{"id":2778,"date":"2017-03-07T11:24:49","date_gmt":"2017-03-07T04:24:49","guid":{"rendered":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/?p=2778"},"modified":"2017-03-07T11:24:49","modified_gmt":"2017-03-07T04:24:49","slug":"ajaran-tasawuf-dalam-islam-jawa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/2017\/03\/07\/ajaran-tasawuf-dalam-islam-jawa\/","title":{"rendered":"Ajaran Tasawuf dalam Islam Jawa"},"content":{"rendered":"<p><strong>ICC Jakarta<\/strong> &#8211; Peneliti naskah-naskah\u00a0Jawa kuno, Nancy K. Florida, tidak sependapat jika dikatakan corak mistis atau umum dikenal tasawuf dalam Islam Jawa itu bersumber dari ajaran Hindu. Dari 500 naskah di Kraton Surakarta misalnya, hanya 17 yang berbau Hinduisme. Selebihnya adalah Islam. Ia pun mencontohkan mengenai tahapan perjalanan ruhani di Islam Jawa yang dikenal <em>suluk<\/em>.<\/p>\n<p>\u201c<em>Suluk<\/em> itu lebih kuat karena pengaruh Islam, bukan Hinduisme,\u201d kata Indonesianis berusia 67 tahun ini\u00a0ketika diwawancarai <em>Kompas\u00a0<\/em>beberapa waktu lalu.<\/p>\n<p>Selain itu,\u00a0pengajaran tasawuf-Islam di tanah Jawa sangat kuat dan <em>sophisticated<\/em> di abad ke- 18 dan ke -19. Dari sekian banyak tema tasawuf dalam Islam Jawa, Nancy mengaku tertarik pada konsep penyatuan badan dan jiwa.<\/p>\n<p>Pada periode Kerajaan Islam Mataram, konsep penyatuan juga dikenal dalam istilah tradisi kraton sebagai hubungan integral antara hati (manusia), bumi (alam) dan Gusti (Tuhan). Konsep kesatuan (<em>manuggaling<\/em>) ini memang kompleks sebagaimana diakui oleh Nancy. Dan mungkin karena itu juga, Syekh Siti Jenar yang dikenal dengan ajaran \u2018manunggaling kawulo Gusti\u2019 ini merupakan sosok sufi\u00a0kontroversial hingga kini.<\/p>\n<p>Jika diteliti periode awal, Islam dengan corak tasawuf merupakan ajaran yang kental di Mataram (Yogyakarta-Surakarta kuno) dan lebih kental dibanding periode kerajaan Islam sebelumnya seperti Demak Bintaro yang berumur singkat.<\/p>\n<p>Jika dilirik ke belakang lagi, sejatinya <em>laku<\/em> atau sikap hidup manusia Jawa itu, kata Konco Kaji Keraton Yogyakarta Ki Ridwan, cenderung pada tasawuf.\u00a0Termasuk keyakinan kosmologi tentang Tuhan Yang Satu. Sehingga, ketika diperkenalkan pertama kali dengan Islam yang bercorak tasawuf oleh para wali, yang terjadi ialah adanya hubungan integral. Dalam analogi budayawan kondang Emha Ainun Najib, pertemuan Jawa dan Islam bagaikan botol bertemu\u00a0tutupnya. Bahkan, kata Cak Nun, sebelum Islam datang, manusia\u00a0Jawa telah mencapai sebagian dari khazanah Islam.<\/p>\n<p>\u201cMeskipun (pada masa itu) tidak ada yang dinamakan bank (berlabel) Syariat,\u201d katanya menyinggung perbedaan\u00a0Islam simbolik dan substansial.<\/p>\n<p>Jikapun ada pengaruh\u00a0eksternal seperti kisah pewayangan, Sunan Kalijaga tetap memberi ruang masuknya konsep Islam seperti \u2018insan kamil\u2019. Sunan Kaligaja membuat modifikasi sedemikian rupa, sehingga ada yang kita kenal dengan Punakawan yang masing-masing perannya mengandung\u00a0makna filosofis dan sufistik.<\/p>\n<p>Sedemikian kentalnya corak ini, konsep falsafah\u00a0 <em>Sangkan Paraning Dumadi, Manunggaling Kawula Lan Gusti <\/em>dalam konteks ke-ilahiyah-an digambarkan dengan jelas dalam planologi kota Yogyakarta.\u00a0Misalnya, garis imajiner dari\u00a0Gunung Merapi,\u00a0Tugu, Kraton, Panggun Krapyak, hingga pantai selatan ditafsirkan \u00a0sebagai manifestasi ke-Ilahiya-an (Jagad Ageng) yang harus diimbangi dengan hubungan dua sosok manusia sebagai manifestasi Jagad Alit yang diwujudkan dalam bentuk simbolik berupa Lingga (Tugu) \u2013 Yoni (Panggung Krapyak).<\/p>\n<p>Dalam buku \u201cPemikiran Sri Sultan Hamengku Buwono IX\u201d (Wahyukismoyo, 2007), secara singkat, garis imajiner itu juga dapat\u00a0dimaknai sebagai kirab perjalanan hidup seorang anak manusia yang tercipta dari<em> plasma nutfah <\/em>hingga suatu saat kelak nanti harus kembali kepada pangkuan-Nya.<\/p>\n<p>Berbicara tentang berdirinya Kerajaan Islam Mataram ini, tidak lepas dari pengaruh, petunjuk dan bimbingan spiritual Ki Ageng Pemanahan, Ki Ageng Griring, Ki Juru Mertani serta Sunan kalijaga. Dari Ki Ageng Pemanahan, lahirlah Panembahan Senopati. Dan dari Panembahan Senopati, terlahirlah para raja Mataram.<\/p>\n<p>Sebelum Kerajaan Mataram berdiri pun dikabarkan\u00a0murid-murid Syekh Siti Jenar telah menyebar hingga ke pedalaman selatan Jawa. Tokoh spiritual Ki Ageng Sela pun termasuk murid tidak langsung dari Syekh Siti Jenar.<\/p>\n<p>Karena itu, para pendiri Mataram yang ajarannya diwarisi keraton masa ke masa itu, selaras dengan kecenderungan masyarakat di bagian selatan Jawa yang sebelumnya populer dengan ajaran mistis Syekh Siti Jenar.<\/p>\n<p>Nah, apakah warisan ajaran para pendiri Mataram itu masih terjaga hingga kini? Ini memerlukan penelitian yang mendalam, apalagi mengingat periode kolonialisme Belanda yang menduduki keraton hingga alasan di balik perlawanan Pangeran Dipanegoro.<\/p>\n<p>Senada dengan Nancy,\u00a0menurut Prof. Dr. Abdul Hadi, dimensi mistis Islam Jawa tak bisa lepas dari ajaran Islam itu sendiri yang menyentuh Jawa\u00a0pertama kali. Hal ini, lanjut\u00a0Sastrawan dan budayaan ini, karena sebagian besar penyebar Islam adalah ahli-ahli tasawuf dan jejaknya dapat disaksikan dalam berbagai bukti seperti kitab-kitab keagamaan dan sastra, juga dalam adat istiadat. \u00a0Bahkan, para sufi itu berpengaruh besar dalam penentuan kalender Islam, penentuan bentuk-bentuk upacara keagamaan seperti maulid dan lain-lain.<\/p>\n<p>Dengan proses akulturasi yang panjang, Islam Jawa semakin mendapatkan bentuknya yang khas, esoteris-kultural, ketika Islam masuk ke pedalaman Pajang lalu akhirnya Mataram. Sejak Mataram inilah, peradaban Islam Jawa mulai terbangun. Hal ini bisa juga dilihat dari tradisi keagamaan yang beraroma mistis, hingga terbentuk pola yang mengakar dengan dasar siklus penanggalan Jawa Islam \u2013 mulai dari Suro, Sapar, Maulud, dan seterusnya \u2013 karya monumental Sultan Agung. []<\/p>\n<p>Sumber: Islam Indonesia<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ICC Jakarta &#8211; Peneliti naskah-naskah\u00a0Jawa kuno, Nancy K. Florida, tidak sependapat jika dikatakan corak mistis atau umum dikenal<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":2779,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[13],"tags":[273],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2778"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2778"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2778\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2778"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2778"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2778"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}