{"id":4322,"date":"2017-08-11T11:16:37","date_gmt":"2017-08-11T04:16:37","guid":{"rendered":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/?p=4322"},"modified":"2017-08-11T11:16:37","modified_gmt":"2017-08-11T04:16:37","slug":"kelahiran-yang-tersembunyi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/2017\/08\/11\/kelahiran-yang-tersembunyi\/","title":{"rendered":"Kelahiran Yang Tersembunyi"},"content":{"rendered":"<p><strong>ICC Jakarta &#8211;\u00a0<\/strong>Meskipun bukti-bukti tekstual dan historis tentang kelahiran Imam Mahdi sangat gamblang dan jelas, namun kelahiran beliau masih menjadi misteri bagi sebagian orang. Mereka malah mengingkari bahwa beliau telah lahir dan menganggapnya masih belum lahir. Mungkin faktor utama atas klaim mereka itu adalah kelahiran beliau yang terjadi secara tersembunyi dan tidak pernah melihat beliau kecuali sahabat-sahabat dekat Imam Hasan al-\u2018Askari as. Tapi, ketika kita memperhatikan situasi dan kondisi politik yang dominan dan sangat genting di masa-masa terakhir kehidupan Imam Hasan al-\u2018Askari, kita akan memaklumi kelahiran beliau yang terjadi secara tersembunyi itu. Karena hal itu memang terjadi karena tuntutan sikon yang ada waktu itu mengingat Imam Mahdi as adalah hujjah Ilahi yang terakhir, dan seandainya penguasa waktu itu berhasil membunuh beliau, niscaya dunia ini sudah tutup usia.<\/p>\n<p>Mungkin pendapat seorang penulis kenamaan berikut ini layak kita renungkan bersama, paling tidak hal itu dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan. Ia menulis, \u201cRahasia di balik kelahiran beliau yang terjadi secara tersembunyi itu adalah, bahwa ketika dinasti Abbasiah mengetahui melalui hadis-hadis Nabi dan para imam Ahlulbait as bahwa Imam Mahdi adalah imam kedua belas yang akan meratakan keadilan di atas bumi ini, menghancurkan benteng-benteng kesesatan, membasmi pemerintahan thaghut dan menguasai Barat dan Timur, mereka ingin untuk memadamkan cahaya Allah itu dengan cara membunuhnya. Oleh karena itu, mereka mengirim mata-mata dan para dukun bayi untuk menggeledah dan memeriksa rumah Imam Hasan al-\u2018Askari as. Akan tetapi, Allah masih berkehendak untuk menyempurnakan cahaya-Nya dan menyembunyikan kehamilan ibunda beliau, Narjis.<\/p>\n<p>Disebutkan dalam beberapa referensi bahwa al-Mu\u2019tamid al-Abbasi memerintahkan para dukun bayi untuk memasuki rumah-rumah Bani Hasyim, khususnya Imam Hasan al-\u2018Askari tanpa harus meminta izin sebelumnya barangkali mereka dapat menemukan beliau telah lahir. Akan tetapi, Allah masih menghendaki untuk memberlakukan apa yang pernah terjadi pada kisah kelahiran Nabi Musa as. Pihak penguasa mengetahui bahwa kerajaan mereka akan musnah di tangan salah seorang dari keturunan Bani Israil. Oleh karena itu, mereka selalu mengawasi setiap wanita keturunan Bani Israil yang sedang hamil. Ketika melihat anak yang lahir dari mereka adalah lelaki, mereka langsung membunuhnya. Tapi, dengan kehendak Allah Musa tetapi lahir dengan selamat dan Ia menyembunyikan kelahirannya.<\/p>\n<p>Dalam beberapa hadis disebutkan bahwa kelahiran Imam Mahdi as memiliki keserupaan dengan kelahiran Nabi Musa dan Ibrahim as. (Luthfullah ash-Shafi al-Gulpaigani, Muntakhab al-Atsar f\u00ee al-Imam ats-Ts\u00e2n\u00ee \u2018Asyar, hal. 286, cetakan ketiga, penerbitan ash-Shadr, Tehran.)<\/p>\n<p>Dari sekilas pembahasan di atas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa Imam Mahdi as sudah lahir. Karenan jika tidak demikian, mengapa para penguasa Abbasiah memberlakukan pengontrolan ketat terhadap keturunan Bani Hasyim, khususnya istri Imam Hasan al-\u2018Askari? Mengapa mereka memerintahkan para dukun-dukun bayi untuk memasuki rumah beliau tanpa harus meminta izin terlebih dahulu? Pada peristiwa syahadah Imam Hasan al-\u2018Askari pada tanggal 8 Rabi\u2019ul Awal 260, Ja\u2019far al-Kadzz\u00e2b, saudara beliau ingin menjadi imam di saat shalat janazah hendak dilaksanakan. Karena sunnah Ilahi bahwa seorang imam tidak dapat dishalati kecuali oleh imam setelahnya, Imam Mahdi menampakkan dirinya dan menyingkirkan Ja\u2019far dari tempat imam shalat jenazah. Tidak lama, berita kemunculan beliau di hadapan khalayak tersebar dan hal itu pun sampai ke telinga al-Mu\u2019tamid, penguasa dinasti Abbasiah kala itu. Akhirnya, ia memerintahkan bala tentaranya untuk menggeledah rumah Imam Hasan al-\u2018Askari demi menangkap Imam Mahdi dan menyerahkannya kepada Khalifah. (Muhammad Reza Hakimi, Khosh\u00eed-e Maghreb, hal, 24-26.)<\/p>\n<p>Meskipun kelahiran terjadi secara tersembunyi, tapi hal itu tidak menutup kemungkinan adanya sebagian orang yang pernah melihat beliau. Berikut ini nama-nama orang yang pernah melihat beliau dengan mata kepala mereka sendiri:<\/p>\n<ol>\n<li>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Sayidah Hakimah binti Ali al-Hadi, bibi Imam Hasan al-\u2018Askari. Beliaulah yang menemani Narjis saat melahirkan Imam Mahdi as.<\/li>\n<li>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Abu Ghanim, pembantu setia Imam Hasan al-\u2018Askari as<\/li>\n<li>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Nasim, seorang pembantu di rumah Imam Hasan al-\u2018Askari as.<\/li>\n<li>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Kamil bin Ibrahim al-Madani, seorang agung yang pernah menganut mazhab al-Mufawwidhah dan kemudian meninggalkannya. Ia bercerita, \u201cPara sahabat Imam al-\u2018Askari pernah mengutusku untuk menanyakan beberapa masalah dan supaya aku mengetahui tentang anak beliau yang baru lahir. Aku masuk ke rumah beliau. Setelah mengucapkan salam, aku duduk di pinggir sebuah pintu yang ditutupi oleh kain. Tiba-tiba angin bertiup dan menyingkap ujung kain itu. Kulihat seorang anak kecil (di balik pintu itu) yang sangat tampan bagaikan rembulan. Ia kira-kira masih berusia empat tahun. Ia berkata kepadaku, \u2018Hai Kamil bin Ibrahim!\u2019 Buluku merinding mendengar suara itu dan aku diberi ilham untuk mengucapkan, \u2018Ya junjunganku!\u2019 Ia melanjutkan, \u2018Engkau datang kepada wali Allah untuk menanyakan kepadanya tentang statemen bahwa tidak akan masuk surga kecuali orang yang berkeyakinan seperti keyakinanmu?\u2019 \u2018Betul, demi Allah\u2019, jawabku. \u2018Jika begitu, amat sedikit orang yang akan memasukinya. Demi Allah! Pasti akan masuk surga kaum yang dikenal dengan sebutan al-Haqqiyah\u2019, tandasnya. \u2018Wahai junjunganku! Siapakah mereka itu?\u2019, tanyaku. \u2018Mereka adalah sekelompok kaum yang karena kecintaan mereka kepada Ali, mereka siap untuk bersumpah demi haknya, meskipin mereka tidak mengetahui hak dan keutamannya\u2019, tandasnya. Kemudian, ia melanjutkan, \u2018Engkau datang juga ingin menanyakan tentang keyakinan mazhab al-Mufawwidhah. Mereka telah berbohong. Sebenarnya hati kami adalah wadah bagi kehendak Allah. Ketika Allah berkehendak, kami pun berkehendak. Allah berfirman, \u2018Dan kalian tidak mungkin berkehendak kecuali jika Allah berkehendak\u2019.\u2019 Kain itu pun tertutup kembali dan aku tidak dapat untuk menyingkapnya kembali. Ayahnya melihatku sembari tersenyum. Ia berkata kepadaku, \u2018Kenapa engkau masih duduk di sini sedangkan hujjah setelahku telah menjawab pertanyaanmu?\u2019\u201d<\/li>\n<li>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Abul Fadhl Hasan bin Husain al-\u2018Askari.<\/li>\n<li>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Ahmad bin Ishaq al-Asy\u2019ari al-Qomi, wakil Imam Hasan al-\u2018Askari di Qom.<\/li>\n<li>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Ya\u2019qub bin Manqusy.<\/li>\n<li>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Isa bin Mahdi al-Jawahiri.<\/li>\n<li>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Ibrahim bin Muhammad at-Tabrizi.<\/li>\n<li>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Utusan kota Qom.<\/li>\n<li>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Ibrahim bin Idris.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Untuk menelaah lebih lanjut tentang hal ini, silakan merujuk ke buku Yaum al-Khal\u00e2sh, hal. 67-86.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ICC Jakarta &#8211;\u00a0Meskipun bukti-bukti tekstual dan historis tentang kelahiran Imam Mahdi sangat gamblang dan jelas, namun kelahiran beliau<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":4323,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[12],"tags":[273],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4322"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4322"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4322\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4322"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4322"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4322"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}