{"id":7811,"date":"2018-12-27T02:33:20","date_gmt":"2018-12-27T02:33:20","guid":{"rendered":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/?p=7811"},"modified":"2018-12-27T02:45:17","modified_gmt":"2018-12-27T02:45:17","slug":"mengapa-kita-perlu-mengenal-tuhan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/2018\/12\/27\/mengapa-kita-perlu-mengenal-tuhan\/","title":{"rendered":"Mengapa Kita Perlu Mengenal Tuhan?"},"content":{"rendered":"\n<p>ICC Jakarta \u2013 Manusia senantiasa berhadapan\ndengan pertanyaan-pertanyaan ontologis dan eksistensial tentang masalah\nketuhanan. Seiring dengan perjalanan hidup manusia pertanyaan ini senantiasa\nmengobsesi manusia untuk menemukan jawabannya. Menurut Anda mengapa manusia\nharus membahas masalah ketuhanan atau yang biasa disebut sebagai masalah\nmakrifatullah? <\/p>\n\n\n\n<p><strong>Jawaban<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Tidak akan ada gerak tanpa motivasi. Tentu saja upaya untuk mengetahui\nmasalah asal-usul keberadaan semesta juga tidak dapat terlaksana tanpa motivasi\ndan dorongan. Para filsuf dan ilmuwan menyebutkan tiga faktor fundamental dalam\nrangka mengenal Tuhan. Faktor tersebut senada dengan apa disinggung secara\njelas oleh al-Qur\u2019an, antara lain:<\/p>\n\n\n\n<ol><li>Motivasi\nAkal<\/li><li>Motivasi\nKasih<\/li><li>Motivasi\nFitri<\/li><\/ol>\n\n\n\n<p><strong>a.<\/strong> <strong>Motivasi Akal<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Setiap manusia pecinta kesempurnaan. Kecintaan ini\nbersifat substansial dan merata. Hanya saja, setiap orang melihat\nkesempurnaannya pada suatu hal tertentu, lalu mengusahakannya. Ada&nbsp; sekelompok orang yang, alih-alih mengejar\nair, mengejar kepuasan dan kesempurnaan semu serta mengira bahwa itu adalah\nrealitas.<\/p>\n\n\n\n<p>Motivasi ini kerap disebut sebagai \u201cnaluri mencari\nkeuntungan dan menghindari kerugian\u201d. Lantaran naluri ini, manusia melihat\ndirinya memiliki tugas untuk menyikapi secara serius hubungannya dengan segala\nhal yang bertalian dengan nasibnya (dari perspektif untung dan rugi). <\/p>\n\n\n\n<p>Akan tetapi,menyebut kecintaan ini sebagai naluri\n(<em>gharizah<\/em>) bukanlah suatu hal yang mudah, karena naluri biasanya\ndigunakan pada hal-hal yang memiliki efek tanpa intervensi pemikiran dalam\npelbagai perbuatan manusia atau segala makhluk lainya. Atas alasan ini, dalam\nurusan dunia fauna, istilah ini juga sering dipakai.<\/p>\n\n\n\n<p>Oleh karena itu, lebih baik kita menggunakan istilah\n\u201ckecendrungan-kecendrungan transendental\u201d yang digunakan oleh sebagian orang\ndalam masalah ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Secara umum, cinta pada kesempurnaan dan cenderung kepada\nkeuntungan spiritual dan material serta menghindar dari segala bentuk kerugian\nmengarahkan seseorang untuk meneliti kemungkinan (<em>ihtim\u00e2l<\/em>) diperoleh\natau tidaknya. Yakni, semakin kemungkinan memperoleh keuntungan itu kuat, atau\nsemakin terjadinya kerugian itu besar, penelitian atas masalah ini semakin\npenting.<\/p>\n\n\n\n<p>Adalah mustahil bagi seseorang yang memberikan\nkemungkinan tentang suatu perkara yang akan menentukan nasibnya, namun ia tidak\nmemandang dirinya bertanggung jawab untuk meneliti perkara tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam kategori ini, iman kepada Allah dan pengkajian\nagama merupakan perkara yang niscaya. Sebab, teks-teks agama banyak memuat\npersoalan nasib dan persoalan baik-buruk perilaku manusia yang berhubungan erat\ndengan iman.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam menjelaskan masalah ini, sebagian orang membawakan\nbeberapa perumpamaan. Misalnya, \u201cAnggaplah kita melihat seseorang yang berada\ndi persimpangan dua jalan. Kepada dirinya ia berkata, \u2018Tinggal di tempat ini\nsangat berbahaya, dan memilih jalan ini juga berbahaya, sedangkan jalan yang\nlain adalah jalan keselamatan.\u2019 Kemudian, ia menguraikan indikasi-indikasi dan\nbukti-bukti untuk keduanya. Tentu, ia perlu meneliti dua jalan di hadapannya\nitu. Mengabaikan kedua-duanya adalah bertentangan dengan akal sehat.\u201d<a href=\"#_ftn1\">[1]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Kaidah akal <em>\u201cmenghindari kerugian yang mungkin ada\u201d <\/em>yang\npopular ini merupakan turunan dari motivasi akal. Kepada Nabi saw., Al-Qur&#8217;an\nmenegaskan, <em>\u201cKatakanlah, \u2018Bagaimanakah pendapat Kamu seandainya Al-Qur\u2019an\nini berasal dari sisi Allah, kemudian Kamu mengingkarinya, siapakah yang lebih\nsesat dari orang yang selalu berada dalam penyimpangan yang jauh?\u2019\u201d<\/em> (Qs.\nFushshilat [41]: 52)<\/p>\n\n\n\n<p>Tentu saja, ayat ini tidak ditujukan kepada mereka yang\nenggan menggunakan argumentasi logis. Sejatinya, bila ayat ini ditujukan&nbsp; kepada orang-orang keras kepala, pongah, dan\nfanatik, maka ia menyatakan bahwa sekiranya Anda menolak mutlak akan kebenaran\nAl-Qur\u2019an, Tauhid dan adanya kehidupan setelah kematian (<em>ma&#8217;\u00e2d<\/em>), niscaya\ntidak ada argumentasi yang dapat menafikan semua kebenaran ini. Dengan\ndemikian, kemungkinan yang tersisa adalah bahwa ajakan Al-Qur\u2019an dan perkara\nhari kebangkitan sungguh sebuah kebenaran. Pada titik ini, pikirkanlah nasib\nburuk yang kelak akan Anda hadapi akibat kesesatan dan penentangan tak berdasar\nyang Anda lakukan terhadap ajakan Ilahi ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Pesan ayat ini serupa dengan apa yang disampaikan oleh\npara Imam Maksum a.s. dalam menghadapi orang-orang yang keras kepala pada\nkesempatan terakhir, sebagaimana hadis yang diriwayatkan dalam <em>Al-K\u00e2f\u00ee.<\/em>\nMarilah kita simak bersama! <\/p>\n\n\n\n<p>Banyak informasi yang telah disampaikan kepada Imam\nAsh-Shadiq a.s. tentang Ibn Abi Al-Aujah; seorang materialis dan ateis. Sampai\nakhirnya mereka bertemu di musim haji. Sebagian dari sahabat Imam berkata,\n\u201cRupanya Ibn Abi al-Aujah kini telah memeluk Islam&#8221;. <\/p>\n\n\n\n<p>Imam berkata, \u201cIa kini lebih gelap dan lebih buta\nhatinya. Ia tidak akan pernah menjadi Muslim&#8221;. <\/p>\n\n\n\n<p>Tatkala melihat Imam, ia berkata, \u201cSalam Sejahtera, wahai\nTuanku!\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Imam menjawab dengan melontarkan pertanyaan kepadanya,\n\u201cUntuk apa engkau datang kemari?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Ia menjawab, \u201cDi samping sudah menjadi kebiasaan kami,\njuga tradisi lingkungan menuntut demikian, aku hendak menyaksikan perbuatan\norang-orang ini yang biasa dilakukan oleh para jin; menggundul kepala dan\nmelempar jumrah.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Imam berkata, \u201cEngkau masih saja\ntetap sesat dan keras kepala,Wahai Abdul Karim.\u201d<a href=\"#_ftn2\">[2]<\/a> <\/p>\n\n\n\n<p>Sebelum Ibn Abi\nal-Aujah menjawab, Imam segera menukas, \u201cDi musim haji ini, bukanlah tempat\nuntuk berdebat!\u201d <\/p>\n\n\n\n<p>Lalu beliau menepikan <em>aba\u2019ah-<\/em>nya\nseraya berkata, \u201cjika benar&nbsp; seperti yang\nkau katakan bahwa Allah dan Hari Kiamat itu tidak ada -padahal tidaklah\ndemikian- maka di samping kami adalah orang-orang selamat, engkau juga\ndemikian. Namun, jika benar&nbsp; apa yang\nkami yakini -dan memang demikian kenyataannya- maka kami termasuk orang-orang\nselamat, sedangkan engkau pasti binasa.\u201d <\/p>\n\n\n\n<p>Ibn Abi al-Aujah menatap orang-orang\nyang menyertainya dan berkata, \u201cDi lubuk hatiku yang paling dalam aku merasakan\nluka. Bawalah aku kembali!\u201d Mereka membawanya pulang. Tidak lama setelah itu,\nia meninggal.<a href=\"#_ftn3\">[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p><strong>b.<\/strong> <strong>Motivasi Fitri<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Sebuah pepatah mengatakan, <em>\u201cAl-Ins\u00e2n\n&#8216;abidul ihs\u00e2n\u201d<\/em> (Manusia adalah hamba kebaikan). <\/p>\n\n\n\n<p>Dengan kandungan yang sama, Imam Ali\na.s. pernah berkata, <em>\u201cAl-Ins\u00e2n &#8216;abdul ihs\u00e2n\u201d <\/em>(Manusia adalah hamba\nkebaikan).<a href=\"#_ftn4\">[4]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Pada hadis lain, beliau juga\nmenegaskan, \u201c<em>Bil Ihs\u00e2n tumlakul qul\u00fbb\u201d<\/em> (Dengan perbuatan baik, hati akan\ntertaklukkan).<a href=\"#_ftn5\">[5]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Juga sebuah hadis yang dinukil dari\nImam Ali a.s. mengatakan: <em>\u201cWa afdhil man syi&#8217;ta takun am\u00eerah(u)\u201d<\/em>\n(Lakukan kebaikan kepada siapa saja, niscaya engkau menjadi tuannya).<a href=\"#_ftn6\">[6]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Akar dari semua pesan itu dapat\ndijumpai pada hadis Rasulullah saw., bahwa \u201cSesungguhnyaAllah Swt.\ntelah menjadikan hati takluk kepada siapa saja yang berbuat baik kepadanya dan\nmurka terhadap siapa saja yang berlaku buruk kepadanya.\u201d<a href=\"#_ftn7\">[7]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Kesimpulan dari semua itu ialah;\nbarangsiapa berbuat khidmat atau kebaikan kepada orang lain, niscaya ia\n(penerima kebaikan itu) memiliki kecendrungan untuk mengenal pelaku kebaikan\nitu dan berterima kasih kepadanya. Dan semakin tinggi nilai sebuah kebaikan,\nsemakin takluk pula hati penerima dan semakin tinggi keinginannya untuk\nmengenal pemberi kebaikan itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun, harus diperhatikan bahwa\nkonsep <em>\u201c<\/em>bersyukur kepada pemberi kebaikan&#8221; terlebih dahulu diakui\noleh rasa kasih, jauh sebelum dibenarkan oleh akal sehat.<\/p>\n\n\n\n<p>Kami ingin mengakhiri bagian ini\ndengan sebuah syair dari pujangga Arab ternama sebagai sebuah isyarat kecil;<\/p>\n\n\n\n<p><em>Berbuat baiklah kepada insan,<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Niscaya hati mereka\ntakluk kepada tuan,<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Demikianlah insan\nadalah budak ihsan.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Dalam hadis Imam al-Baqir a.s.\ndikatakan, \u201cPada suatu malam, Rasulullah saw. berada di rumah \u2018Aisyah. \u2018Aisyah\nbertanya kepada beliau, \u2018Mengapa Anda begitu bersusah-payah untuk beribadah\npadahal Allah Swt. telah mengampuni segala dosa Anda, baik yang telah terjadi\nmaupun yang akan datang?\u2019<a href=\"#_ftn8\">[8]<\/a> <\/p>\n\n\n\n<p>Nabi saw. menjawab, \u2018Apakah tidak\npantas aku menjadi hamba yang bersyukur?\u2019\u201d<a href=\"#_ftn9\">[9]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p><strong>c. Motivasi Kasih<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Maksud fitrah di sini ialah\nperasaan-perasaan dan pengetahuan jiwa yang tidak memerlukan penalaran\nrasional.<\/p>\n\n\n\n<p>Ketika kita melihat sebuah\npemandangan yang indah, atau sekuntum bunga yang semerbak mewangi dan warnanya\nyang mempesona, kita merasakan ketertarikan dan gairah di dalam diri kita.\nKetertarikan ini disebut sebagai kecintaan kepada keindahan. Kita tidak\nmemerlukan penalaran untuk mencntai keindahan ini. Ya, cinta keindahan adalah\nsatu dari sekian kecendrungan transendental jiwa manusia.<\/p>\n\n\n\n<p>Upaya mengarahkan diri kepada agama,\nkhususnya mengenal Tuhan, tidak hanya merupakan salah satu perasaan esensial (<em>dzati<\/em>)\ndalam relung jiwa manusia<strong>,<\/strong> tetapi juga sebagai salah satu dorongan yang\npaling kuat dalam fitrah dan jiwa seluruh manusia. <\/p>\n\n\n\n<p>Berdasarkan dalil ini, tidak satu\nkaum atau bangsa pun, di masa lalu atau kini, yang tidak menjadikan pikiran dan\nruh sebagai hakim atas jenis agama atau ideologi. Dan kenyataan ini menunjukkan\nkemendasaran perasaan mendalam ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Al-Qur\u2019an, ketika menuturkan\npengutusan nabi-nabi besar, seringkali menandaskan bahwa risalah utama mereka\nialah memerangi syirik dan penyembahan berhala, bukan membuktikan keberadaan\nTuhan, karena masalah terakhir ini memang telah tertanam di dalam lubuk hati\nsetiap manusia. Dengan kata lain, manusia tidak menuntut masalah ini untuk\nmenanamkannya pada setiap lubuk hati manusia. Akan tetapi, para nabi menuntut\nbagaimana menyirami pokok masalah itu dan membunuh hama dan belukar yang\nacapkali membuat kering dan layu pokok tersebut. <\/p>\n\n\n\n<p>Ungkapan <em>\u201call\u00e2 ta&#8217;bud\u00fb illall\u00e2h\u201d<\/em>\natau <em>\u201call\u00e2 ta&#8217;bud\u00fb ill\u00e2 iyy\u00e2h\u201d<\/em> (jangan sembah selain Allah) diterangkan\ndalam bentuk menegasikan berhala-berhala, bukan menetapkan keberadaan Tuhan.\nPelbagai ucapan para nabi tentang realita ini telah diuraikan dengan jelas di\ndalam Al-Qur\u2019an, di antaranya dakwah Nabi saw<a href=\"#_ftn10\">[10]<\/a>, Nabi Nuh<a href=\"#_ftn11\">[11]<\/a>, Nabi Yusuf<a href=\"#_ftn12\">[12]<\/a>, dan Nabi Hud<a href=\"#_ftn13\">[13]<\/a>.<\/p>\n\n\n\n<p>Terlepas dari semua ini, jiwa kita\nmemiliki perasaan-perasaan fitri lain yang sangat mendasar. Di antaranya,\nketertarikan yang luar biasa kepada pengetahuan.<\/p>\n\n\n\n<p>Apakah mungkin kita menyaksikan\nsistem menakjubkan di alam semesta yang luas ini tanpa kita terdesak untuk\nmengenal pencipta sistemnya?<\/p>\n\n\n\n<p>Apakah mungkin seorang ilmuwan yang\ntelah meluangkan waktu dan susah-payah selama puluhan tahun untuk mengenal\nkehidupan habitat semut, atau ilmuwan yang lainnya dengan cucuran keringat\ntelah menghabiskan waktu selama puluhan tahun untuk meneliti habitat burung,\npepohonan, atau ikan-ikan di laut, tanpa tersisa dorongan selain cinta terhadap\npengetahuan yang terpatri dalam lubuk hatinya? Apakah mungkin para ilmuwan ini\ntidak ingin mengenal sumber sejati samudera tak-bertepiini\nsemenjak <em>azal<\/em> (primordial) hingga <em>abad <\/em>(eternal)? Ketertarikan\nkepada pengetahuan adalah motivasi yang mengajak kita kepada <em>ma\u2019rifatull\u00e2h<\/em>\n(mengenal Tuhan). <\/p>\n\n\n\n<p>Alhasil, Akal kita menuntun kita\nkepada pengenalan kepada Tuhan ini, rasa kasih menarik kita kepada keinginan\nuntuk itu, dan fitrah kitalah yang mendorong kita bergerak ke arahnya.<a href=\"#_ftn14\">[14]<\/a><br><\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator\"\/>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref1\">[1]<\/a> <em>Tafsir Pay\u00e2m-e Qur\u2019\u00e2n<\/em>, jilid 2, hal. 24.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref2\">[2]<\/a> Abdul Karim adalah nama asli Ibn Abi al-Aujah. Karena ia\nmengingkari keberadaan Tuhan, Imam ash-Shadiq as secara khusus memanggilnya\ndengan nama demikian supaya membuatnya malu.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref3\">[3]<\/a> <em>Al-<\/em><em>K\u00e2f\u00ee,<\/em> jilid 1,\nhal. 61, kitab<em> at-Tauhid, <\/em>bab<em> Hud\u00fbts al-\u2018\u00c2lam<\/em>; <em>Tafsir Nem\u00fbnehh<\/em>,\njilid 20, hal. 325.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref4\">[4]<\/a> <em>Ghurar\nal-Hik\u00e2m<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref5\">[5]<\/a> <em>Idem<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref6\">[6]<\/a> <em>Bih\u00e2r al-Anw\u00e2r<\/em>, jilid 77, hal. 421, cetakan Akhundi.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref7\">[7]<\/a><em> Tuhaf al-Uq\u00fbl,<\/em> hal. 37, bagian hadis-hadis\nNabi saw.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref8\">[8]<\/a> Indikasi kepada ayat pertama surat <em>al-Fath<\/em> yang\ndapat dijumpai dengan gamblang pada <em>Tafsir Nem\u00fbneh<\/em>, jilid 22, hal. 18.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref9\">[9]<\/a> <em>Ush\u00fbl al-K\u00e2f\u00ee<\/em>, jilid 2, bab<em> Syukr<\/em>, hadis ke-6. <\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref10\">[10]<\/a> <em>QS. <\/em><em>Hud<\/em> [11] : 2. <\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref11\">[11]<\/a> <em>QS. Hud<\/em> [11] : 26.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref12\">[12]<\/a> <em>QS. Yusuf<\/em> [12] : 40.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref13\">[13]<\/a> <em>QS. al-<\/em><em>Ahqaf<\/em> [46] :\n21.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref14\">[14]<\/a> <em>Tafsir Pay\u00e2m-e Qur\u2019\u00e2n<\/em>, jilid 2 hal. 34.<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ICC Jakarta \u2013 Manusia senantiasa berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan ontologis dan eksistensial tentang masalah ketuhanan. Seiring dengan perjalanan hidup<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":7814,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[1],"tags":[322],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7811"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7811"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7811\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7812,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7811\/revisions\/7812"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media\/7814"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7811"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7811"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7811"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}