{"id":5709,"date":"2018-01-12T07:31:28","date_gmt":"2018-01-12T00:31:28","guid":{"rendered":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/?p=5709"},"modified":"2018-01-12T07:31:28","modified_gmt":"2018-01-12T00:31:28","slug":"menjawab-keraguan-dalam-riwayat-fathimah-adalah-bagian-dariku","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/2018\/01\/12\/menjawab-keraguan-dalam-riwayat-fathimah-adalah-bagian-dariku\/","title":{"rendered":"Menjawab Keraguan dalam Riwayat Fathimah Adalah Bagian Dariku"},"content":{"rendered":"<p><strong>ICC Jakarta &#8211;\u00a0<\/strong>Dalam sejarah, kita membaca riwayat yang terdapat pada beberapa sumber, yaitu: \u201cAli AS melamar putri Abu Jahal, dan Fatimah SA merasa tidak senang atas perbuatan tersebut, dan mengadu kepada Nabi SAW. Nabipun menentang Ali AS dan dalam membela putrinya, beliau melontarkan pernyataan tersebut: \u201cFatimah adalah bagian dari diriku\u201d, walaupun otentisitas pernyataan Nabi SAW tersebut diriwayatkan secara\u00a0<em>mutawatir<\/em>, akan tetapi keadilan para perawinya \u2013yang menganggap dalil (dari) sabda baginda yang mereka muliakan adalah (keinginan) Amirul Mukminin menikah lagi\u2013 tidak dapat terbukti. Bahkan pada sebagian dari mereka (justru) kebohongannyalah yang terbukti.<\/p>\n<p>Bagaimana sebenarnya validitas riwayat ini? Apa benar sabda rasul itu lahir karena ketidakrelaan Ali mempoligami putri kinasihnya?<\/p>\n<div id=\"A3_1\" class=\"quest-content\"><\/div>\n<div class=\"full-answer clearfix\">\n<div id=\"A4_1\" class=\"quest-content\">\n<div dir=\"ltr\">Hadhrat Zahra Sa adalah seperti para wali Allah yang disebutkan dalam beberapa hadis pada literatur-literatur dari dua mazhab mengenai keutamaan dan makam Ilahiahnya, salah satunya adalah hadis \u201cFatimah adalah bagian dari diriku\u201d yang disampaikan Nabi tentang Fatimah AS dan sebagian ulama Syiah menyimpulkan kemaksuman Hadhrat Zahra Sa dari hadis ini.<a id=\"_ednref1\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id21994#\">[1]<\/a><br \/>\nMenurut riwayat-riwayat yang ada, Nabi Saw beberapa kali melontarkan kandungan pernyataan ini dengan ungkapan-ungkapan yang berbeda, salah satu riwayat tersebut adalah demikian: \u201cAbuzar al-Ghifari meriwayatkan: Pada hari-hari dimana penyakit Nabi Saw semakin parah, kami datang menemui beliau. Nabi berkata: \u201cPanggillah anakku Fatimah dan katakan untuk datang kemari.\u201d Kemudian aku berdiri lalu pergi menemui Hadhrat Zahra Sa dan aku berkata \u201cWahai wanita yang paling mulia! Ayahmu memanggilmu.\u201d Beliau memakai\u00a0<em>cadur<\/em>\u00a0(hijab) lalu keluar dari rumah dan bertemu dengan Nabi. Ketika beliau melihat ayahnya dalam kondisi (seperti) itu beliau mulai menangis, kemudian Nabi pun menangis (oleh karena) tangisnya. Lalu Nabi memeluknya dan berkata: \u201cFatimah sayang! Demi ayahmu janganlah menangis! Sesungguhnya engkaulah orang pertama (dari orang-orang terdekatku) yang akan bergabung denganku, dalam kondisi terzalimi dan murka\u2026 dan engkau akan berjumpa denganku di tepi telaga Kautsar<em>.<\/em>\u201d<br \/>\nFatimah berkata: \u201cDimana aku akan menemuimu?\u201d<br \/>\nNabi Saw: \u201cEngkau akan menemuiku di tepi telaga Kautsar dalam keadaan aku memberi minum orang-orang Syi\u2018ah serta orang-orang yang membelamu, dan aku menjauhkan diri dari musuh-musuh serta para pengganggumu.\u201d<br \/>\nFatimah Sa: \u201cJika Aku tidak mendapatimu di tepi telaga, dimana Aku dapat menjumpaimu?\u201d<br \/>\nNabi Saw: \u201cDi dekat mizan Ilahi engkau akan menjumpaiku.\u201d<br \/>\nFatimah SA: \u201cAyahku tercinta! Jika aku tetap tidak menemukanmu di tepi telaga dimana aku akan menemukanmu?\u201d<br \/>\nNabi Saw: \u201cEngkau akan menemukanku di shirat ketika aku sedang memanggil pengikut-pengikut Ali As yang lewat dari shirat tersebut.<br \/>\nAbu Dzar berkata: Seketika itu hatiku menjadi tenang, dan Nabi Saw menenangkannya dengan kata-kata tersebut. Kemudian Nabi Saw menghadap ke arahku dan bersabda\u00a0 \u201cWahai Abu Dzar sesungguhnya Fatimah bagian (dari) diriku, barang siapa yang menyakitinya maka (sama saja) menyakiti aku.\u201d Sesungguhnya ia adalah Wanita (termulia di seluruh) alam dan suaminya pun adalah pelanjut para nabi yang paling agung&#8230;.\u201d<a id=\"_ednref2\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id21994#\">[2]<\/a><br \/>\nUngkapan kata:\u00a0<span dir=\"RTL\">\u00ab\u0628\u064e\u0636\u0652\u0639\u064e\u0629\u064c \u0645\u0650\u0646\u0651\u0650\u06cc\u00bb<\/span>\u00a0berarti dia adalah bagian dari aku, sebagaimana sepotong daging bagian dari tubuh.<a id=\"_ednref3\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id21994#\">[3]<\/a><br \/>\nPada kesempatan lain Nabi pun mengungkapkan kata-kata ini; seseorang buta datang meminta izin kepada Hadhrat Fatimah Sa untuk menemuinya, Fatimah pun memasang tirai dan mengambil tempat di belakangnya, Nabi Saw bertanya: \u201cMengapa engkau berada di balik tirai, sedang dia tidak melihatmu?\u201d Hadhrat Fatimah menjawab: \u201cJika dia tidak melihatku, (tapi) aku melihatnya, dan iapun (mampu) merasakan aroma badanku.\u201d<br \/>\nNabi bersabda:\u00a0<em>\u201c<\/em>Aku bersaksi sesungguhnya engkau adalah bagian dari diriku.\u201d<a id=\"_ednref4\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id21994#\">[4]<\/a><br \/>\nPokok bahasan terakhir ini, juga disebutkan dalam kitab-kitab rujukan Ahlussunnah.<a id=\"_ednref5\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id21994#\">[5]<\/a>\u00a0Sebagaimana terdapat pula pokok-pokok bahasan lain dimana Nabi Saw menggunakan ungkapan ini.<a id=\"_ednref6\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id21994#\">[6]<\/a><br \/>\nNabi Saw menyampaikan pernyataan-pernyataan ini pada waktu-waktu yang berbeda dengan ungkapan-ungkapan yang beragam. Nabi Saw bersabda: \u201cFathimah adalah bagian dari diriku, barang siapa menyakitinya maka sama halnya dia menyakitiku, dan barang siapa yang membuatnya marah maka ia telah membuatku marah,dan barang siapa yang menyenangkannya maka ia telah menyenangkan aku.\u201d<a id=\"_ednref7\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id21994#\"><span dir=\"RTL\"><span dir=\"LTR\">[7]<\/span><\/span><\/a><br \/>\ndan Nabi SAW bersabda:\u00a0<em>\u201c<\/em>Fathimah adalah bagian (dari) diriku dan dia adalah jiwa hidupku yang berada di antara kedua pundakku, aku membenci apa yang dia benci dan aku menyenangi apa yang dia senangi.\u201d<a id=\"_ednref8\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id21994#\">[8]<\/a><br \/>\nNamun sebagian sumber-sumber yang menukilkan mengenai mengapa ungkapan tersebut keluar dari lisan Nabi Saw, adalah tidak dapat diterima dengan alasan masalah-masalah yang ada padanya:<br \/>\n\u201cDiriwayatkan dari Musawir bin Makhramah bahwa Ali Bin Abi Thalib meminang anak Abu Jahal, berita ini sampai ke telinga Fatimah. Beliau datang kepada Nabi Saw dan berkata:\u00a0 Ali\u00a0 menikahi anak Abu Jahal, dan orang-orang menyangka engkau sama sekali tidak perduli (kuatir) akan kesedihan putri-putrimumu! Kemudian Nabi Saw bangun dan bersabda: &#8230;Sesungguhnya Fatimah bagian dari aku dan aku menjadi marah dengan kesedihannya. Aku bersumpah anak Nabi dan anak musuh Tuhan (abu jahal) tidak akan berkumpul (berdampingan) pada satu lelaki! Setelah itu Ali membatalkan pinangan tersebut.\u201d<a id=\"_ednref9\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id21994#\">[9]<\/a><br \/>\nDengan pengertian yang sama terdapat pula riwayat-riwayat lain dari Ahlussunnah: \u201cNabi Saw bersabda di atas mimbar bersabda, \u201cSesungguhnya keturunan Hisyam bin Mughirah meminta izin kepadaku untuk menikahkan anaknya dengan Ali bin Abi Thalib! Takkan\u00a0 kuizinkan! Takkan\u00a0 kuizinkan! Takkan\u00a0 kuizinkan! Kecuali anak Abi Thalib \u2013Ali\u2013 (dengan) senang (hati) mentalak putriku dan mengikat (tali) pernikahan dengan putri mereka. Sesungguhnya putriku adalah bagian (dari) diriku.\u201d<a id=\"_ednref10\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id21994#\">[10]<\/a>\u00a0Pada sebagian riwayat-riwayat tersebut terdapat nama Abu Hurairah sebagai perawi<a id=\"_ednref11\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id21994#\">[11]<\/a>.<br \/>\nAkan tetapi riwayat tersebut memiliki banyak masalah bagi kebanyakan ulama Syi\u2018ah dan juga sebagian dari ulama Ahlussunnah; di antaranya yaitu Nabi sendiri juga menikah dengan Ummu Habibah \u2013putri musuh Allah Abu Sofyan, maka apakah beliau (akan menentang dan) menahan diri (dari) menerima (pernikahan) itu? Dan bahkan sebagian dari mereka menilai penyebab adanya riwayat-riwayat yang demikian itu adalah kebencian dan kedengkian terhadap Amirul Mukminin Ali As.<a id=\"_ednref12\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id21994#\">[12]<\/a><br \/>\nSelain itu, terdapat banyak masalah terkait dengan riwayat tersebut dimana Sayyid Murthada Rah mengemukakan beberapa di antaranya:<\/div>\n<ol dir=\"ltr\">\n<li>Nabi Saw tidak mengingkari apa yang diperbolehkan oleh Islam, dan dalam islam boleh bagi laki-laki dengan menikahi empat perempuan dengan adanya beberapa syarat, jadi bagaimana Nabi akan menolak (perkara) yang boleh tersebut dan menyatakannya di atas mimbar?! (dan mencegah Ali untuk menjalankan perbuatan yang diperbolehkan (agama) ini).<\/li>\n<li>Riwayat ini dapat menyebabkan nabi dicemooh: Sebab Nabi Saw menikahkan Fatimah Sa dengan Ali As berdasarkan titah Ilahi. Jadi, bagaimana (mungkin) Tuhan (akan) memilihnya. (karena) Sangat jelas Tuhan tidak akan memilih orang yang menyakiti dan mengganggu Fatimah dan ini adalah tanda terdapatnya kebohongan (pada) riwayat tersebut.<\/li>\n<li>Sama sekali tak pernah ada sedikitpun pertentangan Imam Ali As\u00a0 dengan Nabi Saw;\u00a0 jadi bagaimana dapat diterima beliau melakukan perbuatan seperti itu (perbuatan) yang menyebabkan Nabi marah dan tidak senang?!<\/li>\n<li>Jika riwayat tersebut ternyata benar; musuh-musuh Ali As yang jumlahnya pun tidak sedikit, tentunya di sepanjang sejarah mereka (akan) menggunakannya sebagai (bahan) cemoohan. Namun laporan seperti itu tidak terjadi.<a id=\"_ednref13\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id21994#\">[13]<\/a><\/li>\n<\/ol>\n<div dir=\"ltr\">\nIbnu Abi Hadid pun Seperti halnya kebanyakan ulama Ahlusunnah ragu dan menyangsikan riwayat tersebut, dalam penjelasannya ia mengemukakan: \u201cMenurut hemat saya meskipun riwayat ini kita terima, Ali tetap tidak dapat dicemooh, kaum Muslimin bersepakat bahwa tidak ada masalah pernikahan dengan putri Abu Jahal menyertai pernikahan dengan putri Nabi; karena Islam membolehkan empat istri dan demikian pula (dengan) putri Abu Jahal juga seorang muslim,\u00a0 dan peristiwa ini dilaporkan (terjadi) setelah penaklukan (kota) Makkah dan para penduduknya memeluk Islam. Karena itu, tidak terlihat pelanggaran Ali As. Tetapi yang tersisa poin ini, jika riwayat ini benar adanya, mengapa Nabi Saw tiba-tiba (bersikap) seperti itu, menurut sebab masalah adalah demikian bahwa Nabi Saw melihat tekad dan ketabahan Fatimah Sa dan mengkritik Ali As (dengan) sikap kebapaan sehingga tercipta perdamaian di antara mereka, begitupun juga mungkin yang benar adalah beberapa perkataan tersebut ada dalam riwayat namun muncul dengan melalui beberapa pengurangan dan penambahan lain.\u201d<a id=\"_ednref14\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id21994#\">[14]<\/a><br \/>\nDi samping hal-hal tersebut, para perawi yang digunakan dalam sumber-sember itu adalah tidak tsiqah menurut Syiah dan perkataan mereka tidak dapat dipercaya, bahkan pada beberapa masalah justru terbukti kebohongan para perawi tersebut.<br \/>\nPada sumber-sumber Syi\u2018ah terdapat riwayat-riwayat dimana di dalamnya para imam As memaparkan hadis Ahlusunnah tersebut dan mereka pun memeberikan jawaban. Dalam sebuah riwayat Imam Shadiq cukup hanya dengan menyebut poin ini: \u201cBetapa masayarakat memiliki perkataan yang mengherankan mengenai Ali As, yang satu menganggapnya sesembahan (<em>ma\u2018bud<\/em>) dan yang lain (menganggapnya) hamba Tuhan yang berdosa\u2026\u201d<a id=\"_ednref15\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id21994#\">[15]<\/a><br \/>\nPada akhirnya harus dikatakan (riwayat-riwayat) itu tidak dapat diterima; pada aspek adanya kritik-kritik yang beragam atas kandungan riwayat-riwayat yang menganggap penyebab munculnya sabda Nabi Saw tersebut adalah mencegah Imam Ali As menikah lagi di masa hadhrat Fatimah Sa masih hidup dan demikian pula dengan dalil lemahnya sanad serta tidak terpercayanya para perawi hadis-hadis tersebut. [SZ-iQuest]\n<\/div>\n<div dir=\"ltr\">\n<div><\/div>\n<hr align=\"left\" size=\"1\" width=\"33%\" \/>\n<div id=\"edn1\"><a id=\"_edn1\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id21994#\">[1]<\/a>. Fadhl bin Hasan Thabarsi,\u00a0<em>I\u2018l<\/em><em>\u00e2<\/em><em>m\u00a0<\/em><em>a<\/em><em>l-War<\/em><em>\u00e2<\/em><em>\u00a0bi-<\/em><em>A<\/em><em>\u2018l<\/em><em>\u00e2<\/em><em>m\u00a0<\/em><em>a<\/em><em>l-Hud<\/em><em>\u00e2<\/em>, Jil. 1, h. 294, Muassasah Alu al-Bait As, Qum, Cet. 1, 1417 H; Syeikh Thusi,\u00a0<em>Talkhish\u00a0<\/em><em>al<\/em><em>-Syafi<\/em>, Pendahuluan dan riset oleh Husain Bahrul Ulum, jil. 3, hal. 122, Intisyarat al-Muhibbin, Qum, Cetakan Pertama, 1382 S; Sayyid\u00a0 \u2018Ali Milani,\u00a0<em>a<\/em><em>l-Im<\/em><em>\u00e2<\/em><em>mah fi Ahm\u00a0<\/em><em>a<\/em><em>l-<\/em><em>K<\/em><em>utub\u00a0<\/em><em>a<\/em><em>l-Kal<\/em><em>\u00e2<\/em><em>miah wa Aqidah Syi\u2018ah\u00a0<\/em><em>a<\/em><em>l-Im<\/em><em>\u00e2<\/em><em>miah<\/em>, hal. 67, al-Syarif al-Ridha, Qum, Cetakan Pertama, 1413 H.<\/div>\n<div id=\"edn2\"><a id=\"_edn2\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id21994#\">[2]<\/a>. Ali Bin Muhammad Khazaz Razi,\u00a0<em>Kif<\/em><em>\u00e2<\/em><em>yat<\/em><em>\u00a0a<\/em><em>l<\/em><em>-\u00c2<\/em><em>ts<\/em><em>\u00e2<\/em><em>r fi Nash \u2018ala<\/em><em>\u00a0a<\/em><em>l<\/em><em>&#8211;<\/em><em>Aimmah Itsna \u2018Asyar,\u00a0<\/em>Riset dan edit oleh Abdul Lathif Hussaini Kuhkamari, hal. 36-37, Intisyarat Bidar, Qum, 1401 H.<\/div>\n<div id=\"edn3\"><a id=\"_edn3\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id21994#\">[3]<\/a>. Fakhruddin Thuraihi,\u00a0<em>Majma\u2019<\/em><em>\u00a0a<\/em><em>l<\/em><em>&#8211;<\/em><em>Bahrain,<\/em>\u00a0Riset oleh Sayyid Ahmad Hussani, jil. 4, hal. 300, Kitab Furusyi Murthadhawi, Teheran, Cetakan Ketiga, Tahun 1373 S.<\/div>\n<div id=\"edn4\"><a id=\"_edn4\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id21994#\">[4]<\/a>. Fadhlullahb bin li Rawandi Kashani,,\u00a0<em>al-N<\/em><em>aw<\/em><em>\u00e2<\/em><em>dir,\u00a0<\/em>Riset dan edit oleh Shadiqi Ardestani, hal. 13-14, Ahmad, Dar al-Kitab, Qum, Cetakan Pertama; Muhammad Bin Muhammad Asy\u2019ats Kufi,,\u00a0<em>a<\/em><em>l-<\/em><em>J<\/em><em>a\u2019fariyat (Al-<\/em><em>A<\/em><em>sy\u2019atsiyat),\u00a0<\/em>hal. 95, Maktabah Nainawa al-Haditsah, Teheran, Cetakan Pertama.<\/div>\n<div id=\"edn5\"><a id=\"_edn5\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id21994#\">[5]<\/a>. Abu Na\u2019im Ahmad bin \u2018Abdullah Ishfahani,\u00a0<em>Hilyat<\/em><em>\u00a0a<\/em><em>l<\/em><em>&#8211;<\/em><em>Auliya wa Thabaq<\/em><em>\u00e2<\/em><em>t<\/em><em>\u00a0a<\/em><em>l<\/em><em>&#8211;<\/em><em>Ashfiya,\u00a0<\/em>jil. 2, hal. 40, al-Sa\u2019adah, Mesir, 1974 M.<\/div>\n<div id=\"edn6\"><a id=\"_edn6\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id21994#\">[6]<\/a>. Ridhauddin \u2018Ali bin Yusuf Hilli,,\u00a0<em>al-\u2018Adad<\/em><em>\u00a0a<\/em><em>l<\/em><em>&#8211;<\/em><em>Qawiyah li Daf\u2019i<\/em><em>\u00a0a<\/em><em>l<\/em><em>&#8211;<\/em><em>Mukhawif<\/em><em>\u00a0a<\/em><em>l<\/em><em>&#8211;<\/em><em>Yaumiyah,\u00a0<\/em>\u00a0Riset dan edit oleh Mahdi Rajai dan Mahmud Mar\u2019asyi, hal. 225, Perpustakaan Ayatullah Mar\u2019asyi Najafi, Qum, Cetakan Pertama, 1408 H.<\/div>\n<div id=\"edn7\"><a id=\"_edn7\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id21994#\">[7]<\/a>. Muhammad bin \u2018Ali Ibnu Babawaih (Syaikh Shaduq),\u00a0<em>I\u2018tiq<\/em><em>\u00e2<\/em><em>dat<\/em><em>\u00a0a<\/em><em>l<\/em><em>&#8211;<\/em><em>Im<\/em><em>\u00e2<\/em><em>miah,\u00a0<\/em>hal. 105, Kongres Syeikh Mufid, Iran, Cetakan Kedua, 1414 H.<br \/>\n\u0625\u0650\u0646\u0651\u064e \u0641\u064e\u0627\u0637\u0650\u0645\u064e\u0629\u064e \u0628\u064e\u0636\u0652\u0639\u064e\u0629\u064c \u0645\u0650\u0646\u0651\u0650\u06cc\u200f\u060c \u0645\u064e\u0646\u0652 \u0622\u0630\u064e\u0627\u0647\u064e\u0627 \u0641\u064e\u0642\u064e\u062f\u0652 \u0622\u0630\u064e\u0627\u0646\u0650\u06cc\u060c \u0648\u064e \u0645\u064e\u0646\u0652 \u063a\u064e\u0627\u0638\u064e\u0647\u064e\u0627 \u0641\u064e\u0642\u064e\u062f\u0652 \u063a\u064e\u0627\u0638\u064e\u0646\u0650\u06cc\u200f \u0648\u064e \u0645\u064e\u0646\u0652 \u0633\u064e\u0631\u0651\u064e\u0647\u064e\u0627 \u0641\u064e\u0642\u064e\u062f\u0652 \u0633\u064e\u0631\u0651\u064e\u0646\u0650\u06cc<\/div>\n<div id=\"edn8\"><a id=\"_edn8\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id21994#\">[8]<\/a>. Muhammad Baqir Majlisi,,\u00a0<em>Bih<\/em><em>\u00e2<\/em><em>r<\/em><em>\u00a0a<\/em><em>l<\/em><em>&#8211;<\/em><em>Anw<\/em><em>\u00e2<\/em><em>r<\/em>, jil. 29, hal. 32, Dar Ihya\u2019 al-Turats al-\u2018Arabi, Beirut, Cetakan Kedua, 1403 H.<br \/>\n\u0641\u0627\u0637\u0645\u0629 \u0628\u0636\u0639\u0629 \u0645\u0646\u0651\u06cc\u060c \u0648 \u0647\u06cc \u0631\u0648\u062d\u06cc \u0627\u0644\u062a\u06cc \u0628\u06cc\u0646 \u062c\u0646\u0628\u06cc\u0651\u060c \u06cc\u0633\u0648\u0624\u0646\u06cc \u0645\u0627 \u0633\u0627\u0621\u0647\u0627 \u0648 \u06cc\u0633\u0631\u0651\u0646\u06cc \u0645\u0627 \u0633\u0631\u0651\u0647\u0627<\/div>\n<div id=\"edn9\"><a id=\"_edn9\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id21994#\">[9]<\/a>. Muhammad bin Isma\u2018il Abu Abdullah Bukhari,\u00a0<em>Shahih B<\/em><em>u<\/em><em>kh<\/em><em>\u00e2<\/em><em>ri\u00a0<\/em>(<em>a<\/em><em>l-J<\/em><em>\u00e2<\/em><em>mi\u2018\u00a0<\/em><em>a<\/em><em>l-Mosnad\u00a0<\/em><em>al<\/em><em>-Shahih\u00a0<\/em><em>a<\/em><em>l-Mukhtashar min\u00a0<\/em><em>U<\/em><em>mur Rasulullah<\/em>), Riset oleh Muhammad Zahir bin Nashir al-Nashir, jil. 5, hal. 22, Dar Tsauq al-Najah, 1422 H.<\/div>\n<div id=\"edn10\"><a id=\"_edn10\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id21994#\">[10]<\/a>. Muslim bin Hajaj Qusyair al-Naysaburi,\u00a0<em>Shahih Muslim\u00a0<\/em>(<em>a<\/em><em>l-Musnad\u00a0<\/em><em>al-<\/em><em>Shahih\u00a0<\/em><em>a<\/em><em>l<\/em>&#8211;<em>Mukhtashar bi Naql<\/em><em>\u00a0a<\/em><em>l \u2018Adl<\/em>\u00a0<em>ila Rasulillah<\/em>), Riset oleh Muhammad Fu\u2019ad\u00a0 Abdul Baqy, jil. 4, hal, 1902, Dar Ihya\u2019 al-Turats al-\u2018Arabi, Beirut, Tanpa Tahun; Sulaiman bin Asy\u2018ats Azdi Sijistani,\u00a0<em>Sunan Abi Daud<\/em>, Riset oleh Abdul Hamid, Muhammad Muhyiddin, jil. 2, hal. 226, al-Maktabah al-Ashriyah, Beirut, Tanpa Tahun.<\/div>\n<div id=\"edn11\"><a id=\"_edn11\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id21994#\">[11]<\/a>. Silahkan lihat, Ibnu Abi al-Hadid,\u00a0<em>Sya<\/em><em>r<\/em><em>h Nahj<\/em><em>\u00a0a<\/em><em>l<\/em><em>&#8211;<\/em><em>Bal<\/em><em>\u00e2<\/em><em>ghah<\/em>, jil. 4, hal. 64, Kitabkhaneh Ayatullah Mar\u2018asyi Najafi, Qum, 1378 S.<\/div>\n<div id=\"edn12\"><a id=\"_edn12\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id21994#\">[12]<\/a>. Muhammad Taqi Majlisi,\u00a0<em>Raudhat<\/em><em>\u00a0a<\/em><em>l<\/em><em>&#8211;<\/em><em>Muttaqin fi Syarh\u00a0<\/em><em>M<\/em><em>an L<\/em><em>\u00e2 Y<\/em><em>ahdhuruhu<\/em><em>\u00a0al-Fa<\/em><em>qih<\/em>, Riset dan edit oleh Husain Musawi Qermani dan Ali Panah Isytihardi, jil. 8, hal. 124, Muassasah Farhanggi Islami Kusyanpur, Qum, Cetakan Kedua, 1406 H.<\/div>\n<div id=\"edn13\"><a id=\"_edn13\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id21994#\">[13]<\/a>.Sayyid Murtadha,\u00a0<em>Tanzih\u00a0<\/em><em>a<\/em><em>l-Anbiy<\/em><em>\u00e2<\/em><em>\u2019<\/em>, h. 212, dengan menukil dari Ibnu Huyun, Nu\u2018man bin Muhammad,\u00a0<em>Syarh\u00a0<\/em><em>a<\/em><em>l-Akhbar fi Fadh<\/em><em>\u00e2<\/em><em>\u2019il\u00a0<\/em><em>a<\/em><em>l-Aimmah\u00a0<\/em><em>a<\/em><em>l-Athhar\u00a0<\/em><em>As<\/em>, jil. 3, h. 31, Jamiah Mudarrisin, Qum, Cetakan Kedua, 1409 H.<\/div>\n<div id=\"edn14\"><a id=\"_edn14\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id21994#\">[14]<\/a><em>.\u00a0<\/em><em>Syarh Nahjul Bal<\/em><em>\u00e2<\/em><em>ghah<\/em>, jil. 4, hal. 65-66.<\/div>\n<div id=\"edn15\"><a id=\"_edn15\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id21994#\">[15]<\/a>. Syaikh Shaduq,\u00a0<em>a<\/em><em>l-<\/em><em>\u00c2<\/em><em>mali<\/em>, jil. 5, hal. 104, A\u2018lami, Beirut, 1400 H.<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ICC Jakarta &#8211;\u00a0Dalam sejarah, kita membaca riwayat yang terdapat pada beberapa sumber, yaitu: \u201cAli AS melamar putri Abu<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":5029,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[2],"tags":[273],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5709"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5709"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5709\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5709"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5709"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5709"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}