{"id":4981,"date":"2017-10-16T05:11:27","date_gmt":"2017-10-15T22:11:27","guid":{"rendered":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/?p=4981"},"modified":"2017-10-16T05:11:27","modified_gmt":"2017-10-15T22:11:27","slug":"mengharmoniskan-antara-perintah-allah-dan-perintah-orang-tua","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/2017\/10\/16\/mengharmoniskan-antara-perintah-allah-dan-perintah-orang-tua\/","title":{"rendered":"Mengharmoniskan Antara Perintah Allah dan Perintah Orang Tua"},"content":{"rendered":"<p><b>Pertanyaan:\u00a0<\/b>Apabila perintah kedua orang tua terdapat pertentangan, manakah yang harus didahulukan?<\/p>\n<p><strong>Jawaban:<\/strong> Dalam al-Quran, Allah Swt setelah memerintahkan manusia untuk meninggalkan syirik, memerintahkan manusia untuk berbuat baik atas hak-hak ayah dan ibu. Mengutip Allamah Thabathabai: \u201cSetelah tauhid, salah satu kewajiban utama Ilahi adalah berbuat baik kepada kedua orang tua.\u201d<a id=\"_ednref1\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa584#\">[1]<\/a><br \/>\nBerbuat baik ini tidak ada bedanya apakah orang tuanya mukmin ataukah kafir karena ayat al-Quran itu bersifat mutlak (<em>tanpa qaid<\/em>), \u201c<em>Berbuat baiklah terhadap kedua orang tua<\/em>.\u201d<a id=\"_ednref2\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa584#\">[2]<\/a><\/p>\n<p>Namun kadang-kadang kita dihadapkan ke beberapa kondisi seperti: Kadang-kadang kedua orang tua secara bersamaan memerintahkan anaknya untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang bertentangan dengan hukum-hukum syar\u2019i. Dalam hal ini , tentu tidak wajib untuk memenuhi perintah mereka.<\/p>\n<div dir=\"ltr\">Al-Quran terkait dengan hal ini berfirman, \u201c<em>Dan Kami berwasiat kepada manusia untuk (berbuat) kebaikan kepada dua orang tuanya. Dan jika mereka memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang kamu tidak memiliki pengetahuan tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti mereka.\u201d\u00a0<\/em>(Qs Al-Ankabut [29]: 8)<a id=\"_ednref3\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa584#\">[3]<\/a><br \/>\nImam Ali As bersabda, \u201cTaat kepada makhluk (siapapun dia) dalam mengerjakan kemaksiatan Ilahi, tidak dapat diterima.<a id=\"_ednref4\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa584#\">[4]<\/a>\u00a0Atau \u201cHak ayah adalah ditaati perintahnya dalam urusan-urusan yang tidak bermaksiat kepada Tuhan.\u201d\u00a0<a id=\"_ednref5\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa584#\">[5]<\/a><br \/>\nImam Ridha As berkenaan dengan hal ini bersabda, \u201cBerbuat baik kepada ayah dan ibu adalah wajib, walaupun mereka musyrik, namun jika mereka memerintahkan untuk bermaksiat kepada Allah, maka tidak boleh mentaatinya.\u201d<a id=\"_ednref6\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa584#\">[6]<\/a><br \/>\nNamun apabila tidak dalam demikian, seperti dalam hal-hal yang mustahab, makruh dan mubah maka wajib untuk mentaati mereka. Oleh itu, para fakih berkata:<\/div>\n<ol dir=\"ltr\">\n<li>Apabila ayah dan ibu melarang anaknya untuk mengerjakan puasa mustahab, maka mengikut prinsip kehati-hatian (<em>ihtiy<\/em><em>\u0101<\/em><em>th<\/em>) untuk tidak berpuasa. Demikian juga apabila puasa mustahab yang dikerjakan seorang anak menyebabkan terganggunya orang tua, maka tidak boleh berpuasa dan apabila anak berpuasa, maka ia harus berbuka (membatalkan puasanya).<a id=\"_ednref7\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa584#\">[7]<\/a><\/li>\n<li>Apabila ayah atau ibu memerintahkan anaknya untuk mengerjakan salat berjamaah, dari sisi bahwa seorang anak harus taat atas perintah orang tua, maka mengikuti prinsip\u00a0<em>ihtiy<\/em><em>\u0101<\/em><em>th w<\/em><em>\u0101<\/em><em>jib<\/em>, ia harus mengerjakan salat\u00a0 berjamaah dengan niat mustahab saja.<a id=\"_ednref8\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa584#\">[8]<\/a><\/li>\n<li>Mengerjakan salat pada awal waktu adalah mustahab, namun apabila ayah dan ibu memerintahkan suatu pekerjaan mustahab atau mubah, maka harus mengutamakan ketaatan atas mereka dari salat di awal waktu.<a id=\"_ednref9\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa584#\">[9]<\/a><\/li>\n<\/ol>\n<ol dir=\"ltr\">\n<li value=\"2\">Kadang-kadang salah satu dari orang tua memerintahkan untuk mengerjakan sesuatu yang sejalan dengan hukum-hukum syar\u2019i dan yang lainnya memerintahkan untuk berbuat maksiat. Dalam hal ini, sudah tentu harus mengamalkan perintah yang yang sesuai dengan hukum-hukum syar\u2019i.<\/li>\n<li value=\"3\">Terkadang, ayah dan ibu memerintah untuk mengerjakan suatu pekerjaan mubah, namun salah satu di antara keduanya menginginkan untuk mengerjakan pekerjaan itu dan yang lainnya menginginkan meninggalkan pekerjaan itu.<\/li>\n<\/ol>\n<div dir=\"ltr\">Dalam hal ini harus dikatakan bahwa: Apabila hukum syar\u2019i Islam, bahwa wilayah telah ditetapkan bagi seorang ayah, seperti pernikahan bagi anak putri yang masih gadis dan lain sebagainya dimana ayah mempunyai urusan perwalian (otoritas) atas hal ini, maka jelaslah bahwa perkataan wali harus didahulukan.\u00a0<a id=\"_ednref10\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa584#\">[10]<\/a>\u00a0Namun dalam masalah-masalah di mana perwalian ayah atau ibu tidak ditetapkan, ditinjau dari sisi bahwa dalam agama Islam terdapat riwayat dari Nabi Muhammad Saw bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Saw, ia bertanya ihwal kepada siapakah aku harus berkhidmat? Rasul menjawab, Ibumu. Lelaki itu bertanya lagi, dan dijawab oleh Nabi Saw, Ibumu. Kali ketiga lelaki itu menanyakan lagi dan dijawab dengan, Ibumu juga. Dan ketika Rasulullah ditanya untuk yang keempat kalinya, beliau baru menjawab, ayahmu.<a id=\"_ednref11\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa584#\">[11]<\/a><br \/>\nDari sisi lain, terdapat pula sekumpulan riwayat yang menyatakan:<br \/>\nSeseorang bertanya kepada Nabi Muhammad Saw: \u201cHak paling besar yang ada pada laki-laki ada pada siapa?\u201d Nabi Saw bersabda, \u201cHak ayah yang harus ia tunaikan.\u201d<a id=\"_ednref12\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa584#\">[12]<\/a>\u00a0Atau sebuah riwayat, dimana Nabi Saw bersabda: \u201cKalian dan harta yang kalian miliki (sejatinya) berasal dari ayah kalian.\u201d<a id=\"_ednref13\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa584#\">[13]<\/a><br \/>\nTerkait dengan maksud asli riwayat ini apa? Bagaimana menyatukan antara hadis-hadis yang ada? Harus dikatakan bahwa kewajiban taat kepada ayah dan ibu<a id=\"_ednref14\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa584#\">[14]<\/a>\u00a0dalam perkara-perkara yang bukan merupakan kemaksiatan dan pelarangan terhadap kewajiban-kewajiban, dimana dalam beberapa perkara sejalan dengan pendapat dan dari teks-teks agama maka dapat dipahami bahwa dalam keadaan ini, seorang anak harus lebih mengutamakan perkataan ibu.\u00a0<a id=\"_ednref15\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa584#\">[15]<\/a><br \/>\nDalil-dalilnya adalah:<\/div>\n<ol dir=\"ltr\">\n<li>Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Rasulullah Saw, tiga kali perintah untuk berbuat baik kepada ibu dan kali ke-empat perintah untuk berbuat baik kepada ayah.<\/li>\n<li>Walaupun dalam riwayat-riwayat sebelumnya diketahui bahwa hak-hak ayah yang harus didahulukan, namun apa yang dapat disimpulkan dari riwayat-riwayat lain adalah bahwa hak ibu lebih besar. Sebuah pertanyaan dialamatkan kepada Nabi Muhammad Saw bahwa apakah hak ayah? Nabi Saw menjawab: Adalah mentaatinya\u00a0 selama ia hidup. Apakah hak ibu? Beliau menjawab: \u201cOh tidak. Oh tidak. Sekiranya kalian berkhidmat dan melayani ibumu seukuran dengan pasir padang sahara dan tetesan air hujan, ketahuilah bahwa hal itu tidak sejajar dengan satu hari ketika kalian ada di perutnya.\u201d<a id=\"_ednref16\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa584#\">[16]<\/a><\/li>\n<li>Kejiwaan seorang ibu lebih peka dari pada ayah dan kejiwaan seperti ini mengharuskan adanya kasih sayang yang lebih banyak dan mendahulukan perkataan ibu dan dalam hal ini bersesuaian dengan keinginan takwini (penciptaan).<\/li>\n<\/ol>\n<div dir=\"ltr\">Kesimpulannya, hal yan harus dicamkan bahwa anak dalam hal ini, jika memungkinkan mentaati perintah ibunya, dengan tetap mencermati jangan sampai menyebabkan ayahnya terusik dan terganggu. [iQuest]<\/div>\n<div dir=\"ltr\">\n<div><\/div>\n<hr align=\"right\" size=\"1\" width=\"33%\" \/>\n<div id=\"edn1\"><a id=\"_edn1\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa584#\">[1]<\/a>\u00a0Thabathabai, Muhammad Husain, (Terjemah)\u00a0\u00a0<em>Al-Miz\u0101n<\/em>, jil. 5, ayat 13 dan 14 al-Isra.<\/div>\n<div id=\"edn2\"><a id=\"_edn2\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa584#\">[2]<\/a>\u00a0(Qs Al-An\u2019am [6]: 151) Demikian juga pada riwayat yang berasal dari Imam Baqir As, \u201cBerbuat baiklah kepada kedua orang tuamu entah mereka orang fasik ataukah orang baik.\u201d\u00a0<em>Bih\u0101r al-Anw\u0101r<\/em>, jil. 71, hal. 56, cet. Wafa, Beirut.<\/div>\n<div id=\"edn3\"><a id=\"_edn3\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa584#\">[3]<\/a>\u00a0\u201c<em>Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang kamu tidak memiliki pengetahuan tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti mereka, dan pergaulilah mereka di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lantas Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.<\/em><em>\u201d<\/em>\u00a0(Qs Lukman [31]: 15)<\/div>\n<div id=\"edn4\"><a id=\"_edn4\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa584#\">[4]<\/a><em>Nahj al-Bal\u0101ghah,\u00a0<\/em>Hikmah 165.<\/div>\n<div>&#8220;\u0644\u0627 \u0637\u0627\u0639\u0629 \u0644\u0645\u062e\u0644\u0648\u0642 \u0641\u064a \u0645\u0639\u0635\u064a\u0629\u200c \u0627\u0644\u062e\u0627\u0644\u0642<\/div>\n<div id=\"edn5\"><a id=\"_edn5\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa584#\">[5]<\/a>\u00a0<em>Nahj al Bal<\/em><em>\u0101<\/em><em>ghah<\/em>, Hikmah 399.<\/div>\n<div>&#8220;\u0627\u0650\u0646\u0651\u064e \u0644\u0650\u0644\u0652\u0648\u0627\u0644\u0650\u062f\u0650 \u0639\u064e\u0644\u064e\u064a \u0627\u0644\u0652\u0648\u064e\u0644\u064e\u062f\u0650 \u062d\u064e\u0642\u0651\u0627\u064b \u2026 \u0641\u064e\u062d\u064e\u0642\u0651\u064f \u0627\u0644\u0652\u0648\u0627\u0644\u0650\u062f\u0650 \u0627\u064e\u0646\u0652 \u064a\u064f\u0637\u064a\u0639\u064e\u0647\u064f \u0641\u064a \u0643\u064f\u0644\u0651\u0650 \u0634\u064e\u064a\u0652\u0621\u064d \u0627\u0650\u0644\u0651\u0627 \u0641\u064a \u0645\u064e\u0639\u0652\u0635\u0650\u064a\u064e\u0629\u0650 \u0627\u0644\u0644\u0647\u0650<\/div>\n<div id=\"edn6\"><a id=\"_edn6\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa584#\">[6]<\/a>\u00a0Majlisi,<em>\u00a0Bih\u0101r al-Anw\u0101r<\/em>, jil. 71, hal. 72.<\/div>\n<div id=\"edn7\"><a id=\"_edn7\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa584#\">[7]<\/a>\u00a0<em>T<\/em><em>a<\/em><em>udhih<\/em>\u00a0<em>al-Mas\u0101il\u00a0<\/em>(Imam Khomeini), jil. 1, hal. 966, masalah 1741.<\/div>\n<div id=\"edn8\"><a id=\"_edn8\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa584#\">[8]<\/a>\u00a0<em>T<\/em><em>a<\/em><em>udhih<\/em>\u00a0<em>al-Mas\u0101il<\/em>\u00a0(Imam Khomeini), jil. 1, hal. 769, masalah 1406.<\/div>\n<div id=\"edn9\"><a id=\"_edn9\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa584#\">[9]<\/a>\u00a0Syahid dalam\u00a0<em>Qaw\u0101id<\/em>, \u201cTidak diragukan lagi bahwa segala sesuatu yang wajib atau haram kepada orang lain, maka terhadap ayah dan ibu pun terdapat syarat-syarat, yaitu:<br \/>\nPertama: Perjalanan mubah atau mustahab tanpa ijin dari ayah atau ibu adalah haram<br \/>\nKedua: Taat kepada ayah dan ibu adalah wajib dalam kondisi apa pun walaupun dalam hal yang syubhat karena meninggalkan syubhat adalah mustahab dan memenuhi keinginan kedua orang tuanya adalah wajib.<br \/>\nKetiga: Apabila ayah dan ibu memanggil anaknya dan pada saat itu merupakan awal waktu salat, maka akhirkanlah mengerjakan salat dan penuhilah panggilan mereka.<br \/>\nKeempat: Apabila mereka melarang kalian untuk melakukan salat berjamaah, maka ia boleh tidak mematuhi larangan mereka, kecuali jika kepergiannya akan menyulitkan orang tuanya seperti pada waktu gelapnya malam, waktu Isya dan Subuh.<br \/>\nKelima: Apabila jihad merupakan kewajiban\u00a0<em>kifayah<\/em>, bukan\u00a0<em>\u2018aini<\/em>\u00a0(dan ditentukan sebagai\u00a0<em>a\u2019ini<\/em>), maka orang tua bisa melarang anaknya dari medan perang.<br \/>\nKeenam: Jika sibuk mengerjakan salat nafilah, dan ayah dan ibu memanggilnya, maka putuskanlah salatnya dan jawablah panggilan keduanya.<br \/>\nKetujuh: Jika ayah tidak memberikan ijin, seorang anak tidak bisa mengerjakan puasa mustahab. (<em>Al-Qaw\u0101id wa al-Faw\u0101id,<\/em>\u00a0jil. 2, hal. 47-49)<\/div>\n<div id=\"edn10\"><a id=\"_edn10\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa584#\">[10]<\/a>\u00a0Silahkan lihat:\u00a0<em>Was\u0101il Syiah<\/em>, Cet. Islamiyah, jil. 14, hal. 11-120<\/div>\n<div id=\"edn11\"><a id=\"_edn11\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa584#\">[11]<\/a>\u00a0Majlisi,\u00a0<em>Bih\u0101r al-Anw\u0101r,<\/em>\u00a0jil. 71,\u00a0<em>B<\/em><em>\u0101<\/em><em>b Huquq W\u0101lidain; K<\/em><em>\u0101<\/em><em>fi<\/em>, jil. 2, hal. 159<\/div>\n<div id=\"edn12\"><a id=\"_edn12\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa584#\">[12]<\/a>\u00a0Syaikh Hur Amili,\u00a0<em>Was\u0101il Syiah<\/em>, Cet. Islamiyah, jil. 14, hal. 112. Hadis 253000.<\/div>\n<div>\u00a0&#8220;\u0645\u064e\u0646\u0652 \u0623\u064e\u0639\u0652\u0638\u064e\u0645\u064f \u0627\u0644\u0646\u0651\u064e\u0627\u0633\u0650 \u062d\u064e\u0642\u0651\u0627\u064b \u0639\u064e\u0644\u064e\u0649 \u0627\u0644\u0631\u0651\u064e\u062c\u064f\u0644\u0650 \u0642\u064e\u0627\u0644\u064e \u0648\u064e\u0627\u0644\u0650\u062f\u064f\u0647&#8221;\u200f.<\/div>\n<div id=\"edn13\"><a id=\"_edn13\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa584#\">[13]<\/a>\u00a0Shaduq,\u00a0<em>Ma&#8217;\u0101ni al-Akhb\u0101r<\/em>, jil. 1, 257, Cet. Jamiah Mudarisin<\/div>\n<div id=\"edn14\"><a id=\"_edn14\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa584#\">[14]<\/a>\u00a0Fukaha membahas hal-hal yang terkait dengan\u00a0 apakah taat kepada orang tua merupakan kewajiban atau menganggu mereka merupakan hal yang diharamkan. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa taat kepada orang tua tidaklah wajib, namun menganggu orang tua adalah haram. Mereka berkata: Pekerjaan yang dapat mendatangkan terganggunya kedua orang tua dan tidak wajib bagi anak, maka anak tidak boleh mengerjakan pekerjaan itu dan atau menyembunyikan dari orang tuanya atau membuat ridha orang tua, namun mentaati mereka tidaklah wajib (tapi menganggu mereka adalah haram). Tabrizi,\u00a0<em>Istift\u0101at Jadid<\/em>, Masaleh 2230, Cet. Pertama. Intisyarat Surur, Fadhil Muhammad,\u00a0<em>J\u0101mi\u2019 Mas\u0101il<\/em>, jil. 1, masaleh 2188, Imam Khomeini,\u00a0<em>T<\/em><em>a<\/em><em>udhih al-Mas\u0101il<\/em><em>Mar\u0101ji\u2019<\/em>, jil. 2, masail mutafareqeh, masaleh 85, Cet. Awal, Intisyarat Islami. Hal. 675.<\/div>\n<div id=\"edn15\"><a id=\"_edn15\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa584#\">[15]<\/a>\u00a0Silahkan lihat: Mirza Qumi dalam kitab\u00a0<em>J\u0101mi al-Syat\u0101t fi Ajwayah al-Su\u0101lat<\/em>, jil. 1, hlm. 251. Ia berkata: Setiap kali ragu antara mencari keridhaan ayah dan ibu dan tidak mungkin untuk menyatukan keduanya, maka tidak mengapa jika mendahulukan ridha ibu di atas ridha ayah.<\/div>\n<div id=\"edn16\"><a id=\"_edn16\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa584#\">[16]<\/a>\u00a0<em>Mustadrak Was\u0101il<\/em>, jil. 15, hal. 204, riwayat 18014-19.<\/div>\n<div>\u00a0&#8220;\u0642\u0650\u064a\u0644\u064e \u064a\u064e\u0627 \u0631\u064e\u0633\u064f\u0648\u0644\u064e \u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u0650 \u0645\u064e\u0627 \u062d\u064e\u0642\u0651\u064f \u0627\u0644\u0652\u0648\u064e\u0627\u0644\u0650\u062f\u0650 \u0642\u064e\u0627\u0644\u064e \u0623\u064e\u0646\u0652 \u062a\u064f\u0637\u0650\u064a\u0639\u064e\u0647\u064f \u0645\u064e\u0627 \u0639\u064e\u0627\u0634\u064e \u0641\u064e\u0642\u0650\u064a\u0644\u064e \u0645\u064e\u0627 \u062d\u064e\u0642\u0651\u064f \u0627\u0644\u0652\u0648\u064e\u0627\u0644\u0650\u062f\u064e\u0629\u0650 \u0641\u064e\u0642\u064e\u0627\u0644\u064e \u0647\u064e\u064a\u0652\u0647\u064e\u0627\u062a\u064e \u0647\u064e\u064a\u0652\u0647\u064e\u0627\u062a\u064e \u0644\u064e\u0648\u0652 \u0623\u064e\u0646\u0651\u064e\u0647\u064f \u0639\u064e\u062f\u064e\u062f\u064e \u0631\u064e\u0645\u0652\u0644\u0650 \u0639\u064e\u0627\u0644\u0650\u062c\u064d \u0648\u064e \u0642\u064e\u0637\u0652\u0631\u0650 \u0627\u0644\u0652\u0645\u064e\u0637\u064e\u0631\u0650 \u0623\u064e\u064a\u0651\u064e\u0627\u0645\u064e \u0627\u0644\u062f\u0651\u064f\u0646\u0652\u064a\u064e\u0627 \u0642\u064e\u0627\u0645\u064e \u0628\u064e\u064a\u0652\u0646\u064e \u064a\u064e\u062f\u064e\u064a\u0652\u0647\u064e\u0627 \u0645\u064e\u0627 \u0639\u064e\u062f\u064e\u0644\u064e \u0630\u064e\u0644\u0650\u0643\u064e \u064a\u064e\u0648\u0652\u0645\u064e \u062d\u064e\u0645\u064e\u0644\u064e\u062a\u0652\u0647\u064f \u0641\u0650\u064a \u0628\u064e\u0637\u0652\u0646\u0650\u0647\u064e\u0627&#8221;<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pertanyaan:\u00a0Apabila perintah kedua orang tua terdapat pertentangan, manakah yang harus didahulukan? Jawaban: Dalam al-Quran, Allah Swt setelah memerintahkan<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":4421,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[1],"tags":[273],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4981"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4981"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4981\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4981"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4981"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4981"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}