{"id":8028,"date":"2019-01-11T06:47:19","date_gmt":"2019-01-11T06:47:19","guid":{"rendered":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/?p=8028"},"modified":"2019-01-11T06:47:21","modified_gmt":"2019-01-11T06:47:21","slug":"bagaimana-menjelaskan-iman-kepada-tuhan-yang-gaib","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/2019\/01\/11\/bagaimana-menjelaskan-iman-kepada-tuhan-yang-gaib\/","title":{"rendered":"Bagaimana Menjelaskan Iman kepada Tuhan Yang Gaib?"},"content":{"rendered":"\n<p>ICC Jakarta &#8211; Keberatan yang kerap dilontarkan oleh kaum materialis terhadap kaum mukmin adalah bagaimana mungkin manusia dapat menerima dan beriman kepada wujud yang tidak dapat diindra. Anda berkata bahwa Tuhan tidak memiliki jasad, tidak bertempat, tidak memiliki ruang, tidak bercorak dan \u2026. Dengan perantara apa wujud seperti ini dapat diindra? Kami beriman kepada sesuatu yang dapat diindra. Wujud yang tidak dapat diindra adalah wujud yang sama sekali tidak wujud (ada). Bagaimana Anda menjawab pertanyaan ini. <\/p>\n\n\n\n<p><strong>Jawaban<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pertanyaan ini dari dapat dibahas dari beberapa sisi:<\/p>\n\n\n\n<p>1. Sebab-sebab utama alasan penentangan kaum Materialis\nterhadap subjek <em>ma\u2019rifatullah<\/em> tampak secara sempurna dalam masalah ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Salah satunya adalah kepongahan sains mereka dan\nmenganggap ilmu-ilmu alam (baca: sains) sebagai superior atas seluruh realitas,\nseperti halnya mengkomparasikan segala sesuatu dengan ukuran ilmu-ilmu itu&nbsp; dan membatasi sarana pemahaman pada\nebab-sebab natural dan material. Kita bertanya kepada mereka, apakah ranah\naktifitas dan penetrasi seluruh ilmu alam memiliki batasan atau tidak?<\/p>\n\n\n\n<p>Jelas bahwa jawaban atas soal semacam ini akan bernada\nafirmatif. Karena, wilayah ilmu-ilmu alam adalah seluruh wujud terbatas yang\nbersifat material, dan selesai. Oleh karena itu, bagaimana mungkin sesuatu yang\ntidak terbatas dapat diindra&nbsp; oleh\ninstrumen-instrumen alam.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada dasarnya, Tuhan dan seluruh wujud metafisis berada\ndi luar wilayah alam. Sesuatu yang telah keluar dari wilayah natural,\nsekali-kali tidak dapat diindra dan ditafsirkan oleh sebab-sebab natural.\nWilayah metafisika bersifat tidak terbatas dengan dirinya sendiri dan tidak\ndapat dikomparasikan dan dibandingkan ukuran dengan ilmu-ilmu alam, seperti\nhalnya cabang dan spesifikasi beragam ilmu-ilmu alam itu sendiri. Setiap jenis\nilmu alam, masing-masing memiliki instrumen dan ukuran-ukuran tersendiri yang\ntidak relevan dengan ilmu alam yang lain. Ilmu astronomi, anatomi, dan\nmikrologi, berbeda instrumen-instrumen pengkajiannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Seorang ilmuwan materialis tidak akan pernah memberikan\nizin kepada seseorang untuk bertanya kepada seorang astronom, \u201cCoba Anda\nbuktikan salah satu mikroba dengan menggunakan instrumen-instrumen dan alat\nkalkulasi astronomi!\u201d Demikian pula kita tidak layak berharap dari seorang\nspesialis mikroba untuk dapat menyingkap bintang-bintang senja dengan\nmenggunakan instrumen-instrumen mikrologi. Karena, mereka masing-masing hanya\ndapat digunakan dalam wilayah spesialisasi ilmunya dan tidak dapat digunakan di\nluar wilayah spesialisasi dan aplikasinya. Mereka tidak dapat berkata positif\n(iya) atau negatif (tidak) dalam menyampaikan pendapat. Oleh karena itu,\nbagaimana kita mengetahui kebenaran ilmu-ilmu alam dalam membahas sesuatu yang\nberada di luar wilayah naturalnya, dengan pertimbangan bahwa wilayah\npenetrasinya terbatas pada alam, efek dan spesialisasinya saja.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada akhirnya, kebenaran yang dapat diyakini oleh seorang\nilmuwan ilmu alam adalah sebatas ia dapat mengatakan bahwa, \u201cDalam masalah\nmetafisika, aku memilih diam, karena masalah itu berada di luar batas\npengkajian dan instrumen wilayah kerjaku. Bukan aku mengingkarinya.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Auguste Comte, salah seorang <em>founding fathers<\/em>\n(pendiri) aliran Empirisme dalam bukunya <em>Beberapa Kalimat Tentang Filsafat\nEmpiris<\/em> berkata, \u201cKarena kita tidak memiliki informasi sejak awal tentang\nseluruh wujud, kita tidak dapat mengingkari adanya wujud sebelum atau\nsesudahnya,sebagaimana kita juga tidak dapat membuktikannya&#8221;. <\/p>\n\n\n\n<p>Pendeknya, Empirisme menghindar dari menyampaikan setiap\nbentuk pendapat karena ketidaktahuan mereka dalam masalah ini. Demikian juga,\nilmu-ilmu cabang yang menjadi fondasi Empirisme harus menghindarkan diri dari\nbentuk penilaian atas awal dan akhirseluruh wujud. Maksudnya, kami\ntidak mengingkari ilmu dan hikmah Ilahi serta&nbsp;\nwujud-Nya, dan kami menjaga diri dalam netralitas; antara penafian dan\npembuktian.<\/p>\n\n\n\n<p>Maksud kami adalah, bahwa alam metafisika tidak dapat\ndisaksikan melalui jendela ilmu-ilmu alam. Menurut perspektif Ilahiyah\n(orang-orang mukmin), secara mendasar bahwa Tuhan yang dapat dibuktikan melalui\nsebab dan instrumen natural adalah bukan Tuhan.<\/p>\n\n\n\n<p>Karena, sesuatu yang dapat dibuktikan oleh sebab-sebab\nnatural, berada di dalam jangkauan materi dan spesialisasi ilmu-ilmu alam. Dan\nbagaimana wujud materi dan natural dapat diyakini menjadi pencipta materi dan\nalam?<\/p>\n\n\n\n<p>Dasar keyakinan orang-orang beriman adalah bahwa Tuhan\nbebas dari segala bentuk materi dan aksiden-aksiden materi. Dan sekali-kali Ia\ntidak dapat dicerap melalui instrumen-instrumen materi.<\/p>\n\n\n\n<p>Oleh karena itu, jangan pernah kita menantikan bahwa\nPencipta seluruh wujud semesta dapat dilihat pada kedalaman langit melalui alat\nmikroskop dan teleskop. Pengharapan dan penantian ini adalah tidak pada\ntempatnya.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>2. Tanda-tanda-Nya<\/p>\n\n\n\n<p>Secara umum, instrumen-instrumen yang digunakan untuk\nmengenal setiap wujud di jagad ini adalah melalui efek-efeknya. Kita hanya\ndapat mengenal setiap wujud dari efek-efek yang ditimbulkan dari setiap wujud\ntersebut, termasuk wujud-wujud yang dapat kita cerap melalui persepsi dan\nindra. Wujud-wujud ini juga kita kenal melalui efek-efeknya. Karena, tidak satu\npun wujud yang tidak akan pernah masuk ke dalam pikiran kita, dan mustahil otak\nkita menjadi wadah seluruh wujud.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai contoh, sekiranya Anda hendak menentukan sebuah\nbenda dengan mata dan mencerap wujud benda tersebut,pada mulanya, Anda\nletakkan mata Anda di hadapan benda yang telah Anda perkirakan letaknya, cahaya\nmemendar di atasnya, dan dari bola mata,pendaran-pendaran cahaya itu\nakan terefleksi pada area khusus yang bernama <em>retinoscopy<\/em>. Kemudian,\nsyaraf-syaraf indra penglihatan menangkap cahaya tersebut, dan sampai kepada\notak dan lalu benda itu dapat dicerap oleh manusia.<\/p>\n\n\n\n<p>Apabila hal itu dilakukan dengan jalan meraba, dengan\nsyaraf di bawah kulit, benda tersebut memberikan informasi kepada otak\nlalu&nbsp; dicerap oleh manusia.<\/p>\n\n\n\n<p>Kemudian pencerapan satu benda dari efeknya (warna dan\nsuara) memberikan efek kepada indra peraba dan manusia tidak akan pernah\nmeletakkan benda tersebut pada kapasitas otaknya. Dan sekiranya tidak ada\nwarna, dan atau pencerapan tidak bekerja, ia tidak akan pernah mengenal benda\ntersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>Uraian ini harus kita sempurnakan. Satu efek telah&nbsp; memadai untuk dapat mengenal satu wujud,.\nUmpamanya, untuk dapat mengetahui apa yang pernah terjadi sepuluh ribu tahun\nsilam pada suatu titik bumi, cukup kita menyingkap satu cerek keramik atau satu\nsenjata yang telah berkarat dan mengadakan pengkajian mendalam atas efek-efek\nini. Dari efek ini kita dapat memahami keadaan-keadaan dan desain kehidupan\nserta pemikiran masyarakat kala itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan memperhatikan bahwa setiap wujud materi atau\nnon-materi dapat dikenal melalui efek-efeknya, dan bahwameneliti satu efeknya\nakan memadai untuk mengenal satu wujud, lalu apakah seluruh wujud -yang penuh\ndengan misteri dan rahasia yang menakjubkan di seluruh penjuru alam semesta\nyang membentang ini- tidak memadai bagi kita untuk dapat mengenal Tuhan?<\/p>\n\n\n\n<p>Untuk dapat mengenal satu wujud, cukup bagi Anda meneliti\nsatu efek darinya, dan itu sudah memadai. Dari satu cerek keramik,\nsetidak-tidaknya bagian dari kondisi masyarakat ribuan tahun silam dapat\ndiketahui. Sekarang kita memiliki efek yang tidak terbatas, wujud yang tidak\nterbatas, dan sistem yang tidak terbatas. Apakah segala efek yang ada ini tidak\nmemadai bagi kita untuk dapat mengenal-Nya?! Anda saksikan pada setiap sudut\njagad terdapat tanda-tanda kekuasaan dan ilmu-Nya. Masihkah Anda berkata, \u201cKami\ntidak melihatnya dengan mata, kami tidak mendengarnya dengan telinga, kami\ntidak menyaksikannya melalui pisau anatomi, dengan teleskop!\u201d Memangnnya mata\ndiperlukan untuk segala sesuatu?<\/p>\n\n\n\n<p>3. Kasat mata dan non-kasat mata<\/p>\n\n\n\n<p>Untungnya alat yang diberikan oleh ilmu-ilmu sains adalah\nalat terbaik untuk menafikan keyakinan kaum materialis.<\/p>\n\n\n\n<p>Kalau dulu seorang ilmuwan dapat berkata, \u201cKami tidak\ndapat menerima sesuatu yang tidak dapat dicerap oleh panca indra. Namun,\nberdasarkan penemuan-penemuan ilmiah yang sedemikian berkembang telah\nterbuktikan, bahwa wujud yang bersemayam di alam semesta adalah tak terindra.\nBerdasarkan penelitian, derajat yang kini telah dapat dicerap semakin\nbertambah. Dalam relung alam semesta, karena banyaknya wujud yang tidak dapat\ndicerap indra, wujud-wujud yang telah dicerap -dibandingkan dengan wujud-wujud\nyang belum dapat dicerap- bernilai kosong.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai contoh, beberapa kasus di bawah ini kita\nrenungkan bersama:<\/p>\n\n\n\n<p>a. Dalam ilmu fisika, para ahli fisika berpendapat bahwa\ndasar warna tidak lebih dari tujuh warna. Warna yang pertama adalah merah dan\nyang terakhir adalah warna ungu. Akan tetapi, di balik itu semua terdapat\nseribu satu macam warna. Kita tidak dapat mencerap seribu satu macam warna ini.\nDan mereka beranggapan bahwa beberapa hewan barangkali dapat melihat\nwarna-warna tersebut. <\/p>\n\n\n\n<p>Sebab perkara ini adalah jelas. Karena, warna dapat\nterlihat dari efek gelombang cahaya. Artinya, cahaya matahari dengan\ncahaya-cahaya yang lain tersusun dari warna-warni yang beraneka ragam. Aneka\nwarna-warni inilah yang membentuk warna putih. Lantaran cahaya ini berpendar\nmenyinari benda, benda yang tersinari tersebut mencerna bagian-bagian yang\nberagam dari warna-warni pada dirinya. Dan sebagian lainnya dipantulkan.\nWarna-warni yang dipantulkan ini adalah warna-warni yang kita saksikan. Oleh\nkarena itu, benda-benda yang berada dalam kegelapan tidak memiliki warna. <\/p>\n\n\n\n<p>Perubahan dan keragaman warna dihasilkan dari kuat dan\nlemahnya gelombang cahaya. Artinya, apabila gelombangnya kuat hingga mencapai\n458 ribu miliar per detik, akan terbentuk warna merah. Dan pada gelombang 727\nribu miliar per detik, akan terbentuk warna ungu. Di antara warna ini, terdapat\nwarna-warni yang beragam jumlahnya yang tidak dapat kita cerap dan cerna.<\/p>\n\n\n\n<p>b. Gelombang suara yang dapat kita tangkap&nbsp; hanya pada 16 frekuaensi per detik hingga\n20.000 frekuensi per detik. Lebih atau kurang dari hitungan ini, berapa pun\njumlahnya, tidak tertangkap oleh pendengaran kita. <\/p>\n\n\n\n<p>c. Gelombang cahaya yang dapat kita cerap dalam setiap\ndetik adalah terhitung dari 458 ribu miliar hingga 727 ribu miliar. Lebih dan\nkurang dari hitungan ini, berapa pun jumlahnya, tidak dapat kita lihat.<\/p>\n\n\n\n<p>d. Kita semua tahu bahwa bilangan makhluk yang dapat\ndilihat melalui kaca pembesar (virus dan bakteri) adalah lebih banyak dari\njumlah manusia. Makhluk-makhluk tersebut tidak dapat dicerap oleh mata tanpa\nmenggunakan mikroskop dan kaca pembesar. Alangkah banyaknya makhluk yang paling\nkecil yang hingga kini belum diketahui dan disingkap oleh sains.<\/p>\n\n\n\n<p>e. Satu atom, dengan strukturnya yang tipikal, dan\nputaran elektron-elektron atas lingkaran proton-proton, dengan kekuatan\nraksasanya, tidak dapat dicerap dan dilihat oleh setiap indra. Dan setiap\nbenda-benda alam natural terbentuk dari atom. Debu-debu yang kita lihat dengan\nsusah-payah di udara terbentuk dari ribuan atom. Para ilmuwan yang berbicara\nihwal atom, pendapat mereka tidak melampaui batas-batas teori dan asumsi, dan\nsementara itu, tidak seorang pun yang menafikan pendapat mereka itu.<a href=\"#_ftn1\">[1]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Oleh karena itu, pendapat yang menyatakan bahwa tak\nterindranya&nbsp; sesuatu adalah dalil atas\nketiadaannya, sama sekali tidak dapat dijadikan alasan. Alangkah banyaknya\nbilangan benda-benda indrawi yang memenuhi jagad ini dan indra kita tidak mampu\nmencerapnya. <\/p>\n\n\n\n<p>Sebagaimana bahwa sebelum penemuan atom atau wujud-wujud\nyang memerlukan lup atau kaca pembesar untuk melihatnya (seperti virus dan\nbakteri), setiap orang tidak berhak menafikan keberadaan wujud-wujud tersebut.\nAlangkah banyaknya bilangan wujud lain yang masih luput dari pandangan kita.\nDan sains hingga kini masih belum dapat menguaknya untuk menyingkap rahasianya.\nAkal kita sekali-kali tidak memperkenankan kita \u2014dalam kondisi seperti ini\n(keterbatasan sains dan impotensinya dalam mencerap wujud-wujud tersebut)\u2014\nuntuk berpendapat; menafikan atau menetapkannya. <\/p>\n\n\n\n<p>Konklusinya adalah jangkauan indra dan\ninstrumen-instrumen alam bersifat terbatas, dan kita tidak dapat membatasi\nsemesta ini hanya pada indra dan instrument-instrumen tersebut.<a href=\"#_ftn2\">[2]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Jangan sampai Anda berpikiran bahwa sebagaimana elektron\ndan proton-proton atau sebagian warna telah tersingkap dengan peralatan ilmiah\ndewasa ini, dan dengan kemajuan sains, kita akan dapat menyingkap segala\nketidaktahuan, mungkin suatu saat alam metafisika dapat disingkap dengan\ninstrumen-instrumen dan sebab-sebab natural!<\/p>\n\n\n\n<p>Hal ini tidak mungkin dapat terwujud. Karena \u2014sebagaimana\ntelah kami jelaskan\u2014 dunia metafisika tidak dapat ditempuh melalui jalan-jalan\nnatural dan material. Secara umum, jalan-jalan natural dan material ini keluar\ndari ranah aktifitas sebab-sebab materi.<\/p>\n\n\n\n<p>Maksudnya, sebelum menyingkap dan mencerap wujud-wujud\nini, tidak sah bagi kita untuk mengingkarinya dan kita tidak berhak untuk\nmenghukuminya dengan alasan bahwa kita tidak dapat mencerapnya. Sebab-sebab\nnatural tidak akan menunjukkan wujud-wujud ini kepada kita, sains tidak dapat\nmembuktikannya kepada kita, dan&#8230;(bla..bla..bla, -AK) Kita mengetahui dengan\nniscaya ketidakmampuan sebab-sebab natural dan sains ini. Demikian juga dalam\nhubungannya dengan dunia metafisika, bahwa kita tidak dapat menafikannya. <\/p>\n\n\n\n<p>Oleh karena itu, kita harus melepaskan metode-metode\nsalah ini, sambil dengan teliti menelaah dalil-dalil rasional orang-orang\nmukmin. Baru setelah itu kita menyampaikan keyakinan kita. Niscaya akan\nmendapatkan konklusi yang positif.<a href=\"#_ftn3\">[3]<\/a><br><\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator\"\/>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref1\">[1]<\/a> Di antaranya segala sesuatu yang bersifat nonindrawi.\nTidak satu pun dari realitas benda-benda tersebut yang terkuak bagi para\nilmuwan. Planet bumi memiliki gerakan-gerakan yang beraneka ragam. Misal,\ngerakan pasang-surut yang memasuki kortex planet bumi. Dan akibat pengaruh dari\ngerakan pasang-surut tersebut, sehari dua kali tingkatan permukaan (<em>surface<\/em>)&nbsp; bumi di bawah kaki kita akan naik seukuran 30\ncentimeter. Dan tidak satu pun tanda-tanda yang dapat menuntun kita untuk dapat\nmengetahui gerakan ini. Yang lainnya, udara yang berhembus di seputar kita,\nyang nota-bene memiliki beban dan berat yang sangat besar, dan badan manusia\nmampu memikul seukuran 16 ribu kilogram dari berat dan beban udara tersebut.\nTentu saja, tekanan ini akan dinetralkan ketika berhadapan dengan tekanan\ninternal badan yang bagi kita bukanlah sesuatu yang merisaukan. Di sini pun,\ntidak seorang pun yang membayangkan bahwa udara memiliki berat dan beban.\nSebelum masa Galileo dan Pascal, masalah ini masih misterius bagi seluruh\nmanusia. Dan kini, meskipun sains memberikan kesaksian atas validitas perkara\nini, akan tetapi indra kita tidak dapat merasakannya. Dan kebanyakan dari\nilmuwan ilmu alam mengakui keberadaan wujud segala sesuatu yang bersifat\nnonindrawi. Contohnya, keberadaan <em>ether <\/em>\u2014sesuai dengan keyakinan para\nilmuwan ilmu alam\u2014 yang memenuhi segala tempat di alam tabiat ini dan sebagian\norang beranggapan bahwa <em>ether<\/em> ini merupakan sumber seluruh maujud.\nMereka menguraikan bahwa <em>ether<\/em> ini merupakan wujud yang tanpa beban,\ntanpa warna dan&#8230; yang memenuhi seluruh planet dan tempatserta merasuk\n(infiltrasi) ke dalam seluruh benda, dan tentu saja tidak terlihat oleh kita. (<em>Ether<\/em>,\nderivasi dari kata Yunani, <em>aith\u0113r<\/em> yang berarti <em>upper air<\/em> [meta\nudara], di atas udara. <strong>&nbsp;<\/strong>Dalam <em>chemistry<\/em>\n<\/p>\n\n\n<p>[industri dan ilmu kimia]<\/p>\n\n\n\n<p>, <em>ether <\/em>ini adalah sebuah cairan pelarut yang\nterbuat dari alkohol, tanpa warna dan tanpa beban. Biasanya digunakan untuk\nmembius (anaestasia), dengan formula C<sub>2<\/sub>H<sub>5<\/sub>OC<sub>2<\/sub>H<sub>5<\/sub>.Biasa juga disebut sebagai<em> diethyl ether<\/em>\u2014AK.).\n\n\n\n\n\n<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref2\">[2]<\/a> Untuk menegaskan perkara ini, tidak ada salahnya kita\nmenukil ucapan Flamariun dalam bukunya \u201cRahasia-rahasia Kematian\u201d. Ia berkata,\n\u201cManusia hidup dalam ngarai kejahilan dan ketidaktahuan. Dan ia tidak\nmengetahui bahwa susunan badan manusia ini tidak dapat menuntunnya kepada\nhakikat-hakikat. Kelima indra manusia ini menipunya dalam segala hal. Dan\nsatu-satunya yang dapat menuntun manusia kepada hakikat dan kebenaran adalah\nakal, pemikiran dan akurasi ilmiah.\u201d Kemudian ia memulai menjelaskan satu\npersatu perkara yang tidak dapat dicerap oleh panca indra manusia dan membuktikan\nketerbatasan setiap indra. Ia berkata, \u201cOleh karena itu, kesimpulannya adalah\nbahwa akal dan pengetahuan kita hari ini memberikan hukum pasti kepada kita\nbahwa terdapat sebagian gerakan-gerakan atom, udara dan benda-benda, serta\nkekuatan-kekuatan yang tidak terlihat oleh indra pengelihatan kita, dan kita\ntidak dapat merasakan benda non-kasat mata ini melalui panca indra. Dengan\ndemikian, boleh jadi di sekeliling kita terdapat wujud-wujud yang lain selain\natom, udara dan sebagainya; wujud-wujud hidup dan memiliki kehidupan yang tidak\ndapat kita rasakan. Aku tidak berkata bahwa benda-benda tersebut ada, akan\ntetapi aku berkata barangkali ia ada. Lantaran kesimpulan dari\npenjelasan-penjelasan sebelumnya adalah bahwa kita tidak dapat berkata segala\nyang tidak kita lihat berarti tidak ada. Oleh karena itu, ketika dengan\nargumentasi-argumentasi ilmiah telah terbukti bagi kita bahwa indra lahir yang\nkita miliki tidak memiliki kelayakan untuk dapat menyingkap seluruh wujud-wujud\nyang ada dan acap kali indra ini mengelabui kita serta menunjukkan hal-hal yang\nbertentangan dengan realitas kepada kita, kita tidak boleh mengkonsepsikan\nbahwa seluruh hakikat wujud terbatas pada apa yang kita rasakan dan saksikan.\nAkan tetapi, kita harus percaya yang sebaliknya, bahwa barangkali terdapat\nwujud yang tidak dapat kita rasakan. Sebelum ditemukannya mikroba, seseorang\ntidak berkhayal bahwa terdapat jutaan mikroba di sekeliling setiap benda dan\nkehidupan setiap makhluk yang menjadi medan laga bagi mikroba-mikroba tersebut.Kesimpulannya, indra lahir ini tidak memiliki kelayakan untuk menyingkap\nrealitas seluruh wujud. Dan satu-satunya yang dapat memperkenalkan realitas\nwujud secara paripurna adalah akal dan pikiran kita. Menukil dari <em>\u2018Al\u00e2 Itlan\nal-Madzhab al-M\u00e2ddi<\/em>, karya Farid Wajdi, hal. 4.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref3\">[3]<\/a> <em>\u00c2farideg\u00e2r-e Jah\u00e2n,<\/em> kumpulan tulisan berharga Ayatullah\nMakarim Syirazi, hal. 248. <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ICC Jakarta &#8211; Keberatan yang kerap dilontarkan oleh kaum materialis terhadap kaum mukmin adalah bagaimana mungkin manusia dapat<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":7814,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[1],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8028"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8028"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8028\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8029,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8028\/revisions\/8029"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media\/7814"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8028"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8028"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8028"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}