{"id":4904,"date":"2017-10-07T10:48:56","date_gmt":"2017-10-07T03:48:56","guid":{"rendered":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/?p=4904"},"modified":"2017-10-07T10:48:56","modified_gmt":"2017-10-07T03:48:56","slug":"mendalami-ketuhanan-yme-perspektif-agama-kristen","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/2017\/10\/07\/mendalami-ketuhanan-yme-perspektif-agama-kristen\/","title":{"rendered":"Mendalami Ketuhanan YME: Perspektif Agama Kristen"},"content":{"rendered":"<p><strong>ICC Jakarta &#8211;\u00a0<\/strong>Logika Doktrin trinitas sesungguhnya bisa di\u00adjelaskan melalui logika Ahadiyah-Wahidiyah da\u00adlam teosofi Islam, Ein Sof-Sefirod dalam Kabba\u00adla Yahudi, Atma-Brahma dalam agama Hindu, Yang-Yin dalam teologi Taoisme. Sesuatu yang berganda atau berbilang tidak mesti harus dipertentangkan dengan konsep keesaan. Kon\u00adsep Asma&#8217; al-Husna berjumlah 99 tidak mesti bertentangan dengan keesaan Allah Swt.<\/p>\n<p>Suatu saat seorang muslim mendebat se\u00adorang pendeta dengan mempertanyakan kon\u00adsep keesaan Tuhan dengan kehadiran Bapak, Anak, dan Roh Kudus. Sang pendeta menga\u00adtakan, kami masih mending karena hanya tiga. Bagaimana dengan Islam Tuhannya berjumlah 99. Dengan tegas dijawab bahwa 99 nama itu tetap Tuhan Yang Maha Ahad itu. Lalu dijawab, apa bedanya dengan agama kami. Yang tiga itu tetap yang satu itu.<\/p>\n<p>Dalam diskusi lain, seorang murid mengadu ke mursyid (guru spiritual), bagaimana saudara kita yang beragama Kristen mengaku berketuhanan YME tetapi memiliki doktrin Trinitas, atau sau\u00addara kita yang beragama Hindu memiliki doktrin Trimurti? Sang mursyid menjawab, di situlah ke\u00adlirunya mereka karena membatasi Tuhan hanya tiga, padahal semua yang ada adalah Dia, tidak ada yang ada (maujud) selain Dia. Sang mursy\u00adid mengutip sebuak ayat: Wa lillah al-masyriq wa al-magrib fa ainama tuwallu fa tsamma wajh Al\u00adlah (Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Q.S. al- Baqarah\/2:115). Setelah mendengarkan panjang lebar penjelasan mursyid barulah murid itu lega. Akan tetapi kembali bertanya, kalau saudara kita tadi keliru karena hanya membatasi Tuhan han\u00adya tiga, bagaimana dengan saya yang hanya membatasi Tuhan hanya satu. Sang mursyid menjawab: Sesungguhnya mungkin tidak ada yang salah, termasuk anda, karena yang ban\u00adyak itu ialah yang satu itu dan yang satu itulah yang memiliki wajah yang banyak (<i>al-wahdah fi al-katsrah wa al-katysrah fi al-wahdah\/the one in te many and the many in the one<\/i>).<\/p>\n<p>Bagi umat Kristiani doktrin Trinitas sama sekali tidak mengganggu konsep kemahae\u00adsaan Tuhan dan Ketuhanan YME. Hanya orang-orang luar Kristen sering sulit mema\u00adhami Tuhan mempunyai anak, karena dalam benak masyarakat kata &#8220;Anak&#8221; masih selalui di\u00adhubungkan dengan anak biologis. Padahal da\u00adlam Bahasa Arab kata &#8220;Ibn&#8221; atau &#8220;Son&#8221; dalam Bahasa Inggris tidak selamanya berarti anak bi\u00adologis. Kata &#8220;anak&#8221; bisa berarti simbol kedeka\u00adtan atau representatif, seperti kata &#8220;anak-anak Indonesia di luar negeri&#8221; berarti anak-anak yang menampilkan ciri khas dan karakteristik bangsa Indonesia. Seorang anak lebih menciri\u00adkan karakter bapaknya sering diistilahkan &#8220;anak bapaknya&#8221;. Begitu dekatnya hubungan dan banyaknya persamaan sifat dan karakter sese\u00adorang dengan sesuatu sering diistilahkan anak dari sesuatu itu. Persoalan semantik sering kali menjadi faktor penyebab terjadinya perbedaan mendasar, bahkan menjadi sumber konflik. (r molco)<strong><br \/>\n<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ICC Jakarta &#8211;\u00a0Logika Doktrin trinitas sesungguhnya bisa di\u00adjelaskan melalui logika Ahadiyah-Wahidiyah da\u00adlam teosofi Islam, Ein Sof-Sefirod dalam Kabba\u00adla<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":3147,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[6,14],"tags":[273],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4904"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4904"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4904\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4904"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4904"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4904"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}