{"id":6229,"date":"2018-03-13T22:01:58","date_gmt":"2018-03-13T15:01:58","guid":{"rendered":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/?p=6229"},"modified":"2018-03-13T22:01:58","modified_gmt":"2018-03-13T15:01:58","slug":"mendedah-makna-kata-islam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/2018\/03\/13\/mendedah-makna-kata-islam\/","title":{"rendered":"Mendedah Makna Kata Islam"},"content":{"rendered":"<p><strong>ICC Jakarta &#8211;\u00a0<\/strong>\u201cAl-Islam\u201d pada ayat \u201cInna al-Din \u2018IndaLlah al-Islam\u201d terkadang ditakwilkan bermakna \u201cberserah diri di hadapan Tuhan\u201d dimana Islam di sini disebut dengan nama derivatnya (yang bermakna berserah diri), tolong Anda jelaskan masalah ini?<\/p>\n<p>Islam secara leksikal bermakna totalitas penyerahan diri (taslim) tanpa\u00a0<i>reserved<\/i>\u00a0dan\u00a0<i>tedeng aling-aling<\/i>\u00a0di hadapan Tuhan. Agama merupakan penjelas segala harapan Tuhan terhadap manusia dalam bidang pemikiran, kondisi, perilaku personal dan sosial, dan juga bentuk hubungan manusia dengan dirinya, orang lain dan Tuhan.<\/p>\n<p>Dengan demikian, keharusan penerimaan setiap agama \u2013 pada setiap masa yang dibawa oleh nabi pada masa tersebut \u2013 adalah totalitas penyerahan diri di hadapan agama tersebut, dimana dengan datangnya agama baru (yang menandaskan ajaran baru) para hamba bertugas, berdasarkan ajaran agama yang lama dan keniscayaannya, menerima agama baru dan berserah diri di hadapannya. Karena itu dapat dikatakan bahwa, sepanjang perjalanan sejarah umat manusia, seluruh nabi As adalah\u00a0<i>mubaligh<\/i>\u00a0(penyampai) satu agama (Islam) dimana perbedaan syariat-syariat pada penuntasan dan pengurangan para nabi sebelumnya dan setelahnya berada di pundaknya, tanpa memandang adanya perbedaan di antara para nabi tersebut, kendati keutamaan dan kedudukan di hadapan Allah Swt berbeda-beda bagi setiap hamba, sebagaimana hal ini disebutkan dalam al-Qur\u2019an,\u00a0<i>\u201cDan Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang (ada) di langit dan di bumi. Dan sesungguhnya telah Kami utamakan sebagian nabi-nabi itu atas sebagian (yang lain), dan kami berikan Zabur kepada Dawud.<\/i>\u201d (Qs. Al-Isra [17]:55);\u00a0<i>\u201cRasul-rasul itu Kami lebih utamakan sebagian mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berbicara (langsung) dengannya dan sebagian yang lain Allah meninggikannya beberapa derajat.\u201d<\/i>\u00a0(Qs. Al-Baqarah [2]:253) agama lama tidak dapat berhatan seiring dengan datangnya agama baru.<\/p>\n<p>Dengan memperhatikan matlab-matlab di atas, ketika para nabi dan syariat-syariatnya berakhir melalui Nabi Saw dan \u201cagama Islam\u201d, maka agama ini merupakan agama global dan perennial. Apabila ada seseorang memandang dirinya sebagai orang yang beragama, patuh dan berserah diri secara totalitas kepada Tuhan, apakah ia Yahudi atau Kristen atau orang musyrik,\u00a0 ia harus menerima \u201cagama Muhammad Saw,\u201d sehingga agamanya mendapatkan keridhaan Tuhan dan diterima di sisi-Nya. Dan di hadapan segala pemikiran, kondisi, perbuatan baiknya akan dihitung dan mendapatkan kedudukan di surga!<\/p>\n<p>Karena itu setelah pengutusan (<i>bi\u2019tsat<\/i>) Rasulullah Saw dan sempurnanya agama Islam, maka tiada agama lagi yang diterima di sisi Allah dan mendapatkan ganjaran dari-Nya.<\/p>\n<p>Berserah diri (<i>taslim<\/i>) di hadapan Tuhan memiliki derajat dan tingkatan yang berbeda-beda:<\/p>\n<p>1.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Berserah diri secara\u00a0<i>takwini<\/i>\u00a0seluruh eksisten dan entitas termasuk manusia, di hadapan Tuhan: Artinya makna penciptaan, pergantian dan perubahan takwini pada seluruh entitas tersebut, kualitas, jenisnya dan pada akhirnya kematiannya seluruhnya tidak diserahkan kepada mereka dan seluruhnya secara deterministik berserah diri (<i>taslim<\/i>) di hadapan takdir, penciptaan, pengaturan, penguasaan dan pengelolaan-Nya.<a name=\"_ednref1\"><\/a><a href=\"http:\/\/quran.al-shia.org\/id\/qoran%20va%20Etrat\/021.htm#_edn1\">[1]<\/a>\u00a0Artinya bahwa bahkan orang-orang yang menentang dan kaum musyrikin, kuffar dan kaum munafik, dalam penyerahan diri secara tawkini ini, berserah diri secara totalitas di hadapan-Nya dan mereka tidak memiliki kekuasaan untuk membangkangnya.<a name=\"_ednref2\"><\/a><a href=\"http:\/\/quran.al-shia.org\/id\/qoran%20va%20Etrat\/021.htm#_edn2\">[2]<\/a><\/p>\n<p>2.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Islam bermakna bahwa fitrah manusia apabila tidak berada di bawah pelbagai pengajaran dan tarbiyah yang salah, ia adalah sosok yang senantiasa mencari Tuhan, tunduk dan berserah diri secara totalitas di hadapan Sang Pencipta, Pemberi Rezeki, Pengatur, Penguasa Mutlak. Dan tentu saja ia memiliki kecendrungan terhadap tauhid dan menjauh diri penyimpangan dan kemusyrikan. Islam ini adalah sebuah batin yang mengantarkan Ibrahim As kepada malakut langit-langit dan berseru dari kedalaman jiwa dan hati:\u00a0<i>\u201cSesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, dengan keimanan yang murni dan tulus kepada-Nya, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.\u201d<\/i>\u00a0(Qs. Al-An\u2019am [6]:79)<\/p>\n<p>3.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Islam bermakna berserah diri di hadapan agama \u2013 yaitu titah dan larangan Ilahi dalam bidang pemikiran, pelbagai kondisi dan pelbagai perbuatan \u2013 tanpa\u00a0<i>reserved<\/i>\u00a0dan diskriminasi di antara ajaran-ajaran, maarif, amalan dan akhlak Ilahi, dengan mengerjakan sebagian dan meninggalkan sebagian lainnya.<\/p>\n<p>\u201c<i>Taslim<\/i>\u201d ini adalah keniscayaan klaim \u201ckeberagamaan\u201d. Artinya apabila ada seseorang yang benar-benar memandang dirinya sebagai orang yang beragama dan\u00a0<i>committed<\/i>\u00a0terhadap agama Ilahi, maka ia harus berserah diri di hadapan segala titah dan larangan Ilahi, walau keduanya bertentangan dengan tabiat dan kecendrungannya.<a name=\"_ednref3\"><\/a><a href=\"http:\/\/quran.al-shia.org\/id\/qoran%20va%20Etrat\/021.htm#_edn3\">[3]<\/a><\/p>\n<p>Dengan demikian, apabila nabi yang menjadi kecintaannya menganjurkan bahwa setelah beberapa lama ia harus meninggalkan syariatnya, (ajaran lama nabi tersebut) mengamalkan syariat dan mengikuti nabi baru yang datang selepasnya, apabila ia merupakan pengikut sejati nabinya, maka dengan datangnya nabi setelahnya ia memiliki tugas dan kewajiban untuk melepaskan syariat yang lama tersebut dan mengamalkan syariat baru yang dibawa oleh nabi baru.<\/p>\n<p>Sebagaimana apabila Yahudi benar-benar merupakan pengikut Musa As, maka ia harus menjadi pengikut Isa As setelah kedatangannya dan pada masa itu tidak lagi dijumpai agama Yahudi. Demikian juga apabila orang-orang Nasrani benar-benar merupakan pengikut Isa As, maka mereka harus menunaikan perintah Isa As untuk mengikuti nabi yang diutus setelahnya, yaitu Muhammad bin Abdillah Saw dan menarik diri dari agama yang menyimpang dan benar-benar menjadi seorang\u00a0<i>muslim<\/i>\u00a0(yang berserah diri).<\/p>\n<p>4.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 \u201cIslam\u201d adalah syariat paling pamungkas, paling sempurna, dan syariat Ilahi paling lengkap yang menganulir seluruh syariat sebelumnnya dan setelahnya tidak akan ada syariat yang akan menganulirnya.<a name=\"_ednref4\"><\/a><a href=\"http:\/\/quran.al-shia.org\/id\/qoran%20va%20Etrat\/021.htm#_edn4\">[4]<\/a>\u00a0Dengan demikian, dengan diutusnya Rasulullah Saw dan disempurnakanya agama ini, maka tiada agama dan syariat yang akan diterima dari siapa pun, karena tidak akan syariat baru yang mendapatkan keridhaan Allah Swt.<\/p>\n<p>Lantaran iman kepada Nabi Saw dan berserah diri di hadapan agama ini, meniscayakan iman dan pembenaran terhadap pelbagai syariat dan nabi yang lain dan juga iman dan pembenaran terhadap pelengkap dan penyempurna pelbagai syariat dan nabi tersebut (hukum-hukum, maarif baru dan terkini), akan tetapi iman terhadap syariat-syariat lainnya adalah iman terhadap agama yang tidak dapat menjawab seluruh kebutuhan dan tuntutan umat manusia untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat secara sempurna dan tuntas. Oleh itu, agama dan syariat tersebut adalah agama yang tidak sempurna dan tidak benar. Agama-agama tersebut tidak dapat menjadi agama-agama yang mendapatkan keridhaan Tuhan dan diterima oleh-Nya dan pelbagai konsekuensinya untuk mendapatkan ganjaran dan hajaran! Khususnya agama-agama yang telah menyimpang dan telah menjauhkan dirinya dari rel kebenaran!<a name=\"_ednref5\"><\/a><a href=\"http:\/\/quran.al-shia.org\/id\/qoran%20va%20Etrat\/021.htm#_edn5\">[5]<\/a><\/p>\n<p>\u201c<i>Al-Islam<\/i>\u201d pada ayat yang dimaksud dengan perhatian ekstra dapat disimpulkan dari keempat makna yang disampaikan di atas. Karena manusia secara\u00a0<i>takwini<\/i>\u00a0harus memilih jalannya sendiri dan mengkonstruksi nasibnya sendiri-sendiri dengan menerima agama Islam. Memberikan jawaban positif atas seruan fitrahnya lantaran agama ini sejalan dan selaras dengan fitrah dan akal sehat manusia. Menerima agama ini, bermakna membenarkan agama-agama dan nabi-nabi lainnya (yang telah usai masa berlakunya).\u00a0 Memandang bahwa mereka adalah para nabi Ilahi dan penyebar agama Ilahi yang benar serta pemandu manusia kepada kesempurnaan dan bukan agama yang menyimpang yang\u00a0 mereka bawa sendiri, hal ini akan menjadi lahan untuk menunjukkan agama paling sempurna dan paling lengkap dimana selain Islam tidak akan dapat dijumpai pada agama lainnya.<\/p>\n<p>Dengan demikian, dengan mengikuti dan memeluk agama ini bermakna berserah diri secara totalitas di hadapan Tuhan dan meninggalkan jalan-jalan yang berpencar (<i>subul mutafarraqah<\/i>) dari jalan lurus Ilahi.<a name=\"_ednref6\"><\/a><a href=\"http:\/\/quran.al-shia.org\/id\/qoran%20va%20Etrat\/021.htm#_edn6\">[6]<\/a><\/p>\n<p>Nah sekarang untuk menerima agama ini memiliki tingkatan dan derajat yang berbeda:<\/p>\n<p>1.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Menerima Islam secara lahir dengan mengucapkan dua kalimat syahadat dan menerima secara lahir segala perintah Ilah yang boleh jadi tidak sejalan dengan keyakinan dan iman sebelumnya. Yaitu dengan menerapkan amalan seorang muslim pada dirinya seperti hukum-hukum nikah, hukum transaksi, kesucian badan, pakaian, kehormatan jiwa dan harta dan seterusnya.<a name=\"_ednref7\"><\/a><a href=\"http:\/\/quran.al-shia.org\/id\/qoran%20va%20Etrat\/021.htm#_edn7\">[7]<\/a><\/p>\n<p>2.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Konsekuensi Islam adalah iman dalam hati, yakin dan membenarkan serta berserah diri terhadap seluruh maarif Ilahi, menerima dengan sepenuh hati kendati pada tingkatan tertentu disertai dengan kesalahan dalam tataran praktik atau keraguan dalam mengamalkannya,<a name=\"_ednref8\"><\/a><a href=\"http:\/\/quran.al-shia.org\/id\/qoran%20va%20Etrat\/021.htm#_edn8\">[8]<\/a>\u00a0atau melakukan sebuah perbuatan yang dibenci dalam hati.<\/p>\n<p>3.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Konsekuensi Islam adalah kerelaan hati, iman terhadap agama dan Nabi Saw dan Tuhan, yang mengharuskan kekhusyuan dan ketundukan seluruh anggota lahir dan batin manusia di hadapan Tuhan dan Nabi Saw serta para imam As, dan perintah serta larangannya. Tanpa adanya kebencian atau keengganan dalam melakukan hal tersebut.<a name=\"_ednref9\"><\/a><a href=\"http:\/\/quran.al-shia.org\/id\/qoran%20va%20Etrat\/021.htm#_edn9\">[9]<\/a>\u00a0dalam kondisi seperti ini, seorang hamba memandang dirinya sebagai milik Allah Swt dan memandang Allah Swt sebagai pemilik dirinya seutuhnya, keridhaan-Nya sebagai keridaannya, menerima apa yang menjadi kerelaan Tuhan sebagai kerelaannya.<\/p>\n<p>4.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Berserah diri di hadapan Tuhan, adalah sebuah penyerahan yang tidak memandang dirinya sebagai pemilik kemandirian dan kehendak, sedemikian sehingga ia tidak berkehendak kecuali untuk menunaikan perintah Tuhan, seluruh kecintaan, kebencian, suka dan duka adalah untuk mencari keridhaan Tuhan. Apa pun caranya. Bagaimanapun jalannya. Sehingga ia mencapai makam para wali Allah yang tidak merasa takut juga tidak ada perasaan duka menyelimuti mereka. Ia tidak menyesal atas masa lalu juga tidak menangisi apa yang terlepas dari tangannya.<a name=\"_ednref10\"><\/a><a href=\"http:\/\/quran.al-shia.org\/id\/qoran%20va%20Etrat\/021.htm#_edn10\">[10]<\/a>\u00a0Ia tidak merasa gentar terhadap masa depannya;<a name=\"_ednref11\"><\/a><a href=\"http:\/\/quran.al-shia.org\/id\/qoran%20va%20Etrat\/021.htm#_edn11\">[11]<\/a>\u00a0lantaran ia telah mencapai makam\u00a0<i>ithmi\u2019nan<\/i>\u00a0(kemantapan hati) dan hanya menantikan seruan\u00a0<i>labbaik<\/i>\u00a0(kupenuhi panggilanmu) atas panggilan Tuhan dan sampai pada tingkatan perjumpaan (<i>liq\u00e2<\/i>) dengan Allah Swt.<a name=\"_ednref12\"><\/a><a href=\"http:\/\/quran.al-shia.org\/id\/qoran%20va%20Etrat\/021.htm#_edn12\">[12]<\/a>\u00a0Dan di jalan ini apa pun yang terjadi maka ia akan bergembira meski kejadian getir Karbala hadir dalam hidupnya!<\/p>\n<p>Dengan demikian, Islam sejati adalah keseluruhan dari tingkatan yang disebutkan di sini<a name=\"_ednref13\"><\/a><a href=\"http:\/\/quran.al-shia.org\/id\/qoran%20va%20Etrat\/021.htm#_edn13\">[13]<\/a>\u00a0karena itu, \u201cIslam Nabi Muhammad Saw\u201d tidak dapat dibandingkan dengan siapa pun, sebagaimana \u201cIslam para Imam Pemberi petunjuk As\u201d juga demikian adanya, tidak dapat dibandingkan dengan \u201cIslam orang lain\u201d. Meski pelbagai petunjuk dan bukti, indikasi atas klaim ini melebihi dari apa yang diungkap di sini secara selintasan. Oleh itu, bagi mereka yang tertarik dan gemar mencari kebenaran, kami persilahkan Anda untuk menelusurinya pada kitab-kitab sejarah dan sirah tentang kehidupan mereka!<\/p>\n<p>Kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa berserah diri secara totalitas di hadapan Tuhan meniscayakan penerimaan agama Islam. Dan menerima agama Islam meniscayakan penyerahan diri secara totalitas di hadapan Tuhan. Elegansi yang tertimbun dari kalimat dan ungkapan ini dan setiap makna meniscayakan yang lain dan tidak terpisah dari satu dengan yang lainnya.<\/p>\n<p>Dari sisi lainnya, lantaran agama ini sempurna dengan \u201c<i>wil\u00e2yah<\/i>\u201d \u2013 yaitu pengangkatan Imam Ali As sebagai imam di Ghadir Khum,<a name=\"_ednref14\"><\/a><a href=\"http:\/\/quran.al-shia.org\/id\/qoran%20va%20Etrat\/021.htm#_edn14\">[14]<\/a>\u00a0orang yang mengingkari wilayah bermakna tidak berserah diri secara totalitas di hadapan perintah Tuhan. Tidak berserah diri secara totalitas di hadapan perintah Tuhan bermakna bahwa ia tidak menerima Islam sejati (agama secara sempurna), bersikap diskriminatif dalam menjalan syariat \u2013 yaitu mengamalkan sebagian dan meninggalkan sebagian \u2013 sementara Allah Swt berfirman, \u201c<i>Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling darinya, sedang kamu mendengar (perintah-perintah-Nya),\u00a0dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang (munafik) yang berkata, \u201cKami mendengarkan\u201d, padahal mereka tidak mendengarkan. Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya di sisi Allah ialah orang-orang yang bisu dan tuli yang tidak mengerti apa-apa pun. Kalau kiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar. Dan seandainya Allah menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, sedang mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu). Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan rasul apabila rasul menyerumu kepada suatu yang memberi kehidupan kepadamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan.\u00a0 Dan takutlah terhadap sebuah fitnah yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim di antara kamu saja. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.\u00a0Dan ingatlah ketika kamu masih berjumlah sedikit lagi tertindas di muka bumi; kamu takut orang-orang akan menculikmu. Lalu Allah melindungimu dan menjadikan kamu kuat dengan pertolongan-Nya, serta memberikan kepadamu rezeki dari yang baik-baik agar kamu bersyukur. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasulullah dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui (bahwa perbuatan ini adalah dosa besar).\u201d<\/i>\u00a0(Qs. Al-Anfal [8]:20-27) dan juga sebagaimana firman-Nya,\u00a0<i>\u201cDan katakanlah, \u201cKebenaran itu datang dari Tuhanmu; maka barang siapa yang ingin (beriman), hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin (kafir), biarlah ia kafir.\u201d Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi mendidih yang menghanguskan wajah. Alangkah buruknya minuman itu dan alangkah jeleknya tempat istirahat itu.<\/i>\u201d (Qs. Al-Kahf [18]:29)<\/p>\n<p>Tiada keraguan bahwa \u201cItrah dan al-Qur\u2019an\u201d merupakan dua amanah yang amat berharga yang diperintahkan Rasulullah Saw kepada kita untuk berpegang teguh kepada keduanya hingga hari Kiamat, lantaran hadis masyhur\u00a0<i>tsaqalain<\/i>\u00a0adalah hadis mutawatir yang diterima oleh Sunni dan Syiah. Oleh karena itu, Islam tanpa wilayah bukanlah Islam sejati dan tidak menjadi obyek keridhaan Tuhan.[]<\/p>\n<p><b>Daftar Pustaka:<\/b><\/p>\n<p>1.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<i>Asr\u00e2r al-\u2018Aq\u00e2id<\/i>, Mirza Abu Thalib Syirazi, Maktab al-Islam, cetakan pertama, 1377, Qum, seluruh kitab dan tafsir tentang ayat-ayat yang dibahas.<\/p>\n<p>2.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<i>Al-Miz\u00e2n<\/i>, Muhammad Husain Thabthabai, jil. 1, hal. 300-308, jil. 7, hal. 342-347, jil. 3, hal. 120-123dan 331-339, Intisyarat-e Islam.<\/p>\n<p>3.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<i>Kanz al-Daq\u00e2iq<\/i>, Muhammad bin Muhammad Ridha Qumi Masyhadi, jil. 4, hal 123, 442 dan jil. 3, hal. 56-58, Muassasah Thab\u2019e wa Nasyr Wizarat-e Irsyad, cetakan pertama, 1411, Teheran.<\/p>\n<hr align=\"left\" size=\"1\" width=\"33%\" \/>\n<p><a name=\"_edn1\"><\/a><a href=\"http:\/\/quran.al-shia.org\/id\/qoran%20va%20Etrat\/021.htm#_ednref1\">[1]<\/a>.\u00a0<i>\u201cMaka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal hanya kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada Allah-lah mereka dikembalikan?\u201d(<\/i>Qs. Ali Imran [3]:83);\u00a0<i>\u201cHanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang ada di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri atau pun terpaksa, serta bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari.<\/i>\u201d (Qs. Al-Ra\u2019ad [13]:15);\u00a0<i>\u201cKemudian Dia menuju langit dan langit itu masih berupa asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi, \u201cDatang (dan berbentuklah) kamu dengan suka hati atau terpaksa.\u201d Keduanya menjawab, \u201cKami datang (dan berbentuk) dengan suka hati.\u201d\u00a0<\/i>(Qs. Fushshilat [41]:11)<\/p>\n<p><a name=\"_edn2\"><\/a><a href=\"http:\/\/quran.al-shia.org\/id\/qoran%20va%20Etrat\/021.htm#_ednref2\">[2]<\/a>. Silahkan lihat, indeks: Kebebasan dan kehendak Ilahi, pertanyaan 153.<\/p>\n<p><a name=\"_edn3\"><\/a><a href=\"http:\/\/quran.al-shia.org\/id\/qoran%20va%20Etrat\/021.htm#_ednref3\">[3]<\/a>.\u00a0<i>\u201cDan tidaklah patut laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) perempuan yang mukmin memiliki pilihan (yang lain) tentang urusan mereka apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.\u201d\u00a0<\/i>(Qs.\u00a0 Ahzab [33]:36);\u00a0<i>Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar darinya? Demikianlah dihiasi bagi orang-orang yang kafir itu apa yang telah mereka kerjakan.\u201d<\/i>\u00a0(Qs. Al-An\u2019am [6]:122) kelanjutan ayat ini berlanjut hingga ayat 127;\u00a0<i>\u201cApakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada tagut, padahal mereka telah diperintah mengingkari tagut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.<\/i>\u201d (Qs. Al-Nisa [4]:60) kelanjutan ayat ini hingga ayat 70.<\/p>\n<p><a name=\"_edn4\"><\/a><a href=\"http:\/\/quran.al-shia.org\/id\/qoran%20va%20Etrat\/021.htm#_ednref4\">[4]<\/a>.\u00a0<i>\u201cMuhammad itu sekali-kali bukanlah ayah dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para nabi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.\u201d<\/i>\u00a0(Qs. Al-Ahzab [33]:40); Silahkan lihat,\u00a0<i>Khatamiyat<\/i>, Murtadha Muthahari<\/p>\n<p><a name=\"_edn5\"><\/a><a href=\"http:\/\/quran.al-shia.org\/id\/qoran%20va%20Etrat\/021.htm#_ednref5\">[5]<\/a>.\u00a0<i>\u201cTidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya al-Kitab, hikmah, dan kenabian, lalu ia berkata kepada manusia, \u201cHendaklah kamu menjadi hamba-hambaku, bukan hamba Allah.\u201d Akan tetapi (sewajarnya ia berkata), \u201cHendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, sebagaimana kamu selalu mengajarkan al-Kitab dan mempelajarinya.\u201d<\/i>\u00a0(Qs. Ali Imran [3]:79) Kelanjutan ayat ini hingga ayat 95.<\/p>\n<p><a name=\"_edn6\"><\/a><a href=\"http:\/\/quran.al-shia.org\/id\/qoran%20va%20Etrat\/021.htm#_ednref6\">[6]<\/a>.\u00a0<i>\u201c(Hal-hal yang Kuperintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah jalan itu, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu dapat mencerai-beraikanmu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.\u201d<\/i>\u00a0(Qs. Al-An\u2019am [6]:153);\u00a0<i>\u201cHai ahli kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi al-Kitab yang kamu sembunyikan dan membiarkan (pula) banyak hal (yang tidak bermaslahat bila dibeberkan). Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan keselamatan, mengeluarkan mereka dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.\u00a0Sungguh telah kafir orang-orang yang berkata, \u201cSesungguhnya Allah itu ialah al-Masih putra Maryam.\u201d Katakanlah, \u201cSiapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan al-Masih putra Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi semuanya? Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi beserta apa yang ada di antara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.\u201d\u00a0Orang-orang Yahudi dan Nasrani berkata, \u201cKami ini adalah anak dan kekasih-kekasih Allah.\u201d Katakanlah, \u201cJika demikian, mengapa Allah menyiksamu karena dosa-dosamu? (Kamu bukanlah anak dan kekasih-kekasih Allah), tetapi kamu adalah manusia (biasa) di antara orang-orang yang diciptakan-Nya. Dia mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi serta apa yang ada antara keduanya. Dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu).\u201d\u00a0Hai ahli kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu rasul Kami, menjelaskan (syariat Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) para rasul, agar kamu tidak mengatakan (pada hari kiamat), \u201cTidak datang kepada kami, baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan.\u201d Sesungguhnya telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.<\/i>\u201d Qs. Al-Maidah [5]:15-19)<\/p>\n<p><a name=\"_edn7\"><\/a><a href=\"http:\/\/quran.al-shia.org\/id\/qoran%20va%20Etrat\/021.htm#_ednref7\">[7]<\/a>.\u00a0<i>\u201cOrang-orang Arab Badui itu berkata, \u201cKami telah beriman.\u201d Katakanlah (kepada mereka), \u201cKamu belum beriman, tetapi katakanlah, \u2018Kami telah tunduk\u2019 karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu. Jika kamu taat kepada Allah dan rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun\u00a0(pahala) amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.\u201d<\/i>\u00a0(Qs. Al-Hujurat [49]:14)<\/p>\n<p><a name=\"_edn8\"><\/a><a href=\"http:\/\/quran.al-shia.org\/id\/qoran%20va%20Etrat\/021.htm#_ednref8\">[8]<\/a>.\u00a0<i>\u201c(Yaitu) orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami dan mereka dahulu adalah orang-orang yang berserah diri.\u201d\u00a0<\/i>(Qs. Zukhruf [43]:69);\u00a0<i>\u201cHai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan (baca: sempurna), dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu<\/i>.\u201d (Qs. Al-Baqarah [2]:208);\u00a0<i>\u201cSesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.\u201d<\/i>\u00a0(Qs. Al-Hujurat [49]:15)<\/p>\n<p><a name=\"_edn9\"><\/a><a href=\"http:\/\/quran.al-shia.org\/id\/qoran%20va%20Etrat\/021.htm#_ednref9\">[9]<\/a>.\u00a0<i>\u201cMaka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu penentu dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.\u201d (<\/i>Qs. Al-Nisa [4]:65);\u00a0<i>\u201cSungguh beruntunglah orang-orang yang beriman,\u00a0(yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna.\u201d<\/i>\u00a0(Qs. Al-Mukminun [23]:1-3)<\/p>\n<p><a name=\"_edn10\"><\/a><a href=\"http:\/\/quran.al-shia.org\/id\/qoran%20va%20Etrat\/021.htm#_ednref10\">[10]<\/a>.\u00a0<i>\u201cIngatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak memiliki kekhawatiran dan tidak (pula) mereka bersedih hati.\u201d<\/i>\u00a0(Qs. Yunus [10]:62)<\/p>\n<p><a name=\"_edn11\"><\/a><a href=\"http:\/\/quran.al-shia.org\/id\/qoran%20va%20Etrat\/021.htm#_ednref11\">[11]<\/a>.\u00a0<i>\u201c(Kami jelaskan semua itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput darimu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang Dia berikan kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.<\/i>\u201d (Qs. Hadid [57]:23);\u00a0<i>(Ingatlah) ketika kamu lari dan tidak menoleh kepada siapa pun, sedang Rasulullah memanggil-manggilmu di belakangmu, karena itu Allah menimpakan atas kamu kesedihan atas kesedihan, supaya kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang luput darimu dan terhadap apa yang menimpamu. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.\u201d<\/i>\u00a0(Qs. Ali Imran [3]:153)<\/p>\n<p><a name=\"_edn12\"><\/a><a href=\"http:\/\/quran.al-shia.org\/id\/qoran%20va%20Etrat\/021.htm#_ednref12\">[12]<\/a>.\u00a0<i>\u201cHai jiwa yang tenang,\u00a0kembalilah kepada Tuhan-mu dengan hati yang puas lagi diridai.\u00a0Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku,\u00a0dan masuklah ke dalam surga-Ku.\u201d<\/i>\u00a0(Qs. Al-Fajr [89]:27-30)<\/p>\n<p><a name=\"_edn13\"><\/a><a href=\"http:\/\/quran.al-shia.org\/id\/qoran%20va%20Etrat\/021.htm#_ednref13\">[13]<\/a>. Silahkan lihat,\u00a0<i>al-Miz\u00e2n<\/i>, jil. 1, hal. 300-303.<\/p>\n<p><a name=\"_edn14\"><\/a><a href=\"http:\/\/quran.al-shia.org\/id\/qoran%20va%20Etrat\/021.htm#_ednref14\">[14]<\/a>. Silahkan lihat, Indeks: Penyimpangan dan Mazhab-mazhab non-Syiah, pertanyaan 260; (Qs. Al-Maidah [5]:3 &amp; 67)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ICC Jakarta &#8211;\u00a0\u201cAl-Islam\u201d pada ayat \u201cInna al-Din \u2018IndaLlah al-Islam\u201d terkadang ditakwilkan bermakna \u201cberserah diri di hadapan Tuhan\u201d dimana<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":4405,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[11],"tags":[273],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6229"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6229"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6229\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6229"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6229"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6229"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}