan dan\nkeselamatannya. Demikian juga yang berhubungan\ndengan masalah penyakit-penyakit yang bisa tertularkan kepada orang lain.\nBerhubungan dengan masalah kesehatan individual ini, setiap manusia harus menjaga dirinya jangan sampai\nterkena penyakit,\nharus menjaga dirinya jangan sampai dia terkena virus &nbsp;yang\nberbahaya bagi kesehatannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Dimensi kedua adalah dimensi kesehatan umum. Yang dimaksud dalam dimensi kesehatan umum ini\nadalah bahwa adalah suatu kesehatan yang berhubungan dengan masyarakat, bagaimana masyarakat itu mesti dijauhkan dari hal-hal\nyang bisa membahayakan kesehatan mereka. Sebagaimana\nmanusia harus melindungi dirinya dari kemungkinan terkena penyakit dalam\ndimensi kesehatan individual, dari dimensi kesehatan sosial kemasyarakatan&nbsp; manusia juga harus melindungi masyarakatnya.\nJangan sampai masyarakat menjadi masyarakat yang\nterkena virus dan penyakit.<\/p>\n\n\n\n<p>Menjaga\ndiri dari virus dan penyakit yang berbahaya dan yang menular adalah sebuah\ntanggung jawab syar\u2019i yang dipikul oleh setiap manusia, baik secara individu\nmaupun secara sosial. Karena itu\nmanusia secara individu, dia wajib untuk menjaga dirinya dari kemungkinan\nterkena virus dan penyakit. Begitu pula masyarakat juga harus melindungi diri\njangan sampai menjadi masyarakat yang menyimpan penyakit\nyang bisa menular kepada anggota-anggota masyarakatnya. Inilah yang dikatakan dan diajarkan dalam agama. Seperti\ndikatakan dalam sebuah pepatah: <em>Satu dirham untuk\nmencegah lebih baik daripada harus mengeluarkan satu karung uang untuk\nmenyembuhkan suatu penyakit<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Saya\ningin tekankan lagi bahwa kita punya dua kewajiban dalam masalah ini: satu\nkewajiban adalah melindungi diri kita, jangan sampai kita mengidap penyakit\nyang berbahaya, mengidap penyakit yang menular; dan kewajiban kedua kita adalah\nmenjaga jangan sampai kita menjadi penyebab masyarakat dan lingkungan kita\nmenjadi masyarakat dan lingkungan yang menyimpan penyakit.<\/p>\n\n\n\n<p>Kalau\nkita melihat dalam syariat Islam, ada sekelompok hukum syariat yang mana kelompok ini\nsyar\u2019i menjelaskan kepada kita tentang aturan-aturan yang bisa menjauhkan\nmanusia dari penyakit-penyakit yang berbahaya.&nbsp;\nSyariat Islam dan ajaran Islam &nbsp;mengajarkan\nuntuk mencegah munculnya penyakit bagi diri manusia maupun bagi masyarakat.\nYang pertama adalah hukum-hukum yang berhubungan\ndengan kesucian dan kebersihan. Kita lihat Islam mengajarkan kepada kita untuk selalu\nmenjaga kebersihan dan kesucian. Ada hukum kita diperintahkan\nketika akan melaksanakan salat atau melaksanakan\nserangkaian ibadah yang lainnya kita disunahkan untuk mandi, untuk menggosok gigi, &nbsp;membersihkan\ngigi,\nmembersihkan diri kita dari kotoran-kotoran dan najis-najis, baik yang ada pada badan kita, pakaian kita ataupun tempat yang ada di sekitar kita. Kita diperintahkan untuk menjaga hal-hal itu dari&nbsp;\nnajis. Ini\nartinya Islam\nmengajarkan kepada kita suatu konsep kebersihan dan kesucian supaya terhindar\ndari pencemaran dan kotoran yang mengundang&nbsp;\nberbagai macam penyakit.<\/p>\n\n\n\n<p>Kita tahu bahwasanya salat merupakan tiang agama. Sesuai hadis yang kita kenal, untuk menjalankan dan menegakkan salat yang merupakan\ntiang agama itu,\nIslam mengajarkan kepada kita untuk melaksanakan salat dalam keadaan bersih dan\nsuci.\nKira-kira apa rahasia di balik itu?<\/p>\n\n\n\n<p>Kita lihat contohnya, wudu, yang merupakan salah satu perintah supaya kita dalam\nkeadaan suci saat beribadah salat. Ternyata wudu diperintahkan bukan hanya untuk salat, ketika seseorang akan melaksanakan tawaf orang juga\nwajib untuk wudu,\ntanpa wudu orang tidak bisa tawaf. Ketika orang akan menyentuh Alquran dan huruf-huruf\nAlquran serta nama-nama yang suci juga harus dalam keadaan berwudu pula. Ini menunjukkan kita diperintahkan dan\ndianjurkan untuk memiliki kesucian dan wudu dalam\nsemua kondisi kehidupan kita.<\/p>\n\n\n\n<p>Lebih\ndari 1400 tahun yang lalu Islam datang dan memerintahkan kita untuk setiap hari\nmencuci wajah dan tangan kita beberapa kali dalam sehari, untuk melaksanakan\nsalat dan melaksanakan ibadah-ibadah yang lain. Ini sudah merupakan perintah\nIslam. Sekarang kita hidup di suatu zaman pandemik Corona, dimana para dokter\ndan lembaga-lembaga kesehatan baik lokal nasional ataupun dunia memerintahkan\ndan menganjurkan supaya kita mencuci tangan setiap hari, setiap kesempatan\nmencuci tangan dan mencuci badan kita, untuk menghindarkan diri kita dari\nterjangkit virus Corona. Ini sudah\npernah diajarkan Islam jauh hari sebelum virus ini muncul.&nbsp; Bukan\nhanya itu Islam juga memerintahkan supaya orang yang akan melaksanakan salat\npakaiannya juga harus bersih dan suci; jika tidak, salatnya tidak sah.<\/p>\n\n\n\n<p>Yang\nkedua adalah perintah dari Islam kepada umatnya untuk menjaga lingkungannya\nsupaya tidak menjadi lingkungan yang najis dan kotor. Islam sedemikian mementingkan soal kebersihan\nlingkungan sehingga melarang para pengikutnya untuk mencemari lingkungan mereka.\nLingkungan yang berhubungan dengan air, dilarang kita untuk mencemari air. Kita juga dilarang untuk mencemari sungai-sungai, mencemari sumber-sumber kehidupan, mencemari udara, mencemari kebun-kebun dan ladang-ladang serta mencemari jalan-jalan yang dilalui oleh manusia.<\/p>\n\n\n\n<p>Rasulullah saw melarang umatnya untuk menajisi dengan air seni, untuk menajisi air yang diam,&nbsp; air yang tidak\nmengalir. Jadi,\njangan sampai seorang pengikut Rasulllah saw membuang air kecil di tempat air yang tidak bergerak. Beliau juga melarang untuk mengotori lingkungannya. Bahkan beliau mengatakan dan menegaskan jika ada\nkotoran di jalan-jalan yang dilalui, jika ada kotoran di tempat-tempat umum, maka hendaknya kita membersihkan tempat-tempat itu dari kotoran. Tujuannya adalah supaya manusia yang hidup di\nlingkungan itu hidup dengan kondisi yang bersih, dengan udara yang bersih, dan lingkungan yang bersih, dan itu disebut oleh Rasulullah saw\nsebagai bagian dari cabang-cabang keimanan seorang.<\/p>\n\n\n\n<p>Hal lain yang diajarkan oleh Islam supaya tercipta\nkesehatan yang baik dan kebersihan yang baik di tengah masyarakat adalah aturan\ndan adab-adab yang diajarkan oleh Islam berkenaan dengan makanan dan minuman.\nIslam sedemikian mementingkan masalah kesehatan\nmanusia sehingga dalam salah satu anjurannya Islam memerintahkan untuk makan\ndan minum tidak dalam keadaan berlebihan. Dalam sebuah firman Allah Swt telah berfirman, <em>kul\u1ee5 wasyrab\u1ee5 wa l\u0101 tusrif\u1ee5<\/em><em>.. <\/em>\u201c\u2026makan dan minumlah kalian, tapi janganlah berlebih-lebihan\u201d (7: 31),\nkarena berlebihan akan mengakibatkan seseorang mudah terjangkiti oleh penyakit.\n<\/p>\n\n\n\n<p>Yang ketiga, Islam juga memerintahkan kepada para pengikutnya untuk\nmakan-makanan yang baik, bukan hanya halal tetapi juga halal yang baik. Firman Allah, <em>y\u0101 ayyuhan-n\u0101su kul\u1ee5 mimm\u0101 fil-ar\u1e0di \u1e25al\u0101lan \u1e6dayyibaw wa l\u0101\ntattabi&#8217;\u1ee5 khu\u1e6duw\u0101tisy-syai\u1e6d\u0101n, innah\u1ee5 lakum &#8216;aduwwum mub\u012bn. <\/em>\u201cHai sekalian manusia, makanlah yang halal\nlagi baik dari apa yang terdapat di bumi\u201d<em> <\/em>(2: 168). Berikutnya Allah Swt juga mengingatkan untuk tidak memakan hal-hal yang\nbisa mengakibatkan datangnya penyakit. Ada beberapa hal yang diharamkan oleh Allah Swt yang ternyata bisa mengundang datangnya penyakit\nuntuk manusia. Di\nantaranya adalah firman Allah,\n<em>\u1e25urrimat &#8216;alaikumul-maitatu<\/em><em> <\/em><em>wad-damu wa la\u1e25mul-khinz\u012bri<\/em>\u2026, \u201cdiharamkan atas kalian semua untuk\nmemakan bangkai, darah, dan daging babi, \u2026\u201d\n(5:3), &nbsp;yang\nmana ke semua ini bisa mengakibatkan datangnya penyakit yang bisa menggerogoti\ntubuh manusia.<\/p>\n\n\n\n<p>Keempat adalah hukum-hukum dan aturan-aturan yang\nIslam bawa berkenaan dengan arahan supaya menghindari hal-hal yang&nbsp; bisa mengakibatkan munculnya penyakit yang\nmenular. Islam juga memerintahkan jika muncul penyakit yang menular ini\ndilakukan tindakan pencegahan, supaya tidak menyebar lebih luas.\nIslam selalu memiliki posisi yang tidak bertentangan\ndengan ilmu. Ajaran-ajaran Islam bahkan kemudian terbukti secara ilmiah\nbahwa itulah yang benar. Dalam sebuah hadis Rasulullah saw bersabda, \u201cJika kalian mendengar adanya sebuah wabah\nyang menyebar di suatu negeri, jangan pernah kalian memasuki negeri itu.\u201d Jika dalam kondisi sekarang ini, kita terkena ada suatu wabah disebut dengan Corona, jika kita mendengar di suatu kota ada wabah Corona yang menyebar, jangan masuk ke kota itu. Tetapi, kemudian Rasulullah saw\njuga mengatakan, \u201cJika\nkalian berada di suatu tempat yang mana wabah tengah menyebar di tempat itu, maka janganlah kalian keluar dari tempat itu. Ini adalah anjuran dari Rasulullah saw 14 Abad yang lalu dan sekarang para dokter menekankan hal\nyang sama.<\/p>\n\n\n\n<p>Bagaimana jika seseorang terkena penyakit? Apa yang harus dilakukan? Islam mengajarkan kalau orang sakit, hendaknya dia\nmencari obat untuk kesembuhannya. Rasulullah saw\ndalam sebuah hadis singkatnya mengatakan bahwa setiap\npenyakit itu pasti ada obatnya. Maka itu kalau orang terkena penyakit maka dia harus\nmencari obat tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>Hari\nini masalah yang terpenting bagi kita, khususnya di Indonesia, adalah bagaimana\nkita menjaga kesehatan,&nbsp; menjaga supaya\nmasyarakat dan lingkungan kita menjadi masyarakat dan lingkungan yang bebas\ndari penyakit. Karena itu, ketika kita mendengarkan berita bahwa angka yang\nterinfeksi virus Corona dalam beberapa hari terakhir ini meningkat cukup tajam,\ndan ini adalah suatu berita yang mengkhawatirkan, adalah kewajiban bagi kita\nuntuk kembali kepada protokol kesehatan yang telah diumumkan dan telah\ndianjurkan oleh pihak-pihak yang berwenang. Kita mesti menjaganya demi untuk memutus mata rantai penyebaran virus ini.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Sistem\nPengetahuan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Dalam sistem pengetahuan dan sistem ma&#8217;arif tentang agama Islam, Islam datang bukan hanya\nuntuk mengatur kehidupan akhirat manusia. Islam datang bukan hanya untuk memerhatikan sisi\nibadah dan ritual manusia dan hubungannya dengan Allah semata, tetapi juga Islam datang dengan membawa sebuah sistem\nyang menata kehidupan duniawi dan ukhrawi manusia.<\/p>\n\n\n\n<p>Kita\njuga harus mengakui bahwa kita sebagai manusia tidak pernah bisa mengenal\nsecara benar, detail,\ndan sempurna mengenai falsafah bagaimana Allah menurunkan ajaran-ajaran-Nya, hikmah di balik semua hukum yang\ntelah Allah berikan, dan apa saja rahasia di balik ajaran-ajaran yang telah\nAllah turunkan untuk kita.<\/p>\n\n\n\n<p>Tetapi\nketika kita meyakini bahwa semua yang kita terima adalah dalam agama ini\nberasal dari Allah yang menciptakan langit dan bumi, yang menciptakan kita, dan\ntahu tentang apa saja rahasia-rahasia kehidupan, yang menginginkan kebaikan\nuntuk kita dan berbagai macam hal-hal kebaikan yang diberikan kepada kehidupan\nini, kita yakin bahwa semua hukum yang Allah berikan dan aturan yang Allah\ntetapkan pasti di baliknya ada filsafat yang tersimpan dan ada hikmah yang bisa\ndidapatkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Jika\nkita melihat ada seorang insinyur atau seorang arsitek yang sedemikian mahir\nmembuat suatu bangunan, kemudian di dalam bangunan itu ada ornamen-ornamen\ntertentu atau ada ruangan-ruangan tertentu, atau bagian-bagian yang dia buat,\nyang mungkin kita tidak tahu maksudnya apa karena kita yakin orang itu adalah\nseorang insinyur dan seorang arsitek yang tersohor dan menginginkan hak karya\nyang terbaik, kita pasti akan mengatakan pasti ada hikmah dan keinginan yang\nkita mungkin kita tidak paham di balik seni yang telah dia tunjukkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Demikian\npula ketika kita berhadapan dengan seorang dokter yang pakar di bidangnya dan\nmemang betul-betul dokter itu menginginkan kesehatan bagi kita, kemudian sang\ndokter memberikan kepada kita berbagai resep supaya kita konsumsi, resep itu\nmungkin saja kita tidak tahu manfaat dari pada resep-resep obat yang diberikan\nkepada kita, tapi kita yakin ada hal yang baik di balik obat-obatan yang\ndiberikan kepada kita.<\/p>\n\n\n\n<p>Jika kita melihat seorang dokter yang kemudian di\ntempatnya ada seorang anak kecil yang sedang sakit. Dokter itu kemudian menyuntik anak kecil itu dengan\nsuntikan yang mungkin akan mengakibatkan sakit yang cukup menyakitkan bagi anak\nitu\nsehingga anak itu menangis. Kita lihat dari orang tua anak itu bukannya akan marah\nanaknya disakiti oleh dokter, tetapi justru orang tua itu akan berterima kasih\nkepada dokter itu. Mengapa? Karena rasa sakit yang dirasakan oleh anaknya\nitu ternyata memberikan kebaikan yang besar yang besar untuk anaknya kesehatan\nyang kembali pulih kembali setelah dia sakit. Dokter tahu bahwasanya rasa sakit yang tadi dirasakan\noleh pasien-pasien itu adalah suatu hal yang baik buat mereka.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam\nhal ini, kita perlu melihat hal itu kita terapkan dalam\nkehidupan kita. Jika\nkita sedemikian percaya kepada dokter, karena dokter itu memiliki ilmu, memiliki keahlian yang kita yakin bahwa dia\nmenggunakan keahliannya untuk kebaikan kita, mengapa kita tidak menerapkannya\ndalam kehidupan kita, bahwa dalam kehidupan kita segala hal yang kita saksikan, aturan-aturan yang telah dibuat yang mungkin\nsebagaiannya menyusahkan kita pasti ada hikmah di baliknya yang Allah berikan\nkepada kita.<\/p>\n\n\n\n<p>Kita mesti memiliki keyakinan seperti kita memiliki\nkeyakinan kepada dokter yang tadi setelah diceritakan. Kita mesti memiliki keyakinan kepada Allah\nseperti itu, sehingga ketika kita mendapatkan bahwa Allah\nmemberikan suatu ketidaknyamanan kepada kita dalam\nkehidupan itu,\nyakinlah bahwa itu baik untuk kita, ada sebuah hikmah di baliknya.[] <\/p>\n\n\n\n<p>Naskah ini merupakan khotbah Jumat Direktur ICC Dr. Abdulmajid Hakimelahi, Jumat&nbsp; <strong>04 September 2020<\/strong>, di ICC, Jakarta. Ditranskrip dan disunting seperlunya oleh redaksi Buletin Nur al-Huda.<\/p>\n\n\n\n<p>Untuk menyimak Ceramah langsung bisa akses ke Chanel Youtube&nbsp;<strong><a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=PUFyhxhBbAU\">ICC Jakarta TV&nbsp;<\/a><\/strong>atau&nbsp;&nbsp;<strong><a href=\"https:\/\/www.facebook.com\/groups\/231051527075791\/\">Group&nbsp;FB&nbsp;ICC&nbsp;Jakarta<\/a><\/strong>&nbsp; <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ICC Jakarta &#8211; Seiring dengan laporan terbaru, akhir-akhir ini jumlah penderita Corona di Indonesia menunjukkan peningkatan yang cukup<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":11542,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[1],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11541"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11541"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11541\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":11615,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11541\/revisions\/11615"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media\/11542"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11541"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11541"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11541"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}