{"id":6759,"date":"2018-05-09T16:27:05","date_gmt":"2018-05-09T09:27:05","guid":{"rendered":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/?p=6759"},"modified":"2018-05-09T16:27:05","modified_gmt":"2018-05-09T09:27:05","slug":"buah-istiqamah-atas-perbuatan-baik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/2018\/05\/09\/buah-istiqamah-atas-perbuatan-baik\/","title":{"rendered":"Buah Istiqamah Atas Perbuatan Baik"},"content":{"rendered":"<p><strong>ICC Jakarta &#8211;\u00a0<\/strong>Dalam literatur Ahlusunnah, berdasarkan riwayat dari Aisyah, disebutkan<strong>,\u00a0<\/strong>\u201cRasulullah Saw ditanya tentang amalan apakah yang paling dicintai di sisi Allah Swt?\u201d \u00a0Nabi Muhammad Saw menjawab, \u201cAmal (ibadah) yang dilakukan secara tetap meskipun sedikit.\u201d<a id=\"_ednref1\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id22474#\">[1]<\/a><br \/>\nTerdapat riwayat lainnya dengan kandungan yang sama dari Aisyah dari Rasulullah Swa, \u201cSebaik-baik amalan adalah amalan yang dilakukan secara berterusan.\u201d<a id=\"_ednref2\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id22474#\">[2]<\/a><br \/>\nKandungan riwayat ini juga dikutip dengan ragam judul dalam riwayat-riwayat Syiah. Riwayat-riwayat tersebut diterima yang akan kami sebutkan beberapa contoh di antaranya sebagai berikut:<\/p>\n<ol dir=\"ltr\">\n<li>Imam Sajjad As bersabda: \u201cSaya suka mengerjakan pekerjaan-pekerjaan dan dalam menjalankan amalan-amalan secara istiqamah dan berterusan.\u201d<a id=\"_ednref3\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id22474#\">[3]<\/a><\/li>\n<li>Imam Baqir As bersabda, \u201cAmalan yang paling dicintai di sisi Allah Swt adalah amalan yang saya lakukan berkelanjutan meski sedikit.\u201d<a id=\"_ednref4\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id22474#\">[4]<\/a><\/li>\n<li>Imam Shadiq As bersabda, \u201cUjilah Syiah kami dengan tiga hal; mengerjakan salat pada waktunya dan bagaimana mereka berterusan mengerjakan (salat di awal waktu), menjaga rahasia-rahasia kami dan bagaimana mereka menyembunyikanya dari musuh-musuh kami, menyalurkan bantuan harta kepada para saudaranya dan bagaimana mereka melaksanakannya.\u201d<a id=\"_ednref5\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id22474#\">[5]<\/a><\/li>\n<\/ol>\n<div dir=\"ltr\">Adapun yang dimaksud dengan tetap dan berterusan dalam amalan adalah bahwa apabila seseorang mengerjakan sebuah amal kebaikan seperti memulai salat awal waktu, kemudian ia berusaha secara perlahan dan berterusan menunaikan salat di awal waktu sehingga terbiasa dan lama kelamaan disebabkan oleh karena pengulangan dan latihan terus menerus maka ia akan beralih dari kondisi terbiasa menjadi tabiatnya secara inheren (<em>malakah<\/em>) dan menjadi karakter yang mendasar pada dirinya. Dan sebagai hasilnya ia tidak pernah merasa lelah melakukan hal ini, bahkan ia akan membiasakan dirinya seperti ini hingga akhir hayatnya.<br \/>\nPekerjaan kecil dan berterusan keuntungannya lebih banyak ketimbang manusia mengerjakan banyak pekerjaan seperti salat awal waktu, tidak tidur di antara dua waktu terbitnya matahari (<em>baina al-thulu\u2019ain<\/em>), salat malam, mengerjakan puasa sunnah dan seterusnya, semuanya dikerjakan pada satu waktu, namun amalan ini tidak berterusan dan berkelanjutan bahkan menjadi sebab ia jemu dan bosan bahkan terkadang menyebabkan ia putus asa dan meninggalkan amalan tersebut selamanya. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ali As dalam sabdanya, \u201cSedikit yang langgeng lebih baik daripada banyak yang membawa kesedihan.\u201d<a id=\"_ednref6\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id22474#\">[6]<\/a><\/p>\n<p><strong>Ketentuan Waktu Berterusan atas Amal Kebaikan<\/strong><br \/>\nNah, di sini mengemuka sebuah pertanyaan sebuah amal kebaikan sampai kapan harus dikerjakan sehingga disebut sebagai amalan tetap dan berterusan?<br \/>\nJawabannya adalah bahwa batas maksimal amalan disebut berterusan adalah keberlanjutan amalan tersebut hingga akhir hayat, namun secara lebih terbatas, minimal terdapat dua definisi terkait dengan berterusan pada riwayat sebagai berikut:<\/div>\n<ol dir=\"ltr\">\n<li>Amalan yang telah diputuskan untuk dikerjakan minimal harus berlanjut hingga satu tahun lamanya. Imam Shadiq\u00a0 As dalam hal ini bersabda, \u201cBilamana seseorang mengerjakan satu amalan maka ia harus melanjutkannya hingga satu tahun kemudian apabila ia ingin ia dapat berpindah kepada amalan lainnya; karena terdapat malam Qadar yang di dalamnya segala ketentuan dan kehendak Ilahi akan terrealisir yang berlangsung sekali setahun.\u201d<a id=\"_ednref7\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id22474#\">[7]<\/a><\/li>\n<li>Kemudian setelah memutuskan untuk berterusan atas sebuah amalan, jangan sampai setahun berlalu dan sekali waktu tidak dikerjakan. Dengan kata lain, di antara dua amalan jaraknya menjadi lebih dari satu tahun. Sebuah riwayat dari Imam Keenam As menyoroti masalah ini, \u201cJangan sampai kalian mewajibkan atas diri kalian sebuah amalan kemudian kalian tidak mengerjakannya satu tahun.\u201d<a id=\"_ednref8\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id22474#\">[8]<\/a><\/li>\n<\/ol>\n<div dir=\"ltr\">\n<strong>Hasil dan Kegunaan Berterusan atas Amal Kebaikan<\/strong><br \/>\nImam Ali As bersabda: Hasil dari berterusan dan istiqamah atas perbuatan baik bagi manusia berakal adalah:<\/div>\n<ol dir=\"ltr\">\n<li>Meninggalkan pekerjaan-pekerjaan buruk<\/li>\n<li>Jauh dari perbuatan bodoh<\/li>\n<li>Terhindar dari perbuatan dosa<\/li>\n<li>Menghasilkan yakin<\/li>\n<li>Cinta keselamatan<\/li>\n<li>Taat kepada Allah Swt<\/li>\n<li>Tunduk pada dalil dan argumen<\/li>\n<li>Jauh dari setan<\/li>\n<li>Menerima keadilan<\/li>\n<li>Suka berkata yang benar.<a id=\"_ednref9\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id22474#\">[9]<\/a><\/li>\n<\/ol>\n<div dir=\"ltr\">\nHasilnya ibadah tidak boleh dari sisi kuantitas dan kualitas sedemikian bertindak ekstrem sehingga menimbulkan kejemuan dan ditinggalkan secara keseluruhan. Sebaliknya alangkah lebih baik ibadah dikerjakan secara proporsional dan berterusan meski secara kuantitatif lebih sedikit.<br \/>\nMengutip Sa\u2019di dalam bahasa puitis nan indah:<br \/>\n<em>Orang yang berhasil melakukan perjalanan bukanlah sekali kencang dan sekali lelah<\/em><br \/>\n<em>Orang yang berhasil adalah yang pelan dan berkelanjutan.<\/em><\/div>\n<div dir=\"ltr\">\n<div><\/div>\n<hr align=\"left\" size=\"1\" width=\"33%\" \/>\n<div id=\"edn1\"><a id=\"_edn1\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id22474#\">[1]<\/a>. Muhammad Izzat Daruzah,\u00a0<em>al-Tafsir al-Hadits<\/em>, jil. 2, hal. 400-401, Kairo, Dar Ihyat al-Kitab al-\u2018Arabiyah, 1383 H.<br \/>\n\u00ab\u062d\u062f\u06cc\u062b \u0631\u0648\u0627\u0647 \u0627\u0644\u0634\u06cc\u062e\u0627\u0646 \u0648 \u0627\u0644\u062a\u0631\u0645\u0630\u06cc \u0639\u0646 \u0639\u0627\u0626\u0634\u0629 \u0642\u0627\u0644\u062a: \u00ab\u0625\u0646 \u0631\u0633\u0648\u0644 \u0627\u0644\u0644\u0651\u0647 \u0635 \u0633\u0626\u0644 \u0623\u06cc\u0651 \u0627\u0644\u0639\u0645\u0644 \u0623\u062d\u0628\u0651 \u0625\u0644\u0649 \u0627\u0644\u0644\u0651\u0647\u061f \u0642\u0627\u0644: \u0623\u062f\u0648\u0645\u0647 \u0648 \u0625\u0646 \u0642\u0644\u0651\u00bb<\/div>\n<div id=\"edn2\"><a id=\"_edn2\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id22474#\">[2]<\/a>. Ismail bin Amru, Ibnu Katsir Dimasyqi,\u00a0<em>Tafsir al-Qur\u2019an al-Azhim<\/em>\u00a0(Ibnu Katsir), Riset oleh Muhammad Husain Syamsuddin, jil. 8, hal. 265, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Mansyurat Muhammad Ali Baidhawi, Cetakan Pertama, 1419 H; Muhammad bin Ahmad Qurthubi,\u00a0<em>al-J\u00e2mi\u2019 Li Ahk\u00e2m al-Qur\u2019\u00e2n<\/em>, jil. 20, hal. 36-37, Tehran, Intisyarat Nashir Khusruw, Cetakan Pertama, 1364 S.<\/div>\n<div id=\"edn3\"><a id=\"_edn3\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id22474#\">[3]<\/a>. Muhammad Yakub Kulaini,\u00a0<em>K\u00e2fi,<\/em>\u00a0Riset dan edit oleh Ali Akbar Ghaffari dn Muhammad Akhundi, jil. 2, hal. 82, Tehran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Cetakan Keempat, 1407 H.<\/div>\n<div id=\"edn4\"><a id=\"_edn4\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id22474#\">[4]<\/a>.\u00a0<em>Ibid,<\/em>\u00a0jil. 2, hal. 82.<\/div>\n<div id=\"edn5\"><a id=\"_edn5\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id22474#\">[5]<\/a>. Syaikh Shaduq,\u00a0<em>al-Khish\u00e2l<\/em>, Riset dan edit oleh Ali Akbar Ghaffari, jil 1, hal. 103, Qum, Daftar Intisyarat Islami, Cetakan Pertama, 1362 S.<\/div>\n<div id=\"edn6\"><a id=\"_edn6\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id22474#\">[6]<\/a>. Muhammad bin Husain, Syarif al-Radhi,\u00a0<em>Nahj al-Bal\u00e2ghah<\/em>, Riset dan edit oleh Subhi Shaleh, hal. 525, Cetakan Pertama, Hijrat, Qum, 1414 H.<\/div>\n<div id=\"edn7\"><a id=\"_edn7\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id22474#\">[7]<\/a>.\u00a0<em>K\u00e2fi<\/em>, jil. 2, hal. 82.<\/div>\n<div id=\"edn8\"><a id=\"_edn8\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id22474#\">[8]<\/a>.\u00a0<em>K\u00e2fi<\/em>, jil. 2, hal. 83.<\/div>\n<div id=\"edn9\"><a id=\"_edn9\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id22474#\">[9]<\/a>. Hasan bin Ali, Ibnu Sya\u2019bah Harrani,\u00a0<em>Tuhaf al-\u2018Uqul<\/em>, Riset dan edit oleh Ali Akbar Ghaffari, al-Nash, hal. 17-18, Jamiah Mudarrisin, Cetakan Kedua, Qum, 1404 H.<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ICC Jakarta &#8211;\u00a0Dalam literatur Ahlusunnah, berdasarkan riwayat dari Aisyah, disebutkan,\u00a0\u201cRasulullah Saw ditanya tentang amalan apakah yang paling dicintai<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":6432,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[11],"tags":[273],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6759"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6759"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6759\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6759"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6759"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6759"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}