{"id":6984,"date":"2018-07-10T06:00:04","date_gmt":"2018-07-09T23:00:04","guid":{"rendered":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/?p=6984"},"modified":"2018-07-10T06:00:04","modified_gmt":"2018-07-09T23:00:04","slug":"puasa-senin-kamis-menurut-pandangan-ahlul-bait","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/2018\/07\/10\/puasa-senin-kamis-menurut-pandangan-ahlul-bait\/","title":{"rendered":"Puasa Senin Kamis Menurut Pandangan Ahlul Bait"},"content":{"rendered":"<div dir=\"ltr\" style=\"text-align: justify;\"><strong>ICC Jakarta &#8211;<\/strong> Selain pada hari-hari: Idul Fitri, Idul Qurban dimana diharamkan berpuasa pada hari-hari itu, maka berdasarkan ketentuan umumnya, puasa pada hari-hari lain adalah mustahab. Tentu saja terdapat anjuran untuk berpuasa mustahab pada hari-hari tertentu.<br \/>\nDalam hal ini, terdapat riwayat-riwayat untuk berpuasa mustahab pada hari Senin dan Kamis pada bulan Sya\u2019ban. Nabi Muhammad Saw bersabda, \u201cAllah Swt akan mengabulkan hajat-hajat orang yang berpuasa pada hari Senin dan Kamis pada bulan Sya\u2019ban, 20 hajat dari hajat-hajat di dunia dan 20 hajat dari hajat-hajatnya di akhirat.\u201d<a id=\"_ednref1\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id23552#\">[1]<\/a><br \/>\nTerdapat juga riwayat-riwayat lain tentang dianjurkannya puasa pada hari Senin dan Kamis.<a id=\"_ednref2\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id23552#\">[2]<\/a><br \/>\nNamun terkait dengan puasa mustahab pada hari Senin dan Kamis selama satu tahun terdapat perbedaan pendapat.<br \/>\nAhlussunah berkeyakinan tentang puasa mustahab pada hari Senin dan Kamis dengan menyandarkan riwayat pada Nabi Muhammad Saw bahwa beliau berpuasa pada hari-hari Senin dan Kamis.<a id=\"_ednref3\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id23552#\">[3]<\/a>\u00a0Nabi Muhammad Saw bersabda, \u201cPada dua hari ini: Senin dan Kamis amalan manusia akan disetor kepada Allah Swt dan aku suka jika hari dimana amalan ini disetor, aku sedang berpuasa.<a id=\"_ednref4\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id23552#\">[4]<\/a><br \/>\nFukaha Ahlussunah berdasarkan hadis yang ada dalam literatur-literatur mereka, memberikan fatwa terhadap kemustahaban puasa secara mutlak pada setiap hari Senin dan Kamis.<a id=\"_ednref5\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id23552#\">[5]<\/a>\u00a0Beberapa fukaha Syiah juga menggunakan riwayat ini sebagai dalil untuk menyatakan bahwa puasa hari Senin dan Kamis itu mustahab.<a id=\"_ednref6\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id23552#\">[6]<\/a><br \/>\nTerdapat riwayat dari Imam Shadiq As yang menegaskan bahwa kejadian ini untuk jangka waktu yang terbatas.<br \/>\nNabi Muhammad Saw selalu berpuasa sehingga sebagian orang berkata, beliau selalu berpuasa. Kemudian beliau berpuasa selang sehari, lalu untuk beberapa lama berpuasa pada hari Senin dan Kamis setiap pekannya. Kemudian beliau kembali ke cara sebelumnya dan setiap bulannya, beliau berpuasa selama tiga hari yaitu pada hari Kamis pertama setiap bulannya, hari Rabu pada pertengahannya dan hari Kamis terakhir pada setiap bulannya.<a id=\"_ednref7\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id23552#\">[7]<\/a><br \/>\nSebagaimana yang telah dijelaskan bahwa riwayat tentang berpuasanya Nabi pada hari Senin dan Kamis dijadikan dalil bagi sebagian fuqaha Syiah untuk\u00a0 menfatwakan puasa mustahab pada hari Senin dan Kamis.<a id=\"_ednref8\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id23552#\">[8]<\/a>\u00a0Namun meskipun begitu, riwayat ini tidak dapat dijadikan dalil bagi mustahabnya puasa pada hari Senin dan Kamis.<br \/>\nPertama: Boleh jadi riwayat yang berasal dari Imam Ja\u2019far ini merupakan riwayat yang mengandung unsur taqiyah.<a id=\"_ednref9\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id23552#\">[9]<\/a><br \/>\nKedua, bahkan jika dalam masa Nabi, beliau berpuasa pada hari Senin dan Kamis, namun pada masa-masa selanjutnya cara ini telah diangkat\/ditiadakan. Oleh itu, tidak dapat dijadikan dalil bagi kemustahaban puasa pada hari Senin dan Kamis pada masa-masa selanjutnya.<a id=\"_ednref10\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id23552#\">[10]<\/a><br \/>\nSelain riwayat yang telah disebutkan, terdapat pula riwayat-riwayat lain yang sekiranya layak untuk diperhatikan:<br \/>\nZuhra pergi ke hadapan Imam Sajad As. Imam bertanya, \u2018Dari mana Anda?\u2019 Aku menjawab: \u2018Dari masjid.\u2019 Imam: \u2018Mereka membicarakan tentang hal-hal apa saja?\u2019 Aku menjawab: \u2018Tentang puasa, kemudian aku dan sahabat-sahabatku semuanya berkesimpulan bahwa tidak ada puasa wajib selain puasa pada bulan Ramadhan.\u2019 Imam bersabda: \u2018Wahai Zuhra! Tidaklah begitu. Kita memiliki 40 macam puasa dimana 10 darinya seperti puasa bulan Ramadhan, yaitu wajib. 10 macam puasa haram, dan 14 macam puasa: boleh berpuasa dan boleh berbuka seperti pada hari-hari: Jumat, Kamis, Senin, hari-hari baidh (hari-hari ke 13, 14 dan 15 dalam setiap bulannya) dan (seterusnya)\u2026.\u201d<a id=\"_ednref11\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id23552#\">[11]<\/a><br \/>\nNampaknya riwayat ini menerangkan tentang mubahnya puasa pada kedua hari itu, yaitu dengan menempatkan kedua hari itu di samping hari-hari lain yang diyakini secara penuh kemustahabannya. Kemungkinan ini diperkuat bahwa puasa pada kedua hari itu juga mustahab. Berdasarkan dalil ini, sebagian fukaha menggunakan dalil ini bagi kemustahaban puasa pada kedua hari itu.<a id=\"_ednref12\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id23552#\">[12]<\/a><br \/>\nJa\u2019far bin Isa menukil dari Imam Ridha tentang puasa hari Asyura. Beliau bersabda: Anda menanyakan tentang puasa yang dilakukan oleh anaknya Marjanah? (Kemudian Imam mengisyaratkan terhadap puasa hari Senin dan bersabda): \u201cHari Senin adalah hari naas karena hari itu merupakan hari dicabutnya nyawa Nabi oleh Allah Swt. Pada hari Senin, keluarga Muhamad ditimpa musibah yang sangat berat. Oleh itu, kami menilai hari itu sebagai hari yang sial. Namun para musuh mengambil berkah pada hari itu. Sesiapa yang berpuasa pada kedua hari itu (Senin dan Kamis) dan mengambil berkah kepada kedua hari itu, maka Allah akan menemuinya dengan pandangan yang buruk dan ia akan dibangkitkan bersama dengan orang-orang yang menilai bahwa berpuasa pada hari Senin dan Kamis itu merupakan anjuran.\u201d<a id=\"_ednref13\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id23552#\">[13]<\/a>\u00a0Sebagian fukaha dengan bersandar kepada riwayat ini berpendapat bahwa puasa pada hari Senin adalah makruh.<a id=\"_ednref14\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id23552#\">[14]<\/a><br \/>\nPada akhirnya, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa hukum makruh yang disebutkan berlawanan dengan pendapat masyhur dan kebanyakan fukaha tidak menerima hal itu.<a id=\"_ednref15\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id23552#\">[15]<\/a><br \/>\nRiwayat terakhir \u2013dengan asumsi diterima- berkaitan dengan pelaksanaan puasa jika disertai dengan niat bertabaruk. Hukum mustahab berpuasa pada kedua hari itu tidak disertai dengan dalil-dalil yang kuat. Jadi, puasa-puasa pada kedua hari itu termasuk dalam hari-hari yang dimustahabkan untuk berpuasa secara mutlak dan berpuasa pada hari-hari itu dari sisi kemutlakannya dapat dikatakan sebagai puasa mustahab. [iQuest]<\/div>\n<div dir=\"ltr\">\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<hr align=\"right\" size=\"1\" width=\"33%\" \/>\n<div id=\"edn1\" style=\"text-align: justify;\"><a id=\"_edn1\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id23552#\">[1]<\/a>\u00a0Sayid Ibnu Thawus, Radhi al-Din Ali,\u00a0<em>Al-Iqb<\/em><em>\u0101<\/em><em>l bil A\u2019m<\/em><em>\u0101<\/em><em>l Hasanah<\/em>, Riset: Qayumi Isfahani, Jawad, jil. 3, hal. 301, Qum, Daftar Tablighat Islami, Cet. 1, 1415.<\/div>\n<div id=\"edn2\" style=\"text-align: justify;\"><a id=\"_edn2\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id23552#\">[2]<\/a>\u00a0\u00a0Muhaqiq Sabzawari, Muhammad Baqir,\u00a0<em>Dzakhirah al-Ma\u2019<\/em><em>\u0101<\/em><em>d fi Syarh al-Irsy<\/em><em>\u0101<\/em><em>d<\/em>, jil. 2m hal. 518, Qum, Muasasah Ali al-Bayt (As), Cet. 1, 1247; Abu Bakar Baihaqi, Ahmad bin Husain,\u00a0<em>Sya\u2019b al-Im<\/em><em>\u0101<\/em><em>n<\/em>, Riset: Hamid, Abdul Ali Abdul Hamid, jil. 5, hal. 371, Riyadh, India, Maktabah al-Rasyd, Al-Dar al-Salafiyah, Cet. 1, 1423.<\/div>\n<div id=\"edn3\" style=\"text-align: justify;\"><a id=\"_edn3\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id23552#\">[3]<\/a>\u00a0Izadi, Sulaiman bin al-Asy\u2019ats,\u00a0<em>Sunan Abi Dawud<\/em>, Riset: Abdul Hamid, Muhammad Muhyiddin, jil. 2, hal. 325, Beirut, Al-Maktabah al-\u2018Asyariyah, tanpa tahun, Ahmad bin Muhammad bin Hanbal,\u00a0<em>Musnad al-Im\u0101m Ahmad bin Hanbal<\/em>, Riset: Syu\u2019aib al-Arnauth, Adil Mursyid, jil. 36, hal. 72, Beirut, Muasasah al-Risalah, Cet. 1, 1421.<\/div>\n<div id=\"edn4\" style=\"text-align: justify;\"><a id=\"_edn4\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id23552#\">[4]<\/a>\u00a0Abu Na\u2019im Isfahani, Ahmad bin Abdullah,\u00a0<em>Hiliyah al-Auliya wa Thabaq<\/em><em>\u0101<\/em><em>t al-Asyfiy<\/em><em>\u0101<\/em>, jil. 9, hal. 18, Mesir, Al-Sa\u2019adah, 1394, Nasai, Ahamd bin Syu\u2019aib bin Ali,\u00a0<em>Al-Sunan al-Kubra<\/em>, Riset: Syalabi, Hasan Abdul Mun\u2019im. Jil. 3, hal. 177, Beirut, Muasasah Al-Risalah, Cet. 1, 1421.<\/div>\n<div id=\"edn5\" style=\"text-align: justify;\"><a id=\"_edn5\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id23552#\">[5]<\/a>\u00a0Tanthawi, Khalidi, Muhammad Abdul Aziz,<em>\u00a0Khasyiyah \u2018ala Mar\u0101qil Falah Syarh Nur al-Aidh\u0101h,,\u00a0<\/em>jil. 1, hal. 639, Beirut, Dar Kitab al-Ilmiyah, cet. 1, 1418.<\/div>\n<div id=\"edn6\" style=\"text-align: justify;\"><a id=\"_edn6\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id23552#\">[6]<\/a>\u00a0Musawi Amili, Muhammad bin Ali,<em>\u00a0Mad\u0101rik al-Ahk\u0101m fi Syarh Syar\u0101i\u2019 al-Isl\u0101m,<\/em>\u00a0jil. 6, hal. 270, Beirut, Muasasah Ali al-Bayt As, Cet. 1, hal. 1411.<\/div>\n<div id=\"edn7\" style=\"text-align: justify;\"><a id=\"_edn7\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id23552#\">[7]<\/a>\u00a0\u00a0Kulaini, Muhammad bin Ya&#8217;qub,\u00a0<em>Al-K\u0101fi<\/em>, Riset: Ghifari, Ali Akbar, Akhundi, Muhammad, jil. 4, hal. 90, Tehran, Dar al-Kitab al-Islamiyah, Cer. 4, 1497; Syaikh Shaduq,\u00a0<em>Man L\u0101 Yahdhuruhu al-Faqih<\/em>, Riset: Ghifari, Ali Akbar, jil. 2, hal. 81, Qum, Daftar Intisyarat Islami, Cet. 2, 1413 dengan sedikit perbedaan dengan Humairi, Abdullah bin Ja\u2019far,<em>\u00a0Qurb al-Isn\u0101d<\/em>, hal. 90, Qum, Muasasah Ali Al-Bayt As, Cet. 1, 1413.<\/div>\n<div id=\"edn8\" style=\"text-align: justify;\"><a id=\"_edn8\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id23552#\">[8]<\/a>\u00a0\u00a0Allamah Hilli, Hasan bin Yusuf,\u00a0<em>Tadzkirah al-Fuq\u0101ha<\/em>, jil. 6, hal. 199, Qum Muasasah Ali al-Bayt As, Cet. 1, tanpa tahun.<\/div>\n<div id=\"edn9\" style=\"text-align: justify;\">9 Majlisi, Muhammad Taqi,\u00a0<em>Raudhah al-Muttaqin fi Syarh Man La Yahdhuruhu al-Faqih<\/em>, Riset: Musawi, Kermani, Sayid Husain, Isytihardi, Ali Panoh, Thabathabai, Sayid Fadhlullah, jil. 3, hal. 237, Qum, Muasasah Farhanggi Islami Kusyanpur, Cet. 2, 1406.<\/div>\n<div id=\"edn10\" style=\"text-align: justify;\"><a id=\"_edn10\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id23552#\">[10]<\/a>\u00a0\u00a0Menukil dari Allamah Thabathabai, Husain bin Yusuf,\u00a0<em>Mukhtalaf al-Syiah fi Ahk\u0101m al-Syariah,<\/em>\u00a0jil. 3, hal. 505, Qum, Daftar Intisyarati Islami Cet. 2, hal. 1413.<\/div>\n<div id=\"edn11\" style=\"text-align: justify;\"><a id=\"_edn11\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id23552#\">[11]<\/a>\u00a0Syaikh Saduq,\u00a0<em>Al-Khish\u0101l<\/em>, Riset: Ghifari, Ali Akbar, jil. 2, hal 534, Qum, Daftar Intisyarat Islami, cet. 1, 1362; Syaikh Thusi,<em>\u00a0Tahdzib ak-Ahk\u0101m<\/em>, Riset: Musawi Khurasan, Hasan, jil. 4, hal. 294, Tehran, Dar al-Kitab al-Islamiyah, cet. 4, 1407.<\/div>\n<div id=\"edn12\" style=\"text-align: justify;\"><a id=\"_edn12\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id23552#\">[12]<\/a>\u00a0\u00a0Allamah Hilli, Hasan bin Yusuf,\u00a0<em>Muntaha al-Matlab fi Tahqiq al-Madzhab,<\/em>\u00a0jil. 9, hal. 383, Masyhad, Majma; al-Buhuts al-Islamiyah, Cet. 1, hal. 1412.<\/div>\n<div id=\"edn13\" style=\"text-align: justify;\"><a id=\"_edn13\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id23552#\">[13]<\/a>\u00a0<em>K<\/em><em>\u0101<\/em><em>fi<\/em>, jil. 4, hal. 146.<\/div>\n<div id=\"edn14\" style=\"text-align: justify;\"><a id=\"_edn14\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id23552#\">[14]<\/a>\u00a0\u00a0Thabathabai, Hairi, Sayid Ali,\u00a0<em>Riy\u0101dh al-Mas\u0101il<\/em>. Jil. 1 hal. 327, Qum, Muasasah Ali al-Bayt, Cet. 1, 1418.<\/div>\n<div id=\"edn15\" style=\"text-align: justify;\"><a id=\"_edn15\" title=\"\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/id23552#\">[15]<\/a>\u00a0Majlisi Muhammad Baqir,\u00a0<em>Mir\u2019at al-uqul fi Syarh Akhb\u0101r Ali Rasul,<\/em>\u00a0Riset: Rasuli, Sayid Hasyim, jil. 16, hal. 361, Tehran, Dar al-Kitab al-Islamiyah, Cet. 2, hal. 1404.<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ICC Jakarta &#8211; Selain pada hari-hari: Idul Fitri, Idul Qurban dimana diharamkan berpuasa pada hari-hari itu, maka berdasarkan<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":6432,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[23],"tags":[273],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6984"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6984"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6984\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6984"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6984"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6984"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}