{"id":6890,"date":"2018-06-04T10:05:12","date_gmt":"2018-06-04T03:05:12","guid":{"rendered":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/?p=6890"},"modified":"2018-06-04T10:05:12","modified_gmt":"2018-06-04T03:05:12","slug":"rasionalitas-syiah-dalam-menangkal-terorisme","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/2018\/06\/04\/rasionalitas-syiah-dalam-menangkal-terorisme\/","title":{"rendered":"Rasionalitas Syiah dalam Menangkal Terorisme"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong>ICC Jakarta &#8211;<\/strong> Arif Mulyadi mendatangi saya di pojokan aula Islamic Cultural Center (ICC) begitu azan magrib terdengar sayup-sayup. Ia membawa tiga gelas air minum kemasan lalu menyodorkan kepada saya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cSilakan kalau mau membatalkan puasa dulu. Kalau kami nanti berbuka setelah gelap,\u201d kata Arif.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tafsir waktu magrib pemeluk Syiah memang berbeda dari patokan jam yang dipakai umat Suni di Indonesia. Mereka benar-benar menunggu ufuk timur gelap. Saat itulah mereka baru berbuka, lalu menunaikan salat magrib.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Setelah memberikan air minum, Arif kembali ke depan, duduk di tempatnya semula, mencermati lagi Alquran dan mengikuti bacaan qari.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ada sekitar empat puluhan orang yang menghadiri semaan Quran di aula itu. Semaan adalah membaca dan mendengarkan pembacaan Alquran. Kegiatan ini rutin dibikin penggiat ICC selama Ramadan. Mereka khusyuk mengikuti kegiatan itu di tengah puluhan kaligrafi yang yang dipajang pada dinding kiri dan kanan aula.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Salah satu kaligrafi yang mencolok bertuliskan\u00a0<i>Ya Aba Shalih Al-Mahdi.\u00a0<\/i>Kata Arif, kaligrafi itu adalah seruan tawasul kepada Imam Mahdi. Imam Mahdi memiliki kuniah (julukan) Abu Shalih. Julukan ini hal lazim di masyarakat Arab. Biasanya julukan itu bersandar pada anak tertua atau karena alasan lain.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Arif hanya satu dari 2,5 juta pemeluk Syiah di Indonesia. Di Indonesia, komunitas Syiah kerap menjadi target persekusi. Salah satu peristiwa yang mudah diingat adalah kasus di Sampang, Madura, pada akhir 2011 dan awal 2012. Di sana umat Syiah diusir dari kampung mereka. Meski demikian, umat Syiah lainnya tetap tenang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKami tidak akan terpancing. Kami melihat yang lebih penting, yaitu persatuan dan kebebasan beribadah,\u201d kata Arif.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sore itu yang mendapat giliran menjadi penceramah adalah Dr. Umar Shahab, salah satu pendiri ICC. ICC didirikan menjadi yayasan yang menjadi pusat kajian Syiah di Indonesia. Dalam ceramah malam itu, Umar menyinggung fungsi salat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cSalat itu supaya kita jauh dari perbuatan keji dan mungkar,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Usai ceramah, kata-kata itu kembali diucapkan Umar ketika berbincang bersama saya tentang pandangan Syiah terhadap terorisme.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cPada dasarnya salat itu untuk menjauhkan dari perbuatan seperti itu. Kalau ada orang salat, lalu mengebom gereja, ini bagaimana? Kami yakin tidak ada orang Syiah yang seperti itu,\u201d ucap Umar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Syiah dan Rasionalitas<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Keyakinan Umar bahwa pemeluk Syiah jauh dari aksi terorisme didasarkan pada cara Syiah memaknai Alquran dengan akal sehat. Dalam pandangan Syiah, akal menjadi bagian tak terpisahkan untuk memaknai Quran dan kebenaran. Bahkan akal, kata Umar, bisa berdiri sendiri untuk menentukan mana yang benar dan salah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cDalam teologi Ahlus-Sunnah Wal Jama&#8217;ah, akal tidak bisa berdiri sendiri, kebenaran hanya diketahui melalui wahyu. Syiah mengatakan akal mampu mengetahui kebenaran tanpa wahyu,\u201d ujar Umar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Cara berteologi ini yang membuat Syiah berbeda. Hal itu juga ditegaskan oleh Direktur Islamic Cultural Center, Dr. Abdul Majid Hakim Elahi, perwakilan Iran yang ditunjuk untuk mengurusi ICC sebagai pusat kegiatan Syiah di Indonesia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut Hakim, dalam Islam secara umum dibagi dalam tiga golongan. Pertama, golongan skripturalis yang &#8220;tidak menggunakan akal dan hanya bersandar pada teks&#8221; dalam memaknai ayat Quran. Golongan kedua adalah liberal yang &#8220;menafsirkan Quran seenaknya&#8221; dan cenderung lekat dengan &#8220;pemikiran Barat.&#8221; Golongan ketiga adalah yang menggunakan akal atau rasional untuk memahami Quran dan menjadikan akal sebagai &#8220;salah satu pilar dalam beragama.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cSyiah ada pada golongan ketiga. Maka, jangan heran kalau banyak pemikir, filsuf, ilmuwan dari Syiah. Dan Anda bisa lihat, dari golongan mana para teroris yang kini ada itu muncul? Dari golongan yang pertama, yang tidak menggunakan akal dalam beragama,\u201d jelas Hakim.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Rasionalitas beragama diwujudkan dengan memfokuskan gerakan Syiah dalam dunia pengetahuan dan pendidikan. Mereka sekolah untuk menjadi pemikir, akademisi, dan praktisi. Lainnya dengan menerbitkan buku-buku pemikiran Islam dan filsafat agama. Itu pula yang dilakukan oleh ICC di Indonesia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cTahun kemarin kami membuat seminar internasional di sini, dihadiri oleh ilmuwan Islam di seluruh dunia. Alhamdulillah, acara itu berjalan dengan lancar. Ini sumbangsih kami untuk dunia Islam,\u201d tambah Hakim. (Mawa Kresna\/tirto.id)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ICC Jakarta &#8211; Arif Mulyadi mendatangi saya di pojokan aula Islamic Cultural Center (ICC) begitu azan magrib terdengar<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":5333,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[14],"tags":[273],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6890"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6890"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6890\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6890"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6890"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6890"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}