{"id":11850,"date":"2020-11-17T07:48:23","date_gmt":"2020-11-17T07:48:23","guid":{"rendered":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/?p=11850"},"modified":"2021-02-18T08:43:52","modified_gmt":"2021-02-18T08:43:52","slug":"menyikapi-perbedaan-keyakinan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/2020\/11\/17\/menyikapi-perbedaan-keyakinan\/","title":{"rendered":"Khutbah ke-148, Menyikapi Perbedaan Keyakinan"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>ICC Jakarta &#8211; <\/strong>Sekarang kita berada di bulan Rabiulawal, yang di dalamnya kaum muslimin seantero jagad ini memperingati milad Rasulullah saw. Namun seiring dengan itu peringatan tahun ini, bertepatan dengan penistaan pihak-pihak tertentu di dunia Barat terhadap keagungan dan kesucian nabi besar Muhammad saw, layak dan memang hak bagi kaum muslimin untuk marah terhadap penistaan yang terjadi terhadap Rasulullah saw. Bukan hanya hak tapi mereka juga wajib untuk marah karena adanya rasa sakit di hati setiap kaum muslimin terhadap apa yang dia lakukan oleh mereka yang menghina dan melecehkan Rasulullah saw serta melecehkan kesucian Islam.<\/p>\n\n\n\n<p>Sangat disayangkankan pihak-pihak di belahan dunia Barat sana melakukan pelecehan semacam ini dan terus\nmelakukan diulang-ulang, tahun demi tahun, dengan alasan dan dengan bingkai kebebasan\nberekspresi. Padahal\nkebebasan berekspresi itu oleh mereka akan dibatasi ketika berbicara berkenaan\ndengan hal-hal yang tidak mereka sukai. Ketika ada orang berbicara, misalnya, tentang menyangsikan dan meragukan kejadian Holocaust, kebebasan berekspresi itu tidak lagi mereka dengungkan.\nMereka melawan setiap orang yang meragukan tentang kejadian Holocaust dan menganggapnya\nsebagai antisemitisme.<\/p>\n\n\n\n<p>Apakah kebebasan berekspresi itu layak untuk\ndidengungkan ketika hal tersebut membuat dan menciptakan kemarahan di tengah masyarakat Barat? Bahkan juga yang lebih tersiksa yang lebih tersakiti\nadalah hati lebih dari satu setengah miliar kaum muslimin di seluruh penjuru\ndunia yang merasa sakit hati atas adanya penistaan semacam itu. Apakah penghinaan dan pelecehan pihak lain dan apakah\npenistaan agama dan keyakinan lain layak disebut sebagai sebuah kebebasan\nberekspresi? <\/p>\n\n\n\n<p>Di sini kita bertanya-tanya apakah gerangan yang\nmembuat mereka sedemikian sering menghina dan melecehkan kesucian kaum muslimin\ndengan menghina Rasulullah saw. Apa yang membuat mereka sedemikian terpanggil untuk\nmelakukan sesuatu yang menyulut kemarahan kaum muslimin?<\/p>\n\n\n\n<p>Rahasianya ada pada kemajuan dan perkembangan Islam\nyang mencengangkan di dunia Barat. Kita bisa menyaksikan bahwasanya Islam merupakan agama\nkedua di dunia dengan pemeluk terbesar, tetapi ketika kita melihat di negara-negara Barat\nseperti di Spanyol, Prancis,\nInggris,\ndan negara-negara lainnya, kita saksikan bahwa bahwa perkembangan Islam di\nnegara-negara itu sedemikian dahsyat. Bahkan dikatakan bahwa anak-anak muda di\ndunia Barat\ncenderung untuk menerima Islam karena mereka menemukan Islam adalah\nsatu-satunya agama yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka.<\/p>\n\n\n\n<p>Tentang siapa diri mereka, Islamlah yang menawarkan konsep untuk memahami makna\nkehidupan. Karena\nitu, kita melihat betapa mereka mendambakan ketenangan dan ketenangan itu bisa\nmereka dapatkan dalam Islam. Data statistik menunjukkan bahwa setiap tahunnya lebih\ndari 20.000 warga Amerika memeluk agama Islam, sementara di Eropa ada 23.000 orang-orang Eropa\nsetiap tahunnya memeluk agama Islam.<\/p>\n\n\n\n<p>CNN dalam sebuah liputannya yang dikemas dalam tema \u201cPerkembangan\nIslam di Dunia Barat\u201d\nmenyebutkan bahwa jumlah mereka yang setiap tahunnya memeluk agama Islam di\ndunia Barat\nsedemikian besar dan terus berkembang. Majalah <em>The Guardian<\/em> memberikan sebuah laporan tentang masalah perkembangan\nIslam.\nDikatakan bahwa bahwasanya tahun 2060 nanti Islam akan\nmenjadi agama pertama dengan jumlah penduduk terbesar menggeser posisi Kristen. <em>The Guardian<\/em>\njuga menyebutkan tentang laporan mengenai telaah atau studi demografi yang\ndilakukan di Amerika bahwa perkembangan Islam di sana menunjukkan perkembangan\nyang sedemikian dahsyat dan cepat sekali. Dan, ini akan terjadi pada paruh\nkedua abad ke-21 ini. Dengan demikian, kita bisa menyimpulkan apa yang\ndisampaikan oleh CNN ataupun laporan <em>the <\/em><em>G<\/em><em>uardian<\/em> bahwa 40 tahun lagi, terhitung dari sekarang, Islam akan\nmenjadi agama yang paling banyak dipeluk oleh penduduk bumi yang menjadi agama\npertama dengan pemeluk yang terbesar.<\/p>\n\n\n\n<p>Hal inilah yang memicu kekhawatiran dan kecemasan di\ndunia Barat\nsehingga mereka melalui telaah-telaah mereka, apa yang harus mereka lakukan menghadapi kenyataan\nini?\nMereka didukung oleh pihak-pihak yang berhubungan\nlangsung dengan gereja-gereja atau pusat-pusat keagamaan serta pusat-pusat\npengambilan keputusan secara politik, akhirnya mereka menggunakan kerja sama dengan media-media yang ada untuk menebarkan apa yang kita sebut\ndengan <em>islamophobia<\/em> atau ketakutan\nterhadap Islam. Tujuannya\nadalah supaya mereka bisa mencegah Islam menjadi agama pertama di dunia Barat. Karena itu, mereka berusaha mencegah orang-orang\ntertarik kepada Islam. Salah satunya adalah dengan cara melecehkan dan\nmenggambarkan Nnabi\nMuhammad saw dengan\ngambaran yang buruk, mengesankan Islam sebagai Islam agama yang buruk. Nanti ketika ada\nfenomena semacam itu akan muncul reaksi dari kaum muslimin yang diharapkan oleh\nmereka adalah reaksi yang berlebihan dari pihak kaum muslimin\ndengan kekerasan dan tindakan teror. Itu akan semakin mencoreng Islam dan kesuciannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Karena itu, ada dua agenda dunia Barat dalam masalah ini. Agenda pertama adalah melecehkan dan menghinakan apa\nyang berhubungan dengan Islam. Termasuk di antaranya melecehkan yang dianggap\npaling suci oleh kaum muslimin yaitu sosok Rasulullah saw. Agenda kedua adalah menciptakan kelompok-kelompok\nyang bisa memicu kebencian terhadap Islam sehingga muncullah kelompok Jabh al-Nusra, Boko Haram, dan kelompok-kelompok teror lainnya. Ketika mendengar adanya kelompok-kelompok semacam itu\ndan kelompok-kelompok itulah lahir dari rahim Islam, maka orang-orang yang tidak mengenal Islam akan\nmenjauhi Islam dan membenci agama ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Karena itu, tidak heran ketika kita mendengar menteri\nluar negeri Amerika Hillary Clinton dalam salah satu wawancaranya dengan tegas\nmengatakan bahwasanya Amerikalah yang menciptakan ISIS, Amerikalah yang menciptakan gerakan-gerakan seperti Boko Haram dan yang lainnya di berbagai belahan dunia. Bahwa pernyataan itu bagi kita bukan suatu hal yang\nmengejutkan karena kita sudah bisa membaca ini adalah salah satu agenda dari\ndunia Barat supaya\norang-orang yang tidak mengenal Islam akan semakin menjauh dan membenci Islam\njika mendengar nama itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Yang menjadi pertanyaan adalah di satu sisi kita\nmelihat adanya pelecehan terhadap Islam dan di satu sisi juga kita melihat adanya agenda-agenda Barat terhadap Islam untuk menjauhkan masyarakat dunia\ndari Islam.\nApa yang harus kita lakukan? Apa reaksi kita terhadap pelaksanaan pelecehan-pelecehan tersebut. Sebelum menjawab pertanyaan ini, saya tegaskan bahwasanya adalah hak bahkan wajib atas\nkaum muslimin untuk marah ketika menyaksikan pelecehan dan penghinaan terhadap Nabi Muhammad saw. Kaum muslimin harus marah ketika yang paling disucikan\ndan diagungkan oleh mereka ternyata dijadikan bahan cemoohan dan bahkan penghinaan, yang karena\nini adalah suatu luka yang sangat dalam, luka yang telah menyakiti kehormatan kemuliaan dan\nkemanusiaan mereka. Akan tetapi, meski begitu kita harus melihat bahwa tindakan\nkekerasan dan kekejian yang tidak terarah juga harus dihindari. Karena itu, kita tidak setuju dengan apa yang dilakukan\nbahkan mengecam apa yang terjadi di Kota Nice Prancis,\npada hari Kamis tanggal 29 Oktober 2020, ketika ada orang yang menyerang gereja di Gereja Notre-Damme dan membunuh seorang penjaga sekuriti gereja tersebut\nserta membunuh dua orang perempuan. Peristiwa semacam ini adalah peristiwa yang tidak bisa\ndibenarkan. Tindakan\nini justru menurut kami lebih buruk dari menyebarkan karikatur yang menghina\nRasulullah saw. Kita tidak bisa membenarkan tindakan pembunuhan teror dan kekerasan\nkepada orang-orang yang tidak berdosa.<\/p>\n\n\n\n<p>Saat menghadapi pelecehan-pelecehan semacam ini kaum muslimin harus bertindak\nsecara positif. Artinya,\ndengan cara menjelaskan kepada masyarakat lain tentang hakikat agama Islam, menjelaskan tentang perilaku dan sejarah Rasulullah saw\nyang penuh dengan pelajaran yang sangat berharga. Kita perlu menjelaskan kepada orang-orang yang lain di luar\nIslam dengan bahasa yang modern dan beradab. Kita juga mesti menggunakan cara yang menggunakan\ncara-cara damai yang bisa diterima oleh sistem manapun di dunia ini. Jangan sampai peristiwa ini menjadikan kita sebagai\nmasyarakat yang eksklusif, yang terpisah dari masyarakat dunia dengan&nbsp; melakukan\ntindakan kekerasan. Karena tindakan kekerasan\u2014apalagi yang menjadi sasaran\nadalah orang-orang yang tidak berdosa\u2014adalah sebuah tindakan yang tidak bisa\ndibenarkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Langkah kedua kita mesti mengkampanyekan kepada semua\npihak, di dalam\nataupun di luar,\nkampanye tentang keharusan untuk menghormati agama-agama dan keyakinan keyakinan yang lain. Semua pemerintahan, pemerintahan di negara-negara Islam,\nsemua lembaga-lembaga yang mengatasnamakan dirinya\nsebagai lembaga atau yayasan Islam, harus bisa melangkah untuk mewujudkan\nsebuah dunia, konsensus seluruh bangsa di dunia yang mengecam dan menolak\nsegala bentuk aksi penistaan terhadap keyakinan-keyakinan atas kepercayaan-kepercayaan yang ada.<\/p>\n\n\n\n<p>Ini berarti kita harus mengikat diri kita untuk\nmelakukan tindakan-tindakan yang beradab dan tidak melakukan penistaan terhadap\nkepercayaan yang lain. Ini berlaku untuk kita sebagai kaum muslimin, sebagai pengikut suatu pengikut mazhab terhadap\nmazhab yang lain, jangan\nsampai muncul dari kita apa yang membuat pihak-pihak yang meyakini keyakinan\nlain ketidaksenangan karena tindakan-tindakan pelecehan yang dirasa. Tidak ada hak bagi seorang Syi\u2019ah untuk menistakan dan melecehkan apa yang\ndiagungkan oleh orang-orang Sunni, dan tidak ada hak bagi seorang\nSunni untuk melecehkan apa yang diagungkan dan dianggap\nsebagai sakral oleh orang orang Syi\u2019ah. Masing-masing harus bisa menghormati keyakinan pihak yang\nlain tanpa harus melebur diri menjadi pihak yang lain. Memang kita melihat ada sejumlah riwayat dan\nungkapan-ungkapan yang menjurus kepada hal-hal yang bersifat sektarian yang mengkhususkan\nsatu kelompok terhadap kelompok yang lain, tapi kita sadar bahwa itu semua terjadi akibat dari\napa yang terjadi pada masa yang lalu dan harus kita tinggalkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Agama kita telah mendidik kita untuk menghormati\nkepercayaan orang lain, menghormati orang lain supaya orang lain juga menghormati.\nKitab Allah Swt dalam surah Al-An\u2019am ayat 108 berfirman, <em>Jangan kalian mencela orang-orang yang memanggil atau beribadah kepada\nselain Allah<\/em><em>,<\/em><em> karena\nkalau itu kalian lakukan maka mereka akan mencela Allah<\/em><em>.<\/em><em>\n<\/em><em>K<\/em><em>arena\nmereka memusuhi dan membenci tindakan yang kalian lakukan.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Ini adalah suatu pelajaran dari Allah Swt kepada kita. Setiap umat atau setiap golongan tentu\ningin keyakinannya dihormati. Jika dia melakukan tindakan menghina dan\nmelecehkan keyakinan orang lain, orang yang dihina itu pasti juga akan membalas dengan\nmenghina dan melecehkan keyakinan kita. Dan jika itu terjadi yang muncul adalah permusuhan, kebencian, yang ujung-ujungnya adalah munculnya dan pecahnya\npeperangan yang berbau mazhab dan sektarian. Tentunya jika itu terjadi yang merugi adalah semua\npihak, bukan hanya satu pihak saja.<\/p>\n\n\n\n<p>Alquran mengajarkan kepada kita, jangan\nsampai kita menjadi orang yang suka mencaci dan mencela walaupun mereka adalah\norang kafir. Demikian\npula riwayat dan hadis-hadis melarang kita untuk menjadi orang yang suka mencaci.\nDalam sebuah hadis, Nabi saw bersabda, \u201cAku tidak diutus untuk menjadi orang yang suka melaknat.\nAku diutus oleh Allah Swt untuk menjadi rahmat bagi alam.\u201d Anas bin Malik ketika menceritakan tentang kepribadian\nNabi saw, dia mengatakan bahwa Rasulullah saw bukan sosok manusia yang suka mencaci, bukan sosok\nmanusia yang suka menghardik dan memberikan stigma-stigma yang buruk dan bukan seseorang yang suka\nmelaknat. <\/p>\n\n\n\n<p>Dalam sebuah peristiwa sejarah disebutkan bahwa Imam\nAli bin Abi Thalib pernah terlibat peperangan dahsyat melawan pasukan Muawiyah dan yang memimpin pasukan dari Syam. Peperangan ini berjalan cukup lama. Sejarah menyebutkan selama enam bulan berturut-turut\nterjadi bentrokan di antara kedua pihak. Puluhan ribu orang terbunuh. Sebagian\nyang terbunuh adalah orang-orang yang tidak berdosa yang terlibat dalam\npeperangan itu. Pada\nsaat itu Imam Ali bin Abi Thalib mendengar beberapa orang sahabat beliau\nmencela pasukan Muawiyah, pasukan Syam, Imam Ali kemudian berkata kepada mereka, \u201cWahai para sahabatku, aku tidak suka kalau kalian menjadi orang-orang yang\nsuka mencela,\nsuka mencaci. Seandainya kalian sebutkan tentang tindakan yang buruk, misal, kalian membenci tindakan yang buruk, maka itu lebih\nbaik daripada kalian harus mencela orang-orangnya. Seandainya kalian mengatakan\ndaripada kalian mencela, cobalah kalian berdoa kepada Allah.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Perhatikan kata-kata Imam Ali, \u201cJangan mencela, tapi gunakan doa.\u201d Daripada kalian mencela doakanlah, <em>\u201cY<\/em><em>a Allah,\njagalah darah-darah kami dan darah darah mereka. Ya Allah, persatukanlah kami\nlagi, jangan sampai kami bertempur dengan mereka. Ya Allah, tunjukkanlah kepada\nmereka bahwa mereka itu sedang dalam keadaan tersesat sehingga mereka bisa\nmengenal kebenaran sehingga yang tidak tahu kebenaran bisa mendapatkannya<\/em><em>,<\/em><em>\n<\/em><em>dan\nmereka yang menyimpang bisa kembali ke jalan yang benar<\/em>.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Imam Ali bin Abi Thalib memerintahkan para sahabatnya\nuntuk berdoa supaya perang selesai dan tidak lagi darah orang-orang yang tak berdosa berceceran.\nDan jangan lagi menjadi\norang-orang yang mencela dan mencaci.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>A<\/strong>da sebuah kaidah umum yang diajarkan kepada kita dalam\nmenghadapi berbagai macam permasalahan, dan kita dapat bersikap yang dijelaskan oleh Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib. Khazanah keilmuan kita dikenal oleh kata-kata yang suci\nyang layak untuk ditulis dengan tinta emas.\nKita punya manusia-manusia agung yang kata-kata mereka\nadalah kata-kata yang penuh dengan petuah dan pelajaran yang besar.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Petuah\nImam Ali <\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Diriwayatkan bahwa Imam Ali bin Abi Thalib as menyampaikan kepada kita kata-kata mutiaranya. Dalam kata-kata ini beliau menjelaskan beberapa hal\nyang harus kita perhatikan dan kita jadikan sebagai panduan dalam kehidupan\nkita. Pertama, jadikan dirimu sebagai parameter dalam perilakumu dengan orang\nlain, lakukan\napa yang engkau sukai orang lain berlaku hal itu terhadap dirimu. Kedua, bencilah\nuntuk diri orang lain, apa yang engkau benci untuk dirimu sendiri. Ketiga, janganlah engkau menzalimi orang lain sebagaimana engkau\ntidak mau orang lain menzalimi dirimu. Keempat, berbuatlah kebajikan kepada\norang lain sebagaimana engkau mau orang lain berbuat kebajikan kepada dirimu. Kelima,\nanggaplah sesuatu itu keji terhadap orang lain, hal-hal yang engkau rasa hal itu keji dilakukan oleh\norang lain terhadap dirimu. Keenam, puaslah dan ridalah engkau atas apa yang dilakukan oleh orang lain\nsebagaimana engkau orang lain rida dan merasa puas terhadap\napa yang engkau lakukan terhadap mereka.[]<\/p>\n\n\n\n<p>Naskah ini merupakan khotbah Jumat\nDirektur ICC Dr. Abdulmajid Hakimelahi,\nJumat&nbsp; 13 November 2020, di ICC, Jakarta.\nDitranskrip dan disunting seperlunya oleh redaksi Buletin Nur al-Huda.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ICC Jakarta &#8211; Sekarang kita berada di bulan Rabiulawal, yang di dalamnya kaum muslimin seantero jagad ini memperingati<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":11851,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[414],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11850"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11850"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11850\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":12700,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11850\/revisions\/12700"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media\/11851"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11850"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11850"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11850"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}