{"id":7955,"date":"2019-01-02T02:58:02","date_gmt":"2019-01-02T02:58:02","guid":{"rendered":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/?p=7955"},"modified":"2019-01-02T02:58:50","modified_gmt":"2019-01-02T02:58:50","slug":"keluasan-ilmu-imam-ali-as-menjadi-sumber-ilmu-bagi-kaum-muslimin","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/2019\/01\/02\/keluasan-ilmu-imam-ali-as-menjadi-sumber-ilmu-bagi-kaum-muslimin\/","title":{"rendered":"Keluasan Ilmu Imam Ali as menjadi Sumber Ilmu bagi Kaum Muslimin"},"content":{"rendered":"\n<hr class=\"wp-block-separator\"\/>\n\n\n\n<p><strong>ICC Jakarta &#8211;<\/strong> Ibnu Abil Hadid seorang tokoh terkemuka pada abad 7 H\/628, bermazhab Sunni dalam mukaddimah syarah\u00a0Nahjul Balaghah\u00a0menulis, &#8220;Apa yang harus kukatakan tentang seorang laki-laki yang musuhnya juga tidak mengenalnya kecuali dengan keutamaannya dan mereka tidak dapat mengingkari dan menyembunyikan kebaikan itu. Semua mengetahui bahwa Bani Umayyah menjarah bagian Timur dan Barat negara-negara Islam. Dengan kelicikan dan kekuasaannya berhasil mematikan kebesaran cahaya Islam dan membuat hadis yang banyak untuk menjelekkan Imam Ali as dan melaknatnya di semua mimbar. Muawiyah\u00a0tidak hanya memenjarakan siapa saja yang memuji bahkan membunuhnya. Ia juga melarang membawakan riwayat yang berisi tentang keutamaan Imam Ali as bahkan melarang penggunaan nama Ali. Namun semua ini tidak membuahkan hasil kecuali justru semakin membawa nama baik bagi Imam Ali as. Ia laksana kesturi semakin ditutupi aromanya semakin semerbak mewangi. Ibnu Abil Hadid dalam lanjutan tulisannya berkata, &#8220;Apa yang harus kukatakan tentang seseorang yang merupakan sumber keutamaan dan sumber setiap keistimewaan bagi setiap manusia dan setiap madzab dan kelompok. Semua sumber keutamaan bermuara kepadanya dan ia paling cepat dari semua orang dan terkemuka dari yang lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Ilmu Kalam<\/p>\n\n\n\n<p>Ibnu Abil Hadid berkata, &#8220;Penjelasan tentang ilmu Kalam\ndan pengenalan sifat-sifat menjulang Allah swt yang merupakan ilmu yang paling\ntinggi dijelaskan dengan elegan oleh Imam Ali as. Para ulama dan ahli kalam\nadalah murid-muridnya. Muktazilah yang berpegang pada keyakinan tauhid dan\nkeadilan&nbsp;adalah murid-murid dan sahabat-sahabatnya. Karena silsilah mereka\nberujung kepada Washil bin &#8216;Atha&#8217; dan dia adalah murid Abu Hasyim Abdullah bin\nHanafiyah. Abu Hasyim adalah murid ayahnya, dan ayahnya adalah murid Ali as.\nAsy&#8217;ariyah juga berujung kepada Imam Ali as di mana pendiri firqah ini adalah\nAbul Hasan Ali bin (Ismail bin) Abi Basyir Asy&#8217;ari. Oleh karena itu, pada\nakhirnya Asya&#8217;ariyah berguru sampai kepada Muktazilah dan guru Muktazilah\nadalah Imam Ali as. Adapun penisbatan ilmu Kalam&nbsp;Imamiyyah dan\nZaidiyyah&nbsp; kepada Ali as merupakan\nperkara yang sudah terang dan tidak perlu dijelaskan lagi.&nbsp; <\/p>\n\n\n\n<p>Ilmu Fikih<\/p>\n\n\n\n<p>Ibnu Abil Hadid berkata, &#8220;Imam Ali as dasar dan asas\nilmu&nbsp; fikih dan setiap&nbsp;fakih dalam Islam menggunakan pengajaran\ndarinya sampai pada hal-hal yang detail. Bersandarnya fikih&nbsp;Syiah&nbsp;kepada Imam Ali\nas sangatlah terang dan tidak perlu dijelaskan. Sahabat Abu Hanifah seperti Abu\nYusuf, Muhammad dan sebagian dari mereka mempelajari fikih dari Abu Hanifah.\nAhmad bin Hanbal adalah murid Syafi&#8217;i. Syafi&#8217;i belajar fikih kepada Abu\nHanifah. Dan Abu Hanifah sendiri belajar fikih dari murid&nbsp;Imam Shadiq As. Kemudian\nImam Shadiq as dari ayahnya,&nbsp;Imam Baqir as dan Imam Baqir as dari ayahnya\ndan demikian seterusnya sampai berujung kepada Imam Ali as. Malik bin Anas\nbelajar fikih dari Rabi&#8217;ah al-Ra&#8217;yu dan Rabi&#8217;ah adalah murid &#8216;Ikrimah sedangkan\n&#8216;Ikrimah adalah murid Abdullah bin Abbas dan Abdullah bin Abbas adalah murid\nImam Ali as. Fikih Syafi&#8217;i dengan memperhatikan bahwa ia adalah murid Malik,\npada akhirnya juga berujung kepada Imam Ali as. Dengan demikian, fuqaha empat\nmazhab Sunni berujung dan bermuara kepada Imam Ali as. Fukaha yang berasal dari\nkalangan sahabat seperti Umar bin Khatab dan Abdullah bin Abbas adalah diantara\nahli fikih yang belajar kepada Imam Ali as. Bahwa Ibn Abbas adalah murid Imam\nAli tiada yang meragukan dan tidak lagi memerlukan saksi. Dalam kaitan dengan\nUmar, semua mengetahui bahwa dalam menyelesaikan problema dan kesulitan, di\nbanyak kesempatan, ia merujuk kepada Ali as. Dalam kaitan ini, Umar berkata,\n&#8220;Seandainya tidak ada Ali, Umar pasti celaka.&#8221; Ia juga berkata,\n&#8220;Aku tidak akan dapat tenang jika tidak ada Abul Hasan.&#8221; Ia juga\nberkata, &#8220;Tidak seorang pun memberikan fatwa di masjid sementara Ali\nberada di situ.&#8221; Maka, adalah jelas fikih berujung kepada Ali as. Baik\nkalangan Syiah maupun Sunni menukil dari Rasul saw yang bersabda,\n&#8220;Aqdh\u0101kum Ali&#8221; (Orang yang paling pandai mengadili adalah Ali).\nDengan memperhatikan bahwa ilmu Peradilan (qadha) termasuk ilmu fikih, oleh karena\nitu, Imam Ali as merupakan orang yang paling paham atas fikih di antara sahabat\nyang lain. <\/p>\n\n\n\n<p>Tafsir<\/p>\n\n\n\n<p>Ibnu Abil Hadi berkata, &#8220;Imam Ali pendiri ilmu tafsir.\nApabila merujuk kepada kitab-kitab tafsir, akan menjadi jelas bahwa sebagian\nbesar ayat-ayat dinukil secara langsung dari Imam Ali as ataukah dari Ibnu\nAbbas karena Ibnu Abbas juga mengambil dari Imam Ali as. Ditanyakan kepada Ibnu\nAbbas bagaimana perbandingan ilmumu dengan anak pamanmu (Imam Ali as)? Ia\nmenjawab, &#8220;Perbandingannya bagaikan setetes air hujan di hadapan samudra\nyang tiada batasnya.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>Ilmu Tarekat<\/p>\n\n\n\n<p>Ibnu Abil Hadid berkata, &#8220;Pemilik ilmu tarekat, hakikat\ndan irfan juga berujung kepada Imam Ali as. Ajaran-ajaran yang sampai sekarang\nmenjadi semboyan kaum sufi menunjukkan akan hal ini.&#8221;&nbsp; <\/p>\n\n\n\n<p>Ilmu Nahwu<\/p>\n\n\n\n<p>Ibnu Abil Hadid berkata, &#8220;Semua tahu bahwa Imam Ali as\nadalah penemu dan pembaharu ilmu Nahwu. Beliau mengajarkan kaidah-kaidah umum\nilmu ini kepada Abu al-Aswad Duali. Di antaranya beliau mengatakan kepada Abu\nal-Aswad mengenai mengenai &#8216;kata&#8217; terbagi menjadi tiga:&nbsp;ism&nbsp;(nomina),&nbsp;fi&#8217;il&nbsp;(verba),\ndan&nbsp;harf&nbsp;(preposisi) dan beliau juga mengatakan mengenai&nbsp;ism\nmakrifah&nbsp;(definitif) atau&nbsp;nakirah&nbsp;(indefinitif). Selain itu,\nbeliau mengatakan bahwa i&#8217;r\u0101b (tanda baca) ada empat jenis:&nbsp;rafa&#8217;, nashab,\njar, dan&nbsp;jazam. <\/p>\n\n\n\n<p>Kefasihan Bicara dan Kepandaian Beretorika<\/p>\n\n\n\n<p>Ibnu Abil Hadid berkata, &#8220;Dari sisi kefasihan, ia adalah penghulu orang fasih dan orator yang ulung dan sebagaimana yang telah dikatakannya tentang tuturan-tuturan Imam Ali: Di bawah firman-firman Sang Pencipta dan di atas kata-kata manusia. Bukti yang paling jelas akan hal ini adalah kitab Nahjul Balaghah. &nbsp;Abdul Majid bin Yahya berkata: 70 khutbah dari khutbah-khutbahnya penuh dengan nilai-nilai sastra yang tinggi. Ibn Nabatah berkata khutbah-khutbahnya adalah harta karun dimana setiap kali aku mengambil darinya tidak akan pernah berkurang justru akan bertambah. Aku menghafal 100 bagian dari nasehat dari Ali bin Abi Thalib.&#8221; []<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ICC Jakarta &#8211; Ibnu Abil Hadid seorang tokoh terkemuka pada abad 7 H\/628, bermazhab Sunni dalam mukaddimah syarah\u00a0Nahjul<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":7956,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[2],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7955"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7955"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7955\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7959,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7955\/revisions\/7959"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media\/7956"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7955"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7955"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7955"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}