{"id":8944,"date":"2019-04-10T03:03:16","date_gmt":"2019-04-10T03:03:16","guid":{"rendered":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/?p=8944"},"modified":"2019-04-10T03:03:17","modified_gmt":"2019-04-10T03:03:17","slug":"indonesia-peringkat-pertama-global-muslim-travel-index","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/2019\/04\/10\/indonesia-peringkat-pertama-global-muslim-travel-index\/","title":{"rendered":"Indonesia Peringkat Pertama Global Muslim Travel Index"},"content":{"rendered":"\n<p>ICC Jakarta &#8211; Indonesia berhasil menduduki peringkat teratas Mastercard-Crescent Rating Global Muslim Travel Index (GMTI) 2019 bersama dengan Malaysia dengan skor 78. Laporan ini mencakup 130 destinasi secara global, di negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) maupun non-OKI. <\/p>\n\n\n\n<p>Menyusul\nTurki, Arab Saudi, Uni Emirat Arab di peringkat tiga, keempat, dan kelima.\nQatar (peringkat enam), Maroko (peringkat tujuh), Bahrain (peringkat delapan),\nOman (peringkat delapan), dan Brunei ( peringkat sepuluh). Laporan GMTI 2019\njuga menunjukkan Singapura mempertahankan posisinya sebagai destinasi wisata\nramah Muslim di kalangan negara-negara non-OKI lainnya, diikuti Thailand,\nInggris, Jepang, Taiwan, Afrika Selatan, Hong Kong, Korea Selatan, Prancis,\nSpanyol, dan Filipina.<\/p>\n\n\n\n<p>GMTI\nmenganalisa kesehatan dan pertumbuhan berbagai destinasi wisata ramah Muslim\nberdasarkan empat kriteria strategis. Yaitu, akses, komunikasi, lingkungan, dan\nlayanan.<\/p>\n\n\n\n<p>CEO\nCrescentRating dan HalalTrip, Fazal Bahardeen, mengungkapkan alasannya mengapa\nIndonesia bisa menduduki peringkat pertama. \u201cSaya pikir karena edukasi soal\npersepsi halal yang masih salah kaprah di pelaku bisnis wisata&nbsp; dan juga\nevaluasi di area makanan halal,\u201d ujar Fazal di acara peluncuran\nMastercard-Crescentrating Global Muslim Travel Index (GMTI) 2019 di Hotel\nPullman Thamrin, Jakarta, Selasa (9\/4).<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara\nitu, Menteri Pariwisata Republik Indonesia (Menpar RI) Arief Yahya\nmengungkapkan Indonesia memang layak menang. Untuk bisa duduk peringkat satu,\nIndonesia melewati perjalanan yang panjang.<\/p>\n\n\n\n<p>Indonesia\nmenduduki urutan enam di GMTI 2015. Kemudian, Indonesia naik satu peringkat\nsaat laporan GMTI 2016 rilis.<\/p>\n\n\n\n<p>Selanjutnya,\nArief&nbsp; menyebutkan Indonesia berada di posisi ketiga pada GMTI 2017. Tahun\nlalu, Indonesia mendapatkan peringkat kedua di bawah Malaysia. \u201cPerjalanan\nsudah kita buat. Jadi semata kemenangannya sudah direncanakan,\u201d ujar Arief.<\/p>\n\n\n\n<p>Pasar\nwisata halal merupakan salah satu sektor pariwisata dengan tingkat pertumbuhan\ntercepat di seluruh dunia. Tetapi terlepas dari potensinya yang besar, sektor\nini relative masih belum dikembangkan secara maksimal.<\/p>\n\n\n\n<p>Pasar\nini telah melalui berbagai perubahan yang signifikan dalam beberapa tahun\nterakhir. Di awal dekade ini, para pelaku bisnis, hotel, dan operator\nperjalanan telah menyediakan layanan-layanan fungsional yang dapat memenuhi\nkebutuhan para wisatawan Muslim (Halal Travel 1.0). Penawaran itu termasuk\npilihan makanan halal, toilet yang menyediakan air bersih, dan fasilitas\nibadah.<\/p>\n\n\n\n<p>Didorong\noleh transformasi digital dan teknologi yang pesat, terdapat sebuah fase baru\npasar wisata halal, Halal Travel 2.0. Halal Travel 2.0 memanfaatkan teknologi\nkecerdasan buatan (AI), realitas tambahan (augmented reality) dan realitas\nvirtual (VR) untuk melibatkan para wisatawan Muslim secara lebih baik di era\ndigital ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada 2026, kontribusi sektor pariwisata halal diperkirakan melonjak sebesar 35 persen menjadi 300 miliar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap perekonomian global.\u00a0 Ini meningkat dari perkiraan 2020, yakni 220 miliar dolar AS.<\/p>\n\n\n\n<p>Sumber: Republika<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ICC Jakarta &#8211; Indonesia berhasil menduduki peringkat teratas Mastercard-Crescent Rating Global Muslim Travel Index (GMTI) 2019 bersama dengan<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":8946,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[6],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8944"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8944"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8944\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8947,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8944\/revisions\/8947"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media\/8946"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8944"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8944"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8944"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}