{"id":7816,"date":"2018-12-27T02:46:32","date_gmt":"2018-12-27T02:46:32","guid":{"rendered":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/?p=7816"},"modified":"2018-12-27T02:49:11","modified_gmt":"2018-12-27T02:49:11","slug":"agama-muncul-dari-ketakutan-ataukah-kebodohan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/2018\/12\/27\/agama-muncul-dari-ketakutan-ataukah-kebodohan\/","title":{"rendered":"Agama Muncul dari Ketakutan ataukah Kebodohan?"},"content":{"rendered":"\n<p>ICC Jakarta \u2013 Sebagian sosiolog berpendapat bahwa agama itu bersumber dari\nketakutan atau kebodohan. Karena terkadang manusia dihantui rasa takut ia\nkemudian mencari sandaran untuk keluar dari rasa takutnya itu. Atau karena\ntidak tahu menahu tentang fenomena-fenomena alam semesta sehingga dengan mudah\nmenjadikan agama sebagai sandaranya. Menurut Anda? <\/p>\n\n\n\n<p><strong>Jawaban<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Sebagian sosiolog dan psiko-analisis materialis Barat dan Timur bersikeras mengatakan bahwa sumber kemunculan agama dan ideologi terhadap <em>ma\u2019rifatull\u00e2h<\/em> berasal dari rasa takut dan kejahilan atau faktor-faktor lain yang termasuk dalam kategori ini. Pendapat seperti ini dapat disimpulkan dalam empat asumsi mendasar.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>a. Asumsi Kejahilan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Salah seorang sosiolog ternama\nmengatakan, \u201cMeskipun ilmu dan sains telah berhasil menyingkap pelbagai\nmisterius, namun betapa yang telah tersingkap itu masih kabur di balik tirai\nilmu, dan keperluan untuk memahami hal-hal misterius ini telah menyebabkan\nkemunculan agama.\u201d<a href=\"#_ftn1\">[1]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Salah seorang filsuf materialis\nmenambahkan bahwa tatkala manusia menatap kejadian-kejadian sejarah, dengan\nalasan yang sangat jelas mereka membayangkan bahwa ilmu (baca: sains) dan agama\nadalah dua musuh bebuyutan yang tidak dapat berdamai. Sebab, tatkala seseorang\nmeyakini hukum kausalitas, pada detik yang sama ia tidak dapat memberikan\npeluang kepada akalnya untuk membayangkan bahwa barangkali terjadi dalam\nlintasan peristiwa-peristiwa yang menciptakan rintangan dan kendala atas\nterjadinya sebuah peristiwa.<a href=\"#_ftn2\">[2]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Sederhananya, mereka hendak\nmengklaim bahwa ketidaktahuan manusia terhadap sebab-sebab alami telah\nmenyebabkannya berpikir akan adanya kekuatan di luar alam yang menciptakan dan\nmengatur semesta raya ini. Dengan demikian, tidak terungkapnya faktor dan\nsebab-sebab alami ini menjadi alasan baginya untuk meyakini keberadaan Tuhan\ndan agama.<\/p>\n\n\n\n<p>Kesalahan mendasar para penggagas\npendapat ini akan terlihat jelas melalui poin-poin berikut ini:<\/p>\n\n\n\n<p><strong><em>Pertama<\/em><\/strong>, mereka membayangkan bahwa beriman kepada keberadaan\nTuhan berarti mengingkari hukum kausalitas. Dan kita berlaku sebagai seorang\nhakim; apakah kita harus menerima sebab-sebab alami tersebut atau menerima\nkeberadaan Tuhan?<\/p>\n\n\n\n<p>Padahal dalam filsafat Islam,\nmeyakini hukum kausalitas dan menyingkap sebab-sebab alami merupakan salah satu\njalan yang terbaik untuk dapat mengenal Tuhan. <\/p>\n\n\n\n<p>Kita tidak pernah mengkaji Tuhan di\nantara ketakberaturan dan kejadian-kejadian yang tak jelas. Akan tetapi, kita\nmenemukan-Nya di antara keteraturan-keteraturan alam semesta. Karena, adanya\nketeraturan ini merupakan penanda jelas atas wujud satu Sumber Awal bagi alam\nsemesta dan wujud satu Kekuatan yang mengaturnya.<\/p>\n\n\n\n<p><strong><em>Kedua<\/em><\/strong>, mengapa mereka lalai bahwa sesungguhnya manusia\nsemenjak dahulu hingga hari ini melihat adanya sistem yang khas yang berlaku\natas jagad raya ini. Menafsirkan sistem ini dengan sebab-sebab irasional tidak\nmungkin dapat diterima. Dan mereka menganggap keutuhan sistem jagad raya ini\nsebagai pertanda wujud Tuhan. Akan tetapi, pada masa lalu, sistem ini tidak\nbanyak dikenal orang. Dan semakin maju ilmu-pengetahuan manusia, semakin ia\ndapat menyingkap seluk-beluk sistem jagad raya ini. Dengan demikian, ilmu dan\nkemahakuasaan Sumber Awal bagi keberadaan semesta ini akan semakin gamblang.<\/p>\n\n\n\n<p>Atas dasar ini, kita yakin bahwa\niman kepada keberadaan Tuhan dan agama relevan dengan kemajuan ilmu dan\npengetahuan. Dan setiap penemuan baru akan rahasia dan aturan-aturan jagad raya\nini merupakan&nbsp; langkah baru untuk\npengenalan yang semakin cermat terhadap Tuhan. Apa yang dapat kita lakukan hari\nini dalam rangka mengenal Tuhan tentu tidak pernah dikenal oleh manusia jaman\ndahulu, lantaran mereka tidak menikmati kemajuan ilmu pengetahuan.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>b. Asumsi Rasa Takut<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Will Durant, seorang sejarawan kenamaan Barat, di dalam\nbuku sejarahnya, ketika membahas \u201cSumber-sumber Agama\u201d, menukil pendapat\nLuctrius, seorang filsuf Romawi, bahwa rasa takut adalah ibu para dewa! Dan\nbagian rasa takut yang paling penting ialah rasa takut dari kematian. Atas\ndasar ini, manusia pertama tidak dapat meyakini bahwa kematian adalah satu\nfenomenaalam. Oleh karena itu, mereka senantiasa menganggap bahwa sebab\nmetafisislah yang menjadi penyebab kematian itu.<a href=\"#_ftn3\">[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Senada dengan teori di atas, B. Russel berkata, \u201cAku\nberasumsi bahwa sumber agama -sebelum segala sesuatunya- ialah rasa takut. Rasa\ntakut bersumber dari musibah-musibah alam, dari peperangan dan sebagainya. Rasa\ntakut dari pekerjaan-pekerjaan salah yang dilakukan manusia ketika syahwat\nmendominasi.\u201d<a href=\"#_ftn4\">[4]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Kekeliruan asumsi ini akan tampak jelas bila para\npendukung asumsi ini sepakat bahwa akar\nkeyakinan kepada Tuhan dan agama tidak memiliki dasar metafisis. Dan tentu saja, harus\nditemukan sebuah faktor di alam semesta ini. Sebuah\nfaktor yang akhirnya kembali kepada prasangka dan khayalan belaka. Oleh karena itu, mereka senantiasa melihatnya dalam\nkerangka cabang dan melupakan kerangka aslinya.<\/p>\n\n\n\n<p>Benar bahwa iman kepada Tuhan memberikan kekuatan\nspiritual dan ketenangan kepada manusia. Benar bahwa manusia akan bersikap\nprawira dalam menghadapi kematian dan berbagai peristiwa pelik yang dialaminya;\nterkadang berupa sikap pengorbanan. Akan tetapi, mengapa kita lupakan\nfaktor-faktor yang kerap hadir secara telanjang di hadapan mata manusia, yakni\nsistem semesta yang berlaku atas bumi dan langit ini, kehidupan flora dan\nfauna, dan keberadaan manusia? <\/p>\n\n\n\n<p>Dengan kata lain, meskipun manusia tidak memiliki ilmu\nanatomi dan fisiologi atau semisalnya, seketika mencermati struktur mata,\ntelinga, hati, tangan dan kakinya, ia akan melihatnya sebagai sebuah bangunan\nyang menakjubkan dan kokoh. Bangunan kokoh dan menakjubkan ini niscaya tidak\ndapat dimengerti bila bersumber dari gejala-gejala&nbsp; aksidental dan faktor-faktor yang tidak masuk\nakal. Sekuntum bunga, seekor lebah, matahari dan bulan dan alurnya yang tertata\napik serta fenomena-fenomena semesta lainnya merupakan contoh gamblang dari\nkenyataan itu.<\/p>\n\n\n\n<p>kenyataan ini senantiasa hadir di hadapan manusia\nsemenjak dulu hingga kini dan ia merupakan faktor utama adanya iman kepada\nTuhan. Lantaran melalaikan realitas nyata ini, akhirnya mereka mencari-cari\nfaktor iman kepada Tuhan dan agama, lalu menyimpulkan bahwa semua itu\ndisebabkan oleh rasa takut dan kedunguan manusia. Atribut yang dapat kita\nlekatkan kepada mereka adalah \u201cdungu\u201d dalam menghadapi realitas telanjang ini\ndan \u201ctakut\u201d terhadap kemajuan ideologi agama, sebab mereka melepaskan jalan\nutama dan terang ini, menapakkan kaki di jalan yang tak menentu, serta\nbersandarkan kepada asumsi-asumsi yang tak berdasar. <\/p>\n\n\n\n<p><strong>c. Asumsi Faktor Ekonomi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Eksponen asumsi ini adalah mereka yang percaya bahwa\nkekuatan penggerak sejarah adalah alat-alat reproduksi. Mereka yakin bahwa\nseluruh fenomena sosial, seperti budaya, ilmu, filsafat, politik, bahkan agama\nmuncul sebagai akibat dari perkara ini. <\/p>\n\n\n\n<p>Untuk menghubungkan kemunculan agama dan masalah-masalah\nekonomi, mereka mengajukan penafsiran yang aneh.Di antaranya, mereka\nberasumsi bahwa menurut kaum imperialis dalam lingkungan sosial, dalam rangka\nmengenyahkan resistensi dan gerakan massif kaum terjajah,kaum\nimperialis mencandu mereka dan menciptakan agama. kalimat yang terkenal dari\nLenin yang tertuang dalam buku <em>\u201cSosialisme wa Mazhab\u201d <\/em>(Sosialisme dan\nAgama) adalah, \u201cAgama di tengah masyarakat merupakan candu.\u201d Dalam kasus ini\nterdapat sederet ungkapan yang serupa; terulang-ulang. <\/p>\n\n\n\n<p>Untungnya, penyokong asumsi ini (kaum sosialis) telah\nmemberikan jawaban sendiri yang ternyata kontradiktif. Ketika mereka berhadapan\ndengan Islam sebagai gerakansebuah bangsa tertinggal yang dapat\nmenjungkalkan kaum imperialis seperti kesultanan Sasani, kekaisaran Romawi,\npara Fir&#8217;aun Mesir dan kesultanan Yaman dari singgasana kekuasaan mereka,\nterpaksa mereka mengecualikan Islam pada batasan minimal kasus ini dari fakta\nsejarah.<\/p>\n\n\n\n<p>Lebih dari itu, tatkala mereka menyaksikan gerakan dan\naksi-aksi Islam menentang kaum imperialis, khususnya pada masa kini, dan&nbsp; berhadapan dengan kekuasaan Timur dan Barat,\natau resistensi bangsa Palestina atas kekuasaan Zionisme, mereka tidak memiliki\njalan lain kecuali meragukan analisa-analisa mereka sendiri. Biarkanlah mereka\nterjerat dalam pagar-pagar kesulitan, karena tidak mampu melihat terangnya\nsinar matahari. <\/p>\n\n\n\n<p>Secara umum, dengan memperhatikan sejarah kemarin dan\nhari ini, khususnya sejarah Islam,akan tampak bahwa kemunculan agama\ntidak sesuai dengan asumsi mereka. Tidak hanya candu yang menjadi sebab\nmunculnya gerakan-gerakan sosial yang paling perkasa, akan tetapi\nmasalah-masalah ekonomi juga membentuk bagian dari kehidupan manusia.Dan\nmendefinisikan manusia pada dimensi ekonomi merupakan kesalahan besar dalam\nmengenal motivasi dan kecendrungan transendental manusia. <\/p>\n\n\n\n<p><strong>d. Asumsi Kebutuhan kepada Etika<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Dalam tema agama dan sains, Einstein berujar, \u201cDengan\nsedikit hati-hati, akan menjadi maklum bahwa agitasi dan perasaan-perasaan\ninsani menjadi penyebab munculnya agama yang beraneka dan beragam coraknya\u2026.\u201d.\nSetelah menyebutkan asumsi takut, ia menambahkan, tipologi manusia sebagai\nmakhluk sosial juga merupakan salah satu faktor munculnya agama. Seseorang\nmelihat orang tuanya. Kerabat, para pemimpin dan orang-orang besar meninggal\ndunia. Satu demi satu orang-orang di sekelilingnya berlalu. Setelah itu, harapan\nuntuk terbimbing dengan petunjuk, menyukai, mencintai, bersandar dan bergantung\nadalah landasan yang membentuk keyakinannya kepada Tuhan&#8221;.<a href=\"#_ftn5\">[5]<\/a> Dengan urutan seperti ini,\nEinstein beranggapan bahwa penyebab munculnya agama adalah motivasi moral dan\nmotivasi sosial. <\/p>\n\n\n\n<p>Mari kita kembali menelaah pendapat di atas. Orang-orang\nyang memberikan asumsi akhlak ini keliru dalam memahami efek dan motivasi. Kita\nmengetahui bahwa setiap efek tidak mengharuskan adanya motivasi. Boleh jadi\ntatkala menggali sebuah sumur yang dalam kita menemukan hartu karun. Ini adalah\nefek. Sedangkan penggerak dan motivasi utama kita untuk menggali sumur ialah\nuntuk mendapatkan air, bukan untuk menemukan harta karun.<\/p>\n\n\n\n<p>Oleh karena itu, adalah benar bahwa agama dapat\nmenenangkan keluh dan derita spiritual manusia. Iman kepada Tuhan dapat\nmelepaskan manusia dari kesendirian tatkala harus kehilangan orang-orang\nterkasih, sahabat tercinta dan orang-orang besar yang dibanggakan. Iman kepada\nTuhan dapat memenuhi segalasesuatu yang lepas dari tangannya dan\nmengisi kekosongan akibat kehilangan yang dideritanya. Akan tetapi, semua ini\nadalah sebuah efek, bukan sebuah motivasi. <\/p>\n\n\n\n<p>motivasi utama agama yang tampak paling logis adalah\nsebagaimana yang disebutkan sebelumnya; semakin manusia&nbsp; mengamati sistem semesta, semakin ia mengenal\nkedalaman, kerumitan dan keagungan semesta ini. Ia sekali-kali tidak akan\nmenerima begitu saja akan munculnya munculnya sekuntum bunga dengan segala\nelegansinya, keajaiban strukturnya, atau matahari dengan seluruh sistem sedemikian\nagung dan kompleksnya, yang lahir dari rahim semesta yang tak berakal dan\npelbagai benturan. Dan berangkat dari sini, manusia bergerak kepada Sumber Awal\nsistem jagad ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Tentu saja kasus lain dengan maksud yang sama dapat\nmembantu, sebagaimana telah diisyaratkan sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Dan anehnya, Einstein sendirilah yang telah mengusulkan\nasumsi ini. Di tempat lain ia mengubah pernyataannya. Ia mengekspresikan,\ndengan bahasa yang berbeda, keyakinannya yang teguh terhadap penyebab\nterjadinya fenomena semesta dan imannya kepada Sumber Awal Yang Agung tersebut.\nDan hal ini menunjukkan bahwa ia mengingkari ideologi yang bergantung kepada <em>khurafat<\/em>&#8211;<em>khurafat<\/em>,\nbukan kepada sebuah tauhid yang tulus dan bersih dari segala bentuk <em>khurafat<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia menuturkan, \u201cSebuah makna <em>real<\/em> dari keberadaan\nTuhan di balik imaginasi-imaginasi yang secuil telah ditemukan oleh mereka.\u201d\nKemudian, Einstein dan para ilmuwan besar lainnya menamakan keyakinan mereka\nsebagai sebuah jenis keyakinan yang disebut \u201cperasaan religius penciptaan\u201d atau\n\u201cperasaan religius keberadaan\u201d. Dan di tempat lain, disebut sebagai \u201ctakjub\nyang mengairahkan dari sistem ajaib dan akurat jagad raya\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>Dan yang lebih menarik adalah penegasannya, \u201cIman\nreligius adalah suluh bagi jalan pencarian hidup para cendikiawan.\u201d<a href=\"#_ftn6\">[6]<\/a> <\/p>\n\n\n\n<p>Tentu saja, dalam masalah ini banyak pernyataan yang\ndapat dinukil. Sekiranya kita ingin melepaskan dari kendali pena, pembahasan\nkita akan keluar dari pembahasan tafsir tematik.<\/p>\n\n\n\n<p>Oleh karena itu, kita kembalikan kepada persoalan utama.\nDan pembahasan ini kita akhiri sampai di sini. Kami ingatkan bahwa untuk\nmengetahui motivasi atau dorongan munculnya agama seyogyanya terlebih dahulu\nmenelaah penciptaan semesta (alasan logis dan rasional), dan selepas itu\nmengkaji kekuatan magnetis dalam lubuk hati (motivasi fitri), kemudian\nmengalihkan perhatian kepada Sumber Awal Yang Agung, sebagaimana yang telah\ndisinggung sebelumnya mengenai&nbsp;\nanugerah-anugerah-Nya yang nir-batas.<a href=\"#_ftn7\">[7]<\/a> <br><\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator\"\/>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref1\">[1]<\/a> <em>J\u00e2me&#8217;eh Syin\u00e2si<\/em> (Sosiologi), Samuel Kanik, hal. 207.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref2\">[2]<\/a> <em>Duny\u00e2-i\nkeh Mib\u00eenam, (Dunia Yang Kusaksikan)<\/em> hal. 57.&nbsp; Begitu aneh apa yang\ndiucapkan oleh August Compte, \u201cSains telah memisahkan Bapak Semesta dari\npekerjaannya dan ia-lah yang menggantikan peran-Nya!\u201d Artinya, dengan\nmenyingkap sebab-sebab natural, tidak ada ruang yang tersisa untuk beriman\nkepada Tuhan. (\u2018<em>Ilal-e Ger\u00e2yesy be M\u00e2ddigeri<\/em>, hal. 76. Anda juga dapat\nmerujuk buku <em>Kritik<\/em> <em>Islam Terhadap Materialisme<\/em>, Syahid\nMutahhari, hal. 29-30, terbitan Alhuda Jakarta\u2014AK.)<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref3\">[3]<\/a> <em>T\u00e2rikh-e Tamaddun<\/em>, terjemahan edisi Persia dari<em>\nHistory of Civilizations,<\/em> Will Durant, jilid 1, hal. 89.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref4\">[4]<\/a> <em>Jah\u00e2n-i\nkeh Man Misyen\u00e2sam<\/em>, hal.\n54.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref5\">[5]<\/a> <em>Duny\u00e2-i keh M\u00eeb\u00eenam<\/em>, hal. 53.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref6\">[6]<\/a> <em>Duny\u00e2-i keh M\u00eeb\u00eenam<\/em>, hal. 56 dan 61.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref7\">[7]<\/a> Untuk keterangan yang lebih jeluk dan luas, Silakan rujuk\n\u201c<em>Anggizeh-e Peid\u00e2yesy-e Madz\u00e2hib\u201d<\/em><em> <\/em>dan\n<em>Tafsir\nPay\u00e2m-e Qur\u2019\u00e2n<\/em>, jilid 2, hal. 44.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ICC Jakarta \u2013 Sebagian sosiolog berpendapat bahwa agama itu bersumber dari ketakutan atau kebodohan. Karena terkadang manusia dihantui<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":7819,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[1],"tags":[27,323],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7816"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7816"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7816\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7817,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7816\/revisions\/7817"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media\/7819"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7816"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7816"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7816"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}