{"id":5114,"date":"2017-11-02T06:24:13","date_gmt":"2017-11-01T23:24:13","guid":{"rendered":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/?p=5114"},"modified":"2017-11-02T06:24:13","modified_gmt":"2017-11-01T23:24:13","slug":"makna-allah-sebagai-cahaya-dalam-al-quran","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/2017\/11\/02\/makna-allah-sebagai-cahaya-dalam-al-quran\/","title":{"rendered":"Makna Allah Sebagai Cahaya dalam Al-Qur&#8217;an"},"content":{"rendered":"<p><strong>ICC Jakarta\u00a0<\/strong>&#8211;\u00a0Tanpa ragu, bahwa tatkala al-Qur\u2019an menyebut Allah Swt sebagai \u201cNur\u201d sebagaimana dalam ayat \u201cAllah Nur al-Samawat wa al-Ardh\u201d (Qs. Al-Nur [24]:35) maka yang dimaksud bukanlah cahaya empirik dan kasat mata. Cahaya empirik dan kasat mata adalah salah satu makhluk dari makhluk-makhluk Tuhan, sebagaimana Al-Qur\u2019an menyebutnya demikian pada surah al-An\u2019am (6), ayat pertama,\u00a0<em>\u201c<\/em><em>Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi, dan mengadakan gelap dan terang, namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka.<\/em><em>\u201d<\/em><\/p>\n<p>Para filosof, teolog dan penafsir al-Qur\u2019an masing-masing mengemukakan pelbagai dalil yang kuat yang menafikan kejasmanian Tuhan. Dari sini, penyebutan \u201cCahaya\u201d bagi Tuhan tidak dapat bermakna cahaya empirik dengan title benda atau dari tipologi benda dan melekat pada benda.<\/p>\n<p>Di antara para mufassir-teolog, boleh jadi \u201cFakhrurazi\u201d melebihi yang lain dalam mengupas masalah ini. Terkait dengan penafsiran \u201c<em>Allah nur al-Samawati wa al-Ardh<\/em>\u201d, ia mengemukakan enam burhan (argumen) yang menafikan kejasmanian dan kebendaan Tuhan. Fakhrurazi menyebutkan bahwa cahaya yang disebutkan pada ayat ini tidak dapat dimaknai sebagai cahaya empirik dan material. Yang lebih penting, terdapat banyak ayat dalam al-Qur\u2019an yang mengingkari kejasmanian Tuhan. Di samping yang telah dijelaskan, ayat \u201claisa kamitslihi syai\u201d disebutkan berulang kali dalam al-Qur\u2019an, yang menafikan segala jenis keserupaan dan kemiripan bagi Tuhan. Karena itu, Cahaya Tuhan bukan jenis cahaya empirik lantaran cahaya ini banyak yang menyerupai dan mirip dengannya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Makna Cahaya<\/strong><\/p>\n<p>Allamah Thabathabai dalam mengurai makna redaksi \u201c<em>Nur<\/em>\u201d berkata, \u201cRedaksi cahaya memiliki makna yang popular. Adapun makna cahaya adalah sesuatu yang menyala tatkala kita memandang sesuatu dan segala sesuatu menjadi benderang dan nampak karenanya. Akan tetapi cahaya itu sendiri secara esensial tersingkap dan nampak bagi kita dan tiada sesuatu yang lain yang menampakkannya; oleh itu cahaya adalah \u201cnyata dan terang dengan sendirinya (secara esensial) dan menerangi yang lain (<em>al-zhahir bidzatihi al-muzhir lighairih<\/em>).\u201d<\/p>\n<p>Karena itu, pertama-tama yang dapat dipahami pada redaksi \u201c<em>Nur<\/em>\u201d (Cahaya) adalah cahaya empirik yang memendar dari benda yang bercahaya seperti matahari, bintang-gemintang, pelita dan lampu-lampu yang diciptakan manusia, dimana apabila cahayanya tiada maka semesta akan mengalami kegelapan dan dengan keberadaannya suasana semesta menjadi benderang.<\/p>\n<p>Akan tetapi hakikat dan definisi akurat tentang cahaya dalam pandangan fisikawan merupakan sesuatu yang lain. Dan boleh jadi menurut mereka bahwa hakikat cahaya sama sekali belum ditemukan atau mereka berbeda pandangan terkait hakikat cahaya. Apa yang pasti bahwa di alam materi ini terdapat sesuatu yang bernama \u201ccahaya\u201d yang memendar dari benda-benda nurani dan umumnya benda-benda ini disebut sebagai \u201csumber cahaya.\u201d Akan tetapi penyebutan redaksi \u201cnur\u201d cahaya tidak terbatas pada cahaya empirik, akan tetapi terkait dengan segala sesuatu yang \u201cterang dan menerangi\u201d atau dengan redaksi lain \u201cnampak dan menampakkan\u201d. Misalnya tentang ilmu kita berkata, \u201cIlmu adalah cahaya\u201d lantaran pada esensialnya terdapat penerangan dan menerangi pelbagai realitas.<\/p>\n<p>Sebagaimana al-Qur\u2019an menuturkan terkait kaum beriman,\u00a0<em>\u201c<\/em><em>Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar darinya?<\/em><em>\u201d<\/em>\u00a0(Qs. Al-An\u2019am [6]:122) Karena itu, dalam budaya al-Qur\u2019an, iman disebut sebagai cahaya. Lantaran iman memberikan penerangan pada hati dan batin seorang mukmin. Menunjukkan tujuan dan obyek kepadanya serta membimbingnya kepada kebahagiaan. Penyebutan cahaya dalam hal ini adalah benar adanya. Sebagaimana kaum urafa menyebut cinta (isyq) sebagai \u201ccahaya\u201d. Rumi bersenandung dengan syair indah:<\/p>\n<p><em>Isyq adalah sang jawara dan aku takluk di hadapan cinta<\/em><\/p>\n<p><em>Lantaran aku benderang bak purnama yang berasal dari cinta<\/em>.<\/p>\n<p><strong>Penyebutan Cahaya bagi Tuhan<\/strong><\/p>\n<p>Penyebutan cahaya bagi Tuhan adalah benar adanya karena dalam al-Qur\u2019an dan riwayat, tercatat penyebutan sedemikian. Akan tetapi harus diperhatikan bahwa apabila kita berkata \u201cTuhan adalah Cahaya\u201d maka yang dimaksud cahaya di sini bukanlah cahaya empirik dan materi. Yang dimaksud cahaya di sini adalah bahwa Dzat Ilahi, adalah dzat yang Nampak dan menampakkah, terang dan menerangi, tampak dan terangnya segala sesuatu bersumber dari pancaran Dzat-Nya akan tetapi Dia sendiri adalah tampak dan benderang, tiada sesuatu yang membuatnya nampak dan benderang. Dengan demikian, kita dapat berkata, \u201cTuhan adalah cahaya.\u201d<\/p>\n<p>Allamah Thabathabai berkata, \u201cLantaran wujud dan keberadaan segala sesuatu menjadi sebab penampakan segala sesuatu yang lain maka obyek sempurna cahaya adalah Wujud itu sendiri. Dan dari sisi lain, lantaran eksisten dan entitas kontingen diadakan oleh Allah Swt maka Allah Swt merupakan obyek sempurna (<em>mishd\u00e2q akmal<\/em>) cahaya. Dia Tampak dengan sendirinya dan segala sesuatu yang lain, dan segala entitas nampak dan mewujud melalui perantara-Nya. Karena itu, Allah Swt adalah cahaya yang melalui-Nya langit-langit dan bumi menjadi nampak, dan demikianlah yang dimaksud dengan ayat \u201c<em>Allah nur al-Samawat wa al-Ardh.<\/em>\u201d<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Makna Allah Cahaya Langit dan Bumi<\/strong><\/p>\n<p>Dari apa yang telah disebutkan menjadi jelas bahwa apabila kita berkata \u201c<em>Allah Cahaya langit dan bumi<\/em>\u201d maka hal itu bermakna bahwa Allah itu terang dan menerangi. Pencipta langit dan bumi. Redaksi langit-langit dan bumi menandaskan seluruh semesta, keberadaan, seluruh makhluk yang tinggi dan rendah, alam ghaib dan alam dunia. \u00a0Tidak semata-mata bermakna semata langit-langit yang berada di atas kepala kita ini atau bumi yang kita jejak ini. Karena itu, makna ayat adalah bahwa \u201c<em>Allah adalah cahaya seluruh semesta<\/em>.\u201d Redaksi yang digunakan di sini adalah \u201ccahaya\u201d bukan \u201cpencipta\u201d maksudnya adalah untuk menarik perhatian terhadap masalah ini bahwa sebagaimana cahaya itu adalah terang secara esensial dan tidak membutuhkan pada sesuatu yang lain untuk meneranginya, ia juga menerangi (muzhir) dan memberikan cahaya kepada yang lain, demikian juga adanya dengan Allah Swt yang tidak memerlukan sesuatu untuk menampakkan atau menerangi-Nya. Dia adalah Entitas dan Eksisten yang Nampak, Terang, Jelas dan Gamblang. Penalaran untuk menetapkan Wujud-Nya tidak memerlukan media. Dan Dialah Penampak dan Pengada seluruh entitas dan eksiten di alam semesta. Menukil Haji Sabzawari, \u201c<em>Yaa Man Huwa ikhtafa lifirthi Nurihi<\/em>.\u201d \u00a0(Wahai yang menghilang lantaran gemerlapnya cahaya-Nya).<\/p>\n<p>Dengan demikian, sebagaimana urafa (mengikuti irfan para nabi dan imam As) menjelaskan Tuhan menjelma dalam artian dan penerangan sempurna. Dan untuk memusatkan perhatian dan peringatan kepada-Nya, tidak diperlukan media makhluk-makhluk-Nya. Dengan kata lain, untuk menalar wujud Tuhan maka yang harus digunakan adalah burhan\u00a0<em>limmi<\/em>\u00a0bukan burhan\u00a0<em>inni<\/em>. Pertama-tama Tuhan yang harus dikenal dan berangkat dari pengenalan terhadap-Nya manusia dapat memahami seluruh makhluk-Nya. Bukan sebaliknya. Pertama-tama mengenal makhluk-Nya kemudian dengan mengenal makhluk-Nya maka Tuhan dapat dikenal.<\/p>\n<p>Sebagaimana dalam doa Arafah Imam Husain As disebutkan, \u201c<em>Ilahi turaddidu fii al-atsar yujibu ba\u2019da al-mizar\u201d<\/em>\u00a0Tuhanku! Perhatian kepada karya dan seluruh makhluk-Mu telah membuatku jauh dari persuaan dan ziarah kepada-Mu.\u201d Amirul Mukminin dalam doa Kumail lamat-lamat merintih dalam doa,\u00a0<em>\u201cBinur Wajhika alladzi Adha\u2019 lahu Kullu Syai<\/em>.\u201c (Dengan (perantara) cahaya wajah-Mu yang menerangi segala sesuatu)\u201d<\/p>\n<p>Apabila bukan karena cahaya wajah-Mu dan Dzat-Mu maka seluruhnya dalam kegelapan. Artinya segala sesuatu tiada dan segala sesuatu pada kegepalan ketiadaan. Apabila bukan karena cahaya Dzat-Mu segala sesuatu dalam kegelapan \u201cketiadaan.\u201d Bukan segala sesuatu berada pada kegelapan seperti kegelapan malam. Oleh itu, harus dikatakan bahwa: Allah Swt adalah murni cahaya. Dan di hadapan-Nya tiada satu pun yang bercahaya dan segala cahaya di hadapan-Nya adalah kegelapan (<em>zhulmat<\/em>), lantaran hanya pada Entitas yang pada Dzat-Nya nampak dan menampakkan. Terang dan menerangi hanyalah Tuhan; segala sesuatu yang lain apabila ia nampak dan menampakkan, terang dan menerangi maka sesungguhnya pada dzat mereka adalah \u201ckegelapan,\u201d dan Tuhanlah yang menjadikan mereka \u201cnampak\u201d dan \u201cmenampakkan.\u201d<\/p>\n<p>Dari sini, Allamah Thabathabai sangat indah menyimpulkan ayat ini, \u201cKarena itu dapat disimpulkan bahwa Allah Swt tidak\u00a0<em>majhul<\/em>\u00a0(misterius) bagi segala entitas dan eksisten, karena nampaknya segala sesuatu bagi diri mereka atau bagi yang lain bersumber dari penampakan Tuhan, apabila Tuhan tidak menampakkan dan mewujudkan sesuatu maka mereka tidak akan nampak; dengan demikian sebelum segala sesuatu, Allah nampak dan terang secara esensial. Maka kesimpulan yang dapat diambil dari apa yang dimaksud dengan \u201cCahaya\u201d pada redaksi ayat \u201c<em>Allah cahaya langit dan bumi<\/em>\u201d cahaya Tuhan yang menjadi sumber penciptaan semesta. Sebuah cahaya yang dengan perantaranya segala sesuatu tercahayai dan benderang, dan \u201cwujud\u201d segala sesuatu sama, dan inilah rahmat Ilahi yang berlaku secara umum.\u201d<\/p>\n<p>Karena itu, menurut kosa kata al-Qur\u2019an, Allah Swt bukanlah sosok yang ghaib dan tersembunyi secara esensial sehingga Dia nampak dan tersingkap melalui seluruh makhluk dan alam penciptaan, langit dan bumi. Melainkan makrifat sedemikian adalah makrifat yang lemah dan tidak sempurna. Makrifat sejati adalah bahwa alam semesta dikenal melalui perantara Tuhan, bukan Tuhan dikenal melalui perantara semesta. Dan ayat ini menegaskan bahwa Allah Swt berada pada kesempurnaan penyingkapan, penerangan dan kegamblangan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Cahaya atau Cahaya Terbesar<\/strong><\/p>\n<p>Poin lainnya yang dapat disimpulkan dari ayat adalah bahwa kita berkata cahaya kepada Tuhan namun kita tidak berkata cahaya terbesar yang bermakna bahwa kita memiliki banyak cahaya dimana di antara cahaya tersebut ada yang lebih besar dan ada yang lebih kecil. Di antara cahaya-cahaya ini, cahaya Tuhan yang terbesar.<\/p>\n<p>Pandangan al-Qur\u2019an di sini menegaskan bahwa hanya ada satu cahaya dan cahaya tersebut adalah Tuhan dan lainnya adalah kegelapan dan ketiadaan. Dalam membandingkan segala sesuatu dengan yang lain satu adalah cahaya dan yang lainnya adalah non-cahaya. Misalnya ilmu, iman dan akal adalah cahaya. Akan tetapi ketiganya mendulang cahaya dari Tuhan. Karena itu, di hadapan Tuhan, ketiganya bukanlah cahaya. Atau dengan kata lain, Allah Swt adalah \u201c<em>Nur al-Nur<\/em>\u201d, \u00a0artinya cahaya segala cahaya bukan cahaya terbesar. Dengan demikian, keyakinan yang disandarkan kepada Manikanisme yang menyebut Tuhan sebagai \u201ccahaya terbesar\u201d sejatinya memandang Tuhan sebagai cahaya empirik, akan tetapi cahaya Tuhan adalah cahaya teragung dan terbesar di alam semesta. Bagaimanapun, siapa saja yang menerima keyakinan ini, maka sesungguhnya keyakinan ini adalah keyakinan yang salah dan batil.<\/p>\n<p>Akhir kata, kami akan menyinggung sebuah riwayat yang dinukil dari Imam Ridha As dalam menjawab pertanyaan Abbas bin Hilal terkait \u201c<em>Allah Nur al-Samawat wa al-Ardh<\/em>\u201d, beliau bersabda: \u201cPetunjuk bagi penduduk langit dan petunjuk bagi penghuni bumi.\u201d []<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ICC Jakarta\u00a0&#8211;\u00a0Tanpa ragu, bahwa tatkala al-Qur\u2019an menyebut Allah Swt sebagai \u201cNur\u201d sebagaimana dalam ayat \u201cAllah Nur al-Samawat wa<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":5115,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[22],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5114"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5114"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5114\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5114"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5114"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5114"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}