{"id":8231,"date":"2019-02-01T03:21:33","date_gmt":"2019-02-01T03:21:33","guid":{"rendered":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/?p=8231"},"modified":"2019-02-01T03:21:34","modified_gmt":"2019-02-01T03:21:34","slug":"al-quran-dan-penggunaan-dhamir-mudzakar-untuk-lafadz-allah-swt-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/2019\/02\/01\/al-quran-dan-penggunaan-dhamir-mudzakar-untuk-lafadz-allah-swt-2\/","title":{"rendered":"Al-Qur\u2019an dan Penggunaan Dhamir Mudzakar untuk  Lafadz Allah Swt"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>ICC Jakarta &#8211; <\/strong>Pertama, yang harus kita perhatikan disini\nialah bahwa dhamir apapun yang digunakan sebagai ganti (dzamir) sang\nmutakallim, maka dhamir tersebut itu tidaklah memiliki nilai yang mampu\nmempengaruhi kedudukan sang mutakallim. Akan tetapi, peletakan dhamir tersebut\ntidak lain hanyalah berasal dari \u2018urf dan kesepakatan antar para pakar bahasa\nsaja.<\/p>\n\n\n\n<p>Sedangkan kedua, kita juga telah mengetahui\nbahwa mengapa Allah Swt menggunakan dhamir mudzakar untuk diriNya, tidak lain\nkarena bahasa yang dipakai Al-Qur&#8217;an ialah bahasa Arab. Oleh karena itu, dhamir\napapun yang ada dalam Al-Qur\u2019an haruslah mengikuti kaidah yang ada dalam tata\nbahasa Arab. Sementara, bahasa Arab sejatinya bukanlah sebuah bahasa yang\nmuncul lantaran munculnya agama Islam. Yang mana, menurut penjelasan dari beberapa\nkamus yang ada telah mengisyaratkan bahwa orang pertama kali yang menggunakan\nbahasa Arab ialah seseorang yang bernama Yu&#8217;rab bin Qahthan. Ia memiliki nasab\nyang bersambung sampai Nabi Nuh As<a href=\"#_ftn1\">[1]<\/a>.\nDalam bahasa Arab disebutkan bahwa dhamir terkadang mudzakar (sebagai ganti\nlaki-laki) dan kadang adalah perempuan (sebagai ganti perempuan). Hal itu\nsangat berbeda dengan dhamir yang ada dalam bahasa Persia (yang mana antara\nlaki-laki dan perempuan, keduanya sama-sama menggunanakan satu dhamir saja).<\/p>\n\n\n\n<p>Seluruh yang ada di alam ini tidak akan\nterlepas dari empat hal; hal-hal yang hanya terkait dengan gender perempuan\nsaja, hal-hal yang hanya terkait dengan gender laki-laki saja, hal-hal yang\nsecara kolektif menyangkut kepada laki-laki dan juga perempuan, dan yang\nterakhir adalah hal-hal yang tidak terikat sama sekali dengan bentuk gender\nmanapun<a href=\"#_ftn2\">[2]<\/a>.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam kaidah dan tata bahasa Arab, telah\ndijelaskan bahwa disana terdapat perbedaan dalam peletakan antara dzamir laki-laki\ndan dzamir perempuan. Adapun apabila disana terdapat dua gender yang berbeda,\ndimana yang satu adalah laki-laki dan yang lainnya adalah perempuan, maka yang\ndominan yang akan dipakai untuk keduanya adalah dzamir atau kata ganti\nlaki-laki, bukan perempuan. Adapun apabila disana gender tidak disebutkan sama\nsekali (misalnya adalah kata Allah Swt dan juga para Malaikat-Nya), maka kata\nganti yang digunakan untuk mereka adalah kata ganti dalam bentuk mudzakar (majazi).\nDisana, terdapat kaidah dimana dhamir atau kata ganti laki-laki pada tiga\nkeadaan tertentu akan di gunakan (tentunya menurut kaidah dalam bahasa Arab), sedangkan\npada satu keadaan lainnya, maka dhamir atau kata ganti perempuan baru akan di\ngunakan.<\/p>\n\n\n\n<p>Tentunya, terkadang, seseorang hanya akan\nmelihat kepada muanats dan muzakarnya suatu lafadz saja. Sekalipun, lafadz\ntersebut apabila disejajarkan dengan <em>Al-Jins <\/em>(jenis aslinya) itu berbeda\ndengan lafadznya. Hal ini dapat dilihat misalnya dalam muanats majazi.<\/p>\n\n\n\n<p>Misalnya tatkala kita menyebutkan Matahari,\nmaka dzamir yang kita pakai sebagai kata ganti darinya adalah <em>dzamir muanats<\/em>.\nSementara, tatkala kita menyebutkan Bulan, maka dzamir yang kita gunakan\nsebagai kata ganti darinya ialah <em>dzamir mudzakar<\/em>. Hal itu dapat kita\nketahui karena Al-Qur&#8217;an sendiri telah menjelaskan, &#8220;<em>Wa al-Syams-i wa\ndhuh\u00e2-ha. Wa al-Qamar-i idz\u00e2 tal\u00e2-ha<a href=\"#_ftn3\"><strong>[3]<\/strong><\/a>&#8220;.<\/em>\nAtau dalam ayat lainnya, Allah Swt berfirman, <em>&#8220;Idza al-Syams-u\nkuwwirat&#8221;<a href=\"#_ftn4\"><strong>[4]<\/strong><\/a>.\n<\/em>&nbsp;Dalam ayat tersebut, kita dapat\nketahui bahwa kata ganti yang dipakai untuk Bulan adalah kata ganti mudzakar.\nSementara kata ganti yang dipakai untuk Matahari adalah kata ganti muanats.\nSementara kita ketahui bahwa Matahari dan juga Bulan tidak dapat kita sebut\nsebagai laki-laki ataupun perempuan. Hal itu karena keduanya adalah dua sesuatu\ndiluar daripada gender laki-laki dan perempuan. Akan tetapi, keduanya adalah <em>muanats\ndan mudzakar majaz<\/em>i belaka.<a href=\"#_ftn5\">[5]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Merupakan sebuah kelaziman bahwa setiap pesan yang\nhendak di tulis atau disampaikan dengan menggunakan bahasa ini (bahasa Arab),\nmaka &nbsp;pesan tersebut haruslah mengikuti aturan\ndan tata bahasa yang ada dalam bahasa tersebut. Hal itu karena sang pendengar\natau pembaca baru akan dapat memahami makna yang terkandung dalam pesan\ntersebut apabila ia menggunakan tata bahasa yang baik dan benar. Dan apabila tidak\ndemikian, maka jangan heran apabila sang pendengar tidak akan memahami makna\nyang tersirat dalam pesan tersebut. Bahkan, terkadang ia justru akan memahami\nmakna lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Karena Al-Qur\u2019an diturunkan dengan bahasa Arab,\nmaka secara otomatis, iapun harus mengikuti kaidah-kaidah yang ada dalam bahasa\nArab itu sendiri. Sebelumnya juga telah kita sebutkan bahwa menurut kaidah yang\nada dalam bahasa Arab bahwa dalam tiga keadaan tertentu, dhamir mudzakarlah\nyang akan digunakan. Sementara dalam satu keadaan lainnya, barulah dhamir\nmuannats akan digunakan. <\/p>\n\n\n\n<p>Dikarenakan Allah Swt adalah wujud\ntrancscendent (lebih tinggi) dari jinsiat (kelamin), yang mana Dia bukanlah\nlaki-laki (hakiki) dan juga bukan perempuan (hakiki), maka kata ganti yang\nharus dipakai untuk-Nya ialah kata ganti mudzakar majazi. Yang mana, penggunaan\ntersebut dipakai untuk nama, sifat, dan dhamir-Nya itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Referensi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ol><li>Makarim Syirazi va\ndigaran, <em>Tafs\u00eer-e Nem\u00fbneh, <\/em>jilid 17, hal. 308.<\/li><li>Sayid \u2018Abdul Husain\nTayib, <em>Athyab al-Bay\u00e2n f\u00ee Tafs\u00eer-i al-Qur\u2019\u00e2n, <\/em>jilid 11, hal 24.<\/li><li>Jarjani, <em>\u00c2y\u00e2t-u\nal-Ahk\u00e2m, <\/em>jilid 2, hal 390.<\/li><\/ol>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator\"\/>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref1\">[1]<\/a>.\n<em>Majma\u2019 al-Bahrain, <\/em>jilid 2, hal 119, <em>lughatnameh Dahkhuda.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref2\">[2]<\/a>.\nPernyataan-pernyataan semacamam ini sejatinya sudah timbul semenjak Islam\nmuncul, dimana dikatakan bahwa Al-Qur\u2019an telah menyalahi tatabahasa Arab. Hal\nitu karena penggunaan dhamir untuk hal-hal yang secara kolektif menyangkut masalah\nlaki-laki dan perempuan, maka Al-Qur\u2019an akan menggunakan dhamir laki-laki saja\ncontohnya adalah apa yang ada dalam Al-Qur\u2019an dalam surat Al-Ahzab ayat 35.\nIhwal ayat ini, para ahli tafsir mengatakan bahwa salah seorang wanita yang\nbernama Asma\u2019 binti \u2018Umais datang menemui Rasulullah Saw dan bertanya kepada\nbeliau, \u201cBagaimana bisa Al-Qur\u2019an menyebut keutamaan-keutamaan yang ada antara\nkaum lelaki dan perempuan hanya dengan menggunakan dzamir jama\u2019 mudzakar salim,\ntanpa menyebutnya ke dalam jama\u2019 muanats salim?\u201d Dan sebagai jawaban atas\npertanyaan tersebut, maka turunlah ayat ke 35 surat Al-Ahzab tersebut, yang\nmana dalam ayat tersebut Allah Swt menggunakan dhamir yang berbeda,satu dhamir\nkhusus untuk kata ganti laki-laki dan yang lain, dhamir khusus untuk kata ganti\nperempuan. (<em>Tafsir Nemuneh, <\/em>jilid 17, hal 308). Dengan menengok kepada\npermasalahan diatas, maka sebagian dari ahli tafsir mengatakan bahwa\nsebenarnya, ayat diatas memiliki isyarat yang begitu tinggi. Dimana, dhamir\nyang ditulis untuk kata ganti laki-laki itu sebenarnya tidak hanya dikhususkan\nkepada laki-laki saja. Akan tetapi, dhamir tersebut mengisyaratkan keduanya;\nlaki-laki dan juga perempuan. (<em>Tafsir Hid\u00e2yat, <\/em>jilid 10, hal 267).<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref3\">[3]<\/a>.\nSyams, ayat 1&amp;2.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref4\">[4]<\/a>.\nTakwir, ayat 1.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref5\">[5]<\/a>.\nUntuk mengetahui secara lebih mendalam ihwal maksud dan arti, baik itu <em>mudzakar<\/em>\ndan <em>muannats haqiqi <\/em>ataupun <em>mudzakar dan muanats majazi, <\/em>maka\nrujuklah kitab <em>Al-Hid\u00e2yah <\/em>ataukah <em>Al-Unm\u00fbdzaj. <\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Pertama, yang harus kita perhatikan disini ialah bahwa dhamir apapun yang digunakan sebagai ganti (dzamir) sang mutakallim, maka dhamir tersebut itu tidaklah memiliki nilai yang mampu mempengaruhi kedudukan sang mutakallim. Akan tetapi, peletakan dhamir tersebut tidak lain hanyalah berasal dari \u2018urf dan kesepakatan antar para pakar bahasa saja.<\/p>\n\n\n\n<p>Sedangkan kedua, kita juga telah mengetahui\nbahwa mengapa Allah Swt menggunakan dhamir mudzakar untuk diriNya, tidak lain\nkarena bahasa yang dipakai Al-Qur&#8217;an ialah bahasa Arab. Oleh karena itu, dhamir\napapun yang ada dalam Al-Qur\u2019an haruslah mengikuti kaidah yang ada dalam tata\nbahasa Arab. Sementara, bahasa Arab sejatinya bukanlah sebuah bahasa yang\nmuncul lantaran munculnya agama Islam. Yang mana, menurut penjelasan dari beberapa\nkamus yang ada telah mengisyaratkan bahwa orang pertama kali yang menggunakan\nbahasa Arab ialah seseorang yang bernama Yu&#8217;rab bin Qahthan. Ia memiliki nasab\nyang bersambung sampai Nabi Nuh As<a href=\"#_ftn1\">[1]<\/a>.\nDalam bahasa Arab disebutkan bahwa dhamir terkadang mudzakar (sebagai ganti\nlaki-laki) dan kadang adalah perempuan (sebagai ganti perempuan). Hal itu\nsangat berbeda dengan dhamir yang ada dalam bahasa Persia (yang mana antara\nlaki-laki dan perempuan, keduanya sama-sama menggunanakan satu dhamir saja).<\/p>\n\n\n\n<p>Seluruh yang ada di alam ini tidak akan\nterlepas dari empat hal; hal-hal yang hanya terkait dengan gender perempuan\nsaja, hal-hal yang hanya terkait dengan gender laki-laki saja, hal-hal yang\nsecara kolektif menyangkut kepada laki-laki dan juga perempuan, dan yang\nterakhir adalah hal-hal yang tidak terikat sama sekali dengan bentuk gender\nmanapun<a href=\"#_ftn2\">[2]<\/a>.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam kaidah dan tata bahasa Arab, telah\ndijelaskan bahwa disana terdapat perbedaan dalam peletakan antara dzamir laki-laki\ndan dzamir perempuan. Adapun apabila disana terdapat dua gender yang berbeda,\ndimana yang satu adalah laki-laki dan yang lainnya adalah perempuan, maka yang\ndominan yang akan dipakai untuk keduanya adalah dzamir atau kata ganti\nlaki-laki, bukan perempuan. Adapun apabila disana gender tidak disebutkan sama\nsekali (misalnya adalah kata Allah Swt dan juga para Malaikat-Nya), maka kata\nganti yang digunakan untuk mereka adalah kata ganti dalam bentuk mudzakar (majazi).\nDisana, terdapat kaidah dimana dhamir atau kata ganti laki-laki pada tiga\nkeadaan tertentu akan di gunakan (tentunya menurut kaidah dalam bahasa Arab), sedangkan\npada satu keadaan lainnya, maka dhamir atau kata ganti perempuan baru akan di\ngunakan.<\/p>\n\n\n\n<p>Tentunya, terkadang, seseorang hanya akan\nmelihat kepada muanats dan muzakarnya suatu lafadz saja. Sekalipun, lafadz\ntersebut apabila disejajarkan dengan <em>Al-Jins <\/em>(jenis aslinya) itu berbeda\ndengan lafadznya. Hal ini dapat dilihat misalnya dalam muanats majazi.<\/p>\n\n\n\n<p>Misalnya tatkala kita menyebutkan Matahari,\nmaka dzamir yang kita pakai sebagai kata ganti darinya adalah <em>dzamir muanats<\/em>.\nSementara, tatkala kita menyebutkan Bulan, maka dzamir yang kita gunakan\nsebagai kata ganti darinya ialah <em>dzamir mudzakar<\/em>. Hal itu dapat kita\nketahui karena Al-Qur&#8217;an sendiri telah menjelaskan, &#8220;<em>Wa al-Syams-i wa\ndhuh\u00e2-ha. Wa al-Qamar-i idz\u00e2 tal\u00e2-ha<a href=\"#_ftn3\"><strong>[3]<\/strong><\/a>&#8220;.<\/em>\nAtau dalam ayat lainnya, Allah Swt berfirman, <em>&#8220;Idza al-Syams-u\nkuwwirat&#8221;<a href=\"#_ftn4\"><strong>[4]<\/strong><\/a>.\n<\/em>&nbsp;Dalam ayat tersebut, kita dapat\nketahui bahwa kata ganti yang dipakai untuk Bulan adalah kata ganti mudzakar.\nSementara kata ganti yang dipakai untuk Matahari adalah kata ganti muanats.\nSementara kita ketahui bahwa Matahari dan juga Bulan tidak dapat kita sebut\nsebagai laki-laki ataupun perempuan. Hal itu karena keduanya adalah dua sesuatu\ndiluar daripada gender laki-laki dan perempuan. Akan tetapi, keduanya adalah <em>muanats\ndan mudzakar majaz<\/em>i belaka.<a href=\"#_ftn5\">[5]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Merupakan sebuah kelaziman bahwa setiap pesan yang\nhendak di tulis atau disampaikan dengan menggunakan bahasa ini (bahasa Arab),\nmaka &nbsp;pesan tersebut haruslah mengikuti aturan\ndan tata bahasa yang ada dalam bahasa tersebut. Hal itu karena sang pendengar\natau pembaca baru akan dapat memahami makna yang terkandung dalam pesan\ntersebut apabila ia menggunakan tata bahasa yang baik dan benar. Dan apabila tidak\ndemikian, maka jangan heran apabila sang pendengar tidak akan memahami makna\nyang tersirat dalam pesan tersebut. Bahkan, terkadang ia justru akan memahami\nmakna lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Karena Al-Qur\u2019an diturunkan dengan bahasa Arab,\nmaka secara otomatis, iapun harus mengikuti kaidah-kaidah yang ada dalam bahasa\nArab itu sendiri. Sebelumnya juga telah kita sebutkan bahwa menurut kaidah yang\nada dalam bahasa Arab bahwa dalam tiga keadaan tertentu, dhamir mudzakarlah\nyang akan digunakan. Sementara dalam satu keadaan lainnya, barulah dhamir\nmuannats akan digunakan. <\/p>\n\n\n\n<p>Dikarenakan Allah Swt adalah wujud\ntrancscendent (lebih tinggi) dari jinsiat (kelamin), yang mana Dia bukanlah\nlaki-laki (hakiki) dan juga bukan perempuan (hakiki), maka kata ganti yang\nharus dipakai untuk-Nya ialah kata ganti mudzakar majazi. Yang mana, penggunaan\ntersebut dipakai untuk nama, sifat, dan dhamir-Nya itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Referensi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ol><li>Makarim Syirazi va\ndigaran, <em>Tafs\u00eer-e Nem\u00fbneh, <\/em>jilid 17, hal. 308.<\/li><li>Sayid \u2018Abdul Husain\nTayib, <em>Athyab al-Bay\u00e2n f\u00ee Tafs\u00eer-i al-Qur\u2019\u00e2n, <\/em>jilid 11, hal 24.<\/li><li>Jarjani, <em>\u00c2y\u00e2t-u\nal-Ahk\u00e2m, <\/em>jilid 2, hal 390.<\/li><\/ol>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator\"\/>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref1\">[1]<\/a>.\n<em>Majma\u2019 al-Bahrain, <\/em>jilid 2, hal 119, <em>lughatnameh Dahkhuda.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref2\">[2]<\/a>.\nPernyataan-pernyataan semacamam ini sejatinya sudah timbul semenjak Islam\nmuncul, dimana dikatakan bahwa Al-Qur\u2019an telah menyalahi tatabahasa Arab. Hal\nitu karena penggunaan dhamir untuk hal-hal yang secara kolektif menyangkut masalah\nlaki-laki dan perempuan, maka Al-Qur\u2019an akan menggunakan dhamir laki-laki saja\ncontohnya adalah apa yang ada dalam Al-Qur\u2019an dalam surat Al-Ahzab ayat 35.\nIhwal ayat ini, para ahli tafsir mengatakan bahwa salah seorang wanita yang\nbernama Asma\u2019 binti \u2018Umais datang menemui Rasulullah Saw dan bertanya kepada\nbeliau, \u201cBagaimana bisa Al-Qur\u2019an menyebut keutamaan-keutamaan yang ada antara\nkaum lelaki dan perempuan hanya dengan menggunakan dzamir jama\u2019 mudzakar salim,\ntanpa menyebutnya ke dalam jama\u2019 muanats salim?\u201d Dan sebagai jawaban atas\npertanyaan tersebut, maka turunlah ayat ke 35 surat Al-Ahzab tersebut, yang\nmana dalam ayat tersebut Allah Swt menggunakan dhamir yang berbeda,satu dhamir\nkhusus untuk kata ganti laki-laki dan yang lain, dhamir khusus untuk kata ganti\nperempuan. (<em>Tafsir Nemuneh, <\/em>jilid 17, hal 308). Dengan menengok kepada\npermasalahan diatas, maka sebagian dari ahli tafsir mengatakan bahwa\nsebenarnya, ayat diatas memiliki isyarat yang begitu tinggi. Dimana, dhamir\nyang ditulis untuk kata ganti laki-laki itu sebenarnya tidak hanya dikhususkan\nkepada laki-laki saja. Akan tetapi, dhamir tersebut mengisyaratkan keduanya;\nlaki-laki dan juga perempuan. (<em>Tafsir Hid\u00e2yat, <\/em>jilid 10, hal 267).<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref3\">[3]<\/a>.\nSyams, ayat 1&amp;2.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref4\">[4]<\/a>.\nTakwir, ayat 1.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref5\">[5]<\/a>.\nUntuk mengetahui secara lebih mendalam ihwal maksud dan arti, baik itu <em>mudzakar<\/em>\ndan <em>muannats haqiqi <\/em>ataupun <em>mudzakar dan muanats majazi, <\/em>maka\nrujuklah kitab <em>Al-Hid\u00e2yah <\/em>ataukah <em>Al-Unm\u00fbdzaj. <\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ICC Jakarta &#8211; Pertama, yang harus kita perhatikan disini ialah bahwa dhamir apapun yang digunakan sebagai ganti (dzamir)<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":8234,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[22],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8231"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8231"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8231\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8235,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8231\/revisions\/8235"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media\/8234"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8231"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8231"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8231"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}