{"id":6638,"date":"2018-04-29T16:18:41","date_gmt":"2018-04-29T09:18:41","guid":{"rendered":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/?p=6638"},"modified":"2018-04-29T16:18:41","modified_gmt":"2018-04-29T09:18:41","slug":"makna-allah-cahaya-langit-dan-bumi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/2018\/04\/29\/makna-allah-cahaya-langit-dan-bumi\/","title":{"rendered":"Makna Allah Cahaya Langit dan Bumi"},"content":{"rendered":"<p style=\"font-weight: 400; text-align: center;\">\u0671\u0644\u0644\u0647\u064f \u0646\u064f\u0648\u0631\u064f \u0627\u0644\u0633\u0651\u064e\u0645\u0627\u0648\u0627\u062a\u0650 \u0648\u064e \u0627\u0644\u0652\u0623\u064e\u0631\u0652\u0636\u0650<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400; text-align: center;\">&#8220;<em>Allah adalah cahaya seluruh langit dan bumi&#8221;<\/em><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Apabila kita berkata \u201c<em>Allah Cahaya langit dan bumi<\/em>\u201d maka hal itu bermakna bahwa Allah itu terang dan menerangi. Pencipta langit dan bumi. Redaksi langit-langit dan bumi menandaskan seluruh semesta, keberadaan, seluruh makhluk yang tinggi dan rendah, alam ghaib dan alam dunia. \u00a0Tidak semata-mata bermakna semata langit-langit yang berada di atas kepala kita ini atau bumi yang kita jejak ini. Karena itu, makna ayat adalah bahwa \u201c<em>Allah adalah cahaya seluruh semesta<\/em>.\u201d Redaksi yang digunakan di sini adalah \u201ccahaya\u201d bukan \u201cpencipta\u201d maksudnya adalah untuk menarik perhatian terhadap masalah ini bahwa sebagaimana cahaya itu adalah terang secara esensial dan tidak membutuhkan pada sesuatu yang lain untuk meneranginya, ia juga menerangi (muzhir) dan memberikan cahaya kepada yang lain, demikian juga adanya dengan Allah Swt yang tidak memerlukan sesuatu untuk menampakkan atau menerangi-Nya. Dia adalah Entitas dan Eksisten yang Nampak, Terang, Jelas dan Gamblang. Penalaran untuk menetapkan Wujud-Nya tidak memerlukan media. Dan Dialah Penampak dan Pengada seluruh entitas dan eksiten di alam semesta. Menukil Haji Sabzawari, \u201c<em>Yaa Man Huwa ikhtafa lifirthi Nurihi<\/em>.\u201d \u00a0(Wahai yang menghilang lantaran gemerlapnya cahaya-Nya).<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dengan demikian, sebagaimana urafa (mengikuti irfan para nabi dan imam As) menjelaskan Tuhan menjelma dalam artian dan penerangan sempurna. Dan untuk memusatkan perhatian dan peringatan kepada-Nya, tidak diperlukan media makhluk-makhluk-Nya. Dengan kata lain, untuk menalar wujud Tuhan maka yang harus digunakan adalah burhan\u00a0<em>limmi<\/em>\u00a0bukan burhan\u00a0<em>inni<\/em>.\u00a0Pertama-tama Tuhan yang harus dikenal dan berangkat dari pengenalan terhadap-Nya manusia dapat memahami seluruh makhluk-Nya. Bukan sebaliknya. Pertama-tama mengenal makhluk-Nya kemudian dengan mengenal makhluk-Nya maka Tuhan dapat dikenal.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\u00a0Sebagaimana dalam doa Arafah Imam Husain As disebutkan, \u201c<em>Ilahi turaddidu fii al-atsar yujibu ba\u2019da al-mizar\u201d<\/em>\u00a0Tuhanku! Perhatian kepada karya dan seluruh makhluk-Mu telah membuatku jauh dari persuaan dan ziarah kepada-Mu.\u201d Amirul Mukminin dalam doa Kumail lamat-lamat merintih dalam doa,\u00a0<em>\u201cBinur Wajhika alladzi Adha\u2019 lahu Kullu Syai<\/em>.\u201c (Dengan (perantara) cahaya wajah-Mu yang menerangi segala sesuatu)\u201d<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Apabila bukan karena cahaya wajah-Mu dan Dzat-Mu maka seluruhnya dalam kegelapan. Artinya segala sesuatu tiada dan segala sesuatu pada kegepalan ketiadaan. Apabila bukan karena cahaya Dzat-Mu segala sesuatu dalam kegelapan \u201cketiadaan.\u201d Bukan segala sesuatu berada pada kegelapan seperti kegelapan malam. Oleh itu, harus dikatakan bahwa: Allah Swt adalah murni cahaya. Dan di hadapan-Nya tiada satu pun yang bercahaya dan segala cahaya di hadapan-Nya adalah kegelapan (<em>zhulmat<\/em>), lantaran hanya pada Entitas yang pada Dzat-Nya nampak dan menampakkan. Terang dan menerangi hanyalah Tuhan; segala sesuatu yang lain apabila ia nampak dan menampakkan, terang dan menerangi maka sesungguhnya pada dzat mereka adalah \u201ckegelapan,\u201d dan Tuhanlah yang menjadikan mereka \u201cnampak\u201d dan \u201cmenampakkan.\u201d<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dari sini, Allamah Thabathabai sangat indah menyimpulkan ayat ini, \u201cKarena itu dapat disimpulkan bahwa Allah Swt tidak\u00a0<em>majhul<\/em>\u00a0(misterius) bagi segala entitas dan eksisten, karena nampaknya segala sesuatu bagi diri mereka atau bagi yang lain bersumber dari penampakan Tuhan, apabila Tuhan tidak menampakkan dan mewujudkan sesuatu maka mereka tidak akan nampak; dengan demikian sebelum segala sesuatu, Allah nampak dan terang secara esensial. Maka kesimpulan yang dapat diambil dari apa yang dimaksud dengan \u201cCahaya\u201d pada redaksi ayat \u201c<em>Allah cahaya langit dan bumi<\/em>\u201d cahaya Tuhan yang menjadi sumber penciptaan semesta. Sebuah cahaya yang dengan perantaranya segala sesuatu tercahayai dan benderang, dan \u201cwujud\u201d segala sesuatu sama, dan inilah rahmat Ilahi yang berlaku secara umum.\u201d<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Karena itu, menurut kosa kata al-Qur\u2019an, Allah Swt bukanlah sosok yang ghaib dan tersembunyi secara esensial sehingga Dia nampak dan tersingkap melalui seluruh makhluk dan alam penciptaan, langit dan bumi. Melainkan makrifat sedemikian adalah makrifat yang lemah dan tidak sempurna. Makrifat sejati adalah bahwa alam semesta dikenal melalui perantara Tuhan, bukan Tuhan dikenal melalui perantara semesta. Dan ayat ini menegaskan bahwa Allah Swt berada pada kesempurnaan penyingkapan, penerangan dan kegamblangan.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\n<p style=\"font-weight: 400;\"><strong>Cahaya atau Cahaya Terbesar<\/strong><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Poin lainnya yang dapat disimpulkan dari ayat adalah bahwa kita berkata cahaya kepada Tuhan namun kita tidak berkata cahaya terbesar yang bermakna bahwa kita memiliki banyak cahaya dimana di antara cahaya tersebut ada yang lebih besar dan ada yang lebih kecil. Di antara cahaya-cahaya ini, cahaya Tuhan yang terbesar.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pandangan al-Qur\u2019an di sini menegaskan bahwa hanya ada satu cahaya dan cahaya tersebut adalah Tuhan dan lainnya adalah kegelapan dan ketiadaan. Dalam membandingkan segala sesuatu dengan yang lain satu adalah cahaya dan yang lainnya adalah non-cahaya. Misalnya ilmu, iman dan akal adalah cahaya. Akan tetapi ketiganya mendulang cahaya dari Tuhan. Karena itu, di hadapan Tuhan, ketiganya bukanlah cahaya. Atau dengan kata lain, Allah Swt adalah \u201c<em>Nur al-Nur<\/em>\u201d, \u00a0artinya cahaya segala cahaya bukan cahaya terbesar. Dengan demikian, keyakinan yang disandarkan kepada Manikanisme yang menyebut Tuhan sebagai \u201ccahaya terbesar\u201d sejatinya memandang Tuhan sebagai cahaya empirik, akan tetapi cahaya Tuhan adalah cahaya teragung dan terbesar di alam semesta. Bagaimanapun, siapa saja yang menerima keyakinan ini, maka sesungguhnya keyakinan ini adalah keyakinan yang salah dan batil.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Akhir kata, kami akan menyinggung sebuah riwayat yang dinukil dari Imam Ridha As dalam menjawab pertanyaan Abbas bin Hilal terkait \u201c<em>Allah Nur al-Samawat wa al-Ardh<\/em>\u201d, beliau bersabda: \u201cPetunjuk bagi penduduk langit dan petunjuk bagi penghuni bumi.\u201d[]<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\n<p style=\"font-weight: 400;\"><strong>Beberapa referensi untuk telaah lebih jauh:<\/strong><\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><em>Tafsir Maudhui Qur\u2019an Karim<\/em>, Abdullah Jawadi Amuli, jil. 12,\u00a0<em>Fitrat dar Qur\u2019an<\/em>, hal. 291-297 dan\u00a0<em>Wahy wa Nubuwwat dar Qur\u2019an<\/em>, jil. 3, hal. 138-140.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><em>Tauhid Shaduq<\/em>.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><em>Tafsir al-Mizan<\/em>, jil. 15,\u00a0<em>Surah Nur<\/em>, Muhammad Husain Thabathabai.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><em>Tafsir al-Kabir<\/em>, jil. 23, Fakhrurazi, tafsir ayat \u201c<em>Allah Nur al-Samawat wa al-Ardh.\u201d<\/em><\/li>\n<\/ol>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u0671\u0644\u0644\u0647\u064f \u0646\u064f\u0648\u0631\u064f \u0627\u0644\u0633\u0651\u064e\u0645\u0627\u0648\u0627\u062a\u0650 \u0648\u064e \u0627\u0644\u0652\u0623\u064e\u0631\u0652\u0636\u0650 &#8220;Allah adalah cahaya seluruh langit dan bumi&#8221; Apabila kita berkata \u201cAllah Cahaya langit<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":5508,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[11],"tags":[273],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6638"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6638"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6638\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6638"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6638"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6638"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}