{"id":6640,"date":"2018-04-29T16:31:21","date_gmt":"2018-04-29T09:31:21","guid":{"rendered":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/?p=6640"},"modified":"2018-12-09T13:14:49","modified_gmt":"2018-12-09T13:14:49","slug":"kisah-sujudnya-iblis-kepada-manusia-fakta-atau-fiktif","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/2018\/04\/29\/kisah-sujudnya-iblis-kepada-manusia-fakta-atau-fiktif\/","title":{"rendered":"Kisah Sujudnya Iblis Kepada Manusia, Fakta atau Fiktif?"},"content":{"rendered":"<div class=\"short-question clearfix\">\n<div class=\"full-question clearfix\">\n<div id=\"A2_1\" class=\"quest-content\"><strong>Pertanyaan:<\/strong><\/div>\n<div class=\"quest-content\">Apakah kisah tentang keengganan Iblis untuk sujud itu memang suatu fakta atau hanyalah cerita fiktif?<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<div class=\"short-answer clearfix\">\n<div class=\"plus-title\">\n<div class=\"plus-title-b\">\n<div id=\"A3\" class=\"ShowArrow Down\"><strong>Jawaban:<\/strong><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<div id=\"A3_1\" class=\"quest-content\">\n<p>Salah satu cara salah satu bagian dari definisi (<i>ta\u2019rif<\/i>) adalah\u00a0<i>ta\u2019rif<\/i>\u00a0<i>bil mitsal<\/i>\u00a0atau\u00a0mendefinisikan sesuatu\u00a0dengan menyampaikan contoh-contoh yaitu menjelaskan hakikat yang rasional dengan cerita-cerita penjelasan yang tidak abstrak, bisa disentuh, metode ini digunakan agar mudah dipahami untuk sebagian besar manusia. Sebab manusia umumnya lebih akrab dengan hal-hal yang dekat dengan kehidupan mereka dan cara seperti ini juga dipakai oleh al-Quran dalam menyampaikan penjelasan-penjelasan tertentu lewat bahasa yang mudah difahami oleh para pembacanya.<\/p>\n<p>Kisah\u00a0Iblis dalam al-Quran juga adalah bagian dari cara yang dipakai oleh al-Quran untuk menjelaskan tujuannya. Ada dua pendapat terkait dengan itu apakah cerita-ceita itu dalam al-Quran itu kenyatan atau fiktif belaka.<\/p>\n<p>Pandangan pertama mengatakan, bahwa kisah-kisah ini hanyalah simbol dan sama sekali tidak ada faktanya di luar. Kisah-kisah seperti itu disampaikan untuk menjadi jalan yang mudah dicerna oleh para pendengarnya. Agar mereka bisa menangkap benang merah dan kandungan makna yang mendalam dan rahasia-rahasia yang dibalut oleh kata-kata tertentu. Sebagian lain berpandangan bahwa kisah-kisah ini memiliki kenyataan di luar dan bukan lagi sekedar dongeng belaka.<\/p>\n<p>Ada kemungkinan bahwa kisah Iblis adalah kisah simbolis saja yaitu simbolis takwini karena sulit untuk menerima itu sebagai sebuah hakikat yang real sebab perintah tuhan ini bisa dalam format\u00a0<i>amr maulawi\/amr tasyri<\/i>\u00a0atau\u00a0<i>amr takwini<\/i>. Jika dipahami sebagai\u00a0<i>amr maulawi\/tasyri\u2019i<\/i>\u00a0(perintah yang berkonsekuensi hukum) maka ini juga sulit diterima sebeb perintah sujud tidak hanya berlaku untuk Iblis tapi juga untuk malaikat\u00a0\u00a0\u00a0sementara malaikat tidak mungkin menjadi objek taklif dan perintah sujud juga tidak mungkin terbagi menjadi dua kategori agar bisa\u00a0<i>tasyri\u2019i<\/i>\u00a0dan\u00a0<i>tamstili<\/i>.<\/p>\n<p>Jika perintah itu bagian dari\u00a0<i>amr takwini<\/i>\u00a0maka itu adalah\u00a0<i>takwini<\/i>\u00a0(tata-cipta) dari Allah Swt, dan tidak mungkin tidak terealisasi dan secara mesti, harus ada. Tidak mungkin ada penentangan sementara\u00a0\u00a0\u00a0Iblis pada kenyataanya tidak sujud. Ia menentang perintah itu, jadi tidak ada jalan lain selain menafsirkannya sebagai kisah\u00a0<i>tamtsili<\/i>\u00a0saja, hanya saja kisah\u00a0<i>tamtsili\u00a0<\/i>\u00a0tidak selalu fiktif dan tidak berarti tidak ada peristiwa aslinya. Artinya itu adalah sebuah kenyataan dalam kategori akal yang diekspresikan dalam bahasa yang bisa dicerap inderawi. Dan jangan sekali\u2013kali ada anggapan bahwa peristiwa besar dan merupakan bagian dari sebuah penjelasan agama ini tidak memiliki bukti-bukti eksternal.<\/p>\n<\/div>\n<div class=\"full-answer clearfix\">\n<div id=\"A4_1\" class=\"quest-content\">\n<p>Denga penjelasan di atas kita segera ingin mengetahuki hakikat iblis itu sendiri.<\/p>\n<p><b>1. Pengertian\u00a0<\/b><b>I<\/b><b>blis dan tamtsil<\/b>.<\/p>\n<p>Iblis yang diceritakan ayat al-Quran adalah sebuah makhluk yang hidup, memiliki kesadaran dan kecerdasan, mendapatkan tugas, tidak terlihat dan pandai menipu.Ia menentang perintah tuhan untuk bersujud sehingga terusir dan mendapatkan ancaman siksaan. Di sebagian ayat ia lebih sering disebut sebagai setan dan hanya ada di dalam sebelas ayat ia disebut\u00a0sebagai Iblis.<a id=\"_ednref1\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa891#\">[1]<\/a><\/p>\n<p>Menurut\u00a0<i>L<\/i><i>is<\/i><i>\u00e2<\/i><i>n<\/i><i>\u00a0a<\/i><i>l<\/i><i>-\u2018<\/i><i>Arab<\/i>, Iblis diartikan sebagai\u00a0sosok yang\u00a0putus asa dari rahmat\u00a0Tuhan dan yang menyesali. Al-Quran juga menyinggung identitas\u00a0Iblis yaitu,\u00a0<i>Kana min al-jinn<\/i>\u00a0(ia bagian dari golong jin).<a id=\"_ednref2\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa891#\">[2]<\/a>\u00a0Berbagai nama\u00a0Iblis tidak mengubah identitas\u00a0Iblis yang sejati dan tentang\u00a0redaksi Iblis sendiri ada yang meragukan\u00a0apakah ia\u00a0berasal dari bahasa\u00a0Arab\u00a0atau tidak.<a id=\"_ednref3\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa891#\">[3]<\/a><\/p>\n<p><i>Tamtsil<\/i>\u00a0artinya membuat misal, contoh, perumpamaan. Raghib Isfahani penulis kitab\u00a0<i>M<\/i><i>ufrad<\/i><i>\u00e2<\/i><i>t al-Qur<\/i><i>\u2019\u00e2<\/i><i>n<\/i>, mengatakan demikian, \u201c<i>Matsal<\/i>\u00a0adalah menjelaskan sesuatu kata dengan perumpamaan.\u201d<\/p>\n<p><b>\u00a0<\/b><\/p>\n<p><b>2- Pendefinisian dengan contoh dan metode\u00a0<i>tamtsil<\/i>\u00a0versi al-Quran:<\/b><\/p>\n<p>Definisi itu ada yang menggunakan\u00a0<i>had, rasm<\/i>\u00a0(desription) atau dengan contoh (<i>matsal<\/i>). Sebab tidak semua orang bisa mencerap definisi dengan had atau dengan rasm, lantaran untuk menyoroti\u00a0genus (jins) setiap terma bukanlah pekerjaan yang mudah. Berbeda dengan penjelasan lewat contoh, cerita atau perumpaman. Sebab yang dibidik oleh definisi dengan\u00a0<i>tamtsil<\/i>\u00a0adalah hal-hal yang akrab dan dekat dengan daya dan wawasan\u00a0obyek bicara.<\/p>\n<p>Dari satu sisi,\u00a0<i>tamtsil<\/i>\u00a0memang mendekatkan kata-kata dengan pikiran\u00a0obyek bicara (<i>mukhatab<\/i>)\u00a0tapi dari sisi lain ada hal-hal yang mungkin direduksi dari definisinya. Contohnya saat harus dijelaskan tentang hubungan antara badan dan ruh. Bisa dijelaskan lewat perumpamaan bahwa badan itu seperti kapal dan ruh itu seperti nakhoda, atau seperti penguasa dengan kota. Jadi ruh di dalam badan seperti seseorang yang berkuasa di dalam sebuah kota atau layaknya seorang nakhoda dan bahteranya.<a id=\"_ednref4\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa891#\">[4]<\/a><\/p>\n<p>Imam Husain\u00a0As dan Imam Shadiq\u00a0As\u00a0bersabda, \u201cIlmu pengetahuan (<i>ma\u2019arif<\/i>\u00a0) al-Quran terbagi dalam empat bagian, sebab daya tampung manusia juga berbeda satu sama lain; yaitu\u00a0<i>ib<\/i><i>\u00e2<\/i><i>rah, isy<\/i><i>\u00e2<\/i><i>rah, lath<\/i><i>\u00e2<\/i><i>if<\/i>\u00a0dan\u00a0<i>haq<\/i><i>\u00e2<\/i><i>iq<\/i>.\u00a0<i>Ib<\/i><i>\u00e2<\/i><i>rah<\/i>\u00a0untuk orang-orang awam,\u00a0<i>isy<\/i><i>\u00e2<\/i><i>rah<\/i>\u00a0untuk orang-orang khusus, dan\u00a0<i>lath<\/i><i>\u00e2\u2019<\/i><i>if<\/i>untuk para auliya dan\u00a0<i>haq<\/i><i>\u00e2\u2019<\/i><i>iq<\/i>\u00a0untuk para nabi.\u201d<a id=\"_ednref5\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa891#\">[5]<\/a><\/p>\n<p>Meskipun berbeda-beda tapi semua adalah\u00a0obyek bicara\u00a0al-Quran; semuanya sama untuk memahami pesan-pesan dari langit.<\/p>\n<p>Inti dari\u00a0<i>matsal<\/i>\u00a0adalah adanya kesamaan antara definisi dengan perumpamaan tersebut, mempermudah penjelasan konsep dan karena itu jarang yang mempermasalahkan perumpamaan.<\/p>\n<p>Mengumpamakan al-Hak dengan cahaya dan kebatilan dengan kegelapan adalah salah satu\u00a0<i>matsal<\/i>yang sangat populer di kalangan masyarakat arab dan juga non arab seperti yang bisa dilihat dalam kitab-kitab\u00a0Taurat dan\u00a0Injil.<a id=\"_ednref6\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa891#\">[6]<\/a><\/p>\n<p>Ada dua pendapat tentang\u00a0<i>tamtsil<\/i>\u00a0(alegoris) dalam al-Quran yaitu bahwa pertama bahwa\u00a0<i>tamtsil<\/i>\u00a0itu sekedar perumpaan belaka (fiktif) dan demi untuk menurunkan konsep-konsep yang berat sementara pendapat kedua mengatakan bahwa\u00a0<i>tamtsil<\/i>\u00a0di dalam al-Quran memang berbicara tentang suatu fakta yang ada.<\/p>\n<p>Perbedaan ini misalnya bisa dilihat ketika Allah menyerupakan manusia dengan keledai, atau anjing menurut pendapat yang pertama bahwa manusia bukanlah benar-benar keledai atau anjing. Tapi memiliki kesamaan dari sisi tidak mau menerima kebenaran. Sementara dalam pandangan kedua memang manusia itu hakikatnya adalah keledai atau anjing dan bentuknya yang asli tersebut akan muncul di dalam hakikat. Karena itu di dalam ayat al-Quran ada kalimat\u00a0<i>wa idza al-wuhusyu husyirat<\/i>(saat binang-binatang buas dikumpulkan).<a id=\"_ednref7\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa891#\">[7]<\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><b>Apakah kisah tentang\u00a0<\/b><b>Iblis tidak mau bersujud itu kisah\u00a0<\/b><b>fiktif atau real?<\/b><\/p>\n<p>Untuk menjawabnya,\u00a0\u00a0\u00a0ada hal-hal yang perlu dijelaskan terlebih dahulu bahwa perintah sujud itu tidak mungkin sebuah perintah yang hakiki sebab ada dua jenis perintah pertama perintah\u00a0<i>tarsyri\u2019i<\/i>\u00a0seperti \u201c<i>Dan rukulah bersama orang-orang yang ruku<\/i>! (Qs.\u00a0Al-Baqarah [2]: 43)\u00a0dan kedua perintah takwini, seperti \u201c<i>Datanglah kamu berdua menurut perintah-Ku dengan patuh atau terpaksa,\u201d Keduanya menjawab, \u201cKami datang dengan patuh,\u201d<\/i><i>\u00a0<\/i>(Qs. Fushshilat [41]:11) dua perintah ini adalah dua perintah yang tidak dapat dihindari.\u00a0<i>\u201c<\/i><i>Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, \u201cJadilah!\u201d Maka terjadilah ia.\u201d<\/i>\u00a0(Qs.\u00a0Yasin [36]:82)<\/p>\n<p>Menukil sabda Imam Ali bahwa firman Allah Swt itu, bukanlah suara atau sahutan yang terdengar bunyinya, melainkan\u00a0<i>khalq<\/i>\u00a0dan\u00a0<i>ijad<\/i>\u00a0(penciptaan).<\/p>\n<p>Dan kedua perintah itu sulit terjadi dalam kisah iblis, sebab jika itu takwini maka artinya sujud tidak boleh dilanggar sebab perintah takwini artinya perintah yang berurusan dengan penciptaan (<i>khalq<\/i>\u00a0dan\u00a0<i>I\u2019j\u00e2d<\/i>) adalah perintah yang pasti terlaksana. Adapun keberatan perintah itu\u00a0<i>tasyri<\/i><i>\u2019i<\/i>\u00a0karena malaikat bukan makhluk yang pantas mendapatkan perintah\u00a0<i>tasyri<\/i>. Makhluk-makhluk suci tidak mungkin melanggar perintah Allah, ketaatan adalah keniscayaan (<i>dharuri<\/i>) karena itu tidak ada pada tempatnya mengeluakan perintah dalam bentuk\u00a0<i>tasyri\u2019i<\/i>\u00a0terhadap mereka.<\/p>\n<p>Ada beberapa pendapat lain tentang hal tersebut :<\/p>\n<p>Pertama, bahwa perintah\u00a0<i>tasyri<\/i>\u00a0ini itu bisa berlaku untuk Iblis sebab ia adalah dari golongan jin dan ia juga seperti manusia mendapatkan taklif dari Tuhan.<\/p>\n<p>Kedua, Iblis dari golongan\u00a0jin.<\/p>\n<p>Ketiga, Iblis mendapatkan perintah\u00a0<i>tasyri\u2019i<\/i>\u00a0untuk sujud karena itu ia juga bisa melanggar atau mematuhinya.\u00a0Keempat, malaikat dan\u00a0Iblis sama-sama mendapatkan perintah sujud itu berlaku untuk malaikat dan juga untuk\u00a0Iblis<\/p>\n<p>Dengan keempat mukadimah itu bagaimana mungkin terjadi dua perintah yaitu bahwa yang satu perintah\u00a0<i>tasyrii<\/i>\u00a0untuk Iblis dan satu lagi perintah\u00a0<i>takwini<\/i>\u00a0untuk malaikat?<\/p>\n<p>Dalam menjawab pertanyaan ini harus dikatakan bahwa, Pertama, perintah itu pada awalnya hanya ditujukan untuk malaikat tapi kemudian Iblis juga dimasukan di dalamnya. Jadi hakikatnya bukan perintah\u00a0<i>tasyri\u2019i.<\/i><i><\/i><\/p>\n<p>Kedua,<i>\u00a0<\/i>adanya dugaan bahwa\u00a0Iblis mendapat perintah tasyri tidak mengubah perintah takwni itu menjadi perintah\u00a0<i>tasyri\u2019i<\/i>.<\/p>\n<p>Ketiga, adanya dua perintah terhadap\u00a0Iblis memerlukan dukungan argumen yang kuat \u2013 namun sebagian menyataka kemungkinan ada dua perintah itu dengan bersandar pada teks ayat\u00a0<i>idz ammartuka<\/i>.<\/p>\n<p>Keempat, adanya dua perintah karena ada perbedaan sasaran perintah juga memerlukan justifikasi dan sampai sekarang belum ada penjelasan seperti itu.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><b>Kesimpulan<\/b><\/p>\n<p>Atas dasar asumsi-asumsi di atas maka bisa disimpulkan bahwa perintah sujud itu bukan\u00a0<i>tasyri<\/i>\u00a0dan bukan\u00a0<i>takwini<\/i>\u00a0dan dan juga tidak mungkin bisa dibayangkan ada bentuk ketiga atau perintah lain karena kedua-duanya tidak bisa disatukan. Satu-satunya jalan adalah bahwa perintah sujud itu diinterpretasikan sebagai perintah tamtsil yaitu perintah dalam bentuk metaforis atau alegoris. Meskipun\u00a0<i>tamtsili<\/i>\u00a0(<i>alegoris<\/i>) bukan berarti perintah sujudnya tidak ada alias tidak real atau dengan artian itu adalah sebuah kenyataan dalam kategori akal yang diekspresikan dalam bahasa yang bisa dicerap inderawi. Seperti yang terjadi di dalam surah al-Hasyr perihal turunnya al-Quran di atas gunung yang berbunyi \u201c<i>Sekiranya kami menurunkan al-quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabka takut kepada Allah, Dan itu tamtsil (perumpaman-perumpamaan ) kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir\u00a0<\/i>(Qs. al-Hasyr [59]: 21).<a id=\"_ednref8\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa891#\">[8]<\/a><\/p>\n<p>Adanya perintah untuk besujud kepada Adam bukanlah perintah\u00a0<i>takwini<\/i>\u00a0dan juga bukan perintah\u00a0<i>tasyri\u2019i<\/i>\u00a0tapi sebuah\u00a0<i>tamtsil<\/i>\u00a0dari sebuah realitasnya yaitu maqam yang paling agung di dunia adalah maqam kemanusiaan (insaniah); deraja khalifatuLlah manusia , sehingga para malaikat bersujud sementara Iblis memberontaknya.\u00a0<a id=\"_ednref9\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa891#\">[9]<\/a><\/p>\n<p><b>\u00a0<\/b><\/p>\n<p><b>Tujuang penggunaan\u00a0<i>matsal<\/i>\u00a0dalam bahasa al-Qur\u2019an<\/b><\/p>\n<p>Pelbagai\u00a0<i>matsal<\/i>\u00a0\u00a0yang digunakan\u00a0dalam al-quran mengandung beberapa tujuan di antaranya yaitu :<\/p>\n<p>1.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Untuk memberi peringatan tentang kebenaran risalah para nabi;<\/p>\n<p>2.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Untuk menjadi bahan refleksi tentang segala sesuatu;<\/p>\n<p>3.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Untuk memahami segala sesuatu;<\/p>\n<p>4.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Dan tujuan-tujuan ini adalah fase-fase perjalanan kesempurnaan, pengetahuan dan persepsi manusia. Yang sudah disinyalir\u00a0di dalam surah Ibrahim ayat 25, surah Al-Hasyr ayat 21 dan surah al-\u2018Ankabut ayat 43.\u00a0<a id=\"_ednref10\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa891#\">[10]<\/a><\/p>\n<div>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<hr align=\"left\" size=\"1\" width=\"33%\" \/>\n<div id=\"edn1\">\n<p><a id=\"_edn1\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa891#\">[1]<\/a>. Sayid Ali Akbar Quraisyi,\u00a0<i>Qamus al-Quran<\/i>\u00a0klausul\u00a0<i>Iblis<\/i><\/p>\n<p><a id=\"_edn2\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa891#\">[2]<\/a>. Indeks: Syaitan, Malaikat atau Jin?, pertanyaan 857<\/p>\n<p><a id=\"_edn3\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa891#\">[3]<\/a>. Ayatullah Jawadi Amuli,\u00a0<i>Tasnim,\u00a0<\/i>jil. 3 , 318.<\/p>\n<p><a id=\"_edn4\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa891#\">[4]<\/a>.\u00a0<i>Ibid<\/i>, jil. 2, hal. 525.<\/p>\n<p><a id=\"_edn5\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa891#\">[5]<\/a>.\u00a0<i>Bih\u00e2rul Anw\u00e2r,\u00a0<\/i>\u00a0jil. 75, hal. 278<\/p>\n<p><a id=\"_edn6\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa891#\">[6]<\/a>.\u00a0<i>Tasnim<\/i>, jil. 2, hal. 509.<\/p>\n<p><a id=\"_edn7\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa891#\">[7]<\/a>\u00a0<i>Ibid<\/i>, hal. 231.<\/p>\n<p><a id=\"_edn8\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa891#\">[8]<\/a>. Ayatullah Abdullah Jawadi Amuli,\u00a0<i>Tafsir Mau\u2019dhui<\/i>, jil. 6, hal. 183.<\/p>\n<p><a id=\"_edn9\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa891#\">[9]<\/a>\u00a0Tamtsil itu dapat berlaku jika mendapat dukungan naqli dan akli , jadi akidah dan yang lain tidak dapat menjustifikasi adanya tamtsil.<\/p>\n<div class=\"short-answer clearfix\">\n<div class=\"full-answer clearfix\">\n<div id=\"A4_1\" class=\"quest-content\">\n<div>\n<div id=\"edn1\">\n<p><a id=\"_edn10\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa891#\">[10]<\/a>\u00a0Ayatullah Makarim Shirazi,\u00a0<i>Mitsalh\u00e2-ye Zib\u00e2-ye Qur\u2019\u00e2n<\/i>, hal. 15.<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<div class=\"related clearfix\"><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pertanyaan: Apakah kisah tentang keengganan Iblis untuk sujud itu memang suatu fakta atau hanyalah cerita fiktif? Jawaban: Salah<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":7521,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[1],"tags":[273],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6640"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6640"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6640\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7522,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6640\/revisions\/7522"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media\/7521"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6640"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6640"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6640"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}