{"id":7971,"date":"2019-01-03T01:49:04","date_gmt":"2019-01-03T01:49:04","guid":{"rendered":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/?p=7971"},"modified":"2019-01-03T01:55:53","modified_gmt":"2019-01-03T01:55:53","slug":"syahadat-fatimah-pengaruh-islam-persia-di-nusantara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/2019\/01\/03\/syahadat-fatimah-pengaruh-islam-persia-di-nusantara\/","title":{"rendered":"Syahadat Fatimah: Pengaruh Islam Persia di Nusantara"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>ICC Jakarta &#8211; Perubahan\nkeagamaan dari agama Hindu-Budha menuju Islam yang terjadi di kepulauan\nNusantara selama berabad-abad membawa bersamanya pengaruh dari berbagai negeri\nasing. Ricklef menyebutkan adanya pengaruh dari keislaman India Selatan,\nBengal, Cina Selatan, Arab, Mesir, dan Persia (Ricklefs 2001, 15). Para\npeneliti masih bersilang pendapat tentang unsur Islam mana yang paling dominan\ndalam keislaman di kepulauan Nusantara.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Betapapun, para peneliti melihat bahwa\nmasing-masing unsur memiliki sumbangsihnya dalam praktik kehidupan Islam di\nkepulauan Nusantara. Sebagiannya masih bisa dapat ditemui hingga hari ini,\nseperti mazhab fikih Syafii, mazhab akidah Asy\u2019ari, kenduri atau slametan, baju\nkoko, dan penyebutan dengan akhiran \u201ct\u201d untuk kata-kata seperti \u201csalat\u201d dan\n\u201czakat\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun banyak pula unsur-unsur keislaman\nlainnya yang telah mati. Salah satu contoh dari pengaruh keislaman Persia yang\nsekarang sudah tidak dikenali lagi adalah \u201cSyahadat Fatimah\u201d. Dalam banyak\nmanuskrip Islam, terutama yang ditulis dengan aksara Pegon, terdapat kalimat\nsingkat yang berisi kesaksian atas Sayidah Fatimah, puteri Rasulullah saw.<\/p>\n\n\n\n<p>Salah satu manuskrip yang menyimpan kesaksian\nini adalah manuskrip L.Or. 5614. Pada bagian \u201cKoleksi Khusus\u201d dari Perpustakaan\nUniversitas Leiden manuskrip ini disimpan. Ia telah menjadi koleksi\nperpustakaan tersebut paling tidak sejak awal abad ke-20, antara 1905 hingga\n1917.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada manuskrip berbahan \u201cdaluwang\u201d \u2013 daun\npohon Saeh \u2013 yang mengandung 252 halaman ini terdapat paling tidak dua puluh\nenam teks. Teks itu sangat beragam; mulai dari doa-doa, ajaran di Kesultanan\nCirebon, kajian fikih, tafsir Quran, \u201ctalqin\u201d mayit, azimat, hingga khotbah\n(Jan Just Witkam 2006, VI, 166-67).<\/p>\n\n\n\n<p>Yang unik dari teks-teks tersebut adalah\nkenyataan bahwa mereka dituliskan dalam beragam bahasa meliputi bahasa Jawa,\nSunda, dan Arab. Juga bahwa semua teks itu dituliskan dengan aksara Arab. Hal\nini nampaknya yang menjadikan keyakinan sebagian peneliti bahwa keislaman telah\nmembawa pengaruh tersebarnya budaya tulis di masyarakat \u2013 bahkan meskipun\nberbeda bahasa \u2013 di luar pusat-pusat kekuasaan.<\/p>\n\n\n\n<p>Teks \u201cSyahadat Fatimah\u201d ini tersimpan pada\nhalaman kedua dan ditulis dengan bahasa Jawa. \u201cSyahadat Fatimah\u201d mengajarkan\nbahwa dua kalimat syahadat bagi seorang muslim tidaklah cukup. Mereka yang\nmengaku meyakini tidaa tuhan kecuali Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan-Nya\nharus melanjutkan lagi dengan kesaksian bahwa Fatimah adalah puteri Rasulullah\nsaw. yang memiliki kedudukan sangat mulia.<\/p>\n\n\n\n<p>Berikut transliterasi dari teks tersebut:<\/p>\n\n\n\n<p><em>Punika syahadat\nFatimah lamun ora weruh wong lanang lan wong wadon iya iku durung shahadate\n<\/em><\/p>\n\n\n<p>[teks rusak]<\/p>\n\n\n\n<p> imane wong, iyo iku shahadate: Ashhadu an la ilaha illallah wa\nasyhhadu anna fatimatan zahra al-karim binti Muhammad rasulullah shallallahu\n\u2018alayhi wa sallama. anegesi i(ng)sun setuhune ora ana Pengeran anging Allah;\nanegesi i(ng)sun setuhuhe dewi Fatimah iku hingkang mulya puterane wadon Nabi\nMuhammad shallallahu \u2018alayhi wa sallama.\n\n<\/p>\n\n\n\n<p>Terjemahannya:<\/p>\n\n\n\n<p><em>Ini adalah \u201cSyahadat\nFatimah\u201d. Apabila seorang laki-laki maupun perempuan belum mengetahui syahadat\nini maka dia belum dianggap bersyahdat dan [ teks rusak] imannya. Berikut\nadalah syahadatnya: Aku bersaksi bahwa tiada tuhan melainkan Allah. Dan aku\nbersaksi bahwa Fatimah az-Zahra adalah yang mulia, puteri Nabi Muhammad saw.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Nampak bahwa kopian \u201cSyahadat Fatimah\u201d ini\ntidak cermat. Terdapat beberapa kesalahan gramatikal, seperti \u201cfatimatan\u201d yang\nseharusnya tanpa \u201ctanwin\u201d, dan \u201czahra\u201d yang seharusnya didahului dengan \u201cal\u201d.\nTerjemahan dalam bahasa Jawa menunjukkan ketidakcermatan pula. Predikat bagi\n\u201canna\u201d tidak bisa diberikan kepada kata \u201cal-karim\u201d yang seharusnya adalah\n\u201csifat\u201d bagi Fatimah.<\/p>\n\n\n\n<p>Teks \u201cSyahadat Fatimah\u201d sebenarnya lebih umum\nberedar dalam tradisi kaum Syiah \u2013 mereka yang meyakini bahwa Nabi Muhammad\ntelah secara pasti menunjuk Ali sebagai penggantinya sebagai pemimpin \u2013 agama\ndan politik \u2013 umat Islam. Teks ini berbunyi \u201cAshhadu anna F\u0101thimah al-Zahr\u0101\nbinta Mu\u1e25ammad \u2018I\u1e63mat All\u0101h al-Kubr\u0101\u201d. Artinya \u201cAku bersaksi bahwa Fatimah Yang\nBercahaya, puteri Muhammad, adalah bukti agung dari penjagaan Allah\u201d. Nampaknya\nkopian kita di atas kehilangan bagian \u201c\u2018I\u1e63mat All\u0101h al-Kubr\u0101\u201d yang menjadi\npredikat bagi \u201canna\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>Syahadat semacam ini tidak dikenali lagi di masyarakat muslim di kepulauan Nusantara. Sekarang masyarakat muslim merasa cukup dengan meyakini bahwa rukun Islam hanya mengajarkan dua syahadat. Atau barangkali karena para pendukung mazhab teologi yang menjadi dominan di masa kini, yakni Asyariah, telah menutup kemungkinan berkembangnya bentuk teologi lain, yakni Syiah, dan menganggapnya sebagai penyimpangan?<\/p>\n\n\n\n<p>Tulisan oleh Nur Ahmad<\/p>\n\n\n\n<p>Sumber: Alif.id<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ICC Jakarta &#8211; Perubahan keagamaan dari agama Hindu-Budha menuju Islam yang terjadi di kepulauan Nusantara selama berabad-abad membawa<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":7972,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[13],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7971"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7971"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7971\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7974,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7971\/revisions\/7974"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media\/7972"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7971"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7971"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7971"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}