{"id":8039,"date":"2019-01-15T02:01:28","date_gmt":"2019-01-15T02:01:28","guid":{"rendered":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/?p=8039"},"modified":"2019-01-15T02:01:29","modified_gmt":"2019-01-15T02:01:29","slug":"mengapa-agama-itu-perkara-fitri-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/2019\/01\/15\/mengapa-agama-itu-perkara-fitri-2\/","title":{"rendered":"Mengapa Agama itu Perkara Fitri?"},"content":{"rendered":"\n<p>ICC\nJakarta \u2013 Saya ingin bertanya tentang statemen yang kalau tidak salah berasal\ndari al-Quran bahwa agama itu adalah fitrah. Orang yang beragama itu adalah\norang yang mengikut fitrah kemanusiaannya. Dalam kaitannya dengan hal ini apa\nyang dimaksud fitrah itu? Mengapa agama sejalan dengan fitrah manusia? Sebutkan\ndalil-dalil dan bukti-bukti otentik terkait dengan masalah ini. Terima kasih. <\/p>\n\n\n\n<p>Jawaban:\n<\/p>\n\n\n\n<p>Arti dari kata fitrah adalah manusia dapat menemukan\nhakikat tanpa memerlukan penalaran atau argumentasi, (yang sederhana ataupun\nyang rumit). Manusia dengan gamblang mendapatkan hakikat tersebut. Umpamanya,\njika manusia melihat sekuntum bunga yang indah dan semerbak baunya, ia mengakui\npesona bunga tersebut. Dalam pencerapan ini, ia tidak melihat adanya penalaran.\nDengan serta-merta berkata, \u201cBunga ini elok rupanya\u201d, tanpa memerlukan\nargumentasi.<\/p>\n\n\n\n<p>Pengenalan terhadap Tuhan (<em>ma\u2019rifatull\u00e2h<\/em>) juga\nmerupakan bagian dari jenis pengetahuan fitri. Ketika seseorang menengok ke\nlubuk hatinya, ia akan melihat cahaya kebenaran. Ia akan mendengar seruan dari\nsudut sanubarinya. Seruan yang mengajaknya ke arah Sumber Awal, menghampiri\nilmu dan kemahakuasaan-Nya di jagad raya ini yang tanpa tandingan; Sumber Awal\nyang merupakan kesempurnaan mutlak dan mutlak sempurna. Dalam pengetahuan fitri\nini, ia persis seperti melihat keelokan bunga yang tidak memerlukan\nargumentasi. <\/p>\n\n\n\n<p><strong>Bukti-bukti Hidup atas Kefitrahan Iman kepada\nKebenaran<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Barangkali seseorang mengatakan bahwa semua ini hanyalah\nklaim-klaim belaka, dan metode-metode untuk membuktikan kefitrahan <em>ma\u2019rifatull\u00e2h<\/em>\ntidak tersedia. Kita mungkin dapat mengklaim bahwa kita temukan perasaan\nseperti ini dalam lubuk hati kita, namun sekiranya ada seseorang yang enggan\nuntuk menerima ungkapan semacam ini, bagaimana kita dapat memberikan jawaban\nkepadanya sehingga ia dapat menerima dengan puas?<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam menjawab ungkapan tersebut, sebenarnya kita\nmemiliki pelbagai bukti yang tak terbilang jumlahnya dan dapat dijadikan\nsebagai dalil yang kuat atas kefitrahan tauhid. Begitu gamblangnya bukti-bukti\ntersebut sehingga mulut pengingkarnya dapat dibungkam. <\/p>\n\n\n\n<p>Bukti-bukti ini dapat disimpulkan ke dalam enam bagian:<\/p>\n\n\n\n<p><strong>a. Fakta Sejarah<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Fakta-fakta sejarah yang didasari oleh pernyataan para\nsejarawan klasik dunia menunjukkan bahwa agama tidak ada di tengah masyarakat.\nNamun, mereka percaya pada satu Sumber Awal, Ilmu dan Kuasa di jagad yang\nmereka sembah. Apabila kita menerima aksioma ini, sejarah ini memiliki kaidah\nuniversal yang mengatakan bahwa komunitas manusia sepanjang perjalanan sejarah\nsenantiasa berada pada penyembahan akan kebenaran yang tidak mendatangkan\nkerugian bagi mereka. (Pada setiap kaidah universal, terdapat pengecualian).<\/p>\n\n\n\n<p>Will Durant, sejarawan Barat dalam <em>History of\nCivilization<\/em>, setelah menyebutkan hal-hal berkenaan dengan kondisi\ntanpa-agama (dalam banyak masyarakat), mengakui suatu kebenaran, bahwa&nbsp; \u201cDengan adanya asumsi-asumsi yang telah kami\nsebutkan, kondisi tanpa-agama adalah sesuatu yang langka. Dan keyakinan kuno\nini menyatakan bahwa agama adalah teladan yang diyakini oleh masyarakat secara\numum dan sesuai dengan kebenaran, dan&nbsp;\nini -menurut pandangan seorang filsuf-merupakan salah satu hukum dasar\nsejarah dan psikologi. Ia tidak merasa puas dengan satu teori yang mennyatakan\nbahwa seluruh agama berasal dari hal-hal sia-sia dan batil. Sebaliknya, ia tahu\nbahwa agama senantiasa bersama sejarah sejak dahulu&#8221;.<a href=\"#_ftn1\">[1]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Masih pada pembahasan yang sama, Durant menambahkan, \u201cDi\nmanakah letak sumber keutamaan yang sama sekali tidak akan pernah hilang dari\nsanubari manusia ini?\u201d<a href=\"#_ftn2\">[2]<\/a> <\/p>\n\n\n\n<p>Dalam <em>Pelajaran-pelajaran Sejarah<\/em>, berangkat dari\nrasa sedih dan geram, Durant berkata lebih tegas lagi, \u201cAgama memiliki seribu\njiwa. Setiap kali Anda membunuhnya, ia akan hidup kembali.\u201d<a href=\"#_ftn3\">[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Apabila keyakinan kepada Allah Swt. atau agama memiliki\ndimensi adat, taklid, dikte atau propaganda orang lain, niscaya ia tidak\nbersifat sedemikian umum dan serempak, serta terus berlanjut sepanjang\nperjalanan sejarah. Hal ini merupakan sebaik-baik bukti atas kefitrahan agama.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>b. Argumentasi Para Arkeolog<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Tanda-tanda forensik yang\nmasih tersisa (yaitu, kondisi seluruh manusia sebelum adanya invensi tulisan\ndan penulisan), menunjukkan bahwa masyarakat pra-sejarah memiliki agama. Mereka\npercaya kepada Tuhan, dan bahkan Hari Kiamat atau kehidupan pasca kematian. Hal\nitu didasari oleh banyaknya benda-benda kesukaan mereka yang masih tertimbun, dan\ndapat dimanfaatkan oleh orang-orang yang hidup setelah mereka seperti; me-<em>mummi<\/em>-kan\njasad orang-orang mati, dan membangun&nbsp;\nkuburan-kuburan berbentuk piramida yang dapat bertahan dalam waktu yang\nsangat lama untuk mengantisipasi mayat-mayat tersebut supaya tidak terkubur dan\ntertimbun. Semua ini adalah bukti atas kepercayaan masyarakat silam pada Sumber\nAwal (Tuhan) dan Hari Akhir (Kebangkitan).<\/p>\n\n\n\n<p>Benar bahwa\nperilaku-perilaku yang menunjukkan kepercayaan religius mereka ini banyak\ntercemari oleh khurafat dan takhayul. Akan tetapi, karena pembahasan utama kita\nkali ini adalah pembuktian adanya kepercayaan religius pada masa-masa\npra-sejarah, hal ini dapat dijadikan sebagai bukti yang tak terbantahkan. <\/p>\n\n\n\n<p><strong>c. Kajian-kajian Psikis dan Temuan-temuan Para\nPsikoanalis<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Dimensi spiritual manusia dan kecenderungan-kecenderungan\ndasarnya adalah sebuah bukti yang gamblang&nbsp;\natas kefitrahan kepercayaan religius. Empat perasaan yang popular (atau\nempat kecenderungan transendental) dan mendasaryang akhir-akhir ini\ndiintroduksi oleh sebagian psikolog dan psikoanalis sebagai empat dimensi\nspiritual manusia. Empat perasaan tersebut adalah perasaan kognitif, perasaan\nestetik, perasaan etik dan perasaan religius.<a href=\"#_ftn4\">[4]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Di antara empat dimensi spritual manusia yang terkadang\njuga disebut sebagai kecenderungan kepada kesempurnaan mutlak, kecendrungan\nterakhir itu mengajak manusia kepada agama. Meyakini adanya Sumber Awal YangAgung ini tidak memerlukan dalil terpisah. Barangkali, kepercayaan religius\nini terkontaminasi dengan khurafat-khurafat, dan membuat seseorang menjadi\npenyembah berhala, matahari dan bulan. Akan tetapi, pembahasan kita terfokus\npada dasar masalah; ( yakni adanya kecenderungan terhadap Tuhan, Sumber Awal,\ndan Hari Akhir\u2014AK.).<\/p>\n\n\n\n<p><strong>d. Kekecewaan Terhadap Propaganda Penentang Agama<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Kita menyaksikan propaganda intensifanti-agama\ndalam lintasan akhir-akhir kurun ini, khususnya yang merebak di belahan bumi\nEropa dan berlangsung gencar. Ditinjau dari sisi penyebaran dan penggunaan\npelbagai sarana, propaganda ini tidak tertandingi.<\/p>\n\n\n\n<p>Tatkala gerakan sains Eropa (<em>Renaissance<\/em>) yang\ndiusung oleh kaum cendikia dan politisi memberikan kekuatan kepada mereka untuk\nmelepaskan diri dari hegemoni dan dominasi gereja, gelombang anti-agama<a href=\"#_ftn5\">[5]<\/a> ini sedemikian hebat bangkit\ndi Eropa sampai pesan-pesan ateisme muncul ke permukaan. Khususnya penetrasi\nyang dilakukan oleh para filsuf dan ilmuwan alam membantu mereka untuk\nmengoncang seluruh fondasi agama, sehingga keberadaan gereja menjadi terpuruk,\nfigur-figur religius Eropa mengasingkan diri, keyakinan kepada wujud Tuhan,\nmukjizat, Hari Kebangkitan, kitab-kitab suci dipandang sebagai bagian dari\nkhurafat. Akhirnya, mereka membagi perkembangan umat manusia ke dalam empat\nperiode: periode legenda dan mitos, periode agama, periode filsafat, dan\nperiode sains. Berdasarkan klasifikasi ini, masa agama telah lewat dan berlalu\ndari hadapan kita. <\/p>\n\n\n\n<p>Dan sebagai konsekuensinya, dalam literatur-literatur\nSosiologi yang telah mengalami kemajuan pesat pada masa kini, disebutkan bahwa\npada masa tersebut, masalah ini telah dianggap sebagai sebuah hukum pasti bahwa\nagama memiliki faktor natural. Kini faktor-faktor tersebut adalah kebodohan,\nrasa takut, hajat terhadap kehidupan sosial, dan atau masalah-masalahekonomi.\nTentunya, dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat di antara para sosiolog. <\/p>\n\n\n\n<p>Benar bahwa agama yang berkuasa pada masa itu adalah\ngereja Abad Pertengahan. Karena arbitari (penghakiman) yang tanpa belas kasihan\ndan perlakuan-perlakuan buruk mereka terhadap masyarakat secara umum dan para\nahli ilmu alam secara khusus, ketenggelaman dalam gaya hidup aristokrat dan\nglamor, melupakan tekanan-tekanan yang sedang menimpa orang-orang tertindas.\nMerekalah yang harus bertanggung jawab atas segala perbuatan tersebut.Akan\ntetapi, anehnya masalah ini tidak hanya tertuju kepada paus dan gereja, tetapi\nmalah merasuki seluruh agama dunia. <\/p>\n\n\n\n<p>Kaum\nkomunis juga -dengan tujuan melenyapkan agama-&nbsp;&nbsp;\nturun ke kancah dengan segenap kekuatan. Seluruh sarana propaganda dan\npemikiran filsafat mereka dikerahkan untuk mewujudkan sasaran-sasaran\npropaganda. Mereka berupaya semaksimal mungkin memperkenalkan kepada masyarakat\ndunia bahwa agama adalah candu bagi masyarakat. <\/p>\n\n\n\n<p>Namun,\nkita melihat gelombang raksasa anti-agama ini tidak mampu memadamkan bara dan\nsemangat agama yang mengakar pada lubuk hati manusia. Kecenderungan religius\ntumbuh bersemi, dan bahkan di negara-negara komunis sendiri. Informasi terakhir\nmenunjukkan adanya peningkatan kecenderungan para penguasa di daerah-daerah ini\nkepada agama, khususnya kepada Islam. Bahkan di negara-negara komunis yang\nkendati masih berupaya untuk melenyapkan agama, justru menunjukkan hasil yang\nsebaliknya, bahwa yang menggejala adalah gerakan penyebaran agama. <\/p>\n\n\n\n<p>Masalah ini mengindikasikan dengan baik bahwa agama\nmemiliki akar di dalam fitrah setiap manusia. Oleh karena itu, agama dapat\nmenjaga dirinya dalam menghadapi gelombang propaganda yang menentang\nkeberadaanya. Kalau bukan karena mengakarnya agama ini pada diri manusia,\nniscaya agama hingga kini sudah dilupakan orang.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>e. Pengalaman Pribadi dalam Getirnya Kehidupan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Alangkah banyaknya\norang yang belajar tentang kebenaran dalam kehidupan mereka ketika ia\nmenghadapi kesulitan-kesulitan yang menyita energi mereka, seperti badai cobaan\nhidup yang keras dan keterperangkapan dalam petaka. Dalam menghadapi semua ini,\nseluruh gerbang penyelamat lahiriah tertutup di hadapannya. Ketika itulah ia\nmerasakan sisa-sisa harapan yang hangat dari kedalaman jiwa dan perhatiannya\ntertuju kepada Sumber Awal (Tuhan) yang mampu memecahkan seluruh kesulitan yang\nsedang dihadapinya. Hati bergantung kepadanya dan berupaya mencari pertolongan\ndari-Nya.<\/p>\n\n\n\n<p>Bahkan kondisi ini\npun dapat dirasakan oleh orang-orang yang berada dalam keadaan normal dan tidak\nmemiliki kecenderungan religius. Mereka juga mengambil manfaat dari reaksi-reaksi\nruh ini tatkala penyakit-penyakit akut dan kekalahan-kekalahan getir menerpa\nkehidupan mereka. <\/p>\n\n\n\n<p>Semua ini adalah\nbukti nyata atas realitas yang ditegaskan oleh Al-Qur\u2019an tentang kefitrahan <em>ma\u2019rifatull\u00e2h<\/em>\ndan keorisinilan kecenderungan religius pada diri manusia. Dari sudut hati dan\nlubuk jiwa yang paling dalam ia mendengarkan dengan kuat dan ekspresif seruan\nlembut dan penuh kasih, yang menuntunnya ke arah Realitas Agung Yang Mahatahu,\nMahaperkasa, dan Mahatinggi, yang bernama Allah atau Tuhan. Boleh jadi\nseseorang memberikan nama lain atas-Nya. Persoalannya tidak terletak pada\npemberian nama, tetapi terfokus pada iman kepada realitas tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>Para pujangga\nmerefleksikan inti persoalan ini dalam lirik-lirik syair mereka yang indah:<\/p>\n\n\n\n<p><em>Tiada yang mengingkari &nbsp;gejolak cinta kepada-Mu, <\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Pelipur mata hati &nbsp;menatap keindahan-Mu,<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Gundah dan nestapa tatkala berpisah dari-Mu, <\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Memerah dalam jiwaku terpatri bara cinta karena-Mu. <\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Atau dalam syair yang lain: <\/p>\n\n\n\n<p><em>Dalam relung\ndiriku, aku tak mengenal lelah jiwa siapa?<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Aku redup dan Dia\ndalam kebisingan dan kegaduhan.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><strong>f. Kesaksian Para Ilmuan atas Kefitrahan Kecenderungan\nReligius<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Masalah kefitrahan <em>ma\u2019rifatull\u00e2h<\/em> bukanlah masalah\nyang terbatas hanya pada ayat dan riwayat saja. Ucapan-ucapan para ilmuwan,\nfilsuf non-Muslim dan para pujangga dapat dijadikan sebagai bahan perbandingan\ndalam masalah ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai contoh, Einstein, ketika memberikan penjelasan\ndetail seputar pembahasan ini berkata, \u201cSatu keyakinan dan agama -tanpa\nkecuali- ada pada setiap orang. Aku menamakannya \u2018Perasaan Religius\nPenciptaan\u2019. Dalam agama ini, manusia merasakan dirinya begitu kecil-tak\nberharga, menemukan tujuan-tujuan umat manusia dan keagungan yang bersemayam di\nbalik (agama) dan fenomena semesta. Ia melihat dirinya sebagai satu jenis penjara.\nTerkadang ia ingin terbang meninggalkan sarang, dan seluruh keberadaan\nditemukannya dalam bentuk satu realitas.\u201d<a href=\"#_ftn6\">[6]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Pascal, seorang ilmuwan ternama, berkata, \u201cHati memiliki\nargumen-argumen yang tidak dapat dicapai oleh akal.\u201d<a href=\"#_ftn7\">[7]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>William James berkata, \u201cAku menerima dengan baik bahwa\nsumber kehidupan adalah religius (hati). Aku juga menerima bahwa formula dan\ntuntunan-tuntunan praktis filsafat tak ubahnya seperti subjek yang telah\nditerjemahkan dan teks aslinya diterjemahkan ke dalam bahasa yang lain.\u201d<a href=\"#_ftn8\">[8]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Max Muller berkata, \u201cPara pendahulu kita, sejak pertama\nkali menundukkan kepala ke haribaan Tuhan, mereka bahkan tidak mampu memberikan\nnama untuk Tuhan.\u201d<a href=\"#_ftn9\">[9]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Di tempat lain, Muller menyampaikan keyakinannya yang\nbertentangan dengan pendapat <em>main-stream<\/em>. Ia berkata, \u201cAgama dimulai\ndengan penyembahan terhadap alam, benda-benda, dan berhala. Setelah itu,\npenyembahan kepada Tuhan yang satu. Paleontologi (ilmu yang mengkaji tentang\nkehidupan masa pra-sejarah dengan menggunakan bukti-bukti forensik, -AK.)\nmembuktikan bahwa menyembah Tuhan yang satu telah berlangsung semenjak zaman\ndahulu.\u201d <a href=\"#_ftn10\">[10]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Seorang ahli sejarah bernama Palutark berkata, \u201cSekiranya\nAnda memandang pelataran semesta ini, Anda akan jumpai banyak tempat yang di\nsitu tidak ada data mengenai rekonstruksi, pembangunan<em>,<\/em> ilmu, industri,\npolitik, dan negara. Akan tetapi, Anda tidak akan menjumpai tempat yang di situ\ntidak ada Tuhan.\u201d<a href=\"#_ftn11\">[11]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Samuel Kning dalam bukunya <em>J\u00e2me&#8217;eh-Syin\u00e2si <\/em>(Sosiologi)\nberkata, \u201cSeluruh umat manusia memiliki jenis agama. Meskipun para etnolog (ahli\nyang mengkaji tentang etnis, -AK.), petualang dan muballig pertama Masehi\nmenyebutkan adanya kaum yang tidak memiliki agama dan kepercayaan. Akan tetapi,\nsetelah itu diketahui bahwa laporan-laporan mereka tidak memiliki landasan.\nPenilaian mereka hanya berdasarkan pada indikasi yang beranggapan bahwa agama\nkaum ini serupa dengan agama mereka.\u201d<a href=\"#_ftn12\">[12]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Pembahasan ini kami akhiri dengan meminjam ucapan Will\nDurant, sejarawan terkemuka kontemporer. Ia berkata, \u201cSekiranya kita tidak\nberpendapat bahwa agama memiliki akar-akar pada masa pra-sejarah, maka kita\ntidak akan mengenal sejarah dengan baik seperti yang kita kenal sekarang ini.\u201d<a href=\"#_ftn13\">[13]<\/a><br><\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator\"\/>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref1\">[1]<\/a> <em>History of Civilization<\/em>, Edisi Persia, jilid 1, hal. 87 dan\n89.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref2\">[2]<\/a> <em>Idem.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref3\">[3]<\/a> <em>Fitrat<\/em>, Syahid Mutahhari, hal. 153.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref4\">[4]<\/a> Silakan rujuk <em>Makalah <\/em>Kuantaim, terjemahan Ir.\nBayani, dalam buku, <em>Hess-e Mazhabi y\u00e2 bo\u2019d-e Chah\u00e2r-e R\u00fbh-e Ins\u00e2ni<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref5\">[5]<\/a> Perlu\ndiketahui bahwa agama yang dimaksud di sini adalah agama Kristen. Karena agama\nyang mendominasi lingkungan mereka kala itu adalah agama Kristen.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref6\">[6]<\/a> <em>Duny\u00e2-i keh M\u00eebinam<\/em>, dengan ringkasan, hal. 53.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref7\">[7]<\/a> <em>Sair-e Hekmat dar Orupa<\/em>, jilid 2, hal. 14.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref8\">[8]<\/a> <em>Idem<\/em>, hal. 321.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref9\">[9]<\/a> <em>Idem<\/em>, hal. 31. <\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref10\">[10]<\/a> <em>Fitrat,<\/em> Syahid\nMutahhari, hal. 147.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref11\">[11]<\/a> <em>Muqaddameh-ye Niy\u00e2yesh<\/em>, hal. 31.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref12\">[12]<\/a> <em>J\u00e2me&#8217;eh-shen\u00e2si<\/em>, Samuel Kning, hal. 191.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref13\">[13]<\/a> <em>History of Civilizations<\/em>, Edisi Persia, <em>Tarikh-e Tamaddun<\/em>, jilid 1, hal. 88; <em>Tafsir\nPay\u00e2m-e Qur\u2019\u00e2n<\/em>, jilid 3, hal. 120.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ICC Jakarta \u2013 Saya ingin bertanya tentang statemen yang kalau tidak salah berasal dari al-Quran bahwa agama itu<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":8040,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[1],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8039"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8039"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8039\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8041,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8039\/revisions\/8041"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media\/8040"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8039"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8039"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8039"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}