{"id":11563,"date":"2020-09-17T07:53:19","date_gmt":"2020-09-17T07:53:19","guid":{"rendered":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/?p=11563"},"modified":"2020-10-02T03:22:48","modified_gmt":"2020-10-02T03:22:48","slug":"perempuan-dan-ketahanan-ekonomi-keluarga","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/2020\/09\/17\/perempuan-dan-ketahanan-ekonomi-keluarga\/","title":{"rendered":"Perempuan Dan Ketahanan Ekonomi Keluarga"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>ICC Jakarta &#8211;<\/strong> Saat ini, kita melihat bahwa masyarakat mengalami berbagai macam permasalahan keluarga. Kita menghadapi berbagai problem yang terkadang problem itu menjurus kepada perpisahan di antara pasangan suami dan istri. Tidak diragukan bahwa semua manusia ingin mencapai kebahagiaan dalam kehidupannya. Salah satu unsur terpenting bagi seorang manusia untuk bisa mencapai kebahagiaan adalah ketika dia berada di dalam suatu lingkungan yang menyediakan segala sarana yang bisa membawanya kepada kebahagiaan. Di dalam sebuah keluarga orang bisa merasakan ketenangan dan kenyamanan jika keluarga itu adalah keluarga yang berbahagia.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan\ndemikian, masing-masing anggotanya\nlebih dekat kepada kebahagiaan dibandingkan orang-orang yang lain. Ketika seseorang merasakan bahwa di\nlingkungan keluarganya dia bisa mendapatkan ketenangan dan mendapatkan kepuasan\ndari sisi aktivitas dan sisi emosi,\norang yang seperti ini akan lebih dekat kepada kebahagiaan yang dia\nidam-idamkan. Yang kacau balau jika hubungan di antara mereka tidak baik, maka orang semacam ini akan menghadapi penyakit-penyakit kejiwaan, penyakit-penyakit yang bersifat nonmateri.<\/p>\n\n\n\n<p>Data\nmenunjukkan bahwa sebagian besar pelaku kejahatan dan mereka yang terlibat di\ndalam perilaku penyimpangan secara kesusilaan berasal dari mereka yang hidup dan tumbuh di\ntengah keluarga yang <em>broken home<\/em> dan\nkeluarga yang kacau dalam hubungan di antara anggota keluarganya. Keluarga semacam ini tidak mengedepankan masalah\npendidikan di antara mereka.<\/p>\n\n\n\n<p>Ada berbagai macam unsur dan faktor yang bisa\nmenjadikan keluarga itu menjadi keluarga yang baik, keluarga yang tenang, dan penuh dengan sakinah. Ada pula unsur-unsur yang jika tidak diperhatikan, maka\nakan mengakibatkan keluarga itu menjadi keluarga yang kacau dan keluarga yang\ntidak memiliki kebahagiaan. Pada kesempatan ini\nkita akan membahas mengenai salah satu unsur yang bisa mengakibatkan sebuah\nrumah tangga dan keluarga itu retak yaitu unsur tekanan ekonomi.<\/p>\n\n\n\n<h2>Tekanan\nEkonomi<\/h2>\n\n\n\n<p>Karena itu, kita harus melihat tekanan ekonomi yang\nmungkin terjadi. Kita\nharus mengaturnya sebaik mungkin dan mengelolanya dengan bijaksana, supaya jangan sampai masalah tekanan ekonomi berujung\nkepada keretakan rumah tangga. Bagaimana kita bisa mengelola tekanan ekonomi ini? Tidak\ndiragukan dalam masalah yang pertama yang perlu kita bahas adalah bahwa sebuah\nrumah tangga ketika memiliki kelapangan dari sisi ekonomi, maka&nbsp; tidak akan banyak tekanan yang dihadapi oleh\nkeluarga itu dari sisi kehidupan normal secara materi.<\/p>\n\n\n\n<p>Karena\nitu, setiap orang dalam hal\nini, kaitannya adalah kaum pria, diperintahkan dalam agama untuk bekerja\nsemaksimal mungkin, sebisa mungkin sesuai dengan kemampuannya untuk bisa\nmemberikan kehidupan bagi istri anak-anak, juga mungkin orang tua yang\nmembutuhkan. Juga\njika dia memilik orang tua yang perlu untuk dibantu, atau mungkin juga saudara-saudara yang perlu dibantu. Dalam ajaran Islam setiap orang diperintahkan untuk\nbekerja supaya bisa memberikan sarana kehidupan bagi orang-orang terdekatnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Karena itu, jangan sampai muncul sebuah pertanyaan\nyang mempertanyakan kepada kita, \u201cMengapa engkau biarkan keluargamu hidup dalam\ntekanan ekonomi? Mengapa\nengkau biarkan keluargamu hidup tanpa ada sarana kehidupan yang layak bagi\nmereka?\u201d Tentunya di dalam kamus Islam, dalam kamus agama,\nkelayakan untuk masing-masing status sosial juga perlu untuk diperhatikan.<\/p>\n\n\n\n<p>Unsur\nkedua yang mungkin bisa menjadikan sebuah keluarga itu hidup dalam kenyamanan\ndari sisi kehidupan materi adalah ketika kepala rumah tangga memberikan hingga\nlebih dari porsi yang mestinya.\nKetika dia punya kemampuan untuk memberikannya, ketika memiliki suatu hal yang bisa memberikan lebih\nkepada keluarga, mengapa tidak diberikan? Dalam sebuah hadis Imam Zainal Abidin mengatakan bahwa\norang yang paling diridai oleh Allah di antara kalian adalah orang yang paling\nbanyak memberi untuk keluarganya.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagian orang menyangka bahwasanya untuk mendapatkan\nrida Allah,\nkita perlu banyak melakukan ibadah salat, dan hal-hal\nsemacam ritual-ritual\nibadah.\nPadahal berdasarkan hadis dari Imam Zainal Abidin tadi,\nbisa kita ambil kesimpulan bahwa rida Allah tidak hanya bisa dicapai dengan\nibadah.\nAda unsur penting yang bisa kita lakukan supaya kita\nbisa mendapatkan rida Allah, yakni memberikan hal yang terbaik kepada keluarga kita.\nHadis yang tadi dikuatkan lagi oleh hadis dari Imam\nRidha as ketika beliau bersabda dalam kata-katanya. Imam Ridha\nas mengatakan begini, \u201cOrang yang memiliki kelapangan\ndari sisi ekonomi, hendaknya dia memberikan kelapangan juga untuk warganya, memberikan kepada keluarganya lebih banyak daripada\nyang semestinya jika\nmemang dia mampu memberikannya.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Mungkin\nsebagian orang bertanya-tanya mengapa kita harus menyusahkan diri kita, membuat\ndiri kita capai\ndan bahkan berhadapan dengan kondisi-kondisi yang sulit dan berbahaya demi\nuntuk bisa mencari rezeki dan memberikannya kepada keluarga kita? Apakah kita harus\nmenyusahkan diri kita? Di\ndalam hadis dari Rasulullah saw,\nbeliau\nbersabda bahwa \u201corang\nyang bekerja untuk bisa memberikan kehidupan kepada keluarganya maka posisi dia\npersis seperti orang yang jihad <em>fi<\/em><em>\n<\/em><em>sabilillah<\/em>.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Unsur ketiga adalah unsur kebijaksanaan di dalam\nmembelanjakan apa yang ada di tangan kita. Sebagai seorang yang memiliki tanggung jawab dalam\nkeluarga,\nsalah satu tugas kepala keluarga adalah memberikan pengertian dan arahan kepada\nanggota keluarganya untuk tidak mengeluarkan atau membelanjakan harta di jalan\nyang tidak perlu harus diberikan. Pelajaran tentang kecerdasan dalam memanajemen, apa yang Allah berikan jangan sampai dibelikan kepada\nhal-hal yang tidak perlu, sementara hal-hal yang perlu ditinggalkan. Apalagi kita hidup di zaman yang serba sulit semacam\nini,\ndi saat tekanan ekonomi sedemikian besar, mengapa\nmasalah-masalah prioritas dalam pengeluaran tidak kita kedepankan?<\/p>\n\n\n\n<p>Kepala rumah tangga layak untuk memanggil seluruh\nanggota keluarganya, memahamkan kepada mereka, tentang kondisi yang saat ini dihadapi. Misalnya, ketika saat ini Corona melumpuhkan banyak sisi dan lini kehidupan umat\nmanusia, perlu diberikan pemahaman kepada mereka, jangan sampai mereka melakukan hal-hal yang tidak\ncerdas dan tidak bijak di dalam membelanjakan apa yang telah Allah berikan\nkepada mereka. <\/p>\n\n\n\n<p>Salah\nsatu unsur pula\nketika kita ingin menciptakan ketahanan ekonomi dalam keluarga adalah\nkeikutsertaan ibu rumah tangga di dalam melakukan pekerjaan. Jika dia memang memiliki kemampuan-kemampuan untuk bisa melakukan hal-hal semacam itu, seorang wanita dalam Islam diperbolehkan untuk mencari nafkah. Seorang wanita yang memiliki keahlian bisa bekerja\nsesuai dengan keahliannya dan mendapatkan harta atau uang dari hasil pekerjaan dia. Tetapi ini adalah suatu hal yang mustahab dan sunah\ndilakukan orang yang bisa menghasilkan uang dengan keahliannya untuk dibawa ke\nkeluarga. Tetapi ini bukan suatu hal yang wajib dilakukan oleh seorang\nperempuan. Jika\nitu dilakukan, dia akan bisa meringankan beban yang ada di pundak suaminya atau\nyang menjadi kepala rumah tangga, dan bisa tercipta ketahanan ekonomi di keluarga yang\nlebih dari pada kondisi jika perempuan itu tidak ikut serta dalam mencari nafkah.<\/p>\n\n\n\n<p>Di\nsini perlu ditekankan bahwa apa\npun\nyang didapatkan oleh seorang istri dalam bekerja, apa pun yang dia dapat, suami tidak berhak\nuntuk mengelola uang itu karena\nuang itu mutlak milik istrinya. Tetapi sayangnya jangan sampai pemahaman\nsemacam ini membuat istri-istri yang melakukan pekerjaan di luar rumah atau\nmelakukan pekerjaan ekonomi kemudian merasa bahwasanya semua itu adalah\nmiliknya, dan dia tidak merasa perlu untuk ikut memikul beban pengeluaran di\nkeluarga hingga kemudian uang yang dia miliki, digunakan untuk\nhal-hal yang tidak penting, untuk mempercantik diri atau untuk dibelanjakan pada\nhal-hal yang tidak terlalu penting dalam kehidupannya. Sementara suaminya kesulitan dalam memberikan nafkah\nuntuk keluarga.<\/p>\n\n\n\n<p>Saya ingin sampaikan kepada ibu-ibu atau mereka yang\nterlibat dari kalangan\nperempuan dalam kegiatan ekonomi, jika Anda\nmelihat bahwa suami Anda sedang kesulitan untuk mendatangkan rezeki yang bisa menopang kehidupan keluarga, jangan biarkan uang yang ada pada dirimu bagai\nmilikmu untuk digunakan untuk dengan belanja hal-hal yang tidak penting, membeli pakaian-pakaian yang hanya mengikuti mode, dan aksesoris-aksesoris yang tidak ada kebaikannya untuk keluarga dan\nuntuk diri sama sekali.<\/p>\n\n\n\n<h2>Meringankan Beban<\/h2>\n\n\n\n<p>Hal\nyang lain yang perlu dibahas dalam kesempatan ini adalah ketika masyarakat\nsedang mengalami kesulitan secara ekonomi dan mendapatkan tekanan ekonomi\nkarena munculnya pandemi semacam ini, atau mungkin di luar kondisi pandemi, diharapkan orang-orang\nyang memiliki kekayaan, orang-orang yang memiliki toko yang bisa menjual\nhal-hal yang merupakan kebutuhan bagi masyarakat untuk ikut serta dalam\nmeringankan beban masyarakat yang tertekan oleh kondisi perekonomian. Jika memiliki tempat, misalnya, hal-hal yang dijual, maka juallah dengan\nkeuntungan yang seminim mungkin, supaya bisa memberikan bantuan kepada mereka yang\ntidak mampu. Masyarakat\nberharap orang-orang kaya terlibat dalam meringankan beban yang mereka hadapi. Jangan sampai kondisi masyarakat Islam menjadi kondisi\nyang justru memanfaatkan keadaan ini untuk memperkaya diri sendiri. Melihat bahwa masyarakat membutuhkan sesuatu, maka\nharganya ditambah ditinggikan, ketika melihat bahwasanya sekarang masyarakat membutuhkan\nrumah misalnya,\nmaka sewa rumah ditinggikan. Masyarakat membutuhkan suatu komoditas, maka komoditas\nitu ditinggikan harganya.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam sebuah hadis Rasulullah saw bersabda, \u201cAda dua hal yang paling baik. Tidak ada hal yang lebih baik dari itu. Pertama adalah keimanan kepada Allah dan yang kedua\nadalah memberikan manfaat bagi umat manusia.\u201d <\/p>\n\n\n\n<p>Kita bisa perhatikan bagaimana Rasulullah saw menyebut manfaat bagi masyarakat setelah menyebut\nkeimanan kepada Allah. Kelak di hari kiamat setiap orang akan menghadapi petaka\ndan derita. Setiap\norang akan menghadapi kesulitan di hari kiamat. Maukah kita ketika di hari kiamat nanti kesulitan yang\nkita hadapi diringankan oleh Allah Swt? Hadis dari Nabi saw ketika beliau bersabda, \u201cBarang siapa yang membantu\nseorang mukmin meringankan beban, seorang mukmin, membantu seorang mukmin dalam suatu kesulitan yang\nsedang menghimpitnya, maka Allah Swt kelak di hari kiamat akan membantunya dan\nmenyelamatkannya, membebaskannya dari 70 kesulitan di hari kiamat.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Unsur berikutnya yang perlu diperhatikan dalam membantu kondisi tekanan ekonomi supaya masyarakat bisa terlepas dari masalah adalah sedekah. Sayang sekali sedekah yang ada di kepala kebanyakan orang adalah membantu orang yang sedang dihimpit oleh kesulitan, seakan-akan sedekah itu diberikan kepada orang yang jika tidak menerima itu, maka orang itu akan mati kelaparan. Sedekah diberikan kepada orang yang jika tidak diberi, maka dia akan tinggal di jalanan, lalu kemudian kita bersedekah kepadanya. Padahal para Imam maksumin as dan para pemuka agama mengajarkan kepada kita, ketika kita bersedekah bukan supaya menyelamatkannya dari kematian tetapi mengangkat seseorang kehidupannya ke taraf kehidupan yang normal. Kita lihat bagaimana Imam memerintahkan orang-orang yang ada sebagai pembantu di rumahnya untuk menyerahkan kepada seseorang yang meminta bantuan sebanyak 50.000 dinar, 60.000 dinar, 70.000 dinar, yang mana uang itu adalah uang yang sangat besar supaya orang tersebut bisa hidup layaknya orang-orang yang lain dan tidak merasa dirinya lebih rendah dibandingkan masyarakat yang lain. Itulah makna sedekah yang diajarkan oleh Imam maksumin as kepada kita. Semoga Allah berkenan untuk meluaskan rezeki kita seluas-luasnya dan supaya Allah Swt melapangkan hati kita selapang lapangnya supaya rezeki yang Allah berikan kepada kita dengan mudah kita bisa infakkan kepada orang-orang yang lain. Semoga Allah Swt juga memberikan taufik kepada kita supaya kita bisa meringankan beban saudara-saudara kita.[] <\/p>\n\n\n\n<p>Naskah ini merupakan khotbah Jumat Direktur ICC Dr. Abdulmajid Hakimelahi, Jumat&nbsp; 11 September 2020, di ICC, Jakarta. Ditranskrip dan disunting seperlunya oleh redaksi Buletin Nur al-Huda. <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ICC Jakarta &#8211; Saat ini, kita melihat bahwa masyarakat mengalami berbagai macam permasalahan keluarga. Kita menghadapi berbagai problem<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":11542,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[1],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11563"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11563"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11563\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":11617,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11563\/revisions\/11617"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media\/11542"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11563"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11563"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11563"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}