{"id":4370,"date":"2017-08-18T10:09:18","date_gmt":"2017-08-18T03:09:18","guid":{"rendered":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/?p=4370"},"modified":"2017-08-18T10:09:18","modified_gmt":"2017-08-18T03:09:18","slug":"ibadah-haji-sebagai-upaya-untuk-melejitkan-kesalehan-hamba-dan-ibadah-sosial-bagian-1","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/2017\/08\/18\/ibadah-haji-sebagai-upaya-untuk-melejitkan-kesalehan-hamba-dan-ibadah-sosial-bagian-1\/","title":{"rendered":"Haji Sebagai Upaya untuk Melejitkan Kesalehan Individu"},"content":{"rendered":"<p><strong>ICC Jakarta &#8211;\u00a0<\/strong>Allah telah menjadikan Ka\u2019bah, rumah suci itu sebagai tonggak penegak (urusan) manusia, yaitu haji sebagai perjanjian antara hamba dan Tuhan (<em>Al-Hajj wa Dhidduhu Nabadza al-Mitsaq\u00a0<\/em>(<em>Al-Kafi<\/em>, juz 1, hal.22, hadis ke-14) dan merupakan salah satu kewajiban\u2013kewajiban Ilahi terbesar, yang mengandung dua aspek: individu dan sosial.<\/p>\n<p>Haji merupakan bentuk pemuliaan dan pengulangan setiap fenomena\u2013fenomena yang memancarkan cinta dalam kehidupan manusia, dan dalam kehidupan masyarakat untuk menuju kesempurnaan di dunia ini. Haji merupakan pusat bagi pengetahuan\u2013pengetahuan ilahiah yang di dalamnya mengandung konteks politik Islam, di seluruh aspek kehidupan.<\/p>\n<p>Tujuan dari ibadah haji\u2014dari aspek individualnya\u2014adalah penyucian diri, untuk mencapai kesucian dan pencerahan nurani, penyucian dari segala bentuk dekorasi material, kesendirian maknawi bersama diri, mesra berdua bersama Allah Ta\u2019ala, berzikir, merendahkan diri dan bertawasul dengan hak Allah <em>Jalla wa \u2018Ala<\/em> dan untuk menemukan jalan kepada penghambaan\u2013yang merupakan jalan Allah yang lurus menuju kesempurnaan\u2013dan kemudian melangkah di jalan ini.<\/p>\n<p>Ini merupakan peluang yang beragam, sekaligus merupakan ujian\u2014ujian persiapan bagi orang yang menyadarinya\u2014yang mampu melihat (rahasia) adab\u2013adabnya.<\/p>\n<p>Haji dan fardu\u2013fardunya serta menadaburi tujuan\u2013tujuannya, tidak diragukan lagi, untuk meraih hasil\u2013hasil akhir yang mulia. Kini telah terbentang di depan seseorang kesempatan untuk berihram dan bertalbiah, kesempatan untuk tawaf dan salat, kesempatan untuk bersa\u2019i dan berlari\u2013lari kecil, kesempatan untuk wukuf di Padang Arafah, Masy\u2019arilharam dan Mina, kesempatan untuk melempar Jumrah dan berkurban dan kesempatan untuk mengingat Allah &#8230; itu semua merupakan aspek\u2013aspek yang harus dihadapi oleh roh dan kehidupan, dalam semua tahapan ini.<\/p>\n<p>Sesungguhnya peluang (haji dan umrah) ini, dalam keseluruhan praktiknya, memungkinkan setiap orang untuk memulai langkah pelatihan dirinya\u2014meski dalam waktu singkat\u2014dalam olah rohani syar\u2019i, dan melejitkan kesalehan internal manusia itu sendiri&#8230; agar menjadi titik tolak proses transformasi kualitas nilai moralitas dan suluk individu pada orang\u2013orang yang datang menziarahi Baitullah tersebut.<\/p>\n<p>Inilah salah tujuan paling utama haji yang selalu diidam\u2013idamkan seluruh kaum muslim, dan khususnya para pelaku suluk\u2013suluk spiritual. Namun, masalah terpenting yang sering dilupakan adalah bahwa sesungguhnya tujuan\u2013tujuan individual itu adalah bagian integral dari tujuan (universal) haji itu sendiri, dan bahwa pengalokasian harta yang sangat besar untuk tugas Ilahi ini adalah lebih utama dari (sekadar) \u00a0tujuan individual (haji) itu sendiri, dan bahwa dalam konferensi yang sangat agung dan besar ini terkandung efek dan manfaat yang besar bagi umat Islam umumnya. Bahkan untuk beberapa gelintir manusia di dunia ini, ia adalah lebih penting dan lebih berharga daripada manfaat\u2013manfaat individual itu sendiri.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ICC Jakarta &#8211;\u00a0Allah telah menjadikan Ka\u2019bah, rumah suci itu sebagai tonggak penegak (urusan) manusia, yaitu haji sebagai perjanjian<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":4372,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[11],"tags":[273],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4370"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4370"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4370\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4370"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4370"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4370"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}