{"id":11824,"date":"2020-11-11T06:41:49","date_gmt":"2020-11-11T06:41:49","guid":{"rendered":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/?p=11824"},"modified":"2021-02-18T08:44:10","modified_gmt":"2021-02-18T08:44:10","slug":"khutbah-jumat-rahmat-rasulullah-saw-bagi-seluruh-alam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/2020\/11\/11\/khutbah-jumat-rahmat-rasulullah-saw-bagi-seluruh-alam\/","title":{"rendered":"Khutbah ke-147, Khutbah Jumat; Rahmat  Rasulullah SAW Bagi Seluruh Alam"},"content":{"rendered":"\n<p>ICC Jakarta &#8211; Bulan ini adalah bulan Rabiulawal yang berhubungan dengan Rasulullah saw. Tahun ini milad Rasulullah saw berbarengan dengan sebuah isu yang ramai dibicarakan di dunia. Isu tentang penghinaan terhadap Rasulullah dan penghinaan terhadap Islam. Penghinaan itu muncul karena kebencian dan kebencian itu muncul karena ketidaktahuan. Dalam sebuah riwayat, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib berkata, \u201c<em>Al-n\u00e2su a\u2019d\u00e2-u m\u00e2 jahil\u00fb.<\/em>\u201d<em> <\/em>Manusia itu cenderung membenci sesuatu yang tidak dikenalnya (Hikmah 172)<\/p>\n\n\n\n<p>Ketika seseorang mengenal sesuatu yang\nmemberikan manfaat baginya, mengenal bahwa sesuatu itu tidak berbahaya, dia tidak\nakan membenci hal tersebut. Manusia cenderung membenci binatang buas, tetapi ketika tahu bahwasanya binatang buas itu tidak\nakan mengancam nyawanya, tidak akan menyakitinya, dia tidak akan membencinya. Misalnya, jika ada seekor ular masuk ke rumah seseorang. Langkah pertama yang akan dilakukan oleh orang itu\nadalah membunuh ular tersebut. Padahal, bisa jadi ular itu hanya sekadar numpang lewat saja sehingga tidak perlu untuk\nsampai dibunuh. Ada\nular yang berbisa, ada ular yang tidak berbisa. Ketika orang tahu bahwa ular\nyang masuk ke tempat dia tidak berbisa, dia tidak akan membunuh ular itu karena\ntidak ada bahaya yang mengancam dirinya. Mengapa dia harus melumuri tangannya dengan membunuh makhluk\nAllah yang tidak akan mengganggunya? <\/p>\n\n\n\n<p>Begitu\npula dengan orang yang tidak mengenal Rasulullah\nsaw,&nbsp; muncul\nkebencian. Beliau dilecehkan. Bukan hanya saat ini kita lihat kebebasan berekspresi\nyang dijadikan salah satu alasan oleh orang-orang di luar sana untuk\nmenunjukkan bahwa mereka bebas untuk menghina bahkan simbol-simbol kesucian\nagama-agama lain. Mereka bungkus semua itu dengan kebebasan berekspresi. Itu terjadi karena mereka tidak mengenal siapa\nRasulullah saw. Sementara kaum muslimin yang\nmengenal siapa Rasulullah saw akan meletakkan beliau di atas kepalanya ketika\nada seseorang menyebut nama Rasulullah saw, saat salawat berkumandang dari\nkanan dan kiri, ketika mendengar nama kekasih-Nya Allah disebut. Karena ada hadis yang mengatakan \u201corang yang paling\nbakhil di dunia adalah orang yang ketika namaku disebut dia tidak bersalawat\nkepadaku.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Mereka yang mengenal Rasulullah saw\nakan bershalawat kepadanya hanya dengan sebutan\nnamanya. Kita\ndengar orang ketika mendengarkan lantunan azan, ketika sampai kepada ucapan dan panggilan tentang\nsyahadah bahwa Muhammad adalah Rasulullah, semua bersalawat kepadanya.\nMengapa? Karena mencintai. Mencintai muncul karena mengenal siapa Rasulullah\nsaw. Kaum muslimin juga mengenal Rasulullah saw\nkarena Allah yang mengenalkan Rasul kepada umat ini.\nRasulullah saw juga menyebutkan siapa dirinya supaya umat mengenal\nsiapa beliau.<\/p>\n\n\n\n<p>Ayat-ayat suci Alquran juga banyak yang mengandung\npengenalan terhadap Rasulullah saw. Salah satu hal yang ingin saya sampaikan pada\nkesempatan ini adalah bahwa Rasulullah saw disebut dalam Alquran al-Karim sebagai rahmat.\nAda beberapa ayat suci Alquran yang menyebut beliau\nsebagai rahmat. Yang\nmenarik adalah ketika Rasulullah saw disebut sebagai rahmat, Allah juga menyebut diri-Nya sebagai pemilik rahmat. Dalam surah al-A&#8217;raf (7): 156, Allah &nbsp;berfirman,\n<em>Wa\nrahmati wasi\u2019at kulla syai\u2019<\/em><em>, <\/em>Dan\nrahmatku itu meliputi segala sesuatu. Tetapi dalam ayat yang sama Allah berfirman,\n<em>Fa\nsa\u2019aktub\u00fbha lilladz\u00eena yattaq\u00fbn<\/em><em>,\n<\/em>dan Aku akan berikan rahmat itu kepada orang-orang yang beriman, orang-orang yang bertakwa, orang-orang yang melaksanakan perintah-perintah-Ku. <\/p>\n\n\n\n<p>Artinya di sini ada dua macam rahmat: rahmat yang meliputi segala sesuatu dan rahmat yang\nhanya diberikan kepada orang-orang yang mukmin. Karena itulah, ketika menafsirkan <em>bismillahirrahmanirrah\u00eem<\/em> gandengan antara kata\n<em>r<\/em><em>ahman<\/em> dengan kata <em>rah\u00eem<\/em>\nyang dua-duanya berasal dari kata <em>rahmat<\/em>, para mufasir mengatakan bahwa <em>rahmat<\/em>-Nya <em>r<\/em><em>ahman<\/em> lebih luas dari <em>r<\/em><em>ahmat<\/em>-Nya <em>rahim<\/em>. <em>R<\/em><em>ahmat<\/em>-Nya <em>ra<\/em><em>h<\/em><em>man<\/em> meliputi segala sesuatu, baik engkau adalah manusia atau bukan manusia, baik engkau mukmin ataupun kafir, baik engkau di dunia ini atau di akhir. Sementara <em>r<\/em><em>ahman<\/em>-nya <em>rahim<\/em>\nhanya meliputi orang-orang mukmin dan diberikan kelak di hari kiamat nanti.\nDua-duanya ada pada sifat Allah.<\/p>\n\n\n\n<h2>Nabi sebagai Rahmat<\/h2>\n\n\n\n<p>Sekarang saya ingin berbicara mengenai Rasulullah saw.&nbsp; Bagaimana\nAllah mengenalkan nabi-Nya. Dalam satu ayat suci Alquran Allah\nmengatakan, \u201c<em>Wa m\u00e2 arsaln\u00e2ka\nilla rahmatan lil \u2018\u00e2lam\u00een <\/em>(21: 107).<em>\n<\/em>Tidaklah Kami utus engkau (wahai Muhammad), kecuali\nrahmat bagi seluruh alam.\u201d Kalau kita\nditanya apa atau siapa yang disebut alam, akan muncul jawaban <em>al-\u2019\u00e2lam m\u00e2 siwallah<\/em><em>,\n<\/em>yang disebut dengan alam adalah yang selain Allah. Jadi kalau kita mengatakan seluruh <em>maujud<\/em> yang eksis di alam ini, yang eksis selain Allah itu alam, mau itu benda mati ataupun benda hidup, mau benda itu kasar ataupun benda yang tidak kasar, dari mulai malaikat, <em>arasy<\/em>, langit, bumi sampai benda-benda\nyang padat dan benda yang mati seperti bebatuan, semuanya adalah bagian dari\nalam.\n<em>Al-\u2019\u00e2lam\nm\u00e2 huwa siwallah<\/em><em>.\n<\/em>Alam adalah (segala sesuatu) selain Allah. <\/p>\n\n\n\n<p>Jika\nAllah menyebut nabi-Nya, Muhammad al-Musthafa saw, dengan firman-Nya, <em>Wa m\u00e2 arsaln\u00e2ka illa rahmatan<\/em>. \u201cTidaklah Kami utus\nengkau kecuali rahmat.\u201d Bagi siapa? <em>Lil \u2018<\/em><em>\u00e2<\/em><em>lam<\/em><em>\u00ee<\/em><em>n<\/em>,\nbagi seluruh alam, artinya Nabi Muhammad saw adalah rahmat bagi, <em>m<\/em><em>\u00e2<\/em><em>\nsiwallah, <\/em>rahmat bagi selain Allah. Termasuk di antaranya para malaikat mendapatkan rahmat dari Rasulullah saw.\nBukankah ini mirip dengan apa yang Allah sifatkan, <em>Wa rahmati wasi\u2019at kulla syai\u2019<\/em>, \u201dRahmat-Ku meliputi segala sesuatu\u201d? Bukankah ini mirip dengan\nitu, ketika Allah menyebutkan sisi <em>rahmat<\/em>\nyang kedua yaitu <em>rahmat<\/em>-Nya yang <em>rahim<\/em> yang hanya diperuntukkan untuk\norang-orang mukmin, ternyata Allah juga mengenalkan <em>rahmat-<\/em>Nya Nabi Muhammad ada <em>rahmat<\/em>\nyang khusus diberikan kepada orang-orang mukmin. Firman-Nya, <em>Laqad j\u00e2\u2019akum ras\u00fblu min anfusikum \u2018az\u00eezun\n\u2018alaihi m\u00e2 \u2018anittum har\u00eeshun \u2018alaikum bil mu\u2019min\u00eena ra\u2019\u00fbfurrah\u00eem.<\/em> \u201cSungguh telah\ndatang kepada kalian seorang Rasul dari kaum kalian sendiri,\nberat terasa olehnya penderitaan kalian,\nsangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagi kalian,\namat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin\u201d (9: 128-129).<\/p>\n\n\n\n<p>Rasulullah\nsaw itu punya sifat <em>rauf<\/em> dan <em>rahim,<\/em> penyayang kepada siapa? Kepada orang-orang\nmukmin. Berarti Rasulullah saw punya <em>rahmat<\/em> yang sedemikian besar kepada\norang mukmin. Pertanyaannya, apakah ini bertentangan dengan rahmatnya Rasulullah saw yang untuk <em>\u2018\u00e2lam\u00een<\/em>? Jawabannya: Tidak! Ini adalah dua jenis <em>r<\/em><em>ahmat<\/em>\nyang berbeda. Sama\nseperti Allah, mungkin\nkata sama. Keliru\nkalau saya katakan ini senada dengan <em>rahmat<\/em>\nyang dimiliki oleh Allah untuk\nsegala sesuatu,\ntetapi\nAllah punya <em>r<\/em><em>ahmat<\/em> yang hanya diberikan untuk orang-orang mukmin.\n<\/p>\n\n\n\n<p>Orang mungkin bertanya begini, \u201cAdakah <em>mazhahir<\/em> atau manifestasi dari <em>rahmat<\/em>-nya Rasulullah saw? Mengapa Rasulullah\nsaw layak untuk disebut sebagai pembawa <em>rahmat<\/em>?\nJawabannya adalah karena Rasulullah saw membawa suatu program dari Allah untuk\nkehidupan umat manusia, yang program ini adalah program yang memberikan\nkeselamatan bagi mereka. Bukankah sesuatu yang memberikan keuntungan adalah <em>rahmat<\/em> sesuatu? Lawan daripada <em>rahmat<\/em> adalah azab. Ketika seseorang memberikan suatu pemberian dengan cinta, bukankah itu bagian dari <em>r<\/em><em>ahmat?<\/em> Ketika Allah menceritakan tentang Nabi Muhammad saw bahwa beliau adalah yang membawa risalah ilahiah kepada umat manusia. Risalah ilahiah\nitu jika dilaksanakan, ia akan memberikan jaminan keselamatan bagi umat manusia. Bukankah ini adalah <em>r<\/em><em>ahmat<\/em>?\n<\/p>\n\n\n\n<p><em>Rahmat<\/em> kedua yang ditunjukkan adalah Rasulullah mengenalkan\nkepada kita, manusia-manusia yang harus menjadi teladan dan panutan sepeninggal\nbeliau.\nPara Imam maksum as, yang mana mereka juga <em>r<\/em><em>ahmat<\/em>, adalah suatu anugerah yang besar. Ketika orang di tengah kebingungan setelah wafatnya\nRasulullah saw,\nkeberadaan manusia-manusia agung yang telah dikenalkan\noleh Nabi saw\nkepada umat adalah <em>rahmat<\/em>.\nInilah (mengapa) Allah menyebut Nabi saw sebagai <em>wa m\u00e2 arsaln\u00e2ka\nilla rahmatan lil \u2018\u00e2lam\u00een<\/em><em>.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Pada\nkesempatan ini saya ingin menyebutkan beberapa contoh apa yang terjadi dan apa\nyang dikenalkan oleh sejarah ataupun riwayat dari <em>rahmat<\/em> Rasulullah saw. Sebelumnya saya ingin&nbsp; menyampaikan dulu beberapa ayat Alquran yang\nberhubungan dengan rahmat Rasulullah saw. Yang pertama adalah ayat <em>Laqad j\u00e2\u2019akum ras\u00fblu min anfusikum \u2018az\u00eezun\n\u2018alaihi m\u00e2 \u2018anittum har\u00eeshun \u2018alaikum bil mu\u2019min\u00eena ra\u2019\u00fbfurrah\u00eem. <\/em><em>R<\/em><em>ahmat<\/em>\nyang diberikan oleh Rasulullah ditunjukkan hanya untuk orang-orang mukmin. Ayat\nyang kedua, <em>rahmat<\/em> yang ditunjukkan\noleh Rasulullah saw kepada seluruh makhluk yaitu <em>wa m\u00e2 arsaln\u00e2ka illa rahmatan lil \u2018\u00e2lam\u00ecn. <\/em>Sampai-sampai\nmalaikat Jibril ketika ayat ini turun mendatangi Rasulullah saw dan mengatakan,\n\u201cYa Rasulullah, aku tenang sekarang karena engkau yang menjadi <em>rahmat<\/em>. Aku tenang karena&nbsp; aku adalah makhluk yang takut tergelincir.\u201d Walaupun\nmalaikat bukan makhluk yang\u2014kata Allah dalam Alquran, <em>l\u00e2 ya\u2019sh\u00fbnallaha m\u00e2 amarahum wa yaf\u2019al\u00fbna m\u00e2 yu\u2019mar\u00fbn\u2014<\/em>tidak mungkin\nakan bermaksiat kepada Allah. Tapi Malaikat Jibril tetap memiliki rasa takut, jangan-jangan dia bisa melenceng. Kata Malaikat Jibril, \u201cSetelah Allah menyebutmu sebagai <em>rahmat<\/em> hatiku tenang karena aku tahu engkau siapa wahai Rasulullah.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Ayat berikutnya adalah yang menunjukkan keberhasilan\nRasulullah saw dalam\ntablignya. Salah\nsatu kuncinya adalah <em>r<\/em><em>ahmat<\/em>-nya Rasulullah saw itu. Dalam ayat Alquran surah Ali Imran (3): 159, Allah berfirman,\n<em>Fa\nbim\u00e2 rahmatin minall\u00e2hi linta lahum walaw kunta fadzdzan ghal\u00eedzal qalbi\nlanfaddu min hawlika<\/em><em>,\n<\/em><em>fa\u2019fu\nanhum wastaghfir lahum wa sy\u00e2wirhum fil amr<\/em>. \u201cDan karena <em>rahmat<\/em> Allah lah\nengkau, wahai Muhammad, menjadi orang yang penuh rasa kasih sayang, engkau punya rasa perlakuan yang lemah lembut kepada umatmu. Sehingga jika engkau menjadi orang bengis yang kasar,\nmaka mereka akan lari dari sisimu. Ini yang disebutkan oleh Allah\n&nbsp;kepada\nRasulullah saw. Dan itu semua masuk dalam kategori\nakhlak Rasulullah saw yang mulia, <em>Wa\ninnaka la\u2019al\u00e2 khuluqin \u2018azh\u00eem. <\/em>\u201cDan\nsesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung\u201d (68: 4).<\/p>\n\n\n\n<p>Ada beberapa contoh dari akhlak atau rahmatnya Rasulullah saw.\nImam Ali bin Abi Thalib menceritakan tentang beliau.\nHal yang menarik dari Rasulullah saw itu kalau dihadapkan kepada dua amal,\ndua-duanya harus dikerjakan pada saat yang sama, salah satu harus dipilih, maka\nyang diprioritaskan oleh Rasulullah saw untuk dilaksanakan oleh beliau sendiri\nadalah pekerjaan yang paling berat di antara keduanya. Yang lebih ringan diserahkan\nkepada orang lain untuk melaksanakannya. Ini\nsuatu hal yang benar-benar dahsyat kalau kita mau pikirkan. Bagaimana Rasulullah saw yang menjadi pemimpin bagi umat ini, justru ketika ada pekerjaan beliau memilih yang berat, yang ringan diberikan kepada yang lain. Ketika kaum muslimin menggali parit dalam Perang Khandaq dalam menghadapi\nserangan orang-orang kafir Quraisy\nbersama dengan kafir lain, Rasulullah saw mengambil kapak atau mengambil alat untuk memukul batu\nuntuk memecahkannya sambil mengucapkan takbir tiga kali. Dan, bebatuan itu pun pecah. Beliau melakukan hal yang lebih berat daripada yang\ndilakukan oleh umatnya. Inilah salah satu akhlak Rasulullah\nsaw.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam sebuah riwayat ditunjukkan bagaimana cara Rasulullah\nsaw&nbsp; memperlakukan\numat.\nAda seorang sahabat bernama Anas bin Malik. Ia pernah\nmendatangi Rasulullah saw. Saat itu beliau memberikan\nhadiah kepada ibu Anas. Sang ibu kemudian berkata kepada Rasulullah, \u201cYa\nRasulullah, aku tidak punya apa-apa untuk aku berikan kepadamu, tetapi aku\npunya anak yang masih berusia 8 tahun, masih kecil. Aku hadiahkan anak ini\nkepadamu untuk melayanimu.\u201d Jadilah Anas\nbin Malik menjadi pelayan di rumah Rasulullah saw\nselama sepuluh tahun. Riwayat-riwayat yang lain mengatakan sembilan tahun.\n<\/p>\n\n\n\n<p>Selama\nsembilan atau sepuluh tahun mengabdi di rumah Rasulullah saw, Anas melayani beliau.\nKalau Rasulullah butuh\nsesuatu, Anas yang\nakan menyiapkannya. Kalau beliau usai\nmakan,\nAnas yang akan membersihkannya. Beliau selalu memperlakukan Anas bukan sebagai seorang\npembantu atau pelayan di rumahnya. Anas bercerita, \u201cSelama sembilan\natau sepuluh tahun, aku berada di rumah\nRasulullah saw,\ntidak pernah beliau mencelaku sedikitpun; tidak pernah\nbeliau ketika aku melakukan sesuatu mempertanyakan \u2018mengapa engkau melakukannya\nyang ini, bukan mengerjakan yang lain\u2019. Tidak pernah. Tidak pernah pula\u2014ketika Rasulullah saw\nmemerintahkan aku melakukan sesuatu,\nlalu aku lupa mengerjakannya\u2014beliau menghardikku dan\nmengatakan, \u2018Eh, mengapa kau lupa melakukan apa yang aku\nperintahkan.\u2019\u201d <\/p>\n\n\n\n<p>Itulah\nakhlak Rasulullah saw.<\/p>\n\n\n\n<p>Kalau ada satu orang dari keluarga istri-istri Nabi\natau keluarga Nabi yang lain memperlakukan Anas dengan sedikit saja kasar, Rasulullah saw akan menegurnya dan akan membela Anas. Sampai-sampai Anas mengatakan, \u201c<em>W<\/em><em>allahi, <\/em>demi\nAllah, aku tidak tahu yang melayani itu aku melayani Rasulullah ataukah Rasulullah yang melayaniku.\u201d&nbsp; <\/p>\n\n\n\n<p>Rahmatnya Rasulullah\nsaw ditunjukkan sampai kepada orang yang paling rendah. Pelayan\ndi dalam rumah adalah yang paling rendah kastanya kalau kita menggunakan kata-kasta. Tapi Rasulullah sedemikian mengagungkan dan menghormati\norang yang harusnya melayani beliau.<\/p>\n\n\n\n<p>Riwayat lain menyebutkan ada seorang wanita berkulit\nhitam di Kota\nMadinah. Dia\npunya pekerjaan sehari-harinya datang ke Masjid Nabawi, lalu menyapu masjid, membersihkan masjid. Suatu hari Rasulullah saw&nbsp; melihatnya\ntidak datang. Hari\nkedua tidak datang. Beberapa hari tidak datang. Rasulullah saw kemudian bertanya kepada para sahabatnya, \u201cDi mana wanita itu yang biasanya datang ke masjid\nmembersihkan masjid.\u201d Para sahabat menjawab, \u201cYa Rasulullah, orangnya sudah meninggal beberapa hari yang lalu.\u201d <\/p>\n\n\n\n<p>Rasulullah saw menunjukkan raut muka yang tidak senang. Lalu beliau berkata, \u201cKalian telah menyiksa hatiku, telah menyakiti hatiku karena kalian tidak memberi\nberita tentang kematian wanita ini.\u201d Sedemikian agungnya Rasulullah saw,\nseorang pemimpin yang memerhatikan orang\nyang kerjanya membersihkan dan menyapu masjid. Ketika dia meninggal, Rasulullah saw\nmerasa harus berempati kepadanya dan kepada\nkeluarganya. Lalu\nbeliau bertanya kepada para sahabatnya, \u201cDi manakah wanita itu dikuburkannya.\u201d\nBeliau pun pergi menziarahi wanita tersebut&nbsp; kemudian\nmembacakan salawat di kuburan itu dan mendoakan wanita\ntersebut supaya dijauhkan dari azab kubur.&nbsp; Rahmatnya\nditunjukkan bahkan kepada orang yang sangat rendah dari sisi status sosial.<\/p>\n\n\n\n<p>Riwayat\nlain disebutkan bahwa Anas bin Malik bercerita: Suatu kali ada seorang Badui\nmendatangi Rasulullah saw dalam keadaan sedang memakai syal ikat leher yang\nterbuat dari kain yang agak kasar. Orang\nBadui itu menarik kain syal itu sehingga membuat leher Rasulullah\nterluka dan merah. Orang-orang yang melihat kejadian itu marah dan ingin\nmemukul orang Badui\ntersebut. Beliau membiarkan perlakuan Badui itu. Kemudian orang Badui itu dengan tidak sopan berkata kepada Rasulullah saw,\n\u201cWahai Muhammad, berikanlah harta yang ada di tanganmu.\u201d Seandainya\norang biasa diperlakukan seperti itu, pastinya akan marah. Tapi apakah\nRasulullah saw marah?\n&nbsp;Beliau hanya tersenyum lalu berkata, \u201cWahai fulan, engkau telah melakukan hal ini kepadaku. Apakah\nkira-kira aku akan membalasmu sekarang ini? Karena kalau orang harus melakukan sesuatu perbuatan\nburuk dibalas,\naku punya hak untuk membalas. Apakah aku kira-kira akan membalasnya?\u201d Jawaban orang Badui itu, \u201cTidak, &nbsp;ya\nRasulullah, aku tidak percaya bahwa engkau akan membalas.\u201d Kata Nabi, \u201cMengapa? Bukankah\naku punya hak untuk membalasmu?\u201d Jawaban orang Badui itulah yang menunjukkan bahwa dia\nmengenal Rasulullah saw. Apa kata dia? Dia mengatakan, \u201cAku tahu siapa engkau, wahai Rasul, engkau tidak akan memperlakukan keburukan dengan\nkeburukan.\u201d\nRasulullah saw kemudian\ntersenyum dan memerintahkan sahabatnya untuk memberikan apa yang diminta oleh\norang Badui\ntadi. Ini adalah\nsekelumit akhlak yang\nditunjukkan oleh Rasulullah saw.<\/p>\n\n\n\n<p>Kisah lain. &nbsp;Rasulullah\nsaw\nsedang berada di masjid. Beliau tiba-tiba kedatangan seorang Badui, dan Badui itu tengah berbicara dengan Nabi, kemudian dia mengundurkan diri dan berdiri di pojok\nmasjid untuk melakukan hal yang tidak layak. Dia menajisi masjid. Para sahabat datang dan menghardiknya. Bahkan akan\nmemukulnya tapi dicegah oleh Rasulullah saw, \u201cBiarkan dia menyelesaikan hajatnya.\u201d\nSetelah itu baru Rasulullah saw menasihati orang itu. Tanggapan orang Badui itu\nsungguh mencengangkan, dia langsung mengangkat tangannya dan mengatakan, \u201c<em>Allahummarhamni wa muhammada wa l\u00e2 tarham\nma\u2019ana ahada, <\/em>Ya Allah rahmati aku dan Muhammad dan jangan engkau rahmati\norang lain selain kami berdua.\u201d <\/p>\n\n\n\n<p>Ini ditunjukkan oleh orang Badui yang melihat bagaimana Rasulullah saw\nmemperlakukan dia, manusia yang seagung ini lahir di bulan Rabiulawal. Kita bergembira atas kelahirannya yang membawa risalah\nilahiah di tengah-tengah kita dan memohon kepada Allah\nsemoga kecintaan kita kepada kekasih Allah ini semakin\nmeningkat.[] Naskah ini merupakan khotbah Jumat\nUstaz Hafidh Alkaf, Jumat, 06 November 2020, di ICC, Jakarta. Ditranskrip dan\ndisunting seperlunya oleh redaksi Buletin Nur al-Huda.\n<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ICC Jakarta &#8211; Bulan ini adalah bulan Rabiulawal yang berhubungan dengan Rasulullah saw. Tahun ini milad Rasulullah saw<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":11791,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[414],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11824"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11824"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11824\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":12701,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11824\/revisions\/12701"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media\/11791"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11824"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11824"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11824"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}