{"id":1831,"date":"2016-12-28T07:12:42","date_gmt":"2016-12-28T00:12:42","guid":{"rendered":"https:\/\/iccjkt.com\/?p=1831"},"modified":"2016-12-28T07:12:42","modified_gmt":"2016-12-28T00:12:42","slug":"apakah-agama-itu-1","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/2016\/12\/28\/apakah-agama-itu-1\/","title":{"rendered":"Apakah\u00a0 Agama itu?"},"content":{"rendered":"<p><strong>Definisi Agama<\/strong><\/p>\n<p>Secara leksikal, kata <em>din<\/em> berasal dari bahasa Arab yang berarti ketaatan dan balasan.\u00a0 Sedangkan secara teknikal,\u00a0 <em>din<\/em> berarti iman kepada pencipta manusia dan alam semesta, serta kepada hukum praktis yang sesuai dengan keimanan tersebut. Dari sinilah kata <em>al-ladini<\/em> (orang yang tak beragama) di-gunakan pada orang yang tidak percaya kepada wujud pencipta alam secara mutlak, walaupun ia meyakini <em>shudfah<\/em> (kejadian yang tak bersebab-akibat) di alam ini, atau\u00a0 meyakini bahwa terciptanya alam semesta ini akibat interaksi antar-materi semata. Adapun kata <em>al-mutadayyin<\/em> (orang yang beragama) secara umum digunakan pada orang yang percaya akan wujud pencipta alam semesta ini, walaupun keper-cayaan, perilaku dan ibadahnya bercampur dengan berbagai penyimpangan dan khurafat. Atas dasar inilah agama yang dianut oleh umat manusia terbagi menjadi dua; agama yang hak dan agama yang batil. Agama yang hak merupakan dasar yang meliputi keyakinan-keyakinan yang benar; yang sesuai dengan kenyataan, dan ajaran-ajaran serta hukum-hukumnya dibangun di atas pondasi yang kokoh dan dapat dibuktikan kesahihannya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Usuluddin dan Cabang-cabangnya<\/strong><\/p>\n<p>Dari uraian singkat di atas tampak jelas bahwa istilah <em>din<\/em> atau agama terdiri dari dua unsur\u00a0 pokok: <em>pertama<\/em>, akidah atau <em>aqa\u2019id<\/em> (keyakinan-keyakinan) yang merupakan prinsip agama. <em>Kedua<\/em>, hukum-hukum praktis yang merupakan konsekuensi logis dari prinsip agama tersebut.<\/p>\n<p>Oleh karena itu, tepat sekali apabila bagian akidah ini dinamakan sebagai <em>ushul<\/em> (prinsip)\u00a0 agama, dan bagian <em>ahkam<\/em> (hukum-hukum) praktis dinamakan sebagai <em>furu\u2019 <\/em>\u00a0(cabang), sebagaimana para ulama Islam menggunakan dua istilah tersebut pada bidang akidah dan hukum-hukum Islam.<\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p><strong>Pandangan Dunia\u00a0 dan\u00a0 Ideologi <\/strong><\/p>\n<p>Pandangan dunia (<em>Ar-Ru\u2019yah Al-Kauniyyah<\/em>) dan ideologi adalah dua istilah yang berdekatan artinya. Salah satu arti pandangan dunia ialah seperangkat keyakinan mengenai penciptaan, alam semesta dan manusia, bahkan mengenai wujud secara mutlak. Sedangkan arti ideologi, salah satunya ialah seperangkat pandangan universal tentang sikap praktis manusia.\u00a0 Berdasarkan dua arti ini, sistem akidah setiap agama dapat dianggap sebagai sebuah pandangan yang bersifat universal. Sedang sistem hukum praktis agama yang bersifat umum adalah\u00a0 ideologinya. Maka itu, kedua istilah ini dapat diterapkan pada <em>ushuluddin<\/em> dan <em>furu\u2019uddin<\/em>.<\/p>\n<p>Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa istilah ideologi itu tidak meliputi hukum-hukum <em>juz\u2019i<\/em>\u00a0 (partikular), begitu pula istilah padangan dunia itu tidak meliputi keyakinan-keya-kinan yang <em>juz&#8217;i<\/em>. Hal lain yang juga perlu diperhatikan ialah bahwa istilah ideologi terkadang digunakan untuk pengertian yang bahkan mencakup\u00a0 pandangan dunia itu sendiri.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Pandangan Dunia Ilahi dan\u00a0 Materialisme<\/strong><\/p>\n<p>Pada umat manusia, terdapat berbagai pandangan dan keyakinan mengenai penciptaan alam semesta ini. Akan tetapi, semua itu \u2013dari sisi keimanan atau pengingkaran terhadap alam metafisis\u2013 dapat\u00a0 dibagi menjadi dua bagian utama; pan-dangan dunia Ilahi dan, pandangan dunia Materialisme.<\/p>\n<p>Dahulu, penganut pandangan dunia materialisme dikenal sebagai <em>ath-thabi\u2019i<\/em> dan a<em>d-dahri<\/em>. Terkadang juga disebut sebagai <em>zindik<\/em>\u00a0 dan <em>mulhid<\/em>\u00a0 (ateis).\u00a0 Sedangkan di zaman kita sekarang ini, mereka dikenal sebagai <em>al-maddi<\/em> (materialis).\u00a0 Di dalam kaum materialis sendiri, terdapat aliran-aliran.\u00a0 Yang paling menonjol pada masa kita sekarang ini adalah Materialisme Dialektika yang merupakan bagian Filsafat Marxisme.<\/p>\n<p>Dari uraian di atas jelaslah bahwa istilah pandangan dunia tidak terbatas hanya pada kepercayaan agama saja, namun\u00a0 mempunyai pengertian yang lebih luas lagi, karena istilah itu juga digunakan pada pandangan <em>ilhadiyyah <\/em>(ateisme) dan <em>madiyyah <\/em>(materialisme), sebagaimana istilah ideologi itu tidak hanya digunakan untuk sistem hukum suatu agama.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Agama Samawi dan Dasar-dasarnya<\/strong><\/p>\n<p>Para ulama, ahli sejarah agama dan sosiologi berbeda pendapat mengenai kemunculan agama. Adapun sumber-sumber Islam menyatakan bahwa agama tauhid lahir seketika kelahiran manusia pertama. Manusia pertama yang lahir di muka bumi ini adalah nabi (Adam a.s.) dan penyeru ajaran tauhid (mengesakan Allah). Adapun\u00a0 agama-agama musyrik\u00a0 muncul lantaran penyimpangan, pemaksaan kehendak dan ambisi busuk, yang bersifat individu maupun kelompok.<\/p>\n<p>Agama-agama tauhid adalah agama-agama samawi yang hakiki dengan tiga prinsip universal mereka, yaitu <em>pertama<\/em>: iman kepada Allah Yang Esa. <em>Kedua,<\/em> iman kepada kehidupan abadi setiap manusia di\u00a0 akhirat kelak untuk menerima pembalasan amal yang pernah ia lakukan semasa hidupnya di dunia. <em>Ketiga,<\/em> iman kepada para nabi dan rasul yang diutus oleh Allah untuk memberi hidayah dan bimbingan kepada seluruh umat manusia demi mencapai puncak kesempurnaan dan kebahagiaan dunia serta akhirat.<\/p>\n<p>Pada dasarnya, tiga prinsip ini merupakan jawaban yang paling tegas atas persoalan-persoalan fundamental manusia yang berakal. Yaitu, siapakah pencipta alam semesta ini? Bagaimanakah akhir kehidupan ini? Dan apakah cara untuk mengetahui sistem kehidupan yang terbaik? Sistem kehidupan yang dibangun atas dasar wahyu pada hakikatnya adalah ideologi yang\u00a0 bersumber dari pandangan dunia Ilahi.<\/p>\n<p>Prinsip-prinsip akidah itu mempunyai berbagai konse-kuensi dan rincian yang semuanya membentuk sebuah sistem akidah agama. Adanya perbedaan di antara berbagai keya-kinan merupakan sebab munculnya berbagai agama dan madzhab.\u00a0 Kita perhatikan bagaimana perbedaan tentang sta-tus kenabian sebagian nabi-nabi Ilahi dan tentang penentuan kitab yang orisinil dan utuh menjadi sebab utama perselisihan di antara agama Yahudi, Nasrani dan Islam. Atau\u00a0 perbedaan-perbedaan lainnya seputar masalah akidah dan ibadah, se-hingga sebagian dari agama itu sudah tidak sesuai lagi dengan ajarannya yang murni. Contohnya, keyakinan orang-orang Nasrani terhadap Trinitas yang jelas tidak sesuai dengan prin-sip Tauhid, walaupun mereka telah berusaha untuk menaf-sirkan dan menakwilnya sebegitu rupa agar dapat diterima.\u00a0 Demikian pula perselisihan mengenai kepemimpinan dan pe-nentuan khalifah setelah wafatnya Rasul saw.; apakah pe-nentuan khalifah itu urusan Allah ataukah urusan manusia. Persoalan ini merupakan sebab utama terjadinya ikhtilaf an-tara mazhab Ahli Sunnah dan mazhab Syi\u2019ah di dalam Islam.<\/p>\n<p>Dengan demikian, Tauhid, Kenabian dan Ma\u2019ad (Hari Kebangkitan) adalah\u00a0 prinsip-prinsip akidah pada semua agama samawi.\u00a0 Meski begitu, terdapat keyakinan-keyakinan yang merupakan turunan dari prinsip-prinsip tersebut. Misalnya, keyakinan terhadap keberadaan Allah adalah prinsip\u00a0 pertama, keyakinan terhadap keesaan-Nya adalah prinsip kedua. Atau, keyakinan terhadap Kenabian meru-pakan sebuah prinsip semua agama samawi, sedangkan ke-yakinan terhadap kenabian Nabi Muhammad saw. adalah prinsip yang khas pada Islam. Sebagian ulama Syi\u2019ah menjadikan Keadilan Tuhan \u2013yang merupakan turunan dari prinsip Tauhid\u2013 sebagai prinsip akidah khas Syi\u2019ah. Dan Imamah \u2013sebagai perpanjangan dari Kenabian\u2013 adalah prinsip akidah khas Syi\u2019ah lainnya. Sebenarnya, penggunaan kata prinsip (<em>al-ashl<\/em>) pada ajaran-ajaran akidah seperti ini me-ngikuti konvensi dan\u00a0 tidak perlu lagi diperdebatkan.<\/p>\n<p>Oleh karena itu,\u00a0 kata <em>ushuluddin<\/em>\u00a0 dapat digunakan dalam dua istilah; umum dan khusus.\u00a0 Istilah umum <em>ushuluddin<\/em> mencakup akidah-akidah yang sahih; sebagai lawan dari\u00a0 <em>furu\u2019uddin<\/em>. Sedang istilah khusus <em>ushuluddin<\/em> berlaku hanya pada keyakinan-keyakinan yang paling\u00a0 prinsipal. Istilah <em>ushuluddin<\/em> juga dapat digunakan secara mutlak (tidak hanya khusus bagi sebuah agama) pada sejumlah kesamaan prinsip akidah di antara agama-agama samawi seperti tiga prinsip di atas tadi, yaitu Tauhid, Kenabian dan Kebangkitan. Adapun jika ditambahkan prinsip-prinsip lainnya, istilah yang biasa digunakan adalah <em>ushuluddin khusus.<\/em> Demikian pula, jika ditambahkan akidah dan keyakinan yang khas pada mazhab tertentu, istilah yang digunakan adalah <em>ushulul madzhab<\/em>.[Pelajaran Pertama, Bersambung]<\/p>\n<p>Disarikan dari buku Iman Semesta karya Ayatullah Taqi Misbah Yazdi, terbitan Al-Huda<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Definisi Agama Secara leksikal, kata din berasal dari bahasa Arab yang berarti ketaatan dan balasan.\u00a0 Sedangkan secara teknikal,\u00a0<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":1865,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[18],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1831"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1831"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1831\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1831"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1831"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1831"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}