{"id":12601,"date":"2021-02-10T08:04:30","date_gmt":"2021-02-10T08:04:30","guid":{"rendered":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/?p=12601"},"modified":"2021-02-18T08:37:51","modified_gmt":"2021-02-18T08:37:51","slug":"memahami-sifat-zat-allah-takallum-shiddiq-dan-hikmah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/2021\/02\/10\/memahami-sifat-zat-allah-takallum-shiddiq-dan-hikmah\/","title":{"rendered":"Khutbah ke-158, Memahami Sifat Zat Allah: Takallum, Shiddiq, Dan Hikmah"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\n<iframe loading=\"lazy\" title=\"Khutbah Jum&#039;at#37(Sifat-Sifat Allah 2)\" width=\"640\" height=\"360\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/PiUnG9ikil0?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture\" allowfullscreen><\/iframe>\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>ICC Jakarta &#8211; <\/strong>Sifat-Sifat Allah terbagi menjadi dua: pertama, yaitu ada sifat yang berhubungan dengan zatnya Allah dan ada sifat yang berhubungan dengan perbuatan Allah. Pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan dan memaparkan tiga lagi sifat zat Allah Swt: pertama, sifat <em>takallum<\/em> yakni berbicara: kedua, sifat <em>shiddiq, <\/em>yakni kebenaran dan kejujuran; dan ketiga, sifat hikmah yakni kebijaksanaan.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/2021\/02\/01\/mengenal-sifat-jamaliyah-dan-jalaliyah-allah\/\">Mengenal Sifat Jamaliyah Dan Jalaliyah Allah<\/a><\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/2021\/01\/25\/tauhid-dalam-ibadah-rububiyah-dan-kekuasaan\/\">Tauhid Dalam Ibadah, Rububiyah, Dan Kekuasaan<\/a><\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/2021\/01\/18\/mengenal-tauhid-dalam-zat-sifat-dan-penciptaan\/\">Mengenal Tauhid Dalam Zat, Sifat, Dan Penciptaan<\/a><\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/2021\/01\/12\/mengenal-sifat-tsubutiyah-dan-salbiyah-allah\/\">Mengenal Sifat Tsubutiyah dan Salbiyah Allah<\/a><\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/2021\/01\/05\/melihat-tanda-tanda-kebesaran-allah-%ef%bb%bf\/\">Melihat Tanda-tanda Kebesaran Allah Swt<\/a><\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/2021\/01\/05\/tanda-tanda-kebesaran-allah-di-alam-mikro\/\">Tanda-tanda Kebesaran Allah di Alam Mikro<\/a><\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/2020\/12\/23\/mengenal-tanda-tanda-allah-melalui-alam\/\">Mengenal Tanda-Tanda Kekuasaan Allah Melalui Alam<\/a><\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/2020\/12\/10\/manfaat-dan-pengaruh-keimanan-bagi-manusia\/\">Manfaat Dan Pengaruh Keimanan Bagi Manusia<\/a><\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/2020\/12\/04\/agama-dan-kehidupan-yang-baik\/\">Agama dan Kehidupan yang Baik<\/a><\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/2020\/11\/17\/menyikapi-perbedaan-keyakinan\/\">Menyikapi Perbedaan Keyakinan<\/a><\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/2020\/11\/11\/khutbah-jumat-rahmat-rasulullah-saw-bagi-seluruh-alam\/\">Khutbah Jumat; Rahmat Rasulullah SAW Bagi Seluruh Alam<\/a><\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/2020\/11\/03\/belajar-dari-keberhasilan-dakwah-rasulallah-saw\/\">Belajar dari Keberhasilan Dakwah Rasulallah Saw<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Alquran al-Karim menjelaskan tentang sifat Allah yaitu <em>takallum<\/em> bahwa Allah Swt berbicara. Salah satunya adalah dalam surah Al-Nisa ayat 164, Allah Swt berfirman, <em>W<\/em><em>a kallamall\u0101hu m\u1ee5s\u0101 takl\u012bm\u0101,<\/em><em> <\/em>Dan Allah mengajak bicara Musa as. Jika dikatakan bahwasanya <em>takallum<\/em> atau berbicara itu adalah sifatnya Allah Swt, tidak ada yang meragukannya. Yang menjadi permasalahan adalah bagaimana <em>takallum<\/em> yang dinisbatkan kepada Allah ini? Kalau kita ingin mengetahui makna <em>takallum<\/em> yang merupakan sifat Allah Swt, kita perlu merujuk kepada Alquran al-Karim dan apa yang Allah firmankan dalam ayat-ayat suci-Nya.<\/p>\n\n\n\n<p>Ada beberapa makna <em>takallum<\/em>. Salah satunya adalah bahwa Allah berbicara dalam arti Allah menciptakan suara untuk bisa menyampaikan pesan. Allah Swt tidak berjisim sehingga ketika berbicara tidak memerlukan adanya lidah. Sebagaimana Allah Swt bisa menciptakan makhluk-makhluk-Nya Allah juga bisa menciptakan suara untuk menyampaikan pesannya. Alquran juga menceritakan bahwa Allah Swt berbicara kepada para rasul-Nya dengan tiga cara. Surah Al- Syura&#8217; ayat 51 menjelaskan bahwa Allah Swt berfirman, <em>Wa m\u0101 k\u0101na libasyarin ay yukallimahull\u0101hu ill\u0101 wa\u1e25yan au miw war\u0101`i \u1e25ij\u0101bin au yursila ras\u1ee5lan fa y\u1ee5\u1e25iya bi`i\u017cnih\u012b m\u0101 yasy\u0101`, <\/em>Allah Swt tidak berbicara dengan seorang hamba dan manusia kecuali ketika berbicara dalam bentuk wahyu. Artinya, cara pertama yang Allah lakukan untuk berbicara dan menyampaikan pesan kepada nabi-Nya adalah dengan menyampaikan dan mengirimkan pesan-pesan tersebut dalam bentuk wahyu ke hati para nabi.<\/p>\n\n\n\n<p>Kedua adalah, <em>A<\/em><em>w<\/em><em> miw war\u0101`i \u1e25ij\u0101bin, <\/em>atau di balik hijab, di balik tabir. Artinya, Allah menciptakan suara. Orang hanya mendengar suara tanpa melihat siapa yang berbicara. Yang ketiga, cara Allah berbicara dengan para nabi-Nya adalah dengan, <em>a<\/em><em>w<\/em><em> yursila ras\u1ee5lan, <\/em>mengirimkan utusan yaitu malaikat Jibril untuk menyampaikan pesan-pesan-Nya kepada nabi tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>Ini adalah penjelasan mengenai <em>takallum<\/em> atau kalamnya Allah Swt. Namun ada makna lain untuk kalamnya Allah atau dengan ungkapan lain untuk kalimatnya Allah yaitu bahwa kalimat-kalimat Allah itu diterjemahkan sebagai makhluk-makhluk Allah, yakni Allah menciptakan makhluk-makhluk-Nya dan makhluk-makhluk itulah yang menunjukkan akan keberadaan Allah. Dalam surah Al-Kahfi ayat&nbsp; 109, <em>Qul lau k\u0101nal-ba\u1e25ru mid\u0101dal likalim\u0101ti rabb\u012b lanafidal-ba\u1e25ru qabla an tanfada kalim\u0101tu rabb\u012b walau ji`n\u0101 bimi\u1e61lih\u012b madad\u0101. <\/em>Dalam ayat ini Allah Swt mengatakan \u201cseandainya lautan dijadikan sebagai tinta untuk menuliskan kalimat-kalimat Allah, maka niscaya lautan itu akan habis untuk menuliskan kalimat-kalimat Allah, sementara kalimat-kalimat Allah tidak akan ada habisnya\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>Para mufasir mengatakan bahwasanya <em>kalimatullah<\/em> di sini adalah makhluk-makhluk Allah. Makhluk-makhluk yang jumlahnya tidak ada yang tahu kecuali Allah. Sedemikian banyak yang telah Allah ciptakan sehingga seandainya dituliskan dengan menggunakan lautan sebagai tintanya maka semua lautan itu akan habis tanpa bisa mengungkapkan seberapa besar banyaknya makhluk yang telah Allah ciptakan.<\/p>\n\n\n\n<p>Berikutnya lagi bahwasanya yang disebut dengan <em>kalimatullah<\/em> berarti maujud sesuatu yang Allah ciptakan. Dalam surah Al-Nisa ayat 171 ketika Allah menceritakan tentang Nabi Isa as Allah berfirman, <em>wa kalimatuh, alq\u0101h\u0101 il\u0101 maryama wa r\u1ee5\u1e25um min, <\/em>Isa adalah kalimat Allah yang Allah titipkan kepada Maryam. Di sini <em>kalimah<\/em> artinya Nabi Isa as dan itu adalah makhluk Allah yang diutus dan Allah ciptakan dan lalu Allah titipkan dalam rahim Maryam as.<\/p>\n\n\n\n<p>Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib dalam salah satu khotbah-khotbah 194 dari <em>Nahj al- Balaghah<\/em><em> <\/em>mengatakan bahwa ketika Allah Swt menghendaki menciptakan sesuatu, Dia akan mengatakan <em>k<\/em><em>un<\/em>, jadilah, maka sesuatu yang diinginkan oleh Allah untuk terjadi sesuai apa Allah inginkan. Semua itu terjadi tanpa Allah perlu mengungkapkan kata <em>kun<\/em> dengan suara yang disampaikan, yang dikeluarkan, ataupun dengan suara yang didengar oleh makhluk apa pun kalam Allah. Ini adalah perbuatan Allah.<\/p>\n\n\n\n<p>Ketika ada pembicaraan mengenai apakah kalam Allah itu <em>q<\/em><em>a<\/em><em>dim<\/em> ataukah <em>hadi<\/em><em>t<\/em><em>s<\/em><em>, <\/em>apakah kalam Allah itu sesuatu yang baru ataukah sesuatu yang <em>q<\/em><em>a<\/em><em>dim<\/em>, kita tidak membahas hal semacam itu. Akan tetapi karena kalam Allah ini adalah perbuatan Allah, tentunya perbuatan Allah bukan bersifat <em>qa<\/em><em>dim.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Di awal-awal abad ketiga Hijriah pernah terjadi sebuah tragedi besar di tengah umat Islam. Pada saat itu khalifah yang memercayai bahwasanya kalamullah itu <em>q<\/em><em>a<\/em><em>dim,<\/em> akan membunuh siapa saja di antara ulama yang mengatakan bahwa kalamullah itu <em>hadits<\/em>. Kemudian berganti periode dan penguasa, penguasa berikutnya mengatakan bahwa <em>kalamullah<\/em> itu adalah <em>hadits<\/em><em>,<\/em> artinya baru bukan <em>q<\/em><em>a<\/em><em>dim<\/em>, sehingga khalifah yang berikutnya yang meyakini hal itu akan membunuh dan memenjarakan siapa saja yang mengatakan bahwa <em>kallamullah<\/em> itu <em>q<\/em><em>a<\/em><em>dim.<\/em><em> <\/em>Ini adalah suatu tragedi yang terjadi di tengah-tengah umat Islam, hanya karena membicarakan mengenai apakah kalamullahitu <em>q<\/em><em>a<\/em><em>dim<\/em> ataukah <em>hadits<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Padahal, jawaban untuk masalah ini sedemikian jelas. Jika kita mengatakan bahwa <em>takallum<\/em> atau berbicara atau kalam-kalamnya Allah itu adalah perbuatan Allah, dan jika kita katakan bahwa yang dimaksud dengan kalamullah itu adalah Alquran, dan Alquran itu yang menceritakan kepada kita tentang kisah-kisah para nabi adalah suatu wahyu yang diturunkan oleh Allah melalui malaikat Jibril kepada Rasulullah Muhammad saw yang di dalamnya ada hukum-hukum dari Allah untuk umat ini, sudah jelas bahwasanya itu adalah <em>hadits<\/em><em> <\/em>(baru) bukan <em>q<\/em><em>a<\/em><em>dim<\/em>. Kalau kita katakan bahwasanya <em>kalamullah<\/em> adalah sifat zat-Nya Allah, maka kalau sifat zat-Nya Allah berarti ia <em>q<\/em><em>a<\/em><em>dim<\/em><em> <\/em>seperti zat-Nya Allah.<\/p>\n\n\n\n<p>Sifat <em>fi&#8217;il<\/em> kedua, sifat perbuatan Allah yang kedua adalah <em>s<\/em><em>h<\/em><em>id<\/em><em>d<\/em><em>iq<\/em><em>, <\/em>yang berarti kemahabenaran Allah. Kemahabenaran Allah ini bisa kita lihat bahwa Allah Swt dalam berbicara tidak pernah berdusta. Karena berdusta itu adalah suatu perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang yang lemah. Berdusta atau berbohong itu adalah perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang yang membutuhkan cara untuk bisa lepas dari sesuatu sehingga dia berbohong. Berbohong itu adalah suatu perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang yang bodoh atau oleh orang-orang yang takut. Sementara hal-hal yang semacam itu adalah kekurangan dan Allah Swt jauh dari kekurangan-kekurangan semacam itu. Allah bukanlah Zat yang membutuhkan kepada siapa pun, tidak takut kepada apa pun, dan Allah bukan Zat yang bodoh, Allah Maha Mengetahui. Karena hal semacam itulah kita katakan Allah Swt Mahabenar dan Mahajujur dalam kata-kata-Nya.<\/p>\n\n\n\n<p>Sifat <em>fi&#8217;il<\/em> ketiga, sifat Kemahabijaksanaan Allah, sifat hikmah-Nya Allah. Sifat hikmah-Nya Allah ada dua maknanya. Pertama, adalah bahwa Allah dalam melakukan semua perbuatan-Nya akan melakukan-Nya dengan segala kesempurnaan. Kedua sifat kebijaksanaan ini adalah bahwa Allah dalam melakukan perbuatan-Nya tidak akan pernah melakukan hal yang sia-sia dan percuma. Mengenai makna inilah Allah Swt berfirman dalam Surah Shaad ayat 27, <em>Wa m\u0101 khalaqnas-sam\u0101`a wal-ar\u1e0da wa m\u0101 bainahum\u0101 b\u0101\u1e6dil\u0101, <\/em>\u201cKami tidak menciptakan langit dan bumi dan segala hal yang berada di antara langit dan bumi dan yang berada di langit dan di bumi dengan penciptaan yang sia-sia.\u201d Semua diciptakan oleh Allah dengan tujuan dan semua diciptakan oleh Allah dengan kesempurnaan.<\/p>\n\n\n\n<p>Sampai di sini kita telah membahas mengenai sifat-sifat <em>tsubutiyah,<\/em> sifat-sifat yang kita tetapkan untuk Allah Swt atau dengan ungkapan lain sifat-sifat <em>kamali<\/em><em>y<\/em><em>ah<\/em> yakni sifat-sifat kesempurnaan bagi Allah. Sekarang tiba giliran kita untuk membahas tentang sifat-sifat <em>salbiyah<\/em> yaitu sifat-sifat yang kita nafikan dari Allah Swt.<\/p>\n\n\n\n<h2>Sifat Salbiyah Allah<\/h2>\n\n\n\n<p>Yang dimaksud dengan sifat <em>salbiyah<\/em> adalah sifat-sifat yang kita nafikan dari Allah, yakni sifat-sifat yang tidak tepat, tidak benar, dan sifat-sifat yang menunjukkan kekurangan kita jauhkan dari Allah Swt. Misalnya, seperti kita katakan bahwa Allah tidak berjisim; bahwa Allah tidak bertempat; dan Allah tidak memerlukan tempat. Sifat-sifat inilah yang kita nafikan dari Allah.<\/p>\n\n\n\n<p>Salah satu sifat yang masuk dalam kelompok sifat <em>salbiyah<\/em> dan yang menjadi perdebatan di kalangan para teolog muslimin adalah sifat apakah Allah bisa dilihat ataukah tidak bisa dilihat? Sebagian kaum muslimin mengatakan Allah sama sekali tidak bisa dilihat, tidak di dunia, tidak pula di akhirat. Sementara sekelompok muslimin lainnya mengatakan Allah Swt tidak bisa dilihat di dunia tetapi di akhirat Allah bisa dilihat. Masing-masing dari dua kelompok ini membawakan dalil dari ayat-ayat suci Alquran.<\/p>\n\n\n\n<p>Kita meyakini bahwa Allah Swt tidak bisa dilihat tidak di dunia tidak pula di akhirat. Sebab kalau kita katakan Allah Swt bisa dilihat, ada dua kemungkinan yang kita lihat dari Allah Swt adalah Allah secara utuh atau Allah sebagian daripada-Nya. Jika kita katakan bahwa yang terlihat oleh kita di akhirat nanti adalah seluruhnya Allah, berarti apa yang ditangkap penglihatan kita yaitu Allah terbatas. Sesuatu yang bisa dilihat, pasti ia terbatas. Apakah kita mengatakan bahwa Allah itu terbatas? Kita sebelumnya mengatakan Allah adalah maujud yang tidak terbatas. Kalau kita katakan bahwa yang terlihat dari Allah adalah sebagian dari Allah saja, berarti kita mengatakan Allah memiliki bagian padahal kita katakan Allah tidak terdiri dari bagian-bagian.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam surah Al-A&#8217;raf ayat 143 Allah Swt menceritakan tentang kisah <em>miq<\/em><em>a<\/em>t-nya dari Nabi Musa as. Ketika Nabi Musa mendatangkan ke <em>miq<\/em><em>a<\/em><em>t<\/em> dan perjanjian dengan Allah, kemudian berbicara dengan Allah, Musa mendengar kata-kata dan suara dari Allah. Saat itulah Musa as diminta oleh Bani Israil\u2014yang sedang bersamanya\u2014supaya Allah yang mereka dengar suara dari Allah itu menampakan diri-Nya. Saya katakan bahwa Musa as tahu bahwasanya Allah tidak bisa dilihat, tetapi karena permintaan dan sikap keras kepala Bani Israil yang meminta supaya Musa memohon kepada Allah Swt menempatkan diri-Nya. Allah Swt menceritakan bahwa Musa kemudian mengatakan, &nbsp;<em>rabbi arin\u012b an\u1e93ur ila\u012bk, <\/em><em>\u201c<\/em>Ya Allah perlihatkanlah diri-Mu supaya aku bisa melihat kepada-Mu.\u201d Kemudian Allah Swt menjadikan Musa dan orang-orang Bani Israil yang bersamaan itu tersungkur.<\/p>\n\n\n\n<p>Tentunya yang dimaksud bahwa Allah tidak bisa dilihat adalah dengan penglihatan mata. Seandainya kita berbicara penglihatan hati, Allah bisa dilihat dengan mata hati kita. Sebagaimana seorang sahabat Amirul Mukminin bernama Al-Yamani bertanya kepada Amirul Mukminin, \u201cWahai Amirul Mukminin apakah engkau pernah melihat Tuhanmu?\u201d Imam Ali bin Abi Thalib menjawab, <em>\u201cAku tidak akan pernah menyembah Tuhan yang tidak aku lihat.\u201d<\/em> Kemudian sahabatnya itu berkata lagi, \u201cWahai Amirul Mukminin, bagaimana engkau bisa melihat Tuhanmu?\u201d Imam kemudian menjawab, <em>\u201cKetahuilah bahwa Allah tidak bisa dilihat dengan mata kepala tetapi bisa disaksikan dengan mata hati.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Kelompok muslimin yang mengatakan bahwa Allah kelak di hari kiamat bisa dilihat mereka menggunakan dalil dari ayat Alquran dalam surah Al-Qiyamah ayat 22 dan 23. Allah Swt berfirman, <em>Wuj\u1ee5huy yauma`i\u017cin n\u0101\u1e0dirah<\/em><em> <\/em><em>Il\u0101 rabbih\u0101 n\u0101\u1e93irah, <\/em>\u201cDi hari itu ada wajah-wajah yang berseri-seri yang memandang kepada Tuhannya di sini. Allah sebutkan dalam Alquran menggunakan kata <em>nadirah<\/em> yang kemudian diterjemahkan dengan penglihatan atau pandangan. Inilah yang kemudian membuat mereka meyakini bahwa Allah Swt bisa dilihat pada Hari Kiamat sesuai firman Allah ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Untuk menjawab pandangan dan argumentasi dengan ayat itu yang membuktikan bahwa Allah bisa dilihat di Hari Kiamat, maka jawabannya adalah kata <em>nadirah<\/em> pada ayat 23 bukan berarti memandang. Allah Swt menyebut bahwa yang memandang, yang dikatakan <em>nadirah<\/em> kepada Tuhan mereka, bukan mata tetapi wajah. <em>Wuj\u1ee5huy yauma`i\u017cin n\u0101\u1e0dirah. <\/em>Apakah seseorang memandang seseorang yang lain, memandang suatu pemandangan dengan wajah ataukah memandang dengan mata. Karena itulah yang sebenarnya maksud dari ayat ini adalah \u201cpada hari itu ada wajah-wajah yang menantikan datangnya rahmat dari Allah, yang menyaksikan adanya pemberian anugerah dari Allah dan pahala-pahalanya di hari kiamat.\u201d Artinya, ayat 23 surah Qiyamah ini adalah bahasa kiasan. Seperti bahasa kiasan ketika kita mengatakan si fulan menantikan pandangannya kepada si fulan. Artinya, menantikan bantuan dari si fulan, bukan berarti matanya diserahkan kepada si fulan.<\/p>\n\n\n\n<p>Allah Swt juga menjelaskan bahwa Allah tidak akan pernah bisa dilihat. Kita lihat cerita kisah dari Bani Israil yang meminta kepada Musa supaya mereka dipertemukan dengan Allah sehingga bisa menatap wajah Allah. Allah Swt mengatakan kepada Musa, <em>Innaka lan tarani, <\/em>\u201cEngkau tidak mungkin akan bisa melihat-Ku\u201d. Allah menggunakan kata <em>lan<\/em> yang berarti sama sekali tidak akan pernah bisa. Ini menunjukkan bahwasanya melihat Allah dengan mata kepala tidak mungkin akan bisa terjadi.[] <\/p>\n\n\n\n<p><strong>Naskah ini merupakan khotbah Jumat Direktur ICC Syekh Hakimelahi, Jumat&nbsp; 5 Februari 2021, di ICC, Jakarta. Ditranskrip dan disunting seperlunya oleh redaksi Buletin Nur al-Huda.<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ICC Jakarta &#8211; Sifat-Sifat Allah terbagi menjadi dua: pertama, yaitu ada sifat yang berhubungan dengan zatnya Allah dan<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":12602,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[414],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12601"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=12601"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12601\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":12690,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12601\/revisions\/12690"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12602"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=12601"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=12601"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=12601"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}