{"id":5352,"date":"2017-11-25T16:15:37","date_gmt":"2017-11-25T09:15:37","guid":{"rendered":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/?p=5352"},"modified":"2017-11-25T16:15:37","modified_gmt":"2017-11-25T09:15:37","slug":"ketika-cak-nun-haidar-bagir-nursamad-kamba-diskusi-tasawuf-di-uin-bandung","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/2017\/11\/25\/ketika-cak-nun-haidar-bagir-nursamad-kamba-diskusi-tasawuf-di-uin-bandung\/","title":{"rendered":"Ketika Cak Nun, Haidar Bagir, Nursamad Kamba Diskusi Tasawuf di UIN Bandung"},"content":{"rendered":"<p><strong>ICC Jakarta &#8211;\u00a0<\/strong>Aula Universitas Islam Negeri Gunung Djati Bandung tak lagi mampu menampung pengunjung yang berdatangan sejak sore hari, 24 November. Padahal, acara \u2018Ngaji Bareng Cak Nun, Haidar Bagir dan Nursamad Kamba\u2019 di aula itu baru dimulai pukul delapan malam.<\/p>\n<p>Jelang acara, salawatan \u2018Marhaban\u2019 yang diiringi tabuhan rebana memecah suasana aula yang berjibun orang itu. Ketiga tokoh yang dikenal pakar Tasawuf itu pun tiba di tengah-tengah forum bertajuk \u2018Rimba Raya Ilmu Pengetahuan\u2019.<\/p>\n<p>Pada kesempatan pertama, penulis buku Epistemologi Tasawuf Haidar Bagir memulai berbicara Tuhan sebagai Sumber segala ilmu. Manusia, kata Haidar, dapat mengenali Sang Sumber lewat tanda-tanda (ayat) keberadaan-Nya yang merupakan manifestasi atau\u00a0<em>tajalli<\/em>-Nya.<\/p>\n<p>Secara mendasar, kata Haidar,\u00a0<em>tajalli<\/em>\u00a0Allah dibagi menjadi tiga; Ayat\u00a0<em>qauliyah\u00a0<\/em>(Al-Qur\u2019an),\u00a0<em>kauniyah<\/em>\u00a0(alam semesta) dan manusia seutuhnya (<em>insan kamil<\/em>). \u00a0Namun, manusia justru kerap melupakan dirinya sendiri sebagai salah satu manifestasi Ilahi.<\/p>\n<p>\u201cManusia modern seperti dijauhkan dari pemahaman manusia sebagai<em>\u00a0tajjali<\/em>\u00a0Allah padahal Dia menampakkan Diri-Nya di dalam diri manusia,\u201d kata Pengajar Tasawuf dan Filsafat Islam ini sembari\u00a0menjelaskan hadis \u201cSiapa yang mengenali dirinya, maka ia telah mengenal Tuhannya\u201d.<\/p>\n<p>Bagi Haidar, jika manusia mengenali dirinya dan Tuhan-Nya, ia akan mengenali manifestasi Ilahi lainnya, baik Al-Qur\u2019an maupun alam semesta. Dengan mengenal alam, misalnya, manusia dapat mengetahui cara menyikapi alam sebagaimana mestinya.<\/p>\n<p>Sayangnya, lanjut pria kelahiran Solo ini, selama ini manusia tak jarang mengeksploitasi hutan, kekayaan laut hingga isi bumi tanpa mengenal batasan. \u201cSebabnya, kita gagal mengenal alam,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Nah, salah satu cara mengenal diri, kata Haidar, ialah melalui jalan tasawuf. Dengan jalan ini, manusia dapat mengenal Tuhan yang ber-<em>tajalli<\/em>\u00a0dalam hati setiap hamba-Nya.<\/p>\n<p>Senada dengan Haidar, Pakar Tasawuf\u00a0 UIN Gunung Djati Nursamad Kamba mengatakan, upaya pengenalan diri dengan tasawuf merupakan hal yang dibutuhkan untuk memahami semesta. Namun, Nursamad menekankan, manusia sendiri adalah semesta yang kompleks.<\/p>\n<p>\u201cDalam diri manusia terdapat semesta indrawi, semesta akal, semesta hati, semesta ruhani, dan\u00a0 lain-lain,\u201d kata Doktor jebolan Filsafat Al Azhar Mesir ini. Salah satu jalan untuk mengakses kompleksitas semesta ini ialah dengan jalan penyucian jiwa yang kerap disinggung oleh para sufi dalam karya-karyanya terdahulu.<\/p>\n<p>Semetara penulis buku Tuhanpun Berpuasa, Cak Nun mengatakan, laku tasawuf dapat dimulai dari hal yang paling sederhana. Di sisi lain, Cak Nun mengingatkan hadirin tidak mudah terjebak dengan istilah teknis formal dalam memandang laku tasawuf.<\/p>\n<p>\u201cTidak sedikit orang yang mengaku bukan ahli tarikat tapi menjalani prinsip-prinsip laku tasawuf hingga orang itu mengalami tarikan Ilahi,\u201d kata pria yang bernama lengkap Emha Ainun Najib ini.<\/p>\n<p>Menyinggung\u00a0<em>insan kamil<\/em>\u00a0 seperti dikemukakan Haidar sebelumnya, Cak Nun menambahkan, manusia sempurna ialah tujuan penciptaan manusia itu sendiri. Sempurnanya angka satu bukanlah \u2018sepuluh\u2019 tetapi \u2018satu\u2019 itu sendiri.\u00a0 Kesempurnaan manusia bukan menjadi sesuatu yang lain tapi menjadi manusia seutuhnya sebagaimana tujuan penciptaannya.<\/p>\n<p>Dalam konteks ini, Cak Nun tak lupa berbicara tentang manusia agung bernama Muhammad Saw. \u00a0Selain bergelar utusan Tuhan, Muhammad juga dikenal sebagai \u2018kota ilmu\u2019 dengan gerbang kota bernama Ali bin Abi Thalib. \u201cRasulullah adalah kota \u2013 tempat semua ilmu bersemayam -, dan Sayidina Ali adalah gerbang kotanya,\u201d kata pria yang pernah menimba ilmu di Pondok Pesantren Gontor ini.<\/p>\n<p>Tak heran jika ayat\u00a0<em>Iqra\u2019<\/em>\u00a0(bacalah) yang merupakan firman induk, ibu ilmu, diturunkan pertama kalinya kepada insan kamil, Muhammad Saw. \u00a0Dengan analogi sederhana, Cak Nun bilang, ibu adalah tempat bagi anak mengecap makanan pertamanya. \u201cAnak-anak ini disebut umat, sekelompok manusia yang berasal dari satu rahim ibu, satu susuan pengetahuan yang sama,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Karena itu, persaudaraan manusia seharusnya dapat dirangkai dengan dasar kesatuan induk pengetahuan yang sama. Tapi sayangnya, menurut pria yang juga budayawan kondang ini, masyarakat Indonesia belum mencerimkan hal itu.<\/p>\n<p>Dari pantauan\u00a0<strong><em>IslamIndonesia<\/em><\/strong>, Ngaji Bareng yang disertai tanya jawab bersama hadirin ini berlangsung hingga tengah malam. Pada kesempatan itu, penerbit Mizan juga me-<em>launching<\/em>\u00a0buku karya Cak Nun berjudul \u2018Indonesia Apa Adanya\u2019.<\/p>\n<p>Setelah Cak Nun membubuhkan tandatangan pada lima bukunya itu, Direktur Mizan Haidar Bagir membagikannya kepada hadirin yang terpilih melalui kuis berhadiah. Acara di Aula Abdjan Soelaiman UIN itu pun berlangsung khidmat hingga berakhir dengan shalawatan dan doa yang dipimpin oleh Nursamad Kamba.(AL\/ Islam Indonesia)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ICC Jakarta &#8211;\u00a0Aula Universitas Islam Negeri Gunung Djati Bandung tak lagi mampu menampung pengunjung yang berdatangan sejak sore<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":5353,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[6],"tags":[273],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5352"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5352"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5352\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5352"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5352"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5352"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}