{"id":3553,"date":"2017-05-07T09:43:17","date_gmt":"2017-05-07T02:43:17","guid":{"rendered":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/?p=3553"},"modified":"2017-05-07T09:43:17","modified_gmt":"2017-05-07T02:43:17","slug":"tawakal-dalam-perspektif-al-quran","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/2017\/05\/07\/tawakal-dalam-perspektif-al-quran\/","title":{"rendered":"Tawakal Dalam Perspektif Al-Qur&#8217;an"},"content":{"rendered":"<p class=\"libNormal\" dir=\"ltr\"><span class=\"libAie\"><strong>ICC Jakarta &#8211;<\/strong>\u00a0Tawakal adalah sikap berserah diri manusia kepada Allah Swt. Makna tawakal memiliki tingkatan yang bermcam-macam. Allah Swt berfirman:<\/span><\/p>\n<p class=\"libNormal\" dir=\"ltr\" style=\"text-align: center;\">\u0648\u064e\u064a\u064e\u0631\u0652\u0632\u064f\u0642\u0652\u0647\u064f \u0645\u0650\u0646\u0652 \u062d\u064e\u064a\u0652\u062b\u064f \u0644\u0627 \u064a\u064e\u062d\u0652\u062a\u064e\u0633\u0650\u0628\u064f \u0648\u064e\u0645\u064e\u0646\u0652 \u064a\u064e\u062a\u064e\u0648\u064e\u0643\u0651\u064e\u0644\u0652 \u0639\u064e\u0644\u064e\u0649 \u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u0650 \u0641\u064e\u0647\u064f\u0648\u064e \u062d\u064e\u0633\u0652\u0628\u064f\u0647\u064f \u0625\u0650\u0646\u0651\u064e \u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u064e \u0628\u064e\u0627\u0644\u0650\u063a\u064f \u0623\u064e\u0645\u0652\u0631\u0650\u0647\u0650 \u0642\u064e\u062f\u0652 \u062c\u064e\u0639\u064e\u0644\u064e \u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u064f \u0644\u0650\u0643\u064f\u0644\u0650\u0651 \u0634\u064e\u064a\u0652\u0621\u064d \u0642\u064e\u062f\u0652\u0631\u064b\u0627<\/p>\n<p class=\"libNormal\" dir=\"ltr\"><em><span class=\"libAie\">Dan orang yang bertawakal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah akan mencukupkan keperluannya.<\/span><\/em>\u00a0(QS.ath-Thalaq:3)<\/p>\n<p class=\"libNormal\" dir=\"ltr\">Imam Ali berkata, \u201cAda beberapa derajat tawakal kepada Allah. Salah satunya adalah kau menyerahkan segala urusanmu kepada Allah, dan kau ridha dengan apapun yang dilakukan-Nya kepadamu, kau mengetahui dengan pasti bahwa ia tidak berhenti memberikan kebaikan dan nikmat-Nya kepadamu, dan kau mengetahui bahwa segala hukum atau perintah di dalamnya adalah milik-Nya. Maka bertawakallah, letakkanlah kepercayaanmu kepada Allah, serahkan kepada-Nya, dan bersandarlah kepada-Nya dalam hal itu, dan hal-hal lain.\u201d<\/p>\n<p class=\"libNormal\" dir=\"ltr\">Tawakal secara harfiah berarti pengakuan ketakmampuan seseorang dan penyandaran pada seseorang selain dirinya. Dalam kajian tasawuf, tawakal memiliki beberapa derajat sesuai dengan maqam hamba Allah Swt. Khwajah \u2018Abdullah al-Anshari dalam Manazil al-Sairin, mendefinisikan tawakal sebagai mempercayakan atau menyerahkan seluruh masalah kepada Sang Penguasa dan bersandar kepada kemampuan-Nya dalam menangani masalah-masalah itu.<\/p>\n<p class=\"libNormal\" dir=\"ltr\">Beberapa arif berkata, \u201cTawakal berarti menundukkan badan (seperti dalam sujud) dalam ibadah dan mengikatkan hati kepada Rububiyyah-Nya (Allah sebagai Rabb, penguasa).\u201d Ini berarti menggunakan kekuatan-kekuatan tubuh seseorang untuk mengabdi kepada Allah Swt dan tidak turut campur dalam urusan-urusan (hati), dan menyerahkannya kepada Allah Swt.\u201d Beberapa arif lain berkata, \u201cTawakal kepada Allah berarti seseorang hamba memutuskan segala pengharapan dari makhluk (dan mengikatkan hanya kepada Allah).\u201d<\/p>\n<p class=\"libNormal\" dir=\"ltr\">Makna-makna di atas berkaitan. Namun yang perlu dikatakan di sini adalah bahwa tawakal memiliki beragam derajat sesuai dengan maqam sang hamba.<\/p>\n<ol>\n<li class=\"libNormal\" dir=\"ltr\">Tawakal lisan\n<p class=\"libNormal\" dir=\"ltr\">Tingkatan tawakal ini adalah tingkatan paling rendah. Mereka mengucapkan \u201cAllah Mahatinggi\u201d atau \u201cAku bertawakal kepada Allah.\u201d namun, dalam persoalan duniawi, mereka menyatakan, \u201cKerja dan usaha tidak bertentangan dengan tawakal kepada Allah dan berserah diri kepada kemurahan-Nya.\u201d Jelas ini menyembunyikan nafsu dirinya dan setan. Pengakuannya hanyalah ucapan-ucapan kosong dan gerakan-gerakan mulut tanpa makna saja.<\/p>\n<\/li>\n<li class=\"libNormal\" dir=\"ltr\">Tawakal akal\n<p class=\"libNormal\" dir=\"ltr\">Kelompok ini adalah mereka yang, setelah diyakinkan oleh akal ataupun wahyu, membenarkan pandangan bahwa Allah adalah satu-satunya pemutus perkara, sebab dari seluruh sebab, memiliki kekuasaan yang menentukan dalam keseluruhan alam wujud. Mereka mampu memberikan bukti-bukti rasional untuk membenarkan tawakal. Mereka juga meneguhkan keyakinan rasional bahwa Ia dalam Zat-nya tidaklah kikir, Cinta dan Kasih-Nya bagi hamba-hamba-Nya, Ia tidak membiarkan seorang hamba tanpa memperoleh apa yang baik bagi mereka, bahkan jika mereka sendiri tak mampu membedakan atau menentukan apa yang baik dan buruk bagi mereka.<\/p>\n<p class=\"libNormal\" dir=\"ltr\">Meskipun masuk kelompok mutawakkil (kelompok yang bertawakal) pada tingkat pengetahuan rasional, mereka belum mencapai tingkat iman. Kepercayaan mereka masih terguncang jika berhadapan dengan urusan-urusan kehidupan. Ada konflik antara akal dengan hati mereka. Akal dikuasai oleh hati yang masih mempercayai sebab-sebab material dan bukan kekuasaan dan tasharruf Allah Swt.<\/p>\n<\/li>\n<li class=\"libNormal\" dir=\"ltr\">\n<p class=\"libNormal\" dir=\"ltr\">Tawakal hati<\/p>\n<p class=\"libNormal\" dir=\"ltr\">Tawakal hati adalah tingkatan tertinggi dalam jenis-jenis tawakal. Kelompok ini meyakini kekuasaan Allah Swt sampai ke relung hati mereka. Mereka inilah yang telah mencapai maqam tawakal. Tetapi orang-orang yang termasuk kelompok ini pun berbeda satu dari yang lainnya dalam hal tingkat keimanan. Tingkat tertinggi adalah rasa puas atau berkecukupan. Hati mereka tidak terpengaruh oleh segala sebab, dan terikat kepada rububiyyah Allah. Kepada-Nya mereka bersandar dan dengan-Nya mereka merasa cukup. Inilah tawakal yang dalam kata-kata para arif didefinisikan sebagai \u2018melepaskan tubuh dalam ibadah kepada Allah dan mengikatkan hati kepada rububiyyah-Nya.\u201d<\/p>\n<p class=\"libNormal\" dir=\"ltr\">Maqam tawakal, ridha, taslim, dan maqam-maqam lainnya dicapai secara bertahap. Pada mulanya, pejalan ruhani (salik) mungkin melakukan tawakal dalam beberapa urusannya dan dalam hubungannya dengan sebab-sebab yang tersembunyi dan tidak teramati. Lalu secara bertahap, tawakalnya makin meluas, dari sebab-sebab batiniah yang tersembunyi kepada sebab-sebab lahiriah yang tampak, dan dari urusan-urusan orang yang dekat dengannya. Sesuai dengan itu, disebutkan dalam hadis, \u201cSalah satu derajat tawakal adalah berserah diri kepada Allah dalam segala urusanmu.\u201d<\/p>\n<p class=\"libNormal\" dir=\"ltr\">Sesungguhnya, maqam ridha lebih tinggi dan bercahaya. Mutawakil mencari kebaikan dan keuntungan bagi dirinya sendiri, dan mempercayai seluruh urusannya kepada Allah Swt yang dipandangnya sebagai pemberi kebaikan. Sedangkan radhi (yang mencapai maqam ridha) adalah orang yang telah meleburkan kehendaknya dalam Kehendak Allah, dan tidak memiliki lagi kehendak dirinya sendiri. Ketika seorang salik ditanya, \u201cApakah kehendakmu?\u201d Ia menjawab, \u201cKehendakku adalah tidak memiliki kehendak.\u201d Yang dimaksudkannya adalah maqam ridha.<\/p>\n<p class=\"libNormal\" dir=\"ltr\">Lebih jauh, tawakal tidak tercapai kecuali setelah hadirnya salah satu penyebabnya, yaitu urusan yang untuk penyelesaiannya seorang hamba berserah diri kepada Allah Swt. Salah satu contohnya adalah tawakal Rasulullah saw dan para sahabatnya dalam menghadapi ancaman kaum musyrik ketika mereka diberitahu; Kepada mereka dikatakan,<\/p>\n<p class=\"libNormal\" dir=\"ltr\"><span class=\"libAie\">Sesungguhnya orang-orang yang telah berkumpul untuk melawan kalian, karena itu takutlah kepada mereka. Tetapi hal ini justru meningkatkan iman mereka, dan mereka berkata, \u2018Cukuplah Allah bagi kami, dan sungguh Ia adalah sebaik-baik pengatur segala urusan.\u2019<\/span>\u00a0(QS. al-Imr\u00e2n:173)<\/p>\n<\/li>\n<\/ol>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ICC Jakarta &#8211;\u00a0Tawakal adalah sikap berserah diri manusia kepada Allah Swt. Makna tawakal memiliki tingkatan yang bermcam-macam. Allah<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":2898,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[22],"tags":[273],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3553"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3553"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3553\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3553"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3553"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3553"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}