{"id":11716,"date":"2020-10-14T04:21:54","date_gmt":"2020-10-14T04:21:54","guid":{"rendered":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/?p=11716"},"modified":"2020-10-14T04:35:33","modified_gmt":"2020-10-14T04:35:33","slug":"ramaikan-medsos-gus-yusuf-perlu-konten-dan-tampilan-yang-baik-afina-izzati-senin","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/2020\/10\/14\/ramaikan-medsos-gus-yusuf-perlu-konten-dan-tampilan-yang-baik-afina-izzati-senin\/","title":{"rendered":"Ramaikan Medsos, Gus Yusuf: Perlu Konten dan Tampilan yang Baik"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>ICC Jakarta &#8211;<\/strong>Pengasuh Pesantren API (Asrama Perguruan Islam), Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah, KH M Yusuf Chudlori (Gus Yusuf) mengatakan, pesantren memiliki konten keilmuan yang luar biasa. Meski demikian, untuk bisa meramaikan media sosial perlu tampilan yang baik. Hal ini disampaikannya saat mengisi acara Muktamar Pemikiran Santri Nusantara yang diinisiasi Direktorat PD Pontren Ditjen Pendis Kemenag bekerja sama dengan Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M), Jumat (9\/10). <\/p>\n\n\n\n<p>Dalam kegiatan bertema \u2018Santri Sehat Indonesia Kuat\u2019 ini,\nGus Yusuf menjelaskan bahwa kedalaman ilmu di pesantren yang ditambah dengan\nkuatnya doa dan riyadhah belum cukup. \u201cUntuk tampil di media sosial tidak cuma bermodal\nitu. Perlu ada tampilan yang baik agar dakwah kita di medsos tidak\nketinggalan,\u201d tandas Gus Yusuf. <\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu, lanjut dia, perlu sinergitas berbagai lapisan,\ntermasuk antarpesantren. \u201cSinergitas menjadi sangat mutlak bagi pesantren,\u201d\ntandasnya. Ia juga mengungkapkan, perlu adanya pendampingan agar pesantren\ndapat mengenal medsos. Minimal harus ada diskusi mengenai hal itu. Gus Yusuf\nmenambahkan, bahwa saat ini dibutuhkan santri yang amil. Tidak hanya sekedar\npintar saja, namun juga cerdas. \u201cOrang yang cerdas itu memahami situasi\nzamannya seperti apa. Ini yang namanya aqilan bi zamanihi,\u201d terangnya. <\/p>\n\n\n\n<p>Setelah memahami, lanjut dia, kalangan pesantren harus\ndapat menghadapi dengan cara kekinian yang tidak cukup dakwah secara fisik,\nnamun juga dakwah melalui media sosial, TV, radio. \u201cYang itu jamaahnya dan\nefektivitasnya luar biasa,\u201d ungkapnya. ADVERTISEMENT Gus Yusuf menambahkan,\nyang lebih penting lagi adalah harus muqbilan li sya\u2019nihi. Bahwa pesantren\ntidak perlu mengikuti tren pasar yang sedang berkembang. Terpenting ada sesuatu\nuntuk menjadi daya tarik.&nbsp; \u201cIni yang perlu kita ulik bersama. Kita tidak\nharus menjadi seperti Gus Nadirsyah Hosen yang berdakwah dengan bahasa\nmilenial. Kita bisa berdakwah seperti Gus Baha yang tetap mempertahankan dakwah\nala pesantren,\u201d jelasnya. Kemudian, adanya arifan lirabbihi juga menjadi salah\nsatu yang tidak bisa ditinggalkan. Karena dari situ bisa dibedakan antara\nsantri dan boneka. Boneka tidak memiliki arifan lirabbihi meskipun memiliki inteligensi\nyang tinggi. \u201cInteligensinya oke. Tapi tidak kenal dengan yang namanya wiridan,\nmujahadah, apalagi barakah. Ini yang menjadi kekhasan pesantren untuk\nmendekatkan pada ketuhanan yang harus terus dijaga,\u201d terangnya. Dengan ketiga\nhal tersebut, yaitu aliman bi zamanihi, muqbilan li sya\u2019nihi, dan arifan\nlirabbihi, Gus Yusuf percaya bahwa pesantren dapat optimis dan semangat\nmengikuti perkembangan zaman.<br>\n<br>\nSumber:&nbsp;<a href=\"https:\/\/www.nu.or.id\/post\/read\/123833\/ramaikan-medsos-gus-yusuf-perlu-konten-dan-tampilan-yang-baik\">https:\/\/www.nu.or.id\/post\/read\/123833\/ramaikan-medsos-gus-yusuf-perlu-konten-dan-tampilan-yang-baik<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ICC Jakarta &#8211;Pengasuh Pesantren API (Asrama Perguruan Islam), Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah, KH M Yusuf Chudlori (Gus Yusuf)<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":11717,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[6],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11716"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11716"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11716\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":11721,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11716\/revisions\/11721"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media\/11717"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11716"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11716"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11716"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}