{"id":11840,"date":"2020-11-16T03:19:50","date_gmt":"2020-11-16T03:19:50","guid":{"rendered":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/?p=11840"},"modified":"2020-11-16T03:19:52","modified_gmt":"2020-11-16T03:19:52","slug":"imam-ali-khamenei-dari-kamar-hauzah-hingga-wali-faqih","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/2020\/11\/16\/imam-ali-khamenei-dari-kamar-hauzah-hingga-wali-faqih\/","title":{"rendered":"Imam Ali Khamenei, Dari Kamar Hauzah Hingga Wali Faqih"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>ICC Jakarta &#8211;<\/strong> \u201cAyah saya adalah ulama yang terkemuka, namun sangat zuhud dan pendiam. Kehidupan kami cukup sulit. Saya teringat, sering di malam hari kami tidak memiliki apa-apa untuk dimakan! Ibu saya dengan susah payah menyiapkan makan malam. Hidangan makan malam itu adalah roti dan kismis\u201d. Itulah ungkapan Ayatullah Sayid Ali Khamenei tentang kondisi keluarganya yang sederhana. Beliau memang lahir dari keluarga sederhana. Ayahnya adalah almarhum Hujjatul Islam wal Muslimin Haj Sayyid Javad Husaini Khamenei.<\/p>\n\n\n\n<p>Di rumahnya yang cuma seukuran 60 m2. Sayid Ali Khamenei\nmerasakan kehidupan zuhud ayahnya yang seorang ulama dan guru. Ayahnya pula\nyang menjadi alasan Sayid Ali Khamenei memilih jalan para ulaman. Sayid Ali\nKhamenei menulis : \u201cFaktor dan alasan utama saya memilih jalan cahaya\nkeruhanian ini adalah ayah saya dan ibu saya yang.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Dari kesederhanaan ini, ternyata lelaki kelahiran tanggal 16\nJuli 1939 atau bertepatan dengan tanggal 28 Shafar 1357 Hijriah, adalah seorang\nyang sangat pintar. Pendidikan tingkat dasarnya hanya diselesaikan lima tahun\nsaja. Padahal ukuran normalnya tingkatan itu diselesaikan dalam waktu 8 hingga\n10 tahun.<\/p>\n\n\n\n<p>Pertama masuk sekolah bernama \u201cDaar At-Ta\u2019lim Diyanati\u201d.\nBersama Kakaknta Sayid Ali Khamenei belajar membaca dan Al Qur\u2019an. Setelah itu\nmulai masuk hauzah dan mempelajari ilmu-ilmu alat. Buku yang dipelajarinya\nmulai dari Jami\u2019 Al Muqaddimat, Suyuti dan Mughni, Ma\u2019alimm, Syarh Lum\u2019ah dan\nSyarayi\u2019 Al Islam. Untuk kitab Rasail dan Makasib, beliau menimba ilmu dari\nalmarhum Haj Syeikh Hashim Qazveini<\/p>\n\n\n\n<p>Selain ayahnya, guru-guru yang memberi pengaruh kepada Sayid\nAli Khamenei adalah almarhum Agha Mirza Modarris Yazdi dan Haj Syeikh Hashim\nQazveini. Almarhum Ayatullah Mirza Javad Agha Tehrani dan Syeikh Reza Eisi\nadalah guru yang sangat berpengaruh pada pengembangan intelektual di bidang\nilmu logika, filsafat, kitab Mandzumah Sabzavari.<\/p>\n\n\n\n<p>Kecemerlangannya dalam bidang ilmu dilanjutkan dengan\npelajaran Bahtsul Kharij kepada almarhum Ayatullah Al Udzma Milani. Kalau sudah\nsampai di tingkat ini, berarti satu jenjang menuju gelar mujtahid sudah dekat.<\/p>\n\n\n\n<p>Pernah satu saat ada keinginan belajar di Najaf Irak.\nKeinginan itu muncul saat berziarah ke Najaf tahun 1957. Di Najaf Sayid Ali\nKhamenei ikut dalam kelas darsul kharij dari para mujtahid di hauzah Najaf\ntermasuk almarhum Sayyid Muhsin Hakim, Sayyid Mahmoud Shahroudi, Mirza Bagher\nZanjani, Sayyid Yahya Yazdi, dan Mirza Bojnourdi.<\/p>\n\n\n\n<p>Aura belajar disana ternyata sangat disukai&nbsp; Sayid Ali Khamenei. Beliau pun lantas memberitahukan\nniatnya untuk belajar di Najaf kepada sang ayah, namun ayah beliau tidak\nmenyetujuinya.<\/p>\n\n\n\n<p>Baca: \u201cBelajar Berbakti Kepada Orang Tua Dari Imam Ali\nZainal Abidin a.s.\u201c<\/p>\n\n\n\n<p>Pada tahun 1958 hingga 1964, Sayid Ali Khamenei hijrah ke\nQom dan belajar ilmu fiqih, ushul dan filsafat. Di sini beliau berguru kepada\nalmarhum Ayatullah Al-Udzma Boroujerdi, Imam Khomeini, Syeikh Murtadha Hairi\nYazdi, dan Allamah Taba\u2019tabai.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Api Revolusi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Tahun tahun belajar di Madrasah Sulaiman Khan Masyhad adalah\ntahun pergolakan politik. Beberapa tokoh ulama bangkit melawan kediktatoran\nrezim Shah Iran yang disokong Inggris. Salah satu tokoh penggerak pergerakan\nmelawan rezim Shah adalah Sayyid Mujtaba Navvab Safavi.<\/p>\n\n\n\n<p>Ketika itu, Navvab Safavi dan sejumlah pejuang Islam lainnya\ndari kelompok Fedaiyan-e Islam (Pembela Islam) pada tahun 1331 Hijriah Syamsiah\n(1952) menyampaikan sebuah orasi. Navvab menyerukan kebangkitan Islam dan\npenerapan hukum Allah, serta membongkar tipu daya Rezim Syah dan Inggris\nterhadap bangsa Iran.<\/p>\n\n\n\n<p>Ayatullah Khamenei yang saat itu termasuk pelajar madrasah\nSulaiman Khan benar-benar terkesan oleh pidato Navvab. Dalam catatannya beliau\nmengatakan, \u201cSaat itu muncul api semangat revolusi Islam dalam jiwa saya. Tidak\nragu lagi bahwa Navvab telah menyalakan api perjuangan dalam hati saya\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Bersama Sang Imam<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Untuk pertama kalinya pada tahun 1959, beliau diperintahkan\noleh Imam Khomeini untuk menyampaikan pesannya kepada Ayatullah Milani dan para\nulama lainnya di Propinsi Khorasan. Pesannya tentang mekanisme program dakwah\ndi bulan Muharram serta penyingkapan kebobrokan Rezim Shah dan AS.<\/p>\n\n\n\n<p>Tentu saja yang dimaksud dengan pembawa pesan di sini bukan\nmenjadi kurir biasa yang hanya bertugas menyampaikan surat. Lebih dari itu\nSayid Ali Khamenei bahkan menjadi juru bicara yang mampu menjabarkan keinginan\nImam Khomeini kepada kelompok revolusioner di kota Masyhad. Tak jarang beliau\nsendiri yang harus menjelaskan kepada kelompok kelompok pemuda revolusioner.<\/p>\n\n\n\n<p>Akibat orasi-orasinya itu, pada tanggal 9 Muharram\nbertepatan dengan tanggal 2 Juni 1963, beliau ditangkap dan ditahan. Beliau\ndibebaskan dengan syarat tidak lagi berpidato di atas mimbar. Setelah itu,\nGerak gerik beliau pun diawasi oleh aparat.<\/p>\n\n\n\n<p>Menyusul terjadinya peristiwa berdarah 15 Khordad (5 Juni\n1963), beliau kembali ditangkap dan diserahkan ke penjara militer di kota\nMashad. Selama sepuluh hari mendekam di penjara tak terkira siksaan sadis yang\nharus diterimanya.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Langganan Penjara<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai seorang aktivis pergerakan, Sayid Ali Khamenei\nmenjadi incaran dari agen SAVAK. Wibawa dan pengaruhnya yang luas mampu membuat\npara pendengarnya tumbuh semangat revolusionernya. Sayid Ali Khamenei ditangkap\noleh Savak dan dijebloskan ke penjara Qezel Qal\u2019ah setelah menyampaikan orasi\ndi Kerman pada tanggal 26 Januari 1963.<\/p>\n\n\n\n<p>Keluar masuk penjara ternyata tak menyurutkan api revolusi\nyang berapi-api. Setiap pengajiannya yang dihadiri perhatian dari para pelajar\nmuda revolusioner selalu diisi dengan gelora perlawanan terhadap kekejaman\nrezim Shah.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada bulan Januari 1975, SAVAK menyerbu rumah Sayid Ali\nKhamenei dan menangkapnya. Para agen SAVAK juga merampas seluruh artikel maupun\ncatatan beliau. Ini keenam kalinya beliau ditangkap dan ini merupakan masa\npenahanan yang paling sulit.<\/p>\n\n\n\n<p>Sayid Ali Khamenei disekap dalam penjara Komite Gabungan\nKepolisian hingga musim gugur tahun akhir tahun 1975. Selama masa penahanan,\nbeliau diperlakukan dengan sangat keji. Kepedihan yang dialami Ayatullah\nKhamenei selama masa penahanan itu menurut beliau hanya dapat dipahami oleh\norang-orang yang pernah merasakan kondisi yang sama.<\/p>\n\n\n\n<p>Setelah bebas, Ayatullah Khamenei kembali ke kota Mashad dan\ntetap melanjutkan aktivitas ilmiah dan revolusionernya. Namun kali ini beliau\ntidak dapat membuka kelas-kelas terbuka seperti sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Sayid Ali Khamenei menulis, \u201cPada tahun 1348 Hijriah\nSyamsiah (1969), terbuka peluang untuk melakukan perlawanan bersenjata di Iran.\nSensitifitas dan kekerasan agen-agen Rezim Shah saat itu terhadap pribadi saya\nsemakin meningkat mengingat gerakan perlawanan bersenjata tersebut tidak\nmungkin terlepas dari orang-orang seperti saya. Pada tahun 1971, saya kembali\ndipenjara. Tindakan kekerasan yang dilakukan SAVAK di penjara secara jelas\nmenunjukkan kekhawatiran mereka terhadap menyatunya gerakan perlawanan\nbersenjata dengan pusat-pusat pemikiran Islam. Mereka tidak dapat menerima\nfakta bahwa aktivitas ilmiah dan dakwah saya di Mashad dan Tehran tak ada\nkaitannya dengan gerakan perlawanan bersenjata itu. Setelah bebas dari penjara,\npelajaran tafsir untuk umum dan kelas-kelas ideologi dan lain-lain, semakin\nmeluas.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Di Pengasingan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pada tahun 1978, Rezim Shah menangkap dan mengasingkan Sayid\nAli Khamenei ke kota Iranshahr selama tiga tahun. Karena meningkatnya tekanan\nkepada Rezim Shah, baru pada akhir 1978, Sayid Ali Khamenei dibebaskan dari\npengasingan dan kembali ke kota Mashad.<\/p>\n\n\n\n<p>Pengalamannya di penjara dan pengasingan tak menyurutkan\nsemangat revolusinya. Setelah bebas beliau kembali berada di barisan terdepan\nperjuangan rakyat Iran melawan Rezim Pahlevi. Setelah 15 tahun berjuang dan\nberkutat dalam pergerakan akhirnya beliau dapat merasakan hasil dari perjuangan\ndan perlawanan tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Detik Menjelang Kemenangan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Sebelum kepulangan Imam Khomeini r.a dari Paris ke Tehran,\ndibentuklah Dewan Revolusi Islam yang dianggotai oleh sejumlah tokoh pejuang\nseperti Ayatullah (Syahid) Mutahhari, Ayatullah (Syahid) Beheshti, Hashemi\nRafsanjani, dan lain-lain. Sayid Ali Khamenei dimasukan juga sebagai anggota\natas rekomendasi Imam Khomeini. Setelah mendapat perintah dari Imam Khomeini,\nSayid Ali Khamenei berangkat dari Mashad menuju Tehran.<\/p>\n\n\n\n<p>Pasca kemenangan Revolusi Islam Iran, Ayatullah Khamenei\ntetap melanjutkan aktivitas dan kerja keras untuk merealisasikan cita-cita\nrevolusi. Aktivitas dan jabatan yang beliau emban sangat penting khususnya jika\ndilihat dengan memandang kondisi saat itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Salah satu jabatan penting di era Revolusi Islam Iran adalah\nsebagai Presiden Republik Islam Iran, menyusul gugur syahidnya Muhammad Ali\nRajaee, Presiden kedua Republik Islam Iran. Pada bulan tahun 1981, Ayatullah\nKhamenei memperoleh lebih dari 16 juta suara warga, dan dilantik sebagai\nPresiden Republik Islam Iran setelah mendapat pengukuhan dari Imam Khomeini\nr.a. Beliau juga terpilih untuk kedua kalinya pada tahun 1985.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Dari Panggung Politik hingga Wali Faqih<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Iran, 4 Juni 1989. Diumumkan bahwa SangImam telah\nmengembuskan nafasnya yang paling akhir untuk bertemu dengan Allah, Sang\nKekasih. Pagi hari itu juga, Majelis-e Khubregan (Dewan Ahli) Iran mengadakan\nsidang darurat dengan satu agenda: mendengarkan pembacaan surat wasiat Imam.<\/p>\n\n\n\n<p>Sayyid Ahmad Khomeini meminta dengan sangat agar Sayid Ali\nKhamenei yang membacakan surat wasiat itu. Dengan berat hati Sayid Ali Khamenei\nmenyanggupi permintaan itu. Pembacaan surat wasiat itu tercatat sebagai elegi\nyang sangat memilukan. Berkali-kali Sayyid Ali Khamenei menghentikan pembacaan\nsurat tersebut karena harus menyeka air mata yang dengan deras mengalir tidak\nterbendung.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam suasana tertekan akibat rasa kehilangan, Majlis\nKhubregan harus segera memutuskan siapa yang menjadi pemimpin tertinggi\nmenggantikan Imam Khomeini. Kepribadian dan integritas Imam yang sangat besar\ntelah membuat semua pihak, termasuk kalangan internal Iran, meragukan kemampuan\nDewan Ahli dalam menunjuk pemimpin baru yang paling tidak, mendekati\nkapabilitas Imam Khomeini.<\/p>\n\n\n\n<p>Sejumlah media memprediksikan krisis besar yang akan timbul\nsetelah wafatnya Imam Khomeini. Sementara itu kalangan media anti revolusi\nIslam berpendapat yang sama. Radio BBC menyiarkan. \u201cKekosongan keuasaan yang\nditimbulkan oleh wafatnya Imam tidak akan mungkin bisa ditutupi oleh siapapun\u201d.\nRadio AS Voice of America bahkan memprediksi akan adanya perang saudara besar\nbesaran paska wafatnya Imam<\/p>\n\n\n\n<p>Situasi mencekam terjadi di dewan sidang Majlis Khubregan.\nHampir semua pihak saat itu, jika ditanya mengenai pengganti Imam, akan\nmenggelengkan kepalanya.<\/p>\n\n\n\n<p>Sayid Ali Khamenei bersama Hashemi Rafsanjani menggulirkan\nide pembentukan kepemimpinan presidium. Sistem ini memang termaktub dalam\nkonstitusi Iran, bahwa jika rahbar tunggal tidak memungkinkan untuk terpilih,\nmaka Dewan Ahli diperbolehkan untuk membentuk dan memilih para anggota\npresidium pemimpin (syura-ye rahbari).<\/p>\n\n\n\n<p>Awalnya usul ini mulus berjalan. Aklamasi akan dicapai. Akan\ntetapi aura di salam sidang mendadak aneh.&nbsp;\nPara anggota Dewan Ahli belakangan bercerita tentang sinar ilham yang\nmenyeruak ke dalam kalbu mereka. Tangan ilahi memang tengah bertindak.\nTiba-tiba, nama Sayyid Ali secara serentak digumamkan oleh para anggota Dewan\nAhli sebagai kandidat utama pemimpin tunggal pengganti Imam.<\/p>\n\n\n\n<p>Ide Kepemimpinan kolektif kemudian dipinggirkan karena ada\ncelah untuk kepemimpinan tunggal. Nama Sayid Ali Khamenei kemudia bergaung di\nsidang ini. Ide kepemimpinan tunggal disetujui para anggota dewatn tapi ditolak\noleh Sayid Ali Khamenei.<\/p>\n\n\n\n<p>Hashemi Rafsanjani yang ikut menggulirkan ide pembentukan\npresidium, tiba-tiba diingatkan pada beberapa momen kebanggaan Imam Khomeini\nkepada muridnya yaitu Sayid Ali Khamenei. Rafsanjani bahkan langsung mengingat\nperistiwa saat ia mengajukan kekhawatirannya atas situasi vacum of power yang\nsangat mungkin terjadi seandainya \u201cputra mahkota\u201d, Ayatullah Montazeri,\nbetul-betul dipecat dari jabatannya oleh Imam. Saat itu, Imam tersenyum dan\nberkata, \u201cItu tidak akan mungkin terjadi karena kalian sebenarnya punya\npemimpin\u201d. Lebih jauh Imam Khomeini mengatakan, \u201cInilah Agha Khamenei, pemimpin\nkalian\u201d. Kata-kata Imam itu , menurut Rafsanjani, didengar oleh para ketua\nlembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif yang hadir. Hadir pula Perdana\nMenteri Mir Muosavi dan Sayyid Ahmad Khomeini.<\/p>\n\n\n\n<p>Akhirnya diambil voting. hasilnya menunjukkan bahwa dari 72\nanggota Dewan, 71 menyetujui, dan satu suara abstain. Aneh dan sangat sulit\nuntuk bisa diprediksikan sebelumnya. Dengan gamang, Sayyid Ali maju ke depan\ndan berbicara di atas mimbar sidang. Ia saat itu mengajukan penolakan atas\nhasil voting. Di bawah sorotan tatapan penuh harap para anggota Dewan, Sayyid\nAli mengemukakan keberatannya atas pilihan anggota Dewan yang menurutnya keliru\nitu.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam keberatannya Sayid Ali Khamenei berkata, \u201cSejak dulu\nsaya tidak pernah membayangkan bahwa saya akan diminta mengemban amanat yang\nsangat berat ini. Saya selalu mengatakan kepada siapapun bahwa saya bukan orang\nyang tepat untuk mengemban amanat sebagai pejabat negara. Jangankan menjadi\nrahbar, menjadi presiden ataupun jabatan yang ada di bawahnya pun bukanlah\nkapasitas saya. Saat saya akan mengakhiri jabatan presiden periode kedua yang\nakan berakhir beberapa bulan lagi, saya mengatakan kepada Imam bahwa secara\nkonstitusional, saya tidak mungkin lagi menjadi presiden. Saya meminta kepada\nImam untuk memberikan tugas di bidang budaya kepada saya karena saya meyakini\nbahwa kapabilitas saya hanya di bidang ini.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Persidangan berjalan alot namun keputusan akhirnya diambil.\nSayid Ali Khamenei menggantikan Imam Khomeini. Betullah kata Ayatullah\nTalegani, Imam Jum\u2019at pertama setelah revolusi Islam Iran,&nbsp; bahwa Sayid Ali Khamenei&nbsp; adalah pemimpin masa depan Iran dan dunia\nIslam.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cYa Allah, jagalah revolusi Islam pimpinan Khomeini ini hingga bangkitnya revolusi Imam Mahdi nanti. Khamenei adalah pemimpin tercinta kami. Lindungilah ia. Berikan pertolongan dan kemenangan kepada para prajurit Islam di manapun mereka berada. Amin, ya Rabbal \u2018alamin.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Sumber: Safinahonline<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ICC Jakarta &#8211; \u201cAyah saya adalah ulama yang terkemuka, namun sangat zuhud dan pendiam. Kehidupan kami cukup sulit.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":11531,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[19],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11840"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11840"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11840\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":11841,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11840\/revisions\/11841"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media\/11531"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11840"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11840"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11840"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}