{"id":1926,"date":"2017-01-03T14:39:12","date_gmt":"2017-01-03T07:39:12","guid":{"rendered":"https:\/\/iccjkt.com\/?p=1926"},"modified":"2017-01-03T14:39:12","modified_gmt":"2017-01-03T07:39:12","slug":"mengapa-logika-agama","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/2017\/01\/03\/mengapa-logika-agama\/","title":{"rendered":"Mengapa Logika Agama"},"content":{"rendered":"<p><strong>Oleh: Dr Muhsin Labib <\/strong><\/p>\n<p><em>&#8220;Agama adalah akal. Tak menggunakan akal, tak beragama.&#8221;<\/em> (Imam Sadiq)<\/p>\n<p><strong>ICC Jakarta<\/strong> &#8211; Orang yang menjadikan akal sebagai juri utama dengan logika sebagai aturannya tidak terbelenggu oleh dogma irasiional dan fanatisme sektarian.<\/p>\n<p>Akal adalah dasar memilih keyakinan tentang eksistensi Tuhan dan keesaanNya, keyakinan tentang agama dan kehidupan kedua.<\/p>\n<p>Yang bisa memerdekakan manusia adalah ketundukan pada akal.<\/p>\n<p>Akal mengarahkan manusia mengutamakan &#8220;ada&#8221; atas &#8220;apa&#8221;.<\/p>\n<p>Akal mengarahkan manusia mendahulukan &#8220;apa&#8221; atas &#8220;siapa&#8221;.<\/p>\n<p>Ada dua akal, 1. Akal potensial. 2. Akal aktual. Setiap manusia mempunyai akal potensial. Sebagian manusia mempunyai akal aktual (pemikir).<\/p>\n<p>Sebagian besar orang berpikir. Sebagian kecil orang berpikir sistematis (logis).<\/p>\n<p>Orang yang berpikir logis sadar priotitas dalam menyusun pikiran berdasarkan validitas, urgensi dan pengaruhnya.<\/p>\n<p>dalam diri orang yang berpikir logis, pikiran-pikiran\u00a0tersusun secara hierarkis bak piramida terbalik,yang diawali dengan satu pikiran fundamental sebagai BIOS.<\/p>\n<p>Pikiran utama yang berfungsi sebagai BIOS sdh tercangkok dalam diri setiap manusia. Ia bahkan menjadi alasan disebut manusia.<\/p>\n<p>Pikiran perdana dalam diri manusia pasti valid dan tidk memerlukan dalil krn ia yang memproduksi dalil dab muara jawaban atas semua &#8220;mengapa&#8221;.<\/p>\n<p>Pikiran perdana bukan hasil korespondensi dengan objek di luar diri,tapi disadari stlh korespondensi saat awal manusia membuka mata dan indranya.<\/p>\n<p>Pikiran perdana lebih tepat disebut kesadaran atau &#8220;pengetahuan yang hadir&#8221;, karena ia justru memproduksi pikiran yang lazim disebut konsep.<\/p>\n<p>Para teolog Muslim menyebutnya fitrah. Para flsuf Muslim dan metafiskawan menyebutnya intuisi. yang pasti ia adalah pengetahuan supra konsep.<\/p>\n<p>Yang pertama kali disadari (meski tidak dipahaminya atau terpikir) oleh manusia adalah &#8220;ada&#8221;.<\/p>\n<p>Yang kedua disadarinya (meski tidak diketahui atau bahkan mungkin dibantahnya) adalah &#8220;aku&#8221; sebagai sesuatu yang berada dalam &#8220;ada&#8221;.<\/p>\n<p>Pedoman hidup.adalah agama. Sumber agama adalah Quran &amp; Sunnah. Dasar pemahaman\u00a0Quran &amp; Sunnah adalah akal. Induk akal adalah intuisi (fitrah).<\/p>\n<p>Agama tanpa akal adalah dominasi &amp; kesewenang-wenangan berbungkus kepatuhan. Akal tanpa agama adalah arogansi &amp; keliaran berbungkus kemerdekaan.<\/p>\n<p>Islam sebagai nama agama adalah ajaran yang dibawa Nabi Muhammad. Islam sebagai ajaran keberserahan ada sblm Nabi Muhammad diutus.<\/p>\n<p>Tanpa agama, logika menjadi liar. Tanpa logika, agama tampak kaku. Logika dan agama adalah dua sayap bagi relijius moderat.<\/p>\n<p>Logika memperjelas hukum-hukum horisontal yang megimmanenkan Tuhan. Agama menjelaskan hukum-hukum vertikal yang mentransendenkan manusia.<\/p>\n<p>Logka adalah &#8220;agama immanen&#8221;. Agama adalah &#8220;logika transenden.&#8221;<\/p>\n<p>Banyak orang mengira logika hanya logika empiris, hingga sebagian orang saintis jadi jumud dalam beragama. Padahal ia lebih luas dari science.<\/p>\n<p>Teologi dan aksiologi, tidak empiris, tapi logis krn logika menegaskan kausalitas yang pada diri hukumnya tidak empiris meski produknya empiris.<\/p>\n<p>Ateisme dan anti agama adalah ekses dari peliburan logika dalam agama atau ekses dari reduksi logika hanya pada realitas sensual saintifik.<\/p>\n<p>Mukjizat Nabi-Nabi termasuk Isra&#8217; Mi&#8217;raj mungkin tidak saintifik (krn.tidak induktif), tapi bila dilihat secara kausal dan deduktif, logis.<\/p>\n<p>Saintisme yang menganggap agama tidak logis melahirkan anti agama. Skriptualisme yang menganggap agama tidak logis melahirkan anti logika. Mutual.<\/p>\n<p>Sekilas pernyataan orang-orang yang mengaku anti agama itu cukup cerdas dan &#8220;wah&#8221;, tapi bagi sebagian yang sdh akrab dengan aufkarung dan ateisme,itu biasa<\/p>\n<p>Dengan paradigma agama yang logis, semua doktrin-doktrin mayor agama hrs lolos inferensi dan sillogisme. Bila tidak lolos, bisa dianggap bukan bagiannya.<\/p>\n<p>Karena agama diturunkan untuk makhluk logis, ajarannya pasti logis. Kalau dirasa tidak logis, perlu dinalarkan lagi dan didiskuaikan.<\/p>\n<p>Karena agama diturunkan untuk makhluk logis, ajarannya pasti logis. Kalau dirasa tidak logis, perlu dinalarkan lagi dan didiskusikan.<\/p>\n<p>Agama logis melejitkan kesadaran, kreativitas dan kemandirian sikap. Karena itu, penguasa-penguasa tiran membencinya dan menyebarkan skriptualisme.<\/p>\n<p>Agama adalah peradaban yang paling lestari. Menghina agama, hanya karena menemukan beberapa doktrin tak logis, berarti menghina peradaban.<\/p>\n<p>Agama minus logika menciptakan relijius ekstremis dan bisa pula mencetak relijius naif, sesuai kepentingan penguasa despotik.<\/p>\n<p>Menolak logika dengan alasan menjadikan kitab suci sebagai pedoman berarti menganggap karunia akal sebagai sia-sia. Anggapan ini tak sesuai dengan kitab suci. [ZB]<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Dr Muhsin Labib &#8220;Agama adalah akal. Tak menggunakan akal, tak beragama.&#8221; (Imam Sadiq) ICC Jakarta &#8211; Orang<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":1928,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[14],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1926"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1926"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1926\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1926"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1926"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1926"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}