{"id":12020,"date":"2021-01-04T02:17:01","date_gmt":"2021-01-04T02:17:01","guid":{"rendered":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/?p=12020"},"modified":"2021-01-07T06:54:24","modified_gmt":"2021-01-07T06:54:24","slug":"sekelumit-gagasan-dan-kiprah-muhammad-taqi-misbah-yazdi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/2021\/01\/04\/sekelumit-gagasan-dan-kiprah-muhammad-taqi-misbah-yazdi\/","title":{"rendered":"Sekelumit Gagasan dan Kisah Ayatullah Mesbah Yazdi"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>ICC Jakarta &#8211; <\/strong>Muhammad Taq\u00ee Misbah Yazd\u00ee lahir di kota Yazid, Iran, pada 1313 HS. Ia menyelesaikan pendidikan dasarnya di kota tersebut, lalu hijrah ke Najaf guna melanjutkan studi keislamannya. Namun, akibat problem finansial, setelah sempat setahun di sana, ia hijrah ke Qom. Sejak tahun 1331 HS hingga 1339 HS, ia aktif mengikuti kuliah-kuliah Imam Khomeini,. Ia juga aktif mengikuti kuliah Allamah Thab\u00e2thab\u00e2\u2019i tentang tafsir al-Quran, asy-Syifa\u2019 karya Ibnu Sina, dan al-Asfar al-Arba\u2019ah karya Mull\u00e2 Shadr\u00e2. Selama 15 tahun, ia mengikuti kuliah fiqih Ayatullah Behjat. Sejak Imam Khomeini diasingkan ke luar Iran oleh Rezim Shah, ia sibuk melakukan penelitian dalam bidang sosiologi Islam, antara lain tentang Jihad, hukum peradilan, dan konsep pemerintahan Islam.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam arena politik, ia juga memainkan peran penting bersama dengan rekan-rekannya, seperti Ayatullah Behesyti, Ayatullah Rafsanjani, dan Hujjatul Islam Muhammad Javad Bahonar. Pada masa perlawanan terhadap pihak penguasa, ia menjadi penanggung jawab dua media informasi, yaitu media Bi\u2019tsat dan Enteqam. Kemudian, bersama Ayatullah Jannati, Ayatullah Behesyti, dan Ayatullah Qoddusi, ia mengelola pusat pendidikan Haqqani. Atas anjuran dan dukungan Imam Khomeini, selama 10 tahun, ia sibuk menjadi guru besar filsafat dan ilmu-ilmu Al-Quran.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada tahun 1369 HS, ia terpilih sebagai anggota Dewan Ahli dari propinsi pemilihan Khuzestan. Dalam pemilihan terakhir Dewan Ahli, ia kembali terpilih sebagai anggota yang mewakili ibukota Tehran. <\/p>\n\n\n\n<p>Sejak wafatnya Murtadh\u00e2 Muthahhar\u00ee, Muhammad Taq\u00ee Misbah Yazd\u00ee merupakan figur pemikir produk hawzah Qom yang paling menonjol dan produktif. Ia telah memainkan peran penting dalam menciptakan iklim yang kondusif bagi perkembangan wacana filsafat Islam seraya berusaha mengharmoniskan Shadraisme, masyya\u2019iyah (peripatetisme ala Ibnu Sina), filsafat modern, dan visi politik Imam Khomeini yang berpijak di atas konsep welayat e faqih. <\/p>\n\n\n\n<p>Muhammad Taq\u00ee Misbah Yazd\u00ee dapat dianggap sebagai produk orisinal hawzah Qom yang diyakini mampu memberikan respon terhadap wacana-wacana pemikiran kontemporer, termasuk sejumlah aliran pemikiran modern dan posmodern. Selain itu, sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, ia berupaya mendialogkan tradisionalisme dan modernisme dalam wawasan filsafat yang diproyeksikan pada terciptanya reformasi sistem pendidikan hawzah. <\/p>\n\n\n\n<p>Berkat M.T. Misbah Yazd\u00ee yang berkolaborasi dengan Dr. Muhammad Legenhausen, pakar filsafat Barat yang \u2018nyantri\u2019di hawzah Qom dan menjadi sumber otentik \u2018tangan pertama\u2019 filsafat Barat, berdirilah sejumlah pusat studi filsafat yang dikelola secara modern, yang mampu mencetak puluhan bahkan ratusan sarjana ruhaniawan sekaligus filsuf muda yang cukup produktif dan aktif menjadi narasumber dalam semar keislaman lokal dan internasional, serta menulis buku dan artikel di jurnal-jurnal, surat kabar, dan majalah. Mereka cukup kuat dan punya kemampuan berbahasa asing, terutama Inggris dan Arab. Sebagian besar dari mereka melengkapinya dengan menyelesaikan  pendidikan formal di perguruan tinggi lokal dan internasional hingga meraih gelar. <\/p>\n\n\n\n<p>Pandangan-pandangan M.T. Misbah Yazd\u00ee dapat dibagi menjadi dua yaitu pandangan dalam filsafat Islam dan pandangan di luar filsafat Islam. <\/p>\n\n\n\n<p>Dalam bidang pemikiran filsafat, M.T. Misbah Yazd\u00ee dianggap agresif dan kritis. Sebagian pandangannya cenderung keluar dari kebiasaan hawzah yang kental dengan Shadraisme dan Thab\u00e2thab\u00e2\u2019isme. Antara lain: 1) Berpendapat bahwa gradasi (tasykik al-wujd) hanya bersifat vertikal (th\u2019li), karena gradualitas dalam wujud hanya dapat diinterpretasi secara kausalitas; sedangkan pada gradasi horisintal (at-tasykik al-ar\u2019dhi) tidak terdapat relasi kausalitas; 2) Menolak argumen wujud rabith\u2014yang pernah dikemukakan Allamah Thab\u00e2thab\u00e2\u2019i, yang dipertahankan Jaw\u00e2d\u00ee Amol\u00ee\u2014 dengan alasan bahwa berdalil dengan menganalisis proposisi tidaklah valid, karena pembahasan tentang proposisi berada dalam lingkup logika (manthiq) serta tidak berkaitan dengan realitas objektif; 3) Menganggap bahwa analisis prinsip kausalitas merupakan dalil sahih atas keniscayaan wujud  rabith; 4) Mengutamakan epistemologi sebagai pintu pengenalan filsafat, dan karenanya, ia mengusulkan agar ilmu hudhuri dipisahkan dari tema-tema filsafat; 5)Menolak pendapat Shadra dan Thab\u00e2thab\u00e2\u2019i tentang hyle (al-hayula), karena menurutnya, selain mitos yang tersisipkan dalam filsafat, ia juga meniscayakan kontradiksi. Menurutnya, mestinya prinsip bahwa potensialitas exsitents tidak mendahului existents itu sendiri; 6) Menolak gagasan as-sinkhiyah (equality) dalam maujud yang basith berkenaan dengan kaidah al-wahid la yasduru minhu illa al-wahid; g) beranggapan bahwa al-harakah al-jawhariyah bisa bersifat shu\u2019udiyah, sebagaimana pendapat Mull\u00e2 Shadr\u00e2; dan bisa pula nuzuliyah; 7) Mendukung pendapat Mulla Hadi Sabzew\u00e2r\u00ee yang menolak definisi Mull\u00e2 Shadr\u00e2 tentang al-\u2018ilm sebagai hudhur mujarradin lad, mujjarad, karena, menurutnya, pengetahuan sesuatu yang memiliki eksistensi termulia (Tuhan) bisa mengenali entitas-entitas non-abstrak secara langsung, tanpa perantara entitas-entitas abstrak lainnya; 8) Menolak al-\u2018uqul al-\u2018asyrah (sepuluh intelek abstrak), sebagaimana pendapat al-Farabi, karena, menurutnya, itu adalah warisan kosmologi Yunani Kuno, yang semestinya dipisahkan dari ontologi dan teologi.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam masalah-masalah agama secara umum, pemikiran M.T. Misbah Yazd\u00ee cukup komprehensif karena mencakup sejumlah bidang yang luas, antara lain: 1) Logika; 2) Manusia (antropologi dan psikologi Islam); 3) Thabi\u2019iyat (kosmologi); 4) Ilah\u00eeyat (Tauhid, Nubuwah dan Imamah dan kebangkitan); 5) Etika dan \u2018irf\u00e2n; 6) Kalam-e jadid (Teologi Modern) dan falsafah-e muzaf (filsafat kontemporer); 7) Fikih politik (velayat-e faqih).<\/p>\n\n\n\n<p>Peran M.T. Misbah Yazd\u00ee dalam pendidikan, dakwah dan riset dapat dijelaskan dalam dua bagian sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n<ol><li>Mempelopori reformasi sistem dan kurikulum pendidikan hawzah, antara lain; 1) Mendirikan Dar Rah-e Haq (Lembaga \u201cMenuju Kebenaran\u201d); 2) Membidani Markaz-e Amozesyi va Pazuhesy-e Imam Khomeini (The Imam Khomeini Education dan Research Institute); 3) Membina Markaze Jehan-e Olum-e Eslami (Pusat Studi Islam Internasional) yang berada di bawah hawzah; 4) Mempelopori pendirian Imam Khomeini University; 5) Menyusun manual mata kuliah filsafat dengan sistematika modern, al-manhaj al-jadid f\u00ee ta\u2019lim al-falsafah (Metode Baru Pengajaran Filsafat); 6) Menjalin kerjasama antar lembaga dengan berbagai universitas Barat, antara lain McGills University. <\/li><li>Mempelopori studi wacana-wacana modern; 1) Menerbitkan sejumlah jurnal pemikiran Islam, antara lain Ketab-e Naqd, Zehn, Hawzeh, Ma\u2019refat, Olum-e Hadits, Houkmat-e Islami dll; 2) Melakukan studi kritis terhadap pandangan-pandangan ulama dan filosof terdahulu, termasuk Thab\u00e2thab\u00e2\u2019i; 3) Melakukan kunjungan dan menjadi pembicara pada seminar-seminar internasional di Eropa dan Amerika; 4) Memasukkan dialog filsafat dalam acara-acara televisi dan radio Iran; 5) Menjadi dosen luar biasa di pelbagai universitas nasional maupun luar negeri.<\/li><\/ol>\n\n\n\n<p>Ayatullah Muhammad Taq\u00ee Misbah Yazd\u00ee telah melahirkan banyak karya terutama dalam filsafat Islam, pandangan dunia Islam, irf\u00e2n, etika, fiqih siyasah (politik Islam), tatanegara, dan administrasi Islam. Antara lain: <\/p>\n\n\n\n<ol><li>Al-Manhaj al-Jadid f\u00ee Ta\u2019lim al-falsafah (Metode Baru Pengajaran Filsafat)  <\/li><li>Ta\u2019liqah ala Nih\u00e2yah al-Hikmah  <\/li><li>Syarh Nih\u00e2yah al-Hikmah  <\/li><li>Ma\u2019ariful-Qur\u2019an  <\/li><li>Durus f\u00ee al-Aqidah al-Islamiyah  <\/li><li>Porsesh va Pasukh-ha <\/li><li>Ta\u2019liqah ala Nih\u00e2yah al-Hikmah <\/li><li>Syarh al-Asfar al-Arba\u2019ah (jilid ke-1 dan ke-3) <\/li><li>Syarh Burh\u00e2n asy-Syifa\u2019 <\/li><li>Durus f\u00ee Falsafah al-Akhlaq <\/li><li>Islam wa Akhlaq <\/li><li>Be Suye Khud Syenasi <\/li><li>Rah Tusyeh <\/li><li>Pand e Jawid <\/li><li>Rahiyan e Kuye Dust <\/li><li>Tauh\u00eed dar Nezham e Aqidati wa Nenzham Arzesyi ye Islam <\/li><li>Pasdari az Sangarha ye Ideoloji <\/li><li>Naqdi Fesyurdeh bar Ush\u00fbl e Marxism <\/li><li>Gofteman e Rusyangar dar bareh ye Andisyeh ha ye Bonyadin <\/li><li>Nazhariyeh Siyasi ye Islam <\/li><li>Nazhariyeh Huquqi ye Islam <\/li><li>Tahajom e Farhangi <\/li><li>Negahi Gozar beh Nazhariyeh Wilayat e Faqih <\/li><li>Mabahisi dar Bareh ye Hawzeh <\/li><li>Enteqam <\/li><li>Ensan wa Eslam <\/li><li>Khilqat az Nazhar e Qor\u2019an<\/li><\/ol>\n\n\n\n<p>(Diambil dari buku PARA FILOSOF SEBELUM DAN SESUDAH MULLA SADRA, ALHUDA)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ICC Jakarta &#8211; Muhammad Taq\u00ee Misbah Yazd\u00ee lahir di kota Yazid, Iran, pada 1313 HS. Ia menyelesaikan pendidikan<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":12021,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[19],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12020"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=12020"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12020\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":12061,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12020\/revisions\/12061"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12021"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=12020"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=12020"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=12020"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}