{"id":4779,"date":"2017-09-23T22:26:03","date_gmt":"2017-09-23T15:26:03","guid":{"rendered":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/?p=4779"},"modified":"2017-09-23T22:26:03","modified_gmt":"2017-09-23T15:26:03","slug":"keutamaan-imam-husain-as","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/2017\/09\/23\/keutamaan-imam-husain-as\/","title":{"rendered":"Keutamaan Imam Husain As"},"content":{"rendered":"<p><strong>ICC Jakarta &#8211;\u00a0<\/strong>Setelah wafatnya kakandanya, Imam Husain as merupakan orang yang paling mulia dari Bani Hasyim sekalipun terdapat orang-orang yang usisanya lebih tua dari beliau.\u00a0Mereka senantiasa bermusyawarah dengan Imam Husain as dalam urusan mereka dan pendapat Imam Husain as lebih mereka utamakan daripada pendapat orang lain.<\/p>\n<p>Imam Husain as berwajah putih.\u00a0Kadang beliau mengenakan serban (amamah) dari bulu\u00a0dan kadang serban hitam.\u00a0\u00a0Rambut kepala dan hiasannya beliau semir.\u00a0 Dalam banyak sumber hadis, sejarah kesederhanaan beliau mirip dengan Rasulullah Saw. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Imam Husain as adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah Saw. \u00a0Dalam riwayat lain dari \u00a0Imam Ali As disebutkan bahwa beliau menilai putranya Husain as sebagai orang yang paling mirip dengan beliau sendiri dari sisi akhlak, sikap dan perbuatan.\u00a0\u00a0Tulisan pada kedua cincinnya adalah\u00a0<strong>\u0644\u0627\u0627\u0644\u0647 \u0627\u0644\u0651\u0627\u0627\u0644\u0644\u0651\u0647\u060c \u0639\u064f\u062f\u064e\u0651\u0629\u064c \u0644\u0644\u0650\u0642\u0627\u0621\u0627\u0644\u0644\u0651\u0647\u200c\u00a0<\/strong>, dan \u00a0<strong>\u0627\u0646 \u0627\u0644\u0644\u0651\u0647 \u0628\u0627\u0644\u063a\u064c \u0627\u064e\u0645\u0652\u0631\u064e\u0647\u200c.\u00a0<\/strong> \u00a0Imam Husain beserta orang-orang dekatnya mengerjakan ibadah \u00a0haji sebanyak 25 kali.<\/p>\n<p>Musuh-musuh Imam Husain as pun mengakui keutamaan beliau.\u00a0Muawiyah mengatakan bahwa Husain seperti ayahnya, Ali, bukan tukang tipudaya. Sementata \u00a0Amru bin Ash menyebutnya sebagai orang yang paling dicintai dari kalangan bumi oleh penduduk langit.<\/p>\n<p>Beliau senantiasa menghormati saudaranya, Imam Hasan as, dan tidak pernah berkata melawannya. Tidak pernah berjalan mendahuinya. Di tempat ketika keduanya hadir, beliau tidah perah mendahuluinya berbicara dan tidak mengemukakan pendapatnya.\u00a0Bahkan meskipun sangat pemurah dan di \u00a0Madinah terkenal dengan pemurah dan pengasih, namun dalam kemurahannya tetap berusaha menghormati Imam Hasan as. Disebutkan bahwa seseorang yang butuh datang kepada Imam Hasan as dan meminta pertolongan kepadanya. Imam Hasan as memberikan sejumlah uang kepada orang tersebut. Kemudian orang itu mendatangi Imam Husain as untuk mendapatkan pertolongan lebih. Dan Imam Husain as setelah mengetahui pemberian Imam Hasan as, untuk menjaga kehormatan saudaranya, beliau memberikan uang kepada orang tersebut dengan jumlah yang kurang satu Dinar dari Imam Hasan as.<\/p>\n<p>Imam Husain as senantiasa duduk bersama orang-orang miskin. Beliau menerima undangan mereka dan makan bersamanya. Beliau pun mengundang mereka ke rumahnya dan apa saja yang ada di rumah, beliau tidak pelit terhdapnya.\u00a0 Jika terdapat pertanyaan kepadanya dan Imam sedang dalam kondisi salat, maka Imam memperpendek salatnya, dan apa saja yang dimikinya diberikannya.<\/p>\n<p>Beliau membebaskan para budaknya sebagai imbalan atas sikap baik para budak. Dikatakan bahwa seorang budak perempuan beserta harta dan baju-baju yang banyak dihadiahkan oleh\u00a0Muawiyah kepada beliau. Sebagai imbalan atas bacaan\u00a0ayat al-Qur&#8217;an dan syiir tentang fananya dunia dan kematian manusia, beliau membebaskan budak tersebut dan memberikan seluruh hadiah tersebut kepadanya.\u00a0\u00a0Bahkan suatu waktu salah seorang budak laki-lakinya melakukan pebuatan tidak patut yang harus dihukum. Namun, karena budak tersbut membacakan ayat Alquran<strong>\u00a0 \u0648\u064e\u0627\u0644\u0652\u0639\u064e\u0627\u0641\u0650\u064a\u0646\u064e \u0639\u064e\u0646\u0650 \u0627\u0644\u0646\u064e\u0651\u0627\u0633 \u00a0<\/strong>(dan memaafkan (kesalahan) orang lain), beliau pun memafkannya. Dan karena budak itu berkata \u00a0<strong>\u0648\u064e\u0627\u0644\u0644\u064e\u0651\u0640\u0647\u064f \u064a\u062d\u0650\u0628\u064f\u0651 \u0627\u0644\u0652\u0645\u064f\u062d\u0652\u0633\u0650\u0646\u0650\u064a\u0646\u064e<\/strong>\u00a0 (Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik), Imam pun membebaskannya di jalan\u00a0Allah.<\/p>\n<p>Beliau mebayarkan hutang \u00a0Usamah bin Ziyad yang terbaring sakit dan tidak mampu membayar hutangnya.\u00a0\u00a0Berdasarkan sebuah riwayat, beliau memberikan tanah dan segala sesuatu yang menjadi warisannya.\u00a0 Beliau membayarkan diyat seseorang sebagai hadiah karena bisa menjawab tiga pertanyaan dengan sempurna, beliau pun memberikan cincin kepadanya.\u00a0 Kasih sayangnya sedemikian rupa sehingga karena budi baiknya ini seorang perempuan Yahudi dan anaknya masuk\u00a0Islam. Kepada pengajar anak-anaknya beliau memberikan sejumlah harta dan baju, sementara beliau berkata &#8220;Ini bukan bayaran Anda mengajar.&#8221;<\/p>\n<p>Mengenai sifat lemah lembutnya (hilm) dikatakan bahwa ketika seseorang dari Syam berkata tidak baik kepada beliau dan ayahnya, beliau pun menghampirinya dan bersikap lembut kepada orang tersebut. \u00a0Dikatakan juga bahwa bekas karung makanan yang diberikan kepada anak-anak yatim dan orang miskin yang dipikul dipundak beliau terlihat jelas pada saat wafat beliau. Disebutkan bahwa ketika Marwan menghina Ibu Imam Husain As \u00a0namun beliau bersikap lembut saat bertemu Marwan.\u00a0 Begitupun dalam menghadapi orang yang melaknat Imam Ali dari Bani Umayah beliau justru memperlihatkan sikap sebaliknya. (Diadaptasi dari Site Wiki Shia)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ICC Jakarta &#8211;\u00a0Setelah wafatnya kakandanya, Imam Husain as merupakan orang yang paling mulia dari Bani Hasyim sekalipun terdapat<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":4763,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[2],"tags":[273],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4779"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4779"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4779\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4779"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4779"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4779"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}