{"id":6737,"date":"2018-05-07T22:20:14","date_gmt":"2018-05-07T15:20:14","guid":{"rendered":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/?p=6737"},"modified":"2018-05-07T22:20:14","modified_gmt":"2018-05-07T15:20:14","slug":"dr-muhsin-labib-toleransi-bukan-hanya-sikap-pragmatis-tapi-kesadaran-teologis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/2018\/05\/07\/dr-muhsin-labib-toleransi-bukan-hanya-sikap-pragmatis-tapi-kesadaran-teologis\/","title":{"rendered":"Dr. Muhsin Labib: Toleransi Bukan Hanya Sikap Pragmatis Tapi Kesadaran Teologis"},"content":{"rendered":"<p class=\"post-title entry-title\"><strong>ICC Jakarta &#8211;<\/strong> Ketua Komisi Bimbingan dan Dakwah Dewan Syura ABI, Dr. Muhsin Labib, MA menyampaikan bahwa toleransi bukan hanya sikap pragmatis tapi adalah bagian dari kesadaran teologis. \u201cSehingga kalau tidak toleran\u00a0 itu berarti menjadi Tuhan (menuhankan dirinya),\u201d kata beliau saat menyampaikan materi seminar \u201cMasa Depan Dunia Perspektif Agama-agama dalam Mewujudkan Keamanan Global\u201d, Sabtu (5\/5\/2018). Seminar yang diselenggarakan DPW ABI DKI Jakarta dalam rangka memperingati Milad Imam Mahdi Afs. itu juga menghadirkan tokoh lintas agama sebagai pembicara.<\/p>\n<div class=\"entry\">\n<p>Lebih lanjut, Dr. Muhsin Labib menjelaskan, toleransi adalah sebuah keharusan. Dalam rumah tangga, misalnya, suami-istri harus saling toleran. \u201cKita juga harus toleran terhadap keyakinan-keyakinan lain karena itu adalah hak setiap orang. Karena itu kami mengapresiasi dan bangga bisa menghadirkan tokoh-tokoh lintas agama duduk bersama,\u201d imbuhnya.<\/p>\n<p>Ketika berbicara tentang Mahdiisme menurutnya adalah pembicaraan yang sangat khas. Madiisme nuansanya lebih ke Islam tapi Mesianisme lebih ke agama Ibrahimik.<\/p>\n<p>Kalau dilihat lebih luas lagi, siapapun, perbedaan-perbedaan atau keyakinanan-keyakinan yang ada pasti ada benang merahnya dan itu membentuk identitas karena itu meskipun berbeda Agama, afiliasi politik, mazhab, tapi sebetulnya itu adalah perbedaan yang\u00a0<em>partikular<\/em>\u00a0karena ada persamaan-persamaan bersifat universal. Disebut berbeda karena ada kesamaannya.<\/p>\n<p>\u201cJadi beda dan sama itu adalah sebuah relasi niscaya, seperti atas dan bawah. Tidak disebut bawah kalau tidak ada atas, mungkin juga bisa disebut dengan syarat yang mesti. Karena itu, ketika kita berbicara perbedaan otomatis kita akan mencari kesamaan. Kesamaan yang paling besar kalau dihimpun oleh manusia itu ada dua bagian yaitu persamaan\u00a0<em>teologis<\/em>\u00a0pada prinsip ketuhanan dan persamaan\u00a0<em>eskatologis<\/em>, kesamaan dalam prinsip\u00a0<em>mabda\u2019<\/em>\u00a0dan kesamaan dalam prinsip\u00a0<em>ma\u2019ad<\/em>. Selebihnya itu adalah masalah penafsiran dan metode-metode penjabarannya,\u201d terang Dr. Muhsin Labib.<\/p>\n<p>Dr. Muhsin Labib melanjutkan bahwa tidak ada orang yang tidak menginginkan kesempurnaan. Bukan hanya keinginan, terkadang ketika kita tidak menginginkan itu tetapi naluri kita berproses ke arah itu karena manusia bergerak otomatis dari satu titik ke titik yang lainnya, bahkan sebenarnya yang bergerak bukan hanya manusia. Segala sesuatu itu bergerak, itulah yang membedakan kita dengan tuhan.<\/p>\n<p>\u201cSekarang kita membicarakan kesamaan. Konsekuensi dari keterbatasan (makhluk) adalah beragam. Yang tidak memiliki kesamaan dan tidak beragam hanya Tuhan, karena DIA tidak mempunyai sisi.\u201d tuturnya.<\/p>\n<p>Karena kesamaan dan perbedaan berarti keterbatasan, itu meniscayakan adanya pasangan. Bahwa sesuatu itu beriring, harmonis, saling menyempurnakan. Dan segala sesuatu di muka bumi ini berpasangan sebagaimana digambarkan dalam Al-Quran.<\/p>\n<p>Sesuatu yang dianggap sempurna itu bukan pada titik awal (tapi akhirnya berantakan) tapi juga ketersambungan hingga titik akhir.<\/p>\n<p>Pada prinsipnya setiap orang pasti meyakini titik awal. Penyebutan itu yang menjadi persoalan-persoalan di agama-agama atau organisasi keyakinan, tapi pada intinya setiap orang berangkat dari satu titik dan itu adalah definitas yang paling purba dan itu adalah kebertuhanan yang paling murni sebelum orang masuk dalam polemik-polemik apapun. Jadi bagian dari proses kita ini adalah kegelapan, kita ini mewakili ketidaktahuan, karena itu kita harus kembali ke satu titik dan titik akhir itu adalah yang kita sebut keyakinan\u00a0<em>eskatologis\u00a0<\/em>dan titik akhir itulah yang disebut harapan.<\/p>\n<p>Pembicaraan tentang\u00a0<a href=\"http:\/\/www.ahlulbaitindonesia.or.id\/berita\/?s=biografi+singkat+imam+mahdi\">Mahdiisme<\/a>\u00a0atau Mesianisme adalah pembicaraan tentang harapan. \u201cImam Mahdi atau Mahdiismi dalam ajaran Ahlulbait memiliki sisi keislaman karena semua mazhab meyakini. Dan Mahdiisme lebih kongkrit lagi dalam Syaih (Ahlulbait) itu bukan menunggu (berharap) tanpa kejelasan, tetapi secara filosofis kesempurnaan itu bermula dalam titik awalnya dan dalam prosesnya dan dalam akhirnya. Jadi kalau orang syiah meyakini\u00a0 Imam Mahdi telah lahir\u00a0semata-mata konsekuensi ketersambungan kesempurnaan yang tidak pernah putus.\u201d Pungkas Dr. Muhsin Labib. (MZ\/Ahlulbait Indonesia)<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ICC Jakarta &#8211; Ketua Komisi Bimbingan dan Dakwah Dewan Syura ABI, Dr. Muhsin Labib, MA menyampaikan bahwa toleransi<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":6738,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[4],"tags":[273],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6737"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6737"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6737\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6737"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6737"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6737"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}