{"id":8442,"date":"2019-02-14T05:37:00","date_gmt":"2019-02-14T05:37:00","guid":{"rendered":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/?p=8442"},"modified":"2019-02-14T05:38:37","modified_gmt":"2019-02-14T05:38:37","slug":"al-khawarizmi-sang-penemu-algoritma","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/2019\/02\/14\/al-khawarizmi-sang-penemu-algoritma\/","title":{"rendered":"Al-Khawarizmi, Sang Penemu Algoritma"},"content":{"rendered":"\n<p>ICC Jakarta &#8211; Dunia hari ini telah mengalami kemajuan yang pesat dan radikal. \u00a0Seluruh aspek kehidupan telah disusun secara kompleks dan rapih dalam sistem yang terkomputerisasi. Teknologi komputer yang canggih serta internet, telah masuk kedalam kehidupan kita bahkan ke sisi yang paling personal. Facebook, Twitter, Instagram, dan WhatsApp menjadi bagian yang tak telepas dari keseharian. Seluruh teknologi yang ada hari ini tidak terlepas dari ilmu matematika yang telah diajarkan dari zaman ke zaman sehingga bisa kita rasakan manfaatnya sampai sekarang, dan salah satu tokoh yang telah berjasa besar atas kemajuan ini adalah Al-Khawarizmi.<\/p>\n\n\n\n<p>Al-Khawarizmi\nadalah salah satu ilmuwan termasyhur di Islam dan dunia pendidikan yang\nkarya-karyanya memiliki pengaruh signifikan terhadap ilmu matematika dan ilmu\nastronomi. Dalam hubungan ini Aldo Milli berkata,&nbsp;<em>\u201cJika merujuk kepada\nilmu matematika dan ilmu astronomi, kita akan menemukan sarjana tingkat atas\nmasa permulaan, seperti Abu Abdullah Mohammad Ibnu Musa al-Khawarizmi yang amat\ntermasyhur\u201d<\/em>.<a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-1-penemu-algoritma\/#_ftn1\">[1]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Nama\nlengkap dari Al-Khawarizmi adalah Abu Muhammad ibn Musa Al-Khawarizmi. Di\nkalangan Ilmuwan Barat dan Eropa dia lebih dikenal dengan nama Algoritma. Dia\ndilahirkan di sebuah kota kecil sederhana di pinggiran sungai Oxus (Ammu\nDarya), yakni kota Khawarizm (Khanate of Khiva) yang terletak di bagian selatan\nSungai Oxus, Uzbekistan,<a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-1-penemu-algoritma\/#_ftn2\">[2]<\/a>&nbsp;pada tahun 770 M dan kemudian wafat\npada tahun 840 M.<a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-1-penemu-algoritma\/#_ftn3\">[3]<\/a>&nbsp;Tak ada data yang pasti tentang\ntanggal dan kapan tepat kelahiran wafatnya. Sedangkan Phillip K Hitti\nmemperkirakan Al-Khawarizmi wafat pada tahun 850 M.<a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-1-penemu-algoritma\/#_ftn4\">[4]<\/a>&nbsp; Kedua orang tuanya yang berasal\ndari Khawarizm kemudian membawanya pindah ke sebuah tempat di selatan kota\nBaghdad (Irak) ketika dia masih kecil. Di kota Baghdad inilah Al-Khawarizmi\ndibesarkan dan di kota ini pulalah pengetahuan serta pengalamannya berkembang,\nsehingga kemudian menjadikan namanya populer dan dikenal sebagai ilmuwan muslim\nterkemuka.<\/p>\n\n\n\n<p>Dilihat\ndari rentang waktu kehidupannya (antara rahun 780-847 M) maka bisa dipastikan\njika Al-Khawarizmi telah menjalani hidupnya di masa pemerintahan enam orang\nKhalifah Bani Abbasiyah. Ketika dia masih kecil, jabatan khalifah di pegang\noleh Al-Mahdi (775-785 M) dan Musa Al-Hadi (785-786 M), kemudian ketika dalam\nusia remaja dan beranjak dewasa, di mana Al-Khawarizmi sudah diangkat sebagai\npegawai khalifah Abbasiyah, khalifah Bani Abbasiyah adalah Harun Al-Rasyid (786-809\nM), pada masa kecemerlangan Al-Khawarizmi, jabatan khalifah dipegang oleh\nAl-Ma\u2019mun (819-833 M), dan kemudian menjelang wafatnya, Bani Abbasiyah berada\ndi bawah pemerintahan khalifah Al-Mu\u2019tashim (833-842 M) dan Al-Watsiq (842-847\nM).<a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-1-penemu-algoritma\/#_ftn5\">[5]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Tentang\nagama Al-Khawarizmi, Toomer pernah menulis \u201c<em>Sebutan lain untuk beliau\n(Al-Khawarizmi) diberikan oleh Al-Tabari, \u201cal-Majusi\u201d. Ini mengindikasikan dia\nadalah pengikut Zoroaster. Ini mungkin terjadi pada orang yang berasal dari\nIran. Tetapi, kemudian buku Al-jabar beliau menunjukan beliau adalah seorang\nMuslim Ortodok, jadi sebutan Al-Tabari ditujukan pada saat dia muda, dia\nberagama Majusi\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Penulis\nsejarah matematika kenamaan, George Sarton, mengungkapkan bahwa al-Khawarizmi\ntermasuk salah satu ilmuwan Muslim terbesar dan terbaik pada masanya. Sarton\nmenggolongkan periode antara abad ke 4-5 M sebagaimana zaman al-Khawarizmi,\nkarena dia adalah ahli matematikawan terbesar pada masanya<a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-1-penemu-algoritma\/#_ftn6\">[6]<\/a>. Kemudian Smith dan Karpinski\nmenggambarkan pribadi al-Khawarizmi sebagai tokoh terbesar pada masa keemasan\nBaghdad, setelah seorang penulis Muslim menggabungkan ilmu matematika klasik\nBarat dan Timur, lalu mengklasifikasikan, hingga akhirnya membangkitkan\nkesadaran daratan Eropa.<\/p>\n\n\n\n<p>Phillip\nK Hitti pun memuji jasa yang telah Al-Khawarizmi wariskan. Dia menyatakan bahwa\nkarya Al-Khawarizmi&nbsp;<em>Hisab Al-Jabr wal Muqabillah<\/em>&nbsp;yang\nditerjemahkan ke dalam bahasa latin pada abad ke-12 oleh Gerard dari Cremona\nmenjadi buku penting dan referensi utama pelajaran matematika di berbagai\nperguruan tinggi di Eropa. Lebih dari itu karya-karya Al-Khawarizmi juga\nberjasa dalam memperkenalkan angka-angka Arab atau Algorisme ke dunia Barat.<a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-1-penemu-algoritma\/#_ftn7\">[7]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Dalam\nkitab Al-Fihrist, karya Ibnu al-Nadim, dapat kita temukan sejarah singkat\nAl-Khawarizmi, bersama dengan karya-karya tulisnya. Dia hampir menekuni seluruh\npekerjaannya, antara 813-822 M. Setelah Islam masuk Persia, Baghdad menjadi\npusat ilmu dan perdagangan, dan banyak pedagang dan ilmuwan dari Cina dan India\nberkelana ke kota ini, yang dilakukan juga oleh dirinya. Dia bekerja di Baghdad\ndi Sekolah Kehormatan yang didirikan oleh Khalifah Al-Ma\u2019mun, tempat dia\nbelajar ilmu alam dan matematika, termasuk mempelajari terjemahan manuskrip\nSansakerta dan Yunani. <\/p>\n\n\n\n<p><strong>Ilmuan\nTerpercaya<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Al-Khawarizmi\ndikisahkan memiliki sebuah keunggulan yang sangat besar dalam memanfaatkan\nbuku-buku yang terdapat di perpustakaan Al-Ma\u2019mun. Dia belajar ilmu matematika,\nilmu geografi, ilmu astronomi, disamping pengetahuan sejarah yang baik tentang\norang Yunani dan Hindu.<a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-2-ilmuwan-terpercaya\/#_ftn1\">[8]<\/a>&nbsp;Di\nmasa Al-Ma\u2019mun inilah, Al-Khawarizmi mulai terkenal dan mencapai masa puncaknya\nsebagai seorang ilmuwan.<\/p>\n\n\n\n<p>Al-Ma\u2019mun\nsangat terkenal sebagai seorang khalifah yang sangat mencintai dan mendorong\nperkembangan ilmu pengetahuan di dunia islam. Dia melanjutkan usaha para\npendahulunya dalam meningkatkan perhatian pada ilmu pengetahuan dan usaha\npenerjemahan buku ilmu pengetahuan yang sudah dimulai sejak khalifah Al-Mansur.\nBeberapa hal yang mendorong khalifah untuk melakukan usaha penerjemahan\nterhadap berbagai buku ilmu pengetahuan dari berbagai peradaban tersebut\ndikarenakan pada masa tersebut masyarakat sangat memerlukan pengetahuan,\nterutama setelah Muslim berinteraksi dengan berbagai bangsa, di samping sikap\nkritis yang mulai berkembang pada saat itu, terutama hal yang berhubungan\ndengan logika dan filsafat yang penting untuk dikuasai agar dapat membangun\ndialog konstruktif dengan orang-orang Yahudi atau Nasrani. Pada masa itu pun\nstabilitas politik relatif aman dan bahasa Arab telah menjadi bahasa kesatuan.\nSementara berbagai daerah yang masuk Islam juga memiliki berbagai kebudayaan\nyang patut untuk dikembangkan, sehingga perlu untuk dipelajari dan\nditerjemahkan ke dalam bahasa Arab.<a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-2-ilmuwan-terpercaya\/#_ftn2\">[9]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Karena\nkepandaian dan kecerdasan yang dimilikinya, Al-Khawarizmi mampu masuk pada\nlingkungan&nbsp;<em>Dar al-Hukama<\/em>, yaitu sebuah lembaga penelitian dan\npengembangan ilmu pengetahuan yang didirikan pada masa Bani Abbasiyah oleh\nKhalifah Harun Al-Rasyid.<a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-2-ilmuwan-terpercaya\/#_ftn3\">[10]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Buku-buku\nilmu pengetahuan dan filsafat didatangkan dari berbagai peradaban ke Baghdad,\nbaik dari Byzantium (Romawi), Yunani, India, maupun Persia untuk diterjemahkan\nke Bahasa Arab. Untuk itu di masa pemerintahannya Al-Makmun kemudian mendirikan\nsebuah lembaga ilmu pengetahuan yaitu Bait al-Hikmah, beberapa versi\nmenjelaskan bahwa lembaga Bait al-Hikmah ini telah didirikan semasa\npemerintahan Harun Al-Rasyid yang kemudian dikembangkan dan diperluas oleh\nAl-Makmun. Bait al-Hikmah menjadi tempat berkumpulnya para ilmuwan untuk\nmengembangkan ilmu pengetahuan dan melakukan penelitian, di mana semua kegiatan\nilmiah mereka ditanggung dan dijamin oleh pemerintah, bahkan mereka pun\nmendapatkan&nbsp; gaji yang layak. Bait al-Hikmah sendiri tidak hanya berfungsi\nsebagai pusat penerjemahan dan aktivitas penelitian para ilmuwan, akan tetapi\njuga sebagai tempat lembaga pendidikan (perguruan tinggi) yang dilengkapi\ndengan perpustakaan. Di antara cabang-cabang ilmu pengetahuan yang diutamakan\ndan dikembangkan di Bait al-Hikmah adalah ilmu kedokteran, matematika, optika,\nfisika, gografi, astronomi, ilmu falak, sejarah, dan filsafat.<a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-2-ilmuwan-terpercaya\/#_ftn4\">[11]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Al-Makmun\nsangat tertarik dan mengagumi kecerdasan Al-Khawarizmi, itulah sebabnya dia\nkemudian secara khusus mengirim dan menugaskan Al-Khawarizmi untuk belajar\nSanskerta. Bahasa Sanskerta pada waktu itu merupakan bahasa pengantar buku-buku\nilmu pengetahuan dari India. Peradaban India sendiri tercatat sebagai salah\nsatu peradaban yang maju, terutama daerah sungai Gangga, disamping peradaban\nBabylonia, Byzantium, Persia, dan Yunani, sehingga untuk kepentingan\nperkembangan peradaban Islam dan ilmu pengetahuan, khalifah Al-Makmun merasa\nperlu untuk menerjemahkan buku-buku ilmu pengetahuan dari India yang berbahasa\nSanskerta ke dalam bahasa Arab agar mudah dipelajari oleh orang-orang Islam\npada waktu itu.<a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-2-ilmuwan-terpercaya\/#_ftn5\">[12]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Setelah\nmahir dan mengusai bahasa ini dengan baik, ia kemudian ditugasi kembali oleh\nkhalifah Al-Makmun untuk menterjemahkan buku India tentang astronomi yang\nberjudul&nbsp;<em>Siddhanta<\/em>&nbsp;ke bahasa Arab. Buku ini berhasil\nditerjemahkan oleh Al-Khawarizmi dengan baik, bahkan kemudian ia berhasi\nmenterjemahkan buku tentang geografi, karya tulis Ptolomeus ke bahasa Arab.<em>&nbsp;Siddhanta<\/em>&nbsp;adalah\nsebuah buku berkenaan dengan ilmu astronomi yang di bawa oleh orang-orang India\nke kota Baghdad sekitar tahun 771 M atau tahun 773 M. Usaha penerjemahan ini\nsemula dilakukan oleh Al-Fazari, namun usaha tersebut belum sempurna dilakukan.\nBaru kemudian atas usaha Al-Khawarizmi buku tersebut bisa diterjemahkan secara\nsempurna kedalama bahasa Arab.&nbsp;<a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-2-ilmuwan-terpercaya\/#_ftn1\">[13]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Berdasarkan\nbuku tersebut, Al-Khawarizmi telah menyusun sebuat tabel dan ringkasan dari\nsistem-sistem astronomi India dan Yunani yang ditambahnya dengan hasil-hasil\npenyelidikan sendiri. Tabel yang dibuat oleh Al-Khawarizmi ini menjadi terkenal\ndi Eropa setelah diterjemahkan oleh Adelard dari Bath pada tahun 1126. Tabel\nini kemudian menggantikan tabel Yunani dan India yang biasa dipakai sebelumnya.\nBuku ini juga menjadi dasar bagi Al-Khawarizmi dalam menyusun daftar-daftar\nastronominya (<em>astrolabels<\/em>).&nbsp;<a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-2-ilmuwan-terpercaya\/#_ftn2\">[14]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Al-Khawarizmi\nsering mendapat mandat dari khalifah untuk melakukan rihlah ilmiah, mengadakan\nriset ilmiah dan tugas-tugas khusus. Di antaranya khalifah al-Watsiq\nmemerintahkan kepada al-Khawarizmi untuk mengadakan observasi tentang jasad\nAshabul Kahfi yang disebutkan di dalam al-Quran bahwa jasad itu ada di dalam\ngua dan jasad itu masih baik dan tidak rusak, seakan-akan mereka baru mati.\nKhalifah Al-Watsiq ingin melihat kebenaran cerita itu yang di informasikan dari\nal-Quran dan untuk tujuan itu beliau mengutus Al-Khawarizmi. Al-Khawarizmi\ndatang ke Romawi dan menjumpai para pembesar Romawi. Pembesar Romawi kemudian\nmemerintahkan penunjuk jalan untuk mendampingi menuju gua yang berada di atas\npuncak gunung kecil. Kemudian Al-Khawarizmi naik ke atas gunung dan melihat\nlangsung jasad Ashabul Kahfi itu. Kemudian kembali ke Khalifah Al-Watsiq dengan\nberita bahwa, \u201c&nbsp;<em>Ashabul kahfi mati seperti biasanya, akan tetapi jasad\nmereka diawetkan dengan balsem dan kapur<\/em>\u201d.<a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-2-ilmuwan-terpercaya\/#_ftn3\">[15]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Penemuan-penemuan\nBidang Matematika<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Dengan\ntrigonometri jarak suatu bintang di angkasa dapat diukur tanpa harus pergi\nkesana, begitu pula ketinggian tebing, lebar sungai, dll.&nbsp;Al-Khawarizmi\nlah yang menemukan itu semua.<\/p>\n\n\n\n<p>Al-Khawarizmi\ndikenal sebagai tokoh muslim yang banyak membangun dan menemukan teori-teori\nmatematika, salah satunya aljabar, yang oleh para ilmuwan barat disebut&nbsp;<em>aritmatika<\/em>&nbsp;(ilmu\nhitung) yaitu dengan menggunakan angka-angka Arab.<a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-3-penemuan-penemuan-di-bidang-matematika\/#_ftn1\">[16]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Dalam\nbuku karangannya yaitu,&nbsp;<em>al-Jabr wa al-Muqabalah<\/em>&nbsp;dia merumuskan\ndan menjelaskan tabel trigonometri secara detail. Dia juga mengenalkan\nteori-teori kalkulus dasar dengan cara yang mudah, yang pada akhirnya\nAl-Khawarizmi menjadi tonggak dalam sejarah aljabar yang saat ini berkembang\nmenjadi matematika, bahkan dia menjadikan aljabar sebuah ilmu eksak. Maka\npantas jika Al-Khawarizmi disebut sebagai bapak aljabar.<a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-3-penemuan-penemuan-di-bidang-matematika\/#_ftn2\">[17]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Aljabar\nmempelajari penyederhanaan dan pemecahan masalah menggunakan simbol-simbol\nsebagai pengganti konstanta dan variabel. Ilmu aljabar dapat dikatakan berasal\ndari karya Al-Khawarizmi yang berjudul&nbsp;&nbsp;<em>al-Mukhtasarfi Hisab\nal-Jabr wa\u2019l-Muqaballah<\/em>&nbsp;(Kesimpulan Proses Kalkulasi Untuk Paksaan dan\nPersamaan) di mana untuk petama kalinya kata Arab&nbsp;<em>al-Jabr<\/em>, yang\nartinya \u201cpaksaan\u201d dan juga \u201cperbaikan\u201d, dan \u201crestorasi\u201d digunakan. Dari kata\ninilah , menurut para ahli, kata Inggris \u201c<em>Algebra\u201d<\/em>&nbsp;(aljabar)\nditurunkan.<a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-3-penemuan-penemuan-di-bidang-matematika\/#_ftn3\">[18]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Sedangkan\ntrigonometri merupakan penemuannya di bidang matematika yang mempelajari\ntentang hubungan antara sisi dan sudut suatu segitiga serta fungsi dasar yang\nmuncul dari relasi tersebut. Trigonometri merupakan ilmu matematika yang sangat\npenting dalam kehidupan. Aplikasi ilmu trigonometri dalam kehidupan mencangkup\nsegala bidang astronomi, geografi, teori musik, elektronik, ekonomi, medikal,\nteknik, dan masih banyak lagi. Dengan trigonometri kita bisa mengukur jarak\nsuatu bintang di angkasa tanpa harus pergi kesana. Dengan trigonometri kita\nbisa mengukur sudut ketinggian tebing tanpa harus memanjatnya. Dan dapat pula\nmengukur lebar sungai tanpa harus menyebranginya. Itulah manfaat dari mempelajari\ntrigonometri dalam kehidupan sehari-hari. Trigonometri dipelajari oleh\nAl-Khawarizmi dan dia juga mengadakan penelitian tentang ilmu hitung\ntrigonometri. Dia disebutkan adalah orang yang pertama kali membuat dan\nmenerbitkan tabel trigonometri yang di dalamnya terdapat&nbsp;<em>sinus&nbsp;<\/em>dan&nbsp;<em>tan<\/em>,\nkemudian pada abad ke-12 M tabel-tabel trigonometri diterjemahkan ke dalam\nbahasa latin.<a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-3-penemuan-penemuan-di-bidang-matematika\/#_ftn4\">[19]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Nama\nalgoritma merupakan latinisasi nama Al-Khawarizmi, yang dicantumkan dalam\nkaryanya yang berbahasa latin pada abad ke-12, yaitu&nbsp;<em>algorithmi de\nnumero indorum<\/em>. Pada awalnya kata algoritma merupakan istilah yang merujuk\npada aturan-aturan aritmetis untuk menyelesaikan persoalan menggunakan bilangan\nnumerik Arab. Kemudian pad abad ke-18 istilah ini menjadi algoritma yang\nmencakup semua prosedur atau urutan langkah yang jelas dan diperlukan untuk\nmenyelesaikan suatu permasalahan. Dalam hal ini yang pertama ditekankan dalam\nalur pemikiran untuk menyelesaikan suatu pekerjaan yang dituangkan secara\ntertulis adalah alur pikiran. Jadi dapat dipahami bahwa, algoritma setiap orang\ndapat berbeda dengan yang lainnya. Adapun pendekatan kedua adalah tertulis,\nyaitu dapat berupa kalimat, tabel dan gambar tertentu. Contohnya, jika seseorang\ningin mengirim surat kepada seseorang di tempat lain, maka langkah yang harus\ndilakukan adalah menulis surat, kemudian memasukkan surat kedalam amplop,\nkemudian amplop ditempel perangko, kemudian pergi ke kantor pos untuk\nmengirimnya.<a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-3-penemuan-penemuan-di-bidang-matematika\/#_ftn5\">[20]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Pengaruh\nAl-Khawarizmi dalam bidang matematika lainnya dapat dilihat salah satunya dari\nbuku yang berjudul&nbsp;<em>Liber Abaci<\/em>, ditulis oleh ahli Matematika\nbernama Leonardo yang kemudian lebih dikenal dengan julukan Fibonacci dari\nPisa, Italia. Setidaknya ada empat bagian penting dalam buku&nbsp;<em>Liber\nAbaci<\/em>.&nbsp;<em>Bagian pertama<\/em>&nbsp;yakni pengenalan sistem angka\nArab.&nbsp;<em>Bagian kedua<\/em>&nbsp;menyajikan contoh-contoh bidang perniagaan,\nseperti pertukaran mata uang serta penghitungan rugi laba.&nbsp;<em>Bagian\nketiga<\/em>&nbsp;berisi diskusi menyangkut persoalan matematika.&nbsp;<em>Bagian\nterakhir&nbsp;<\/em>berupa sistem taksiran, baik dari urutan angka maupun\ngeometri. Tak hanya itu, buku ini juga memasukkan metode geometri Euclides\nserta persamaan linear simultan.<a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-3-penemuan-penemuan-di-bidang-matematika\/#_ftn6\">[21]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Sejarah\nmencatat, karya yang dibuat tahun 1202 M ini merupakan salah satu yang paling\nfenomenal dan berpengaruh dalam kajian ilmu aritmatika. Disini, Fibonacci\nmemperkenalkan kepada Eropa metode penghitungan angka Arab yang dia pelajari di\nBejaja (Bougei), Afrika Utara. Walaupun sesungguhnya&nbsp;<em>Liber Abaci<\/em>&nbsp;bukanlah\nbuku Barat pertama yang mengungkap tentang ilmu hitung Arab. Penting untuk\ndicatat, dari zaman dahulu hingga awal masa modern, sistem angka Arab hanya\ndigunakan oleh ahli matematika.&nbsp; Ilmuwan muslim menggunakan sistem angka\nBabylonia, serta kalangan pedagang menggunakan sistem angka Yunani dan juga\nYahudi. Namun setelah kemunculan buku Fibonacci, sistem angka dan penghitungan\narab pun dipakai secara luas. Padahal, Fibonacci hanya meneruskan pemikiran dan\nteori yang telah disusun oleh Al-Khawarizmi. Sistem notasi desimal yang\ndikembangkan Al-Khawarizmi inilah yang digunakan oleh Fibonacci untuk menyusun\nkarya monumentalnya itu<em>.<\/em><a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-3-penemuan-penemuan-di-bidang-matematika\/#_ftn7\">[22]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Penemu\nAngka Nol<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Salah satu penemuan penting\nAl-Khawarizmi adalah menemukan bilangan nol. Nol adalah suatu angka yang\ndigunakan untuk mewakili angka dalam angka. Angka nol (0) menjadi penting bagi\nsuatu bilangan dan tentu berpengaruh terhadap ilmu-ilmu menghitung, ilmu alam,\nilmu pasti, serta ilmu-ilmu lainnya. Angka nol memilik manfaat dalam ilmu\nmatematika, diantaranya adalah sebagai identitas tambahan bagi bilangan bulat,\nbilangan<em>&nbsp;real<\/em>&nbsp;dan struktur\naljabar lainnya. Belum ada keterangan pasti dari mana al-Khawarizmi mendapatkan\ndan menggunakan angka nol, walaupun bukti sejarah mengemukakan angka nol\nsendiri sudah dipergunakan pula di India sejak tahun 400 M. Kode angka\nAryabatha telah menerangkan secara lengkap mengenai simbol angka nol. Juga pada\nmasa pemerintahan Bhaskara I (abad 7 M) dasar sistem 10 angka sudah\ndipergunakan secara luas di negara tersebut serta pengenalan konsep angka nol.\nBegitu pula di Babylonia sudah mengenal sistem angka yang memakai 0 digit. Sistem\nangka tersebut sampai ke Timur Tengah pada tahun 670 M, dan disempurnakan\nAl-Khawarizmi dengan menambahkan dan meningkatkan angka desimal berikut\npecahannya.<a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-4-menemukan-angka-nol-dan-sistem-angka\/#_ftn1\">[23]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Al-Khawarizmi tidak hanya meminjam sistem angka India kuno, tetapi\njuga menambahkan satu mata rantai yang hilang, yaitu angka nol tersebut.\nWalaupun secara matematis nol tidak dapat dibuktikan (karena berapa pun angka\ndibagi nol hasilnya tak terdefinisi), Al-Khawarizmi menerapkannya dalam\npenelitian lebih lanjut, yaitu merevolusi beberapa subjek dan menemukan yang\nlain.<a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-4-menemukan-angka-nol-dan-sistem-angka\/#_ftn2\">[24]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Angka Arab sendiri sudah lama dipergunakan sebagai simbolisasi\npenomoran atau penghitungan. Sistem ini terdiri dari 10 angka dengan bentuk\nyang berbeda-beda. Angka yang berada di sisi paling kiri punya nilai yang\npaling tinggi. Pada perkembangan selanjutnya, sistem angka Arab ini memakai\npula tanda desimal serta tanda pengkalian dua yang telah digagas oleh\nAl-Khawarizmi. Pada bentuk yang lebih modern, sistem angka Arab dapat\nmerepresentasikan setiap angka rasional dengan 13 tanda (10 digit, tanda\ndesimal, tanda bagi, tanda strip di depan untuk menandakan angka negatif, dan\nsebagainya). Sebagaimana sistem angka yang lain, angka 1,2, dan 3 ditunjukkan\ndengan penandaan sederhana,&nbsp; 1 ditandai dengan satu garis, 2 dengan dua\ngaris (sekarang dihubungkan dengan diagonal) dan 3 dengan tiga garis\n(dihubungkan dengan dua garis vertikal). Setelah ketiganya, maka angka berikut\nmemakai simbol yang lebih kompleks. Para ahli memperkirakan, hal ini\ndikarenakan semakin sulit untuk menghitung objek lebih dari tiga. Secara\nkeseluruhan, sistem angka Arab terbagi atas dua kelompok angka yaitu sistem\nangka Arab Barat (<em>west Arabic numerials<\/em>) dan sistem\nangka Arab Timur (<em>east Arabic numerials<\/em>). Sistem\nangka Arab timur banyak dipergunakan di wilayah negara Irak, sementara angka\nArab barat dipakai di Andalusia (Spanyol) dan kawasan Maghribi (Afrika Utara).<a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-4-menemukan-angka-nol-dan-sistem-angka\/#_ftn3\">[25]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Di negara Jepang, angka Arab dan angka Romawi keduanya dipakai\npada sistem yang bernama Romaji. Sistem angka Arab diakui sebagai salah satu\nyang paling berpengaruh pada bidang matematika. Para ahli sejarah sepakat bahwa\nangka tersebut berawal dari India. Terlebih setelah orang Arab sendiri menyebut\nangka yang mereka gunakan sebagai angka \u2018India\u2019 atau A<em>rqam\nHindiyah<\/em>, yang kemudian ditranformasikan di dunia Islam sebelum\ntersebar melalui Afrika Utara, Spanyol, dan akhirnya sampai ke Eropa. Namun\nberbeda dengan metode ganjil penulisan angka-angka yang digunakan orang Romawi,\nsistem penulisan angka yang diterapkan di Arab mengelompokkan angka-angka\npuluhan, ratusan dan ribuan, bahkan jutaan menjadi landasan matematika modern.<a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-4-menemukan-angka-nol-dan-sistem-angka\/#_ftn4\">[26]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p><em>Al-Jabr wa-al-Muqabilah<\/em>, (buku tentang Intergrasi dan Persamaan)&nbsp; telah\nditerjemahkan ke dalam bahasa latin sekitar abad ke-12, dan bagi beberapa\nnegara kemudian, buku ini dijadikan sebuah rujukan, terutama di Eropa. Buku ini\njuga diterbitkan untuk pertama kalinya di Kairo pada tahun 1039 M.<a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-4-menemukan-angka-nol-dan-sistem-angka\/#_ftn5\">[5]<\/a>&nbsp;Selain&nbsp;<em>Al-Jabr\nwa-al-Muqabilah,<\/em>&nbsp;terdapat beberapa buku lain yang tidak kalah\npenting dalam khazanah ilmu matematika yang ditulis oleh Al-Khawarizmi, salah\nsatunya adalah&nbsp;<em>Kitabul Jama-wa-Tafriq.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Khusus dalam&nbsp;<em>Kitabul\nJama-wa-Tafriq&nbsp;<\/em>yang diterjemahkan ke dalam bahasa latin\nmenjadi&nbsp;<em>Frattati d\u2019Arithmetika<\/em>,\nAl-Khawarizmi menerangkan seluk beluk kegunaan angka-angka, termasuk angka nol,\ndalam praktek kehidupan sehari-hari. Naskahnya ini menjadi karya gemilang di\nbidang aljabar. Buku karangannya ini disadur ke dalam bahasa latin oleh Gerard\nCremona dan digunakan sebagai rujukan utama hingga abad ke-16 di\nuniversitas-universitas di Eropa.<a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-4-menemukan-angka-nol-dan-sistem-angka\/#_ftn6\">[27]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Kemudian, dari fakta sejarah menunjukan bahwa pada abad pertengahan ilmu matematika di dunia Barat lebih banyak dipengaruhi oleh karya Al-Khawarizmi dibandingkan dengan karya penulis lainnya. Karena itu, masyarakat modern saat ini sangat berhutang budi kepada al-Khawarizmi dalam bidang ilmu matematika, dan Al-Khawarizmi layak dijadikan figur penting dalam bidang ilmu matematika.<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Penemuan Besar di Bidang Lainnya<\/strong> <\/p>\n\n\n\n<p>Al-Khawarizmi\nmemiliki andil dalam beberapa bidang ilmu lain seperti dalam bidang astronomi\ndan geografi. Dalam bidang astronomi dia telah menulis beberapa karya dalam\nbentuk kitab, yaitu; kitab&nbsp;<em>al-Amal bi al-Ustharlab<\/em>, kitab&nbsp;<em>Jadwal\nan-Nujum wa Harakatuha<\/em>, dan kitab&nbsp;<em>as-Sind Hind<\/em>&nbsp;(kitab yang\nmemuat tentang diagram astronomi). Kemudian pada awal abad ke 12, karya-karya\nAl-Khawarizmi mulai diterjemahkan ke dalam bahasa lain. Dalam bahasa Latin,\nkarya-karyanya pertama kali dialih-bahasakan oleh Adelard of Bath dan Gerard of\nCremona, misalnya&nbsp;<em>The Treatise of Arithmetic,<\/em>&nbsp;<em>Al Muqala fi\nHisab Al Jabr wa Al Muqabillah<\/em>. Selanjutnya yaitu&nbsp;<em>Kitab\nSurat-al-Ard<\/em>, sebuah naskah yang saat ini disimpan di Strassbourg, Prancis.\nBuku ini diterjemahkan ke dalam bahasa latin dan informasinya diketahui isi\nbuku ini berlawanan dengan pandangan Ptolomeus<a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-5-penemuan-besar-di-bidang-lainnya\/#_ftn1\">[28];<\/a>&nbsp;serta\nkitab&nbsp;<em>Al-Amal bi al-Usturlab&nbsp;<\/em>(Fungsi Laboratorium Astronomi),\ndan&nbsp;<em>Kitab Amal-al Ustrulab<\/em>&nbsp;(Pengoperasian Laboratorium\nAstronomi).<a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-5-penemuan-besar-di-bidang-lainnya\/#_ftn2\">[29]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Selain\nitu Al-Khawarizmi ikut andil dalam mengukur lingkaran bumi. Dalam literatur\nIslam astronomi disebut dengan ilmu falak, yaitu bidang ilmu yang paling\nmenarik para ilmuwan Muslim selain bidang matematika. Sebab bidang ilmu\ntersebut sangat mendukung peribadatan dalam Islam, seperti menentukan awal dan\nakhir bulan ramadhan, hari raya idul fitri, idul adha, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam\nilmu falak ini al-Khawarizmi memiliki peran dalam mengukur lingkaran bumi yang\ndilakukan pada masa khalifah Al-Ma\u2019mun. Pengukuran ini dilakukan dengan cara\nmenggunakan ilmu astronomi. Untuk tujuan itulah dibentuk dua tim yang terdiri\ndari ilmuwan, salah satuya mengarah ke utara dan satunya mengarah ke selatan\npada garis lintang yang sama. Setelah itu, masing-masing tim menentukan garis\nbujur di tempat tibanya dengan cara mengukur ketinggian bintang kutub. Dari dua\npengukuran itu, para ilmuwan muslim kemudian menghitung derajatnya yang pada\ngilirannya dipergunakan untuk menghitung lingkaran bumi dan separuh wilayahnya\ndengan ketelitian yang melebihi pengukuran yang dilakukan oleh ahli\nmatematikawan Yunani Alexandria, Eratosthemes. Riset pengukuran ini dilakukan\ndi Sanjar dan Palymra, hasilnya 56,75 Mil Arab sebagai panjang derajat\nmeridian. Menurut CA Nallino, ukuran ini hanya selisih 2,877 kaki dari ukuran\ngaris tengah bumi yang sebenarnya.<a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-5-penemuan-besar-di-bidang-lainnya\/#_ftn3\">[30]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Al-khawarizmi\npun membuat diagram astronomi seperti yang dimuat dalam bukunya \u201c<em>as-Sind\nHind<\/em>\u201d yang terkenal. Sebagaimana dia juga menulis beberapa buku penting\ndalam ilmu astronomi. Bahkan Al-Khawarizmi mencoba untuk membuat ramalan\ntentang masa hidup Nabi Muhammad SAW melalui ilmu astronomi. Dia hitung secara\ncermat waktu Nabi dilahirkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam\nilmu geografi dia menulis dua kitab yaitu kitab&nbsp;<em>Shurah al-Ardh&nbsp;<\/em>dan\nkitab&nbsp;<em>Taqwim al-Buldan<\/em>. Dalam kitab yang berjudul&nbsp;<em>Shurah\nal-Ardh<\/em>, al-Khawarizmi menulis yang isinya membenarkan pendapat Ptolomeus.\nDan dalam kitab itu pula Al-Khawarizmi juga membuat peta yang lebih detail dari\npada peta yang dibuat oleh Ptolemaeus. Kitab tersebut menjadi dasar bagi ilmu\nbumi Arab dan dijadikan model oleh ahli geografi Barat untuk menggambar peta\ndunia. Naskah itu, hingga kini masih tersimpan di Strassburg, Jerman. Kitab ini\noleh Abdul Fida dikatakan sebagai buku peta yang sangat rinci menggambarkan\nbagian-bagian bumi yang dihuni manusia karena dihiasi secara lengkap dengan\npeta pada beberapa bagian dunia.&nbsp;<a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-5-penemuan-besar-di-bidang-lainnya\/#_ftn4\">[31]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Selain\nitu juga dia menulis buku yang berjudul&nbsp;<em>Taqwim al-Buldan<\/em>, yang\nmenurut Carlo Nallino dan para orientalis dari Italia lainnya, bahwa buku-buku\nyang ditulis Al-Khawarizmi yang membahas tentang geografi sebagai sebuah\ndisiplin ilmu yang berdiri sendiri. Al-Khawarizmi membuat koreksi-koreksi\nmendasar pada pemikiran filsuf Yunani tentang geografi. Dalam sejarah tercatat\ntujuh puluh orang yang ahli dalam bidang geografi bekerja di bawah koordinasi\nAl-Khawarizmi. Kelompok ini kemudian melahirkan peta bumi yang kita kenal\nsebagai \u201cglobe\u201d untuk pertama kali, dan telah kita dikenal dunia sejak tahun\n830 M.<a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-5-penemuan-besar-di-bidang-lainnya\/#_ftn5\">[32]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Seperti\ndikatakan sebelumnya, Al-Khawarizmi memberikan dampak yang signifikan di bidang\nseni. Bahkan dikatakan bahwa pemikiran Al-Khawarizmi&nbsp; telah memberikan\ngagasan yang brilian terhadap lukisan Monalisa. Leonardo da Vinci tak saja\nterkenal sebagai salah satu pelukis terbesar di dunia, namun dia juga salah\nseorang pematung, arsitek, filsuf, ilmuwan dan ahli tehnik. Leonardo da Vinci\nselalu berupaya untuk menciptakan suatu piranti, kemudian mencoba menggambarkan\ntentang bagaimana benda sesungguhnya yang hendak dibuatnya. Dia pun kemudian\nmemberikan penjelasan tentang bagaimana cara bekerja piranti yang\ndigagasnya.&nbsp;<a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-5-penemuan-besar-di-bidang-lainnya\/#_ftn6\">[33]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Leonardo\nda Vinci juga dikenal mempelajari dengan seksama ilmu anatomi (susunan tubuh\nmanusia), sehingga dia bisa menggambar serta melukiskan manusia sebagaimana\n\u201caslinya\u201d. Semua kemampuannya itu paling tidak didapatnya setelah dia\nmempelajari secara seksama berbagai teori keseimbangan matematika yang telah\ndirumuskan oleh Al-Khawarizmi, yang dalam bahasa matematika dikena dengan \u201cphi\u201d\natau \u201crasio emas\u201d, yang kemudian dipopulerkan di Barat oleh Fibonacci yakni\n1,1,2,3,5,8\u2026. Sehingga dengan angka rasio emas tersebut maka para ilmuwan dapat\nmengukur dan menentukan suatu bangunan secara tepat dan seimbang. Begitu pula\nketika seorang seniman menjadikan gambar manusia sebagai objek\nlukisannya,&nbsp; sebagaimana yang telah dilakukan oleh Leonardo da Vinci.\nDalam bukunya&nbsp;<em>Math and the Monalisa,<\/em>&nbsp;Bulent Atalay menegaskan\nbahwa&nbsp;<em>phi<\/em>&nbsp;atau rasio emas adalah suatu nomor yang sering\ndigunakan di dunia seni serta jagad raya ketika seniman atau ilmuwan\nmenghasilkan sebuah karya yang luar biasa.<a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-5-penemuan-besar-di-bidang-lainnya\/#_ftn7\">[34]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Dalam salah satu buku matematikanya, dia menuliskan pula teori seni musik. Buku itu diterjemahkan oleh Adelard dari Bath pada abad ke 12 dengan judul\u00a0<em>Liber Ysagogarium Alchorism<\/em>. Pengaruh buku ini kemudian sampai ke Eropa dan sejarawan Phillip K Hitti menyebutnya sebagai perkenalan pertama musik Arab ke dunia latin.<a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-5-penemuan-besar-di-bidang-lainnya\/#_ftn8\">[35]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Sumber: Ganaislamika<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Catatan Kaki: <\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-1-penemu-algoritma\/#_ftnref1\">[1]<\/a>&nbsp;Lihat, Aldo Milli,&nbsp;<em>Arabian Science an its Impact in Scientific\nDevelopment in the Wold<\/em>, dalam Halima El Ghirari, Pent. Muhammad\nAkhyar Adnan,&nbsp;<em>Para Pelopor Peradaban Islam,<\/em>Matan,\nSleman, 2005, hlm 5<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-1-penemu-algoritma\/#_ftnref2\">[2]<\/a>&nbsp;Sungai\nOxus adalah sungai yang mengalir panjang dan sekarang masuk dalam wilayah\nnegara Uzbekistan. Uzbekistan sendiri, adalah sebuah wilayah yang subur dan\nmakmur, dan sejak dulu berada dalam tatanan pemerintahan Islam dengan penduduk\nmayoritas Islam<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-1-penemu-algoritma\/#_ftnref3\">[3]<\/a>&nbsp;Beberapa\npendapat lain menyatakan bahwa al-Khawarizmi sebenarnya tidak dilahirkan pada\nahun 780 M dan dibesarkan di kota Baghdad, setelah orangtuanya berpindah ke\nkota ini, sedangkan Khawariz (Uzbekistan) adalah daerah asal orang tua (nenek\nmoyangnya. Ia wafat pada umur 67 tahun).<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-1-penemu-algoritma\/#_ftnref4\">[4]<\/a>&nbsp;Lihat,\nPhilip K Hitty,&nbsp;<em>The Arabs a Short History<\/em>, N.V.\nPenerbitan W. Van Hoeve, Bandung, 1953, hlm 122<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-1-penemu-algoritma\/#_ftnref5\">[5]<\/a>&nbsp;Lihat,\nTim Penyusun,&nbsp;<em>Tarikh Islam<\/em>, Dirjend Pembinaann Kelembagaan\nAgama Islam Departemen Agama RI, Jakarta, 1986, hlm 81<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-1-penemu-algoritma\/#_ftnref6\">[6]<\/a>&nbsp;Lihat, M. Yusuf Abdurrahman,&nbsp;<em>Cara\nBelajar Ilmuwan-Ilmuwan Muslim Pencetus Sains-Sains Canggih Modern<\/em>,\nDiva Press, Yogyakarta, 2013, hlm 93<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-1-penemu-algoritma\/#_ftnref7\">[7]<\/a>&nbsp;Lihat,&nbsp;<em>Op.Cit<\/em>,\nPhillip K Hitti, hlm 152<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-2-ilmuwan-terpercaya\/#_ftnref1\">[8]<\/a>&nbsp;Lihat, Zarkali,&nbsp;<em>Eminent\nFigures dan Personalities<\/em>, vol. 2, hlm 103, dalam Halima El\nGhirari, Pent. Muhammad Akhyar Adnan,&nbsp;<em>Para\nPelopor Peradaban Islam,<\/em>&nbsp;Matan, Sleman, 2005, hlm 6<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-2-ilmuwan-terpercaya\/#_ftnref2\">[9]<\/a>&nbsp;Lihat, M. Noor Matdawan,&nbsp;<em>Lintasan Sejarah Kebudayaan Islam<\/em>,\nBina Usaha,Yogyakarta, 1987, hlm 84<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-2-ilmuwan-terpercaya\/#_ftnref3\">[10]<\/a>&nbsp;Lihat,Wahyu Murtiningsih ,&nbsp;<em>Para\nPendekar Matematika dari Yunani Hingga Persia<\/em>, Diva Press,\nYogyakarta, 2011, hlm 46<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-2-ilmuwan-terpercaya\/#_ftnref4\">[11]<\/a>&nbsp;Lihat, Hamzah Ya\u2019kub,&nbsp;<em>Publisistik\nIslam Teknik Dakwah dan Leadership<\/em>, Diponegoro, Bandung, 1981, hlm\n95<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-2-ilmuwan-terpercaya\/#_ftnref5\">[12]<\/a>&nbsp;Lihat, Philip K Hitty,&nbsp;<em>The\nArabs a Short History<\/em>, N.V. Penerbitan W. Van Hoeve, Bandung, 1953,\nhlm 122<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-2-ilmuwan-terpercaya\/#_ftnref1\">[13]<\/a>&nbsp;lihat,&nbsp;<em>Ibid<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-2-ilmuwan-terpercaya\/#_ftnref2\">[14]<\/a>&nbsp;Lihat,&nbsp;<em>Ibid<\/em>,\nhal 123<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-2-ilmuwan-terpercaya\/#_ftnref3\">[15]<\/a>&nbsp;lihat, Jamil Ahmad,&nbsp;<em>Seratus Muslim terkemuka<\/em>, Pustaka\nFirdaus, Jakarta, 2009, hal 157<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-3-penemuan-penemuan-di-bidang-matematika\/#_ftnref1\">[16]<\/a>&nbsp;Lihat, Ahmad Banawi,&nbsp;<em>118 Tokoh Muslim Genius Dunia<\/em>,\nRestu Agung, 2006, hlm 64<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-3-penemuan-penemuan-di-bidang-matematika\/#_ftnref2\">[17]<\/a>&nbsp;lihat,&nbsp;<em>Ibid<\/em>, hlm 65<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-3-penemuan-penemuan-di-bidang-matematika\/#_ftnref3\">[18]<\/a>&nbsp;Lihat,\nSeyyed Hosein Nasr,&nbsp;<em>Sains\ndan Peradaban di Dalam Islam<\/em>, Pustaka, Bandung, 1968, hlm 140<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-3-penemuan-penemuan-di-bidang-matematika\/#_ftnref4\">[19]<\/a>&nbsp;lihat,<em>&nbsp;Ibid<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-3-penemuan-penemuan-di-bidang-matematika\/#_ftnref5\">[20]<\/a>&nbsp;Lihat,\nM. Yusuf Abdurrahman,&nbsp;<em>Cara\nBelajar Ilmuwan-Ilmuwan Muslim Pencetus Sains-Sains Canggih Modern<\/em>,\nDiva Press, Yogyakarta, 2013, hlm 96<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-3-penemuan-penemuan-di-bidang-matematika\/#_ftnref6\">[21]<\/a>&nbsp;Lihat,tulisan\nJuhriansyah Dalle,&nbsp;<em>Matematika\nIslam (Kajian Terhadap Pemikirkan Al-Khawarizmi)<\/em>&nbsp;dalam Jurnal\nPemikiran Islam dan Pendidikan Al-Talim vol XIII No. 24, Fakultas Tarbiyah\nInstitut Agama Islam Negeri Imam Bonjol, Padang, 2006, hlm 40<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-3-penemuan-penemuan-di-bidang-matematika\/#_ftnref7\">[22]<\/a>&nbsp;Lihat,&nbsp;<em>Ibid<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-4-menemukan-angka-nol-dan-sistem-angka\/#_ftnref1\">[23]<\/a>&nbsp;Lihat,tulisan Juhriansyah Dalle,&nbsp;<em>Matematika Islam (Kajian Terhadap Pemikirkan\nAl-Khawarizmi)<\/em>&nbsp;dalam Jurnal Pemikiran Islam dan Pendidikan\nAl-Talim vol XIII No. 24, Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri Imam\nBonjol, Padang, 2006, hlm 39<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-4-menemukan-angka-nol-dan-sistem-angka\/#_ftnref2\">[24]<\/a>&nbsp;lihat,\nFiras Alkhateeb,&nbsp;<em>Sejarah\nIslam Yang Hilang<\/em>,&nbsp;<em>Menelusuri\nKembali Kejayaan Muslim Pada Masa Lalu<\/em>, PT Bentang Pustaka,\nYoyakarta 2014, hlm 93<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-4-menemukan-angka-nol-dan-sistem-angka\/#_ftnref3\">[25]<\/a>&nbsp;lihat,&nbsp;<em>opcit, hlm 39<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-4-menemukan-angka-nol-dan-sistem-angka\/#_ftnref4\">[26]<\/a>&nbsp;Lihat,&nbsp;<em>Ibid,<\/em>hlm 41<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-4-menemukan-angka-nol-dan-sistem-angka\/#_ftnref5\">[27]<\/a>&nbsp;Lihat,\nMuhammad Akhyar Adnan,&nbsp;<em>Para\nPelopor Peradaban Islam,<\/em>&nbsp;Matan, Sleman, 2005, hlm 7<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-4-menemukan-angka-nol-dan-sistem-angka\/#_ftnref6\">[28]<\/a>&nbsp;lihat,\nR.A. Gunadi M Shoelhi,&nbsp;<em>Dari\nPenakluk Jerusalem Hingga Angka Nol :Khazanah Orang Besar Islam<\/em>,\nRepublika, Jakarta, 2010, hlm 40.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-5-penemuan-besar-di-bidang-lainnya\/#_ftnref1\"><br>\n[29]<\/a>&nbsp;Ptolomeus adalah\nseorang ahli geografi, astronom dan astrolog yang hidup pada zaman Helenistik\ndi provinsi Romawi, Aegyptus. Dia mengarang beberapa risalah Ilmiah, tiga di\nantaranya kemudian memainkan peranan penting dalam keilmuwan Islam dan Eropa,\nyaitu risalah astronomi yang dikenal sebagai&nbsp;<em>Almagest&nbsp;<\/em>(Risalah\nBesar), yang kedua yaitu&nbsp;<em>Geographia<\/em>&nbsp;yang\nmerupakan diskusi teliti mengenai pengetahuan geografi Helebistik, dan yang\nketiga adalah risalah astrologi yang dikenal sebagai&nbsp;<em>Tetrabiblos&nbsp;<\/em>(empat\nbuku) dimana dia berusaha mengadaptasi astrologi horoskop ke filosofi alam\nAristotelian.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-5-penemuan-besar-di-bidang-lainnya\/#_ftnref2\">[30]<\/a>&nbsp;Lihat,\nZarkali,&nbsp;<em>Eminent Figures dan Personalities<\/em>,\nvol. 2, hlm 103, dalam Halima El Ghirari, Pent. Muhammad Akhyar Adnan,&nbsp;<em>Para Pelopor Peradaban Islam,<\/em>&nbsp;Matan,\nSleman, 2005, hlm 53<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-5-penemuan-besar-di-bidang-lainnya\/#_ftnref3\">[31]<\/a>&nbsp;Lihat,\nAldo Milli,&nbsp;<em>Arabian Science an its Impact in Scientific\nDevelopment in the Wold<\/em>, dalam Halima El Ghirari, Pent. Muhammad\nAkhyar Adnan,&nbsp;<em>Para Pelopor Peradaban Islam,<\/em>Matan,\nSleman, 2005, hlm 57<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-5-penemuan-besar-di-bidang-lainnya\/#_ftnref4\">[32]<\/a>&nbsp;Lihat,&nbsp;<em>Ibid,<\/em>&nbsp;hal 65<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-5-penemuan-besar-di-bidang-lainnya\/#_ftnref5\">[33]<\/a>&nbsp;Lihat,\nMuhammad Gharib Gaudah,&nbsp;<em>147\nIlmuwan Terkemuka Dalam Sehjarah Islam<\/em>, Pustaka Kautsar, Jakarta,\n2012, hlm 84<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-5-penemuan-besar-di-bidang-lainnya\/#_ftnref6\">[34]<\/a>&nbsp;Lihat,\ntulisan Juhriansyah Dalle,&nbsp;<em>Matematika\nIslam (Kajian Terhadap Pemikirkan Al-Khawarizmi)<\/em>&nbsp;dalam Jurnal\nPemikiran Islam dan Pendidikan Al-Talim vol XIII No. 24, Fakultas Tarbiyah\nInstitut Agama Islam Negeri Imam Bonjol, Padang, 2006, hlm 42<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-5-penemuan-besar-di-bidang-lainnya\/#_ftnref7\">[35]<\/a>&nbsp;Lihat,&nbsp;<em>Ibid,&nbsp;<\/em>hlm 42<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/ganaislamika.com\/al-khawarizmi-5-penemuan-besar-di-bidang-lainnya\/#_ftnref8\">[36]<\/a>&nbsp;Lihat, Philip K. Hitti,&nbsp;<em>History\nof The Arabs<\/em>, Serambi, Jakarta, 2006,, hlm 153<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ICC Jakarta &#8211; Dunia hari ini telah mengalami kemajuan yang pesat dan radikal. \u00a0Seluruh aspek kehidupan telah disusun<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":8443,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[19],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8442"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8442"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8442\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8445,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8442\/revisions\/8445"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media\/8443"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8442"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8442"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8442"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}