{"id":11915,"date":"2020-12-10T04:18:07","date_gmt":"2020-12-10T04:18:07","guid":{"rendered":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/?p=11915"},"modified":"2021-02-18T08:43:21","modified_gmt":"2021-02-18T08:43:21","slug":"manfaat-dan-pengaruh-keimanan-bagi-manusia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/2020\/12\/10\/manfaat-dan-pengaruh-keimanan-bagi-manusia\/","title":{"rendered":"Khutbah ke-150, Manfaat Dan Pengaruh Keimanan Bagi Manusia"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>ICC Jakarta &#8211;<\/strong> Ada pertanyaan yang mendasar mengenai apa sebenarnya buah dari keimanan yang akan didapatkan oleh orang yang beriman atau dengan kata lain apa yang menjadi pembeda antara orang yang beriman dengan orang yang tidak beriman? Apakah ada perbedaan antara orang yang meyakini keberadaan Allah, beriman kepada Allah, dengan orang yang tidak beriman dalam kehidupan mereka di dunia ini? Dan adakah buah atau hasil manfaat yang bisa diperoleh seseorang dari keimanannya kepada Allah?<\/p>\n\n\n\n<p>Banyak buku yang mengulas tentang pengaruh dan manfaat\napa saja yang bisa didapatkan dari keimanan kepada Allah.\nDari sekian banyak manfaat dan pengaruh yang bisa\ndidapatkan, kami akan menyebutkan beberapa di antaranya.\nPertama adalah bahwa (dengan) mengenal Allah lalu\nmengimani Allah akan mendorong seseorang untuk lebih merenungkan akan\npenciptaan. Orang yang beriman kepada Allah akan selalu memikirkan dan\nmerenungkan alam penciptaan. Sebab dengan merenungkan alam ini dia bisa mendapatkan\njawaban atas berbagai macam pertanyaan yang ada di kepalanya, di antaranya: Siapakah\nyang menciptakan alam ini? Apakah penciptaan ini memiliki tujuan ataukah tidak?<\/p>\n\n\n\n<p>Beda halnya dengan orang yang tidak memiliki keimanan\nkepada Allah,\ntidak memiliki kepercayaan akan agama, dia melihat\nalam ini sebagai sebuah fenomena yang tercipta begitu saja, tidak perlu direnungkan dan tidak ada pencipta bagi\nalam ini. Setelah\nalam ini selesai, maka akan selesailah kehidupan. Orang yang seperti ini tidak akan memikirkan apa makna\nkehidupan.<\/p>\n\n\n\n<p>Sedangkan\nbagi orang yang beriman semua yang ada di alam wujud ini\nmemiliki tujuan dan hikmah penciptaan. Anggap saja ada seorang sahabat setelah\ndia pulang dari safarnya, dia memberikan\nhadiah kepada kita sebuah buku, lalu mengatakan kepada kita bahwa penulis buku ini\nadalah seorang yang alim dan orang yang memiliki ilmu yang sangat luas, penulisnya adalah seorang yang sangat jenius dan jeli\ndalam penulisannya. Maka ketika kita mendapatkan buku tersebut kita akan\nmembacanya dengan hati yang penuh dengan tanda tanya dan keinginan untuk\nmengetahui isi buku tersebut sehingga kita akan memerhatikan kata demi kata\nsemua yang tertulis di dalam buku itu. &nbsp;Pasalnya, kita yakin orang seperti penulis\nyang disifati memiliki sifat-sifat jenius dan teliti pasti ketika menggunakan\nsetiap kata dalam tulisannya memiliki maksud, setiap yang ditulisnya ada makna yang ingin\ndisampaikan. Karena\nitu, ketika kita mendapatkan buku yang semacam ini kita akan membacanya dengan teliti, bahkan ketika kita tidak mengetahui satu kata dari\nbuku tersebut,\nkita akan menghabiskan berjam-jam waktu kita, bahkan berhari-hari dari waktu\nkita supaya kita bisa mengetahui apa sebenarnya makna yang ingin disampaikan\noleh penulis.<\/p>\n\n\n\n<p>Beda halnya jika buku yang dihadiahkan kepada kita\nadalah buku yang walaupun secara lahiriah dan covernya bagus, tapi penulisnya adalah seseorang yang tidak memiliki\nilmu yang cukup,\nseorang penulis yang tidak terkenal, penulis yang dalam bahasa umumnya disebut penulis\nabal-abal, mungkin ketika melihat buku semacam itu kita akan membacanya hanya\nsekilas pandang,\ntidak memerhatikan setiap kata per katanya. Dan, ketika kita melihat ada\nkata-kata yang tidak kita pahami langsung kita membuat vonis ini adalah tanda\nbahwa penulisnya bukan orang yang pintar dan saya tidak akan membuang-buang\nwaktu saya lebih banyak untuk menelaah buku yang semacam ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Alam ciptaan yang kita ada di situ bisa diibaratkan\nseperti kitab yang sangat tebal yang diciptakan oleh Allah Swt, dan setiap eksistensi, setiap sesuatu yang ada di alam ini, ibaratnya\nseperti huruf-huruf\natau kata-kata dalam kitab itu. Ketika melihat alam ini dengan pandangan yang semacam\nitu seorang mukmin ingin mengetahui lebih banyak, merenung lebih banyak atas setiap fenomena yang ada\ndi alam. Karena\ndia tahu bahwasanya alam ini diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Mengetahui, Yang Mahateliti, Yang Mahabijaksana, jadi seluruh apa yang ada di alam, sarana-sarana apa\npun juga yang dia temukan di alam pasti diciptakan melalui aturan ilahi yang\ntelah diatur sedemikian rupa untuk kelak kelangsungan alam ini. Dengan begitu dia akan selalu merenungkan alam ciptaan\nuntuk bisa mengetahui rahasia-rahasia yang Allah berikan di alam ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Beda halnya dengan orang yang tidak beriman kepada\nAllah. Orang yang ateis, yang memandang bahwa alam ini tidak lebih dari sebuah\nfenomena yang terjadi, dan semua yang muncul di alam ini diciptakan oleh alam yang tidak memiliki\nkecerdasan dan tidak memiliki perasaan, orang yang semacam ini tidak akan pernah memberikan\nwaktu untuk merenungkan apa yang terjadi di alam penciptaan. Singkatnya, manfaat pertama dari keimanan adalah dorongan bagi\nseorang mukmin untuk merenungkan alam penciptaan. Ini berbeda halnya dengan orang yang tidak beriman, dia tidak\nmemiliki dorongan untuk merenungkan alam ini. Karena di matanya, alam ini hanya sebuah fenomena materi\nyang muncul dan akan binasa.<\/p>\n\n\n\n<p>Manfaat\nkedua dari keimanan kepada Allah, keimanan kepada agama, adalah orang yang memiliki keimanan akan merasa bahwa\ndia punya optimisme, punya pengharapan. Dia akan merasa punya kekuatan saat menghadapi\nkesulitan-kesulitan dalam kehidupannya. Berbeda dengan orang yang materialis, orang yang semacam ini ketika menghadapi kesulitan\ndalam kehidupan dia mudah untuk putus asa. Seorang yang mukmin akan melihat\nbahwa dirinya tidak sendirian saat berhadapan dengan kesulitan. Dia tahu bahwa ada\nAllah yang tempat dia untuk menggantungkan harapan kepada-Nya. Allah, yang seluruh kesulitan tidak ada artinya di\nhadapan Allah,\nsemua kesulitan mudah di hadapan Allah, seorang mukmin akan menjadikan Allah sebagai sandaran\nbagi kehidupannya saat dia berhadapan dengan kesulitan.<\/p>\n\n\n\n<p>Seorang yang beriman kepada Allah memiliki kekuatan\npada dirinya saat menghadapi kesulitan. Karena itu, orang yang beriman tidak akan melakukan\ntindakan bunuh diri saat menghadapi kesulitan apa pun juga. Karena dia tahu bahwa ada yang bisa diandalkan, ada yang bisa diharapkan. Dan dia tahu bahwa pembunuhan terhadap jiwa adalah\nsebuah dalil atau bukti bahwa orang yang melakukan pembunuhan terhadap dirinya\nadalah orang yang kalah. Seorang mukmin tidak akan pernah merasa kalah dalam\nmenghadapi kehidupan.<\/p>\n\n\n\n<p>Singkatnya bahwa buah atau manfaat kedua dari keimanan\nkepada agama,\nkeimanan kepada Allah, adalah seorang yang mukmin dalam kesulitan apa pun juga dia masih\nmemiliki harapan,\ndia masih memiliki Allah, dia\nberharap Allah bisa membantunya, dan Allah Mahamampu untuk melakukan segala sesuatu. Berbeda halnya dengan orang yang tidak memiliki keimanan, dia kehilangan harapan itu sehingga saat berhadapan\ndengan kesulitan yang tidak bisa dia selesaikan, dia akan memilih jalan yang pintas dan membunuh\ndirinya. Seorang\nmukmin tidak akan pernah merasa dirinya kalah dalam menghadapi kehidupan.<\/p>\n\n\n\n<p>Buah ketiga dari keimanan adalah orang yang memiliki\nkeimanan punya rasa tanggung jawab terhadap dirinya, keluarganya, dan lingkungan tempat dia tinggal. Saya berikan\ncontoh, misalnya\nada sekelompok dokter yang tugasnya adalah mengobati dan menyembuhkan\norang-orang yang sakit. Dokter yang mukmin saat melihat pasiennya dan pasien\nitu tidak mampu secara ekonomi, bukan saja dia tidak mengambil upah sebagai upah\ntenaga dia atau ilmu dia tetapi bahkan juga setelah mendiagnosis penyakit apa, dia akan memberikan uang atau obat secara cuma-cuma\nkepada pasiennya. Ketika\nsang pasien dilihat dalam keadaan kritis dokter semacam ini rela untuk\nmemberikan waktunya, bahkan tidur untuk berjaga, menjaga pasien tersebut tanpa mengharapkan\napa-apa. Yang\ndiharapkan adalah rida dari Allah Swt dan kebaikan dari Allah. Kita juga melihat dokter-dokter semacam ini\u2014ketika ada\nbencana-bencana\nalam yang terjadi seperti banjir, gempa bumi, atau tsunami\u2014hadir di tengah-tengah masyarakat untuk\nmembantu para korban tanpa mengharapkan imbalan apa pun.<\/p>\n\n\n\n<p>Seorang yang mukmin apa pun juga kerjaan dia dan\nkeahliannya,\nakan melakukan hal-hal yang terbaik. Karena dia melihat pada dirinya ada semacam polisi yang\nselalu mengintai seluruh perbuatannya sehingga apa pun yang dia lakukan dia\nharus mawas diri, harus hati-hati dan jangan sampai melakukan sebuah kesalahan\nyang bisa menjerumuskannya kepada perbuatan-perbuatan yang buruk.<\/p>\n\n\n\n<p>Itu terjadi karena kelompok itu adalah orang yang\nmemiliki keimanan dan punya rasa tanggung jawab kepada lingkungan,masyarakatnya, dan kepada sesama manusia. Berbeda&nbsp; halnya\ndengan sekelompok orang yang mungkin dalam contoh kita adalah dokter juga yang\nmana tidak akan melayani pasiennya sebelum pasien itu menyelesaikan urusan administrasi. Baru si dokter akan menanganinya. Ada orang-orang yang ketika akan melakukan sesuatu dia\nharus hitung untung dan rugi secara materi apa yang bisa didapatkannya jika dia\nmelakukan sesuatu untuk orang lain. Orang-orang semacam ini melakukan hal itu karena tidak\nmemiliki rasa tanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakatnya. Di mata dia\nyang paling terdepan adalah kepentingan dia dan uang.<\/p>\n\n\n\n<p>Singkatnya buah ketiga atau manfaat ketiga dari\nkeimanan adalah tumbuhnya rasa tanggung jawab pada diri seorang yang mukmin. Seorang yang mukmin merasa bertanggung jawab pada\ndirinya,\npada keluarganya,\ndan pada lingkungannya. Apa pun yang dia lakukan adalah karena keimanannya yang\nmendorong dia untuk memiliki rasa tanggungjawab itu. Beda halnya dengan orang yang tidak beriman, bagi dia\nyang terdepan adalah masalah materi dan keuntungan pribadi.<\/p>\n\n\n\n<p>Inilah yang kita saksikan di dalam kehidupan yang memperlihatkan\nsebuah pentas. Kita\nsaksikan bagaimana perang terjadi di mana-mana, penyulutnya adalah kebijakan-kebijakan kotor yang\ndilakukan oleh sejumlah rezim-rezim berkuasa di dunia dan juga yang melakukan konspirasi\ndengan para produsen senjata. Mereka menyulut dan mengobarkan perang di berbagai\ntempat supaya senjata-senjata mereka bisa terjual. Tidak peduli bagi mereka berapa pun nyawa yang harus\nmelayang dan berapa besar kehancurannya yang harus disaksikan oleh umat manusia, yang penting mereka bisa mendapatkan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n<p>Buah keempat dari keimanan seseorang adalah\nia merasakan hidupnya dipenuhi dengan rasa damai dan tenteram.\nBerbeda halnya dengan orang yang tidak beriman yang hidupnya\nselalu diliputi oleh kegalauan dan kerisauan. Para peneliti mengatakan\nbahwasanya kondisi depresi di tengah umat manusia di zaman ini lebih besar\ndaripada depresi yang terjadi di zaman-zaman yang terdahulu. Obat-obat penenang yang digunakan di tengah masyarakat\nyang tidak beriman atau jauh dari masalah spiritual, lebih besar jumlahnya dibandingkan dengan obat-obat penenang yang pernah digunakan di zaman-zaman sebelum ini.<\/p>\n\n\n\n<h2>Era Kekhawatiran<\/h2>\n\n\n\n<p>Para ahli kejiwaan mengatakan bahwasanya munculnya\nmasalah kejiwaan di tengah masyarakat dunia saat ini ditimbulkan oleh rasa\nkekhawatiran. Masyarakat zaman ini sangat khawatir tentang masa depan, cemas akan perang, takut akan munculnya kemiskinan, takut akan masuk ke dalam suatu himpitan yang dia\ntidak bisa untuk keluar darinya, takut dari kematian dan ketakutan-ketakutan semacam\nini. Para ahli psikologi juga menyatakan bahwasanya salah satu hal yang bisa\nmenghilangkan kekhawatiran adalah keimanan kepada Tuhan. Keimanan kepada Tuhan inilah yang bisa membuat\nseseorang menjadi tenang. Karena dia merasa ada Tuhan yang memantau dia dan\nmelihatnya. Ada\nTuhan Yang Maha\nPenyayang, ada Tuhan Yang Maha Pemberi, ada Tuhan Yang Maha Melindungi, ada Tuhan Yang Maha Menyelesaikan kesulitan-kesulitan hamba-Nya. Keimanan kepada Tuhan inilah yang bisa memberikan\nketenangan kepada seseorang dan menghilangkan kekhawatirannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Karena itu seorang yang beriman kepada Allah saat dia\nmelakukan suatu tindakan perjuangannya di jalan kebenaran, dia akan melakukannya dengan hati yang tenang. Ketika dia menghadapi kerisauan dia akan tawakal kepada\nAllah dan menyerahkannya kepada Allah, memohon bantuan kepada Allah, untuk menghilangkan kegalauan dan ketakutan yang\nmungkin menghimpit dirinya. Di dalam surah al-Ra\u2019d ayat 28 Allah Swt berfirman, <em>(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka\nmanjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati\nAllah-lah hati menjadi tenteram.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Dalam ayat 82 surah Al An&#8217;am Allah swt berfirman, <em>Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri, tidak\nmencampurkan pada keimanan itu dengan suatu kezaliman apa pun, mereka adalah\norang-orang yang berhak untuk mendapatkan rasa aman dan mereka adalah\norang-orang yang mendapat petunjuk.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Singkatnya buah atau manfaat keempat dari keimanan\nadalah bahwa orang yang memiliki keimanan dia akan selalu memiliki rasa tenang\npada dirinya,\npada jiwanya dia merasa aman.&nbsp; Karena dia tahu bahwasanya segala apa pun yang terjadi\npada dirinya ada di bawah pengawasan Allah. Dia bisa meminta kepada Allah supaya memberikan\nkepadanya hal-hal yang bisa menjauhkannya dari segala kesulitan. <\/p>\n\n\n\n<p>Seorang yang beriman saat dia sakit dia tidak akan\nkhawatir dengan rasa sakitnya, sebab ketika dia sakit, dia yakin bahwa bahwasanya dia sakit karena Allah\nsedang memberinya ujian, atau ketika dia sakit dia yakin bahwa Allah sedang meruntuhkan dan\nmenggugurkan dosa-dosa yang pernah dilakukan di masa lalu. Dengan sakit itu orang yang beriman tidak akan takut\nmati, karena dia\ntahu dengan kematian dia akan melangkah ke suatu alam untuk mendapatkan pahala-pahala atas apa yang telah dilakukandi masa kehidupan\ndi dunia. Berbeda\nhanya dengan orang yang kafir, orang yang tidak mengimani keberadaan Tuhan yang Maha Esa, orang semacam\nini akan selalu dihimpit oleh rasa ketakutan karena dia merasa kematian adalah\nakhir dari semua kehidupan yang dimilikinya.[]\n<\/p>\n\n\n\n<p>Naskah ini merupakan khotbah Jumat\nDirektur ICC Dr. Abdulmajid Hakimelahi,\nJumat&nbsp; 04 Desember 2020, di ICC, Jakarta.\nDitranskrip dan disunting seperlunya oleh redaksi Buletin Nur al-Huda.<\/p>\n\n\n<h3>Artikel terakhir di kategori ini:<\/h3><a href='https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/2022\/11\/17\/perlunya-kenabian-dalam-kehidupan\/'><div style='display: table; width: 100%; table-layout: fixed; margin-bottom: 10px;'><\/div><div style='display: table-cell; width: 128px; background: url(https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-content\/uploads\/2022\/11\/6bcb3fea00db5158548c25e105f5668f.jpg) no-repeat center center; background-size: cover; -webkit-background-size: cover; -moz-background-size: cover; -o-background-size: cover;'><\/div><div style='display: table-cell; text-align: left; padding-left: 10px;'><h3 style='font-size: 16px; margin: 0px;'>Perlunya Kenabian dalam Kehidupan<\/h3><div style='display: inline-block; font-size: 10px; padding: 3px; margin; 3px; background-color: #9a0000; color: white;'>November 17, 2022<\/div><p style='margin: 0px; font-size: 14px;'>Manusia dengan segala kecerdasannya tidak akan mengetahui secara pastibagaimana jalan menuju Allah SWT.Ketika para Nabi diutus, mereka harus<\/p><\/div><\/a><a href='https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/2022\/09\/30\/muhammad-model-sempurna-untuk-menjadi-manusia-terbaik\/'><div style='display: table; width: 100%; table-layout: fixed; margin-bottom: 10px;'><\/div><div style='display: table-cell; width: 128px; background: url(https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/image_editor_output_image1103511237-1664551989130.jpg) no-repeat center center; background-size: cover; -webkit-background-size: cover; -moz-background-size: cover; -o-background-size: cover;'><\/div><div style='display: table-cell; text-align: left; padding-left: 10px;'><h3 style='font-size: 16px; margin: 0px;'>Muhammad Model Sempurna untuk Menjadi Manusia Terbaik<\/h3><div style='display: inline-block; font-size: 10px; padding: 3px; margin; 3px; background-color: #9a0000; color: white;'>September 30, 2022<\/div><p style='margin: 0px; font-size: 14px;'>Adalah suatu yang fitrah seorang manusia mencintai kesempurnaan. Tetapi ketika kita menginginkan sesuatu yang terbaik, apakah kita juga<\/p><\/div><\/a><a href='https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/2022\/08\/22\/mengharap-al-husain-memintakan-ampunan-allah-swt-untuk-kita\/'><div style='display: table; width: 100%; table-layout: fixed; margin-bottom: 10px;'><\/div><div style='display: table-cell; width: 128px; background: url(https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/WhatsApp-Image-2022-08-19-at-13.01.13.jpeg) no-repeat center center; background-size: cover; -webkit-background-size: cover; -moz-background-size: cover; -o-background-size: cover;'><\/div><div style='display: table-cell; text-align: left; padding-left: 10px;'><h3 style='font-size: 16px; margin: 0px;'>Mengharap Al-Husain Memintakan Ampunan Allah Swt untuk Kita<\/h3><div style='display: inline-block; font-size: 10px; padding: 3px; margin; 3px; background-color: #9a0000; color: white;'>Agustus 22, 2022<\/div><p style='margin: 0px; font-size: 14px;'>Dalam Majelis Duka Asyura kita dapat mengambil banyak sekali pelajaran, di antaranya tentang komitmen dan kesetiaan kita pada<\/p><\/div><\/a><a href='https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/2022\/08\/19\/tiga-pelajaran-penting-dari-peristiwa-asyura\/'><div style='display: table; width: 100%; table-layout: fixed; margin-bottom: 10px;'><\/div><div style='display: table-cell; width: 128px; background: url(https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/IMG-20220819-WA0002.jpg) no-repeat center center; background-size: cover; -webkit-background-size: cover; -moz-background-size: cover; -o-background-size: cover;'><\/div><div style='display: table-cell; text-align: left; padding-left: 10px;'><h3 style='font-size: 16px; margin: 0px;'>Tiga Pelajaran Penting dari Peristiwa Asyura<\/h3><div style='display: inline-block; font-size: 10px; padding: 3px; margin; 3px; background-color: #9a0000; color: white;'>Agustus 19, 2022<\/div><p style='margin: 0px; font-size: 14px;'>Pertama, Perjuangan dan komitmen atas ajaran agama.Imam Husain dan para sahabatnya, menjalankan misi yang bukan untuk menunjukkan kesombongan,<\/p><\/div><\/a><a href='https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/2021\/12\/31\/bolehkah-kita-merayakan-tahun-baru\/'><div style='display: table; width: 100%; table-layout: fixed; margin-bottom: 10px;'><\/div><div style='display: table-cell; width: 128px; background: url(https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/IMG_20211231_184807.jpg) no-repeat center center; background-size: cover; -webkit-background-size: cover; -moz-background-size: cover; -o-background-size: cover;'><\/div><div style='display: table-cell; text-align: left; padding-left: 10px;'><h3 style='font-size: 16px; margin: 0px;'>BOLEHKAH KITA MERAYAKAN TAHUN BARU?<\/h3><div style='display: inline-block; font-size: 10px; padding: 3px; margin; 3px; background-color: #9a0000; color: white;'>Desember 31, 2021<\/div><p style='margin: 0px; font-size: 14px;'>Berdasarkan penanggalan, besok adalah tahun baru. Tahun 2022. Ada pertanyaan, &#8220;Apakah kita boleh menyelenggarakan pesta atau acara bersenang-senang<\/p><\/div><\/a>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ICC Jakarta &#8211; Ada pertanyaan yang mendasar mengenai apa sebenarnya buah dari keimanan yang akan didapatkan oleh orang<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":11916,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[414],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11915"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11915"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11915\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":12698,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11915\/revisions\/12698"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media\/11916"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11915"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11915"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11915"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}