{"id":7361,"date":"2018-10-05T09:18:55","date_gmt":"2018-10-05T02:18:55","guid":{"rendered":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/?p=7361"},"modified":"2018-10-05T09:18:55","modified_gmt":"2018-10-05T02:18:55","slug":"mengqashar-shalat-merupakan-sebuah-pilihan-atau-sebuah-kewajiban","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/2018\/10\/05\/mengqashar-shalat-merupakan-sebuah-pilihan-atau-sebuah-kewajiban\/","title":{"rendered":"Mengqashar shalat merupakan sebuah pilihan atau sebuah kewajiban?"},"content":{"rendered":"<div class=\"short-question clearfix\">\n<div class=\"full-question clearfix\">Dengan memperhatikan ayat 101 surah al-Nisa (4) apakah dalam pandangan fikih Syiah, dengan memperhatikan pandangan Ahlusunnah bahwa memendekkan shalat itu dalam perjalanan (safar) itu adalah sebuah pilihan (rukhsah) atau kewajiban?<\/div>\n<\/div>\n<div class=\"short-answer clearfix\">\n<div class=\"full-answer clearfix\">\n<p class=\"plus-title\" style=\"text-align: justify;\">\n<div id=\"A4_1\" class=\"quest-content\">\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebelum menjawab pertanyaan Anda terlebih dahulu kami ingin jelaskan ayat terkait kemudian mengurai dan mengkajinya. Allah Swt dalam al-Qur\u2019an berfirman,\u00a0<i>\u201c<\/i><i>Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidak<\/i><i>\u00a0<\/i><i>berdosa\u00a0<\/i><i>kamu meng-<\/i>qashar<i>\u00a0salat(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir.<\/i><i>\u00a0<\/i><i>Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.<\/i><i>\u201d<\/i>\u00a0(Qs. Al-Nisa [4]:101)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Nampaknya sebab utama perbedaan dalam masalah ini terletak pada pengambilan kesimpulan dari kalimat \u201c<i>junah<\/i>\u201d yang disebutkan dalam ayat.\u00a0<span lang=\"ES-AR\">Karena itu, kiranya perlu kami mengelaborasi arti kalimat tersebut di sini.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><i><span lang=\"ES-AR\">Junah<\/span><\/i><span lang=\"ES-AR\">\u00a0secara leksikal bermakna dosa lantara dosa adalah penyimpangan dari kebenaran.<\/span><a id=\"_ednref1\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa8123#\">[1]<\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span lang=\"ES-AR\">Dengan memperhatikan makna \u201c<i>la junah<\/i>\u201d (tidak berdosa) sebagian ulama dari Ahlusunnah memandang boleh memilih (<i>rukhsah<\/i>) mengerjakan shalat\u00a0<i>qashar<\/i>\u00a0ketika seseorang berada dalam perjalanan. Lantaran al-Qur\u2019an menandaskan,\u00a0<i>\u201c<\/i><\/span><i>Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu meng-qashar salat(mu)<\/i><i><span lang=\"ES-AR\">\u201d<\/span><\/i><span lang=\"ES-AR\">\u00a0<i>Takhyiir\u00a0<\/i>(adanya pilihan) yang ditunjukkan oleh ayat ini adalah lebih kuat daripada ta\u2019yin (penetapan)\u00a0<i>qashar<\/i>. Karena kalimat negative (<i>laa junah<\/i>) tidak sepadan dengan kata wajib, mustahab dan mubah melainkan dengan kata\u00a0<i>marjuh<\/i>\u00a0(lebih dipilih).<\/span><a id=\"_ednref2\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa8123#\"><span style=\"color: #0000ff;\">[2]<\/span><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span lang=\"ES-AR\">Namun dengan memperhatikan ayat yang serupa yang menggunakan redaksi \u201claa junah\u201d maka hal itu menunjukkan adanya kewajiban (<i>wujub<\/i>). Demikian juga kalau kita perhatikan terdapat beberapa riwayat dari Ahlusunnah dan Syiah yang menyokong kewajiban shalat\u00a0<i>qashar<\/i>\u00a0dalam perjalanan (<i>safar<\/i>). Dari ayat di atas dapat disimpulkan bahwa ayat tersebut berada pada tataran menjelaskan inti pensyariatan shalat\u00a0<i>qashar<\/i>\u00a0bukan menjelaskan jenis hukum shalat\u00a0<i>qashar<\/i>. Oleh itu, ayat di atas tidak menunjukkan sama sekali adanya pilihan antara\u00a0<i>qashar<\/i>\u00a0dan\u00a0<i>itmam<\/i>.<\/span><a id=\"_ednref3\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa8123#\">[3]<\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span lang=\"ES-AR\">Sebagai contoh ayat<i>, \u201cInna al-Shafa wa al-Marwa min Sya\u2019airiLlah faman Hajja al-bait awi\u2019tamara fala junaha \u2018alaihhi an yathawwafa bihima waman tathawwa\u2019 khairan fainallah syakirum \u2018alaikum.\u201d<\/i><\/span><a id=\"_ednref4\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa8123#\"><i><b>[4]<\/b><\/i><\/a><i>\u00a0<\/i><span lang=\"ES-AR\">Secara lahir redaksi kalimat \u201c<i>la junah<\/i>\u201d menunjukkan adanya pilihan antara mengerjakan atau meninggalkan\u00a0<i>sa\u2019i<\/i>\u00a0antara Shafa dan Marwah, namun tidak seorang pun dari kaum Muslimin meyakini adanya pilihan terkait dengan sa\u2019i antara Shafa dan Marwah. Karena ayat ini berada pada tataran menjelaskan inti pensyariatan hukum untuk menghilangkan keburaman (<i>ibham<\/i>) ihwal tidak diwajibkannya masalah sai. Namun jenis hukum (kewajiban) dapat dipahami dari dalil-dalil lainnya.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span lang=\"ES-AR\">Banyak contoh dari kasus seperti ini yang dengan sendirinya kewajiban tidak dapat disimpulkan, melainkan dengan menggunakan ayat-ayat lainnya yang menandaskan bahwa banyak ayat-ayat al-Qur\u2019an yang berada pada tataran pensyariatan (tasyri\u2019). Seperti pada pensyariatan ayat-ayat jihad dimana Allah Swt berfirman, \u201c<i>dzalikum khairun lakum.\u201d<\/i>\u00a0<\/span>(Hal itu baik bagi kalian).<a id=\"_ednref5\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa8123#\">[5]<\/a>\u00a0Atau dalam pensyariatan puasa, Allah Swt berfirman,\u00a0<i>\u201cWa an tashumu khairun lakum.\u201d<\/i>\u00a0(Dan berpuasa itu baik bagi kalian).<a id=\"_ednref6\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa8123#\">[6]<\/a>\u00a0Demikian juga terkait dengan shalat qashar, Allah Swt berfirman, \u201c<i>falaisa \u2018alaikum junah an taqshuru min al-shalat.\u201d<\/i>\u00a0\u201cMaka tidaklah\u00a0kamu menyimpang jika kalian\u00a0meng-<i>qashar<\/i>salat(kalian)\u201d<a id=\"_ednref7\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa8123#\"><span style=\"color: #0000ff;\">[7]<\/span><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Fakhruddin Tharihi dalam hal ini berkata, \u201cLantaran kaum Muslimin meyakini bahwa hal ini (memendekkan shalat) tidak termasuk perbuatan dosa karena itu ayat menyatakan tidak ada dosa dalam perbuatan tersebut.\u201d<a id=\"_ednref8\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa8123#\"><span style=\"color: #0000ff;\">[8]<\/span><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span lang=\"ES-AR\">Ayat yang menjadi obyek bahasan juga demikian adanya. Artinya ia berada pada tataran menjelaskan inti pensyariatan bukan menjelaskan jenis hukum.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span lang=\"ES-AR\">Zamakhsyari berkata, \u201cLantaran masyarakat merasa senang dengan mengerjakan shalat secara sempurna (<i>tam\u00e2m<\/i>) maka boleh jadi dalam benak mereka bahwa apabila mereka mengerjakan shalat pendek (qashar) maka hal itu merupakan sebuah kekurangan. Karena itu, ayat menandaskan bahwa tidak ada dosa bagimu sehingga Anda merasa tenang ketika ingin mengerjakan shalat qashar.<\/span><a id=\"_ednref9\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa8123#\"><span style=\"color: #0000ff;\">[9]<\/span><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n<p style=\"text-align: justify;\"><b><span lang=\"ES-AR\">Beberapa Riwayat<\/span><\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span lang=\"ES-AR\">Termasuk kepastian sejarah fikih Islam bahwa shalat-shalat pertama-tama dikerjakan dalam bentuk pendek (qashar) yaitu dua rakaat-dua rakaat.<\/span><a id=\"_ednref10\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa8123#\"><span style=\"color: #0000ff;\">[10]<\/span><\/a><span lang=\"ES-AR\">\u00a0Demikian juga tidak diragukan bahwa shalat di negeri (watan) telah ditambahkan. Namun apakah shalat dalam perjalanan juga telah ditambahkan dua rakaat atau tidak? Di sini letak duduk persoalannya. Para juris Syiah dengan bersandar pada riwayat-riwayat yang dinukil dari para Imam Maksum As sepakat bahwa shalat dua rakaat telah disyariatkan. Dua rakaat lainnya yang ditambahkan pada shalat di negeri (watan). Namun tidak ada yang ditambahkan pada shalat dalam perjalanan, melainkan tetap dalam bentuknya yang pertama yaitu shalat\u00a0<i>qashar<\/i>.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n<p style=\"text-align: justify;\"><b><span lang=\"ES-AR\">Beberapa Riwayat dan Pandangan Fukaha Ahlusunnah<\/span><\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span lang=\"ES-AR\">Riwayat-riwayat yang dinukil melalui jalur Ahlusunnah dan pandangan fukaha mereka dalam masalah shalat musafir tidak satu.\u00a0<\/span>Sebagian menyokong pandangan Syiah. Artinya mereka meyakini bahwa shalat-shalat pertama tidak ditambahkan. Karena itu dalam perjalanan yang dikerjakan hanya shalat qashar. Namun sebagian lainnya memandang bahwa seseorang dalam perjalanan (safar) dapat memilih antara mengerjakan\u00a0<i>qashar<\/i>\u00a0atau melengkapkan shalat (<i>itmam<\/i>). Dalam beberapa literatur dari perawi yang berbeda dinukil bahwa shalat\u00a0<i>qashar<\/i>\u00a0telah disyariatkan dan shalat pada\u00a0<i>watan<\/i>\u00a0(negeri) telah ditambahkan dua rakaat. Adapun riwayat-riwayat terkait dengan shalat dalam perjalanan akan dibagi menjadi tiga bagian.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">1.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Riwayat-riwayat yang menjelaskan bahwa shalat qashar telah disyariatkan dan shalat ketika di watan telah ditambahkan. Namun tidak ada yang ditambahkan pada shalat dalam perjalanan, melainkan tetap pada kondisinya yang pertama yaitu dua rakaat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Muhammad bin Hasyim Ba\u2019labaki sesuai dengan nukilan dari Walid dari Abu Amru Awzai, dari Zuhra, yang bertanya tentang shalat Rasulullah Saw. Zuhra berkata, \u201cUrwah menukil dar Aisyah bahwa ia berkata, \u201cAllah Swt telah mewajibkan shalat bagi Rasulnya bahwa yang pertama dalam bentuk dua rakaat-dua rakaat kemudian shalat orang yang berada di negerinya (watan) ditambahkan dua rakaat. Adapun shalat dalam perjalanan ia tetap dalam kondisinya semula.<a id=\"_ednref11\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa8123#\"><span style=\"color: #0000ff;\">[11]<\/span><\/a>\u00a0Waki\u2019 berkata, \u201cHisyam bin Urwah menukil dari ayahnya dan ia dari Aisyah bahwa Aisyah berkata, \u201cTatkala shalat diwajibkan dalam bentuk dua rakaat-dua rakaat dan dua rakaat telah ditambahkan kepadanya. Sebagai kesimpulannya shalat bagi orang yang berada di negerinya (watan) adalah empat rakaat.<a id=\"_ednref12\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa8123#\"><span style=\"color: #0000ff;\">[12]<\/span><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ubaid dari Wiqa bin Ayyas dari Ali bin Rab\u2019i menukil bahwa Ali keluar kota untuk melakukan perjalanan dan ia mengerjakan shalat dua rakaat hingga ia kembali.<a id=\"_ednref13\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa8123#\"><span style=\"color: #0000ff;\">[13]<\/span><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n<p style=\"text-align: justify;\"><b>Utsman dan Shalat Empat Rakaat<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sufyan meriwayatkan dari Zuhra dari Amruh dari Aisyah: Shalat tatkala disyariatkan terdiri dari dua rakaat-dua rakaat yang [kemudian] shalat di negeri (watan) ditambahkan dua rakaat. Shalat dalam perjalanan tetap pada kondisinya semula. Zuhra berkata, \u201cAku bertanya kepada Amruh lantas mengapa Aisyah mengerjakan shalatnya secara sempurna ketika ia dalam perjalanan (safar)?\u201d Ia berkata, \u201cIa melakukan takwil sebagaimana takwil yang dilakukan Utsman.\u201d Sebagai kelanjutan hadis disebutkan, \u201cHadis ini secara lugas adalah hadis Syafi\u2019i dan Muslim dalam Shahihnya meriwayatkan dari Ali bin Khusyram dan Bukhari juga meriwayatkan dari Abdullah bin Muhammad dari Sufyan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Muhammad bin Abdullah Hafizh berkata, \u201cAbul Fadhl Muhammad bin Ibrahim mengabarkan kepada kami bahwa Ahmad bin Salmah dari Qutaibah bin Sa\u2019id dari Abdul Wahid bin Ziyad dari A\u2019masy dari Ibrahim meriwayatkan bahwa Aku mendengar dari Abdurrahman bin Yazid berkata, \u201cKami mengerjakan shalat empat rakaat di Mina dan Utsman sebagai imamnya.\u201d Kisah ini saya ceriterakan ke Abdullah bin Mas\u2019ud dan ia menyampaikan kalimat\u00a0<i>istirja<\/i>\u00a0(<i>inna lillahi wa inna ilaihi raji\u2019un<\/i>) dan kemudian berkata, \u201cKami mengerjakan shalat-shalat kami dua rakaat di Mina bersama Rasulullah Saw. Setelah Rasulullah Saw, kami shalat bersama Abu Bakar dan setelahnya bersama Umar dua rakaat di Mina.\u201d Diriwayatkan dari Abdurrahman bin Yazid, Utsman mengerjakan shalat empat rakaat di Mina dan Abdullah bin Mas\u2019ud berkata, \u201cKami mengerjakan shalat kami dua rakaat-dua rakaat bersama Rasulullah Saw di Mina. Setelah Rasulullah Saw, kami mengerjakan shalat dua rakaat-dua rakaat di Mina bersama Abu Bakar dan Umar. Diriwayatkan dari Hafsh: Dan kami (shalat) shalat dua rakaat-dua rakaat di Mina bersama Utsman pada masa awal-awal kekhalifaannya kemudian ia menambahkan dua rakaat padanya.<a id=\"_ednref14\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa8123#\"><span style=\"color: #0000ff;\">[14]<\/span><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">2.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Sebuah riwayat menyatakan bahwa shalat telah disyariatkan dalam bentuk dua rakaat kemudian shalat (dalam perjalanan atau berada di negeri [watan], tidak disebutkan) ditambahkan dua rakaat padanya. Seperti riwayat ini, Ubaidah menukil dari Daud bin Abi Hind dari Syu\u2019ba: \u201cShalat pada mulanya dalam bentuk dua rakaat. Dua rakaat (yang kemudian) diwajibkan. Tatkala Rasulullah Saw datang ke Madinah masing-masing dua rakaat ditambahkan padanya selain shalat Maghrib (yang tidak terdiri dari dua rakaat).<a id=\"_ednref15\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa8123#\"><span style=\"color: #0000ff;\">[15]<\/span><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dua riwayat kendati nampak bertentangan satu dengan yang lain akan tetapi mengingat riwayat pertama tergolong riwayat khusus dan riwayat kedua adalah riwayat umum. Dengan demikian \u2013 kaidah pasti ilmu Ushul yang menyatakan bahwa\u00a0<i>zhuhur khas<\/i>\u00a0(khusus) lebih kuat daripada\u00a0<i>zhuhur am<\/i>(umum) \u2013 riwayat kedua mengalami\u00a0<i>takhsish<\/i>\u00a0(pengkhususan) oleh riwayat pertama dan sebagai hasilnya makna riwayat seperti ini: Bertambahnya dua rakaat pada shalat pada kondisi bermukim (<i>hadhar<\/i>) bukan pada kondisi safar (dalam perjalanan). Artinya shalat pada saat berada di negerinya (<i>watan<\/i>) telah ditambahkan dua rakaat (menjadi empat rakaat).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">3.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Riwayat-riwayat yang menyebutkan, shalat dua rakaat yang telah disyariatkan dan ditambahkan dua rakaat pada shalat ketika bermukim. Demikian juga terkait dengan shalat dalam perjalanan ditambahkan dua rakaat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Husain bin Ismail meriwayatkan dari Ahmad bin Muhammad Tab\u2019i dari Qasim bin Hakam dari \u2018Ala bin Zuhair dari Abdurrahman bin Aswad dari Aisyah, \u201cAku bersama Rasulullah Saw menjalankan amalan-amalan umrah. Rasulullah Saw menunaikan shalat\u00a0<i>qashar<\/i>. Namun aku mengerjakannya dengan lengkap. Rasulullah Saw berbuka puasa namun aku (tetap) berpuasa. Tatkala sampai di Mekkah aku berkata, \u201cWahai Rasulullah. Semoga ayah dan ibuku menjadi tebusanmu. Anda memendekkan shalat namun aku menyempurnakannya.\u00a0<span lang=\"ES-AR\">Anda berbuka puasa namun aku berpuasa. Rasulullah Saw bersabda, \u201c<i>Ahsanti Ya Aisyah<\/i>..\u201d (Anda telah melakukan perbuatan yang baik) dan beliau tidak mengkritikku.\u201d<\/span><a id=\"_ednref16\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa8123#\"><span style=\"color: #0000ff;\">[16]<\/span><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span lang=\"ES-AR\">Namun hadis ini sesuai dengan penegasan sebagian (ulama) Ahlusunnah adalah hadis dusta dan sama sekali tidak memiliki nilai.<\/span><a id=\"_ednref17\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa8123#\"><span style=\"color: #0000ff;\">[17]<\/span><\/a><span lang=\"ES-AR\">\u00a0Lantaran tidak mungkin Aisyah mengerjakan shalatnya dengan sempurna bertentangan dengan Rasulullah dan ia tidak bertanya sesuatu kepada Rasulullah Saw hingga sampai di Mekkah.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n<p style=\"text-align: justify;\"><b><span lang=\"ES-AR\">Shalat Rasulullah Saw, Khalifah Pertama dan Khalifah Kedua dalam Perjalanan<\/span><\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span lang=\"ES-AR\">Ibnu Alaih meriwayatkan dari Ali bin Zaid dari Abi Nadhrah, Imran bin Hushain datang ke majelis kami. Seorang pemuda dari orang-orang yang hadir berdiri dan bertanya tentang shalat Rasulullah Saw pada haji, perang dan umrah. Kemudian Imran mendekat dan berdiri di hadapan kami. Ia berkata, \u201cPemuda ini bertanya kepadaku dan aku ingin kalian juga mendengarkannya. Aku tidak mengerjakan shalat bersama Rasulullah Saw pada perang kecuali dua rakaat hingga kami kembali ke Madinah. Aku bersama Rasulullah Saw menunaikan haji, beliau menunaikan seluruh shalat-shalatnya dua rakaat hingga kembali ke Madinah. Pada peristiwa Fathu Mekkah Rasulullah Saw bermukim delapan belas malam di Mekkah. Beliau tidak menunaikan shalat kecuali dua rakaat-dua rakaat dan bersabda kepada orang-orang Mekkah: Anda kerjakan shalat empat rakaat dan aku (yang memendekkannya) adalah seorang musafir. Aku mengerjakan tiga umrah bersama Rasulullah Saw namun Rasulullah Saw tidak menunaikan shalat kecuali dua rakaat-dua rakaat hingga kembali ke Madinah. Aku melakukan haji dengan Abu Bakar, berperang di sampingnya, namun ia juga mengerjakan shalat dua rakaat-dua rakaat hingga ia kembali ke Madinah. Aku mengerjakan haji bersama Utsman sebanyak tujuh kali pada masa khilafahnya. Namun ia juga tidak mengerjakan shalat kecuali dua rakaat namun setelahnya di Mina ia mengerjakan shalat-shalatnya empat rakaat.<\/span><a id=\"_ednref18\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa8123#\"><span style=\"color: #0000ff;\">[18]<\/span><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n<p style=\"text-align: justify;\"><b>Alasan Shalat-shalat Empat Rakaat Khalifah Ketiga dalam Perjalanan<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">1.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Ayyub dan Baihaqi dalam mengemukakakan alasan shalat-shalat empat rakaat Khalifah Ketiga berkata, \u201cAlasan mengapa Utsman menyempurnakan shalatnya di Mina lantaran kaum Muslimin Badui banyak yang hadir karena itu ia ingin mengajarkan kepada mereka shalat empat rakaat. Hasani meriwayatkan dari Abdurrahmna bin Hamid dari ayahnya bahwa tatkala Utsman bin Affan menyempurnakan shalatnya di Mina ia menyampaikan khutbah kepada masyarakat. Utsman berkata, \u201cAyyuhannas! Sunnah (pada shalat) adalah sunnah Rasulullah, Khalifah Pertama dan Khalifah Ketiga. Namun tahun ini muncul masalah baru dan aku takut orang-orang memandang shalat (dua rakaat-dua rakaat) ini sebagai sunnah.\u201d Namun alangkah baiknya sekiranya Khalifah Ketiga juga seperti Rasulullah Saw kepada penduduk Mekkah dan lainnya yang bersabda, \u201cAnda kerjakan empat rakaat dan saya (yang mengerjakan qashar) adalah musafir.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">2.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Yunus menukil dari Zuhra: Lantaran Utsman mengambil uang dari Thaif dan bermaksud untuk bermukim maka ia mengerjakan shalat dengan sempurna. Demikian juga Mughira menukil dari Ibrahim: Utsman mengerjakan shalat empat rakaat lantaran ia ingin menjadikan tempat itu sebagai kediamannya (watan).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n<p style=\"text-align: justify;\"><b>Riwayat Syiah<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Zurarah dan Muhammad bin Muslim berkata aku berkata kepada Imam Baqir As: Bagaimana pendapat Anda terkait dengan shalat dalam perjalanan? Bagaimana dan berapa rakaat jumlahnya? Imam Baqir As bersabda, \u201cAllah Swt berfirman, \u201c<i>Wa idza dharabtum fi al-ardh\u2026<\/i>\u201d\u00a0<i>\u201c<\/i><i>Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu meng-qashar salat(mu)<\/i><i>\u201d\u00a0<\/i>Karena itu wajib memendekkan (<i>qashar<\/i>) shalat dalam perjalanan sebagaimana wajib hukumnya menyempurnakan shalat tatkala berdiam di suatu tempat.\u00a0<span lang=\"ES-AR\">Zurarah dan Muhammad bin Muslim berkata: Kami berkata, \u201cAllah Swt berfrirman \u201c<i>Tiada (dosa dan) kesusahan..\u201d\u00a0<\/i>(laa junahun) dan tidak berfirman, \u201cHendaknya kalian..\u201d Artinya Allah Swt tidak menggunakan kata perintah supaya memendekkan shalat yang menunjukkan kewajiban meng-<i>qashar<\/i>&#8211; shalat. Lalu bagaimana ayat ini dapat dijadikan sebagai dalil\u00a0<i>qashar<\/i>\u00a0dan memendekkan shalat sebagaimana menyempurnakan shalat tatkala bermukim di suatu tempat? Imam Baqir As bersabda, \u201cBukankah Allah Swt terkait dengan sai antara Shafa dan Marwah berfirman,\u00a0<i>\u201cFaman hajja al-bait awi\u2019 tamara fala junaha \u2018alaihi an yathwwafa bihima..<\/i>\u201d.. Tidakkah kalian perhatikan bahwa sai antara Shafa dan Marwa adalah amalan yang wajib dikerjakan. Karena Allah Swt dalam Kitab-Nya menyebutkan dan Rasulullah-Nya menjelaskan dan mengamalkan ayat sai antara Shafa dan Marwah. Dengan demikian memendekkan shalat dalam perjalanan merupakan sebuah amalan yang dipraktikan Rasulullah Saw dan Allah Swt menggunakan lafaz tersebut dalam Kitab-Nya. Rasulullah Saw melakukan perjalanan ke daerah Dzi Khasyab<\/span><a id=\"_ednref19\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa8123#\"><span style=\"color: #0000ff;\">[19]<\/span><\/a><span lang=\"ES-AR\">\u00a0dan memendekkan shalat serta tidak berpuasa. Dan hal ini setelahnya menjadi sunnah\u2026<\/span><a id=\"_ednref20\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa8123#\"><span style=\"color: #0000ff;\">[20]<\/span><\/a>\u00a0<span lang=\"ES-AR\">Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa shalat itu pada mulanya dikerjakan dua rakaat-dua rakaat yang disyariatkan. Namun setelah itu shalat-shalat Dhuhur, Ashar, Isya ditambahkan dua rakaat pada seseorang yang berada di negerinya (watan). Dan tatkala kita sangsi antara banyak atau tidaknya shalat musafir maka yang\u00a0\u00a0\u00a0menjadi pokok adalah tidak banyak.\u00a0<\/span>[IQuest]<\/p>\n<hr align=\"right\" size=\"1\" width=\"33%\" \/>\n<div>\n<p id=\"edn1\" style=\"text-align: justify;\">\n<p><a id=\"_edn1\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa8123#\"><span style=\"color: #0000ff;\">[1]<\/span><\/a>. Fakhruddin Tharihi,\u00a0<i>Majma\u2019 al-Bahrain,<\/i>\u00a0Sayid Ahmad Husaini, jil. 2, hal. 346, Kitab Purusyi Murtadhawi, Teheran, 1375 S, Cetakan Ketiga.<\/p>\n<p><a id=\"_edn2\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa8123#\"><span style=\"color: #0000ff;\">[2]<\/span><\/a><span lang=\"ES-AR\">. Muhammad bin Ali Astarabadi,\u00a0<i>\u00c2y\u00e2t al-Ahk\u00e2m<\/i>, jil. 1, hal. 266, Maktabat al-Mi\u2019raji, Teheran, Cetakan Pertama.\u00a0<\/span><span lang=\"ES-AR\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><a id=\"_edn3\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa8123#\"><span style=\"color: #0000ff;\">[3]<\/span><\/a><span lang=\"ES-AR\">.\u00a0<\/span><span lang=\"ES-AR\">\u00a0<\/span><span lang=\"ES-AR\">Muhaddits Nuri,\u00a0<i>Mustadrak al-Was\u00e2il<\/i>, jil. 9, hal. 437, Muassasah Ali al-Bait, Qum, 1408 H. Namun hal ini disebutkan terkait dengan sai antara Shafa dan Marwah kemudian dicocokkan di sini.<\/span><\/p>\n<p><a id=\"_edn4\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa8123#\"><span style=\"color: #0000ff;\">[4]<\/span><\/a><span lang=\"ES-AR\">.\u00a0\u00a0(Qs. Al-Baqarah [2]:158)\u00a0<\/span><span lang=\"ES-AR\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><a id=\"_edn5\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa8123#\"><span style=\"color: #0000ff;\">[5]<\/span><\/a><span lang=\"ES-AR\">. (Qs. Al-Baqarah [2]:54)\u00a0<\/span><span lang=\"ES-AR\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><a id=\"_edn6\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa8123#\"><span style=\"color: #0000ff;\">[6]<\/span><\/a><span lang=\"ES-AR\">.\u00a0\u00a0(Qs. Al-Baqarah [2]:184)<\/span><\/p>\n<p><a id=\"_edn7\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa8123#\"><span style=\"color: #0000ff;\">[7]<\/span><\/a><span lang=\"ES-AR\">. Muhammad Husain Thabathabai,\u00a0<i>al-Mizan<\/i>\u00a0(terjemahan Persia), jil. 1, hal. 580, Daftar Intisyarat-e Islami Jame\u2019e Mudarrisin Hauzah Ilmiah Qum, Qum, 1374 S, Cetakan Kelima.<\/span><\/p>\n<p><a id=\"_edn8\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa8123#\"><span style=\"color: #0000ff;\">[8]<\/span><\/a>. Muhaddits Nuri,\u00a0<i>Mustadrak al-Wasail<\/i>, jil. 9, hal. 437.<\/p>\n<p><a id=\"_edn9\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa8123#\"><span style=\"color: #0000ff;\">[9]<\/span><\/a>. Abul Qasim Mahmud bin Amru bin Ahmad Zamakhsyari Jarallah,\u00a0<i>Al-Kasysy\u00e2f \u2018an Haq\u00e2iq Gaw\u00e2midh al-Tanz\u00eel<\/i>, jil. 1, hal. 454, Dar al-Kitab al-\u2018Arabi, Cetakan Ketiga, Beirut, 1407 H. Nashiruddin Abul Khair Abdullah bin Umar bin Muhammad Baidhawi,\u00a0<i>Anw\u00e2r al-Tanzil wa Asr\u00e2r al-Ta\u2019wil<\/i>, jil. 1, hal. 492, Dar Ihya al-Turats al-\u2018Arabi, Cetakan Pertama, Beirut, 1418 H. Sayid Ali bin Thawus Hilli,\u00a0<i>Tafsir Abi al-Su\u2019ud<\/i>,\u00a0<i>Sa\u2019d al-Su\u2019ud li al-Nufus Mandhud<\/i>, jil. 2, hal. 147, Muhammad Kazhim al-Katbi, Qum.<\/p>\n<p><a id=\"_edn10\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa8123#\"><span style=\"color: #0000ff;\">[10]<\/span><\/a>. Abu Abdurrahman, Ahmad bin Ali bin Syu\u2019aib bin Nasai Naisyaburi,\u00a0<i>Sunan Nas\u00e2\u2019i<\/i>, jil. 2, hal. 232, Hadis 490, Site al-Islam,\u00a0<a href=\"http:\/\/www.al-islam.com\/\"><span style=\"color: #0000ff;\">http:\/\/www.al-islam.com<\/span><\/a>\u00a0(Al-Maktabatu al-Syamilah). Ibnu Abi Syaibah,\u00a0<i>Mushannaf Ibnu Abi Syaibah<\/i>, jil. 2, hal. 337. Site Ya\u2019sub (Maktabatu al-Syamilah). Abu Ya\u2019la Mushili,\u00a0<i>Musnad Abi Ya\u2019la Mushili<\/i>, jil. 6, hal. 188. Thahawi,\u00a0<i>Musykil al-\u00c2ts\u00e2r<\/i>, jil. 9, hal. 272, Site al-Islam,\u00a0<a href=\"http:\/\/www.al-islam.com\/\"><span style=\"color: #0000ff;\">http:\/\/www.al-islam.com<\/span><\/a>\u00a0(Maktabatu al-Syamilah).<\/p>\n<p><a id=\"_edn11\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa8123#\"><span style=\"color: #0000ff;\">[11]<\/span><\/a>. Abu Abdurrahman, Ahmad bin Ali bin Syu\u2019aib bin Nasai Naisyaburi,\u00a0<i>Sunan Nasai<\/i>, jil. 2, hal. 232, Hadis 490.<\/p>\n<p><a id=\"_edn12\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa8123#\"><span style=\"color: #0000ff;\">[12]<\/span><\/a>.\u00a0\u00a0Ibnu Abi Syaibah Kufi,\u00a0<i>Mushannaf Ibnu Abi Syaibah<\/i>, jil. 2, hal. 337.<\/p>\n<p><a id=\"_edn13\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa8123#\"><span style=\"color: #0000ff;\">[13]<\/span><\/a><span lang=\"ES-AR\">. Ibid.\u00a0<\/span><span lang=\"ES-AR\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><a id=\"_edn14\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa8123#\"><span style=\"color: #0000ff;\">[14]<\/span><\/a>\u00a0<span lang=\"ES-AR\">. Baihaqi,\u00a0<i>Sunan Kubra<\/i>, jil. 3, hal. 143, Site\u00a0<\/span><a href=\"http:\/\/www.al-islam.com\/\"><span lang=\"ES-AR\"><span style=\"color: #0000ff;\">http:\/\/www.al-islam.com<\/span><\/span><\/a><span lang=\"ES-AR\">\u00a0(Maktabatu al-Syamilah).<\/span><\/p>\n<p><a id=\"_edn15\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa8123#\"><span style=\"color: #0000ff;\">[15]<\/span><\/a><span lang=\"ES-AR\">. Ibnu Abi Syaibah Kufi,\u00a0<i>Mushannaf Ibnu Abi Syaibah<\/i>, jil. 8, hal. 335. Baihaqi,\u00a0<i>Ma\u2019rifat al-Sunan wa al-Atsar<\/i>, jil. 2, hal. 352.\u00a0<\/span><a href=\"http:\/\/www.alsunnah.com\/\"><span lang=\"ES-AR\"><span style=\"color: #0000ff;\">http:\/\/www.alsunnah.com<\/span><\/span><\/a><span lang=\"ES-AR\">\u00a0(Maktabatu al-Syamilah), Thahawi,\u00a0<i>Musykil al-\u00c2ts\u00e2r<\/i>, jil. 9, hal. 272.\u00a0<\/span><span lang=\"ES-AR\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><a id=\"_edn16\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa8123#\"><span style=\"color: #0000ff;\">[16]<\/span><\/a><span lang=\"ES-AR\">. Daruquthni, Sunan Daruquthni, jil. 6, hal. 59, Site Kementrian Wakaf Mesir,\u00a0<\/span><a href=\"http:\/\/www.islamic-council.com\/\"><span lang=\"ES-AR\"><span style=\"color: #0000ff;\">http:\/\/www.islamic-council.com<\/span><\/span><\/a><span lang=\"ES-AR\">(Maktabatu al-Syamilah).<\/span><\/p>\n<p><a id=\"_edn17\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa8123#\"><span style=\"color: #0000ff;\">[17]<\/span><\/a><span lang=\"ES-AR\">. Muhammad Rasyid Ridha,\u00a0<i>Tafsir al-Qur\u2019an al-Hakim (Tafsir al-Manar)<\/i>, jil. 5, hal. 368 dan 370, Dar al-Ma\u2019rifah, Beirut, Libanon, Cetakan Kedua.\u00a0<\/span><span lang=\"ES-AR\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><a id=\"_edn18\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa8123#\"><span style=\"color: #0000ff;\">[18]<\/span><\/a><span lang=\"ES-AR\">. Ibnu Abi Syaibah Kufi,\u00a0<i>Mushannaf Ibnu Abi Syaibah<\/i>, jil. 2, hal. 337.\u00a0<\/span><span lang=\"ES-AR\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<div id=\"edn19\">\n<p style=\"text-align: justify;\"><a id=\"_edn19\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa8123#\"><span style=\"color: #0000ff;\">[19]<\/span><\/a><span lang=\"ES-AR\">. Tempat ini jaraknya satu hari perjalanan dari Madinah kira-kira dua puluh empat mil (delapan farsakh).\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a id=\"_edn20\" href=\"http:\/\/www.islamquest.net\/id\/archive\/question\/fa8123#\"><span style=\"color: #0000ff;\">[20]<\/span><\/a><span lang=\"ES-AR\">. Shaduq,\u00a0<i>Man L\u00e2 Yahdh\u00fbr al-Faqih<\/i>, jil. 1, hal. 434 &amp; 435, Intisyarat-e Jame\u2019e Mudarrisin, Qum, 1413 H. Terjemahan Ghaffari, jil. 2, bab shalat dalam perjalanan, hal. 110-112.<\/span><\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dengan memperhatikan ayat 101 surah al-Nisa (4) apakah dalam pandangan fikih Syiah, dengan memperhatikan pandangan Ahlusunnah bahwa memendekkan<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":4457,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[23],"tags":[273],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7361"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7361"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7361\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7361"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7361"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7361"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}