{"id":9038,"date":"2019-04-19T02:35:38","date_gmt":"2019-04-19T02:35:38","guid":{"rendered":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/?p=9038"},"modified":"2019-04-21T02:45:58","modified_gmt":"2019-04-21T02:45:58","slug":"menyambut-kelahiran-sang-juru-selamat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/2019\/04\/19\/menyambut-kelahiran-sang-juru-selamat\/","title":{"rendered":"Menyambut Kelahiran Sang Juru Selamat"},"content":{"rendered":"\n<p>ICC Jakarta &#8211; Imam Muhammad Al-Mahdi as. lahir pada 15\nSya&#8217;ban 255 H. Kelahiran beliau sungguh menghidupkan harapan di dalam jiwa-jiwa\nkaum tertindas di dunia.<\/p>\n\n\n\n<p>Ayah Imam as. adalah Imam Hasan Al-Askari\nas. dan ibunya bernama Nargis, seorang wanita suci keturunan salah satu\nHawariyyun (sahabat setia) Nabi Isa as., yaitu Sam&#8217;un Ash-Shafa. <\/p>\n\n\n\n<p>Imam Mahdi as. adalah Imam terakhir Ahlul\nBait as. Secara khusus, sang datuk Rasulullah saw. telah memberitakan\nkehadirannya dalam sejumlah hadis-hadis yang mutawatir, bahwa <em>&#8220;Dia akan\nmemenuhi bumi dengan keadilan setelah disesaki oleh kezaliman&#8221;<\/em>. <\/p>\n\n\n\n<p>Beliau dikenal dengan panggilan Abul\nQosim, dan gelar mulia&nbsp;\n&#8220;Al-Mahdi&#8221;. Dengan demikian, beliau membawa nama sekaligus\npanggilan junjungan kita Muhammad saw., sebagaimana beliau pun membawa risalah\nagamanya, Islam.<\/p>\n\n\n\n<p>Para penguasa zalim menjadi begitu awas\ndan&nbsp; senantiasa mengintai kelahiran Imam\nMahdi as, sehingga mereka berupaya menggagalkannya. Persis dengan apa yang\ntelah dilakukan Fir&#8217;aun; mengawasi setiap ibu yang hamil dan bayi yang lahir.\nNamun,&nbsp; mereka tidak sadar bahwa Fir&#8217;aun,&nbsp; meskipun mengerahkan segenap kekuatan raksasa\nyang dimilikinya sampai&nbsp; membunuh secara\nmassal bayi-bayi yang baru lahir,&nbsp;\nusahanya itu gagal total.<\/p>\n\n\n\n<p>Mu&#8217;tamid, Khalifah Abbasiyah \u2013yang&nbsp; merupakan Fir&#8217;aun pada masanya\u2013 pun ingin\nmelakukan hal yang sama. Ia pun mencoba mengikuti langkah Fir&#8217;aun berusaha\nmencegah kemunculan Sang Pembela Kebenaran yang akan merongrong kekuasaannya.\nIa seketat mungkin mengawasi rumah Imam Hasan Al-Askari as. <\/p>\n\n\n\n<p>Ketika Imam Hasan as. diracun, beliau\ndibawa dalam keadaan lemah dari penjara ke rumahnya. Mu&#8217;tamid menugaskan lima\norang pengawal pergi menyertai Imam untuk mewaspadai dan berjaga-jaga di\nsekeliling rumah Imam jika ada peristiwa yang terjadi di rumah itu. Tidak hanya\nmengutus mata-mata, ia juga mengirim beberapa bidan ke rumah Imam untuk menjaga\ndan membantu proses kelahiran istri Imam as.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;Kota&nbsp;\nSamarra berubah menjadi kota duka atas kematian Imam Hasan Al-Askari.\nOrang-orang menutup tempat kerja mereka untuk melayat ke rumah Imam. Penduduk\nkota itu mengusung jenazah suci Imam dengan tangan mereka sendiri dalam upacara\npenguburan yang kudus, agung dan akbar.<\/p>\n\n\n\n<p>Khalifah Abbasiyah sangat gusar dan kesal\natas kerumunan massa yang datang melayat Imam. Ia berusaha keras untuk menutupi\nkejahatannya dan mengumumkan bahwa kematian Imam merupakan sebuah kejadian yang\nwajar dan alamiah.<\/p>\n\n\n\n<p>Mu&#8217;tamid mengutus saudaranya untuk\nmenghadiri upacara pemakaman dan bersaksi bahwa tidak ada yang membunuh Imam.\nDi sisi lain, ia membagi-bagikan harta peninggalan Imam untuk menunjukkan bahwa\nImam tidak meninggalkan anak yang dapat menunaikan shalat jenazah dan menjadi\npewaris sah atas harta peninggalan beliau.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun, betapapun usaha untuk menutupi\ncahaya kebenaran, kehendak Allahlah yang tetap berlaku. Ketika Imam Al-Askari\nas. dibunuh, putra beliau berusia lima tahun. Ia mencapai kedudukan Imam pada\nusia lima tahun, seperti Nabi Isa yang diangkat sebagai nabi ketika ia masih dalam\nbuaian.<\/p>\n\n\n\n<p>Ketika mereka meletakkan jenazah suci Imam\nAl-Askari as., saudara beliau -yang bukan orang baik-baik- hendak memimpin\nshalat jenazah. Namun putra beliau Imam Al-Mahdi ajf.&nbsp; \u2013yang masih belia- mendorongnya&nbsp; ke samping dan beliau sendiri maju ke depan\nmemimpin shalat jenazah tersebut. Setelah selesai shalat jenazah, beliau\nmenghilang dari pandangan mata. <\/p>\n\n\n\n<p>Orang-orang Syiah telah melihat Imam\nAl-Mahdi di kediaman sang ayah, Imam Hasan Al-Askari yang saat itu masih hidup.\nDi kediaman itu pula mereka &nbsp;mendengarkan\nnasihat beliau tentang anaknya kepada mereka. Setelah syahadah Imam Hasan as.,\nmereka tetap berhubungan dengan Imam Al-Mahdi hingga&nbsp; beberapa waktu lamanya.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Keadaan ketika Imam Al-Mahdi\nLahir<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Hakimah, bibi Imam berkata, &#8220;Aku\npergi ke rumah anak saudaraku, pada hari Kamis bulan Sya&#8217;ban. Ketika aku ingin\nmengucapkan selamat tinggal kepada mereka, Imam berkata, &#8216;Wahai bibi,\ntinggallah malam ini bersama kami karena putra kami akan segera lahir&#8217;. <\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Aku sangat bergembira dan\nberbahagia mendengarkan kabar itu dan pergi menjumpai Nargis (Ibunda Imam Al-Mahdi)\nnamun aku tidak menemukan tanda-tanda kehamilan pada diri beliau. Aku terkejut\ndan bergumam, &#8216;Tidak melihat tanda-tanda kelahiran bayi padanya&#8217;. <\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Pada saat-saat itu, Imam datang\npadaku dan berkata, &#8220;Duhai bibi, jangan bersedih, Nargis seperti ibunda\nNabi Musa as., dan si bayi seperti Musa yang lahir secara tersembunyi dan tanpa\ntanda-tanda apa pun yang&nbsp; menyertai\nkelahirannya. Temuilah Nargis, dia akan segera melahirkan pada subuh hari&#8217;.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Aku berbahagia menemani Nargis,\nsambil mengamati apa yang dikatakan oleh Imam bahwa tanda-tanda kelahiran Nargis\nmuncul sebelum matahari terbit di ufuk timur. Seberkas cahaya membentang antara\ndiriku dan dia sehingga aku tidak dapat melihat Nargis lagi. Aku ketakutan dan\nkeluar dari bilik itu untuk menjumpai Imam dan melaporkan apa yang telah\nterjadi. Beliau tersenyum dan berkata, &#8216;Kembalilah, beberapa saat lagi engkau\nakan melihatnya&#8217;.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Aku kembali ke kamar dan melihat\nseorang bayi baru lahir dan tengah melakukan sujud lalu ia mengangkat tangannya\nke angkasa, berdzikir dan memuji&nbsp; Allah\ndengan segala kepemurahan-Nya, kebesaran-Nya dan keesaan-Nya&#8221;.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Keadaan Ibunda Nargis<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Salah seorang budak Imam Hadi as., Bishr Al-Anshari\nmenukilkan sebuah kisah &nbsp;sehubungan\ndengan kejadian itu: <\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Suatu hari, Imam Hadi as.\nmemanggilku dan berkata padaku, &#8216;Aku ingin memberikan sebuah pekerjaan untukmu,\npekerjaan ini akan menjadi sesuatu yang sangat berharga untukmu&#8217;. Beliau\nmemberikan sebuah surat disertai dengan seikat kantong yang berisi dua ratus\nemas Dinar. Beliau berkata, &#8216;Ambillah kantong ini dan pergi ke Baghdad, &nbsp;nantikan kapal yang akan berlabuh besoknya di\nsana di sungai Furat (Eufrat). Di dalamnya terdapat banyak budak-budak yang\ndibawa untuk diperjualbelikan. Kebanyakan pembeli dan penjual itu berasal dari\nBani Abbas dan beberapa pemuda dari suku bangsa yang lain. <\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Di atas kapal itu, ada seorang\nwanita yang, ketika ia diminta untuk menampakkan dirinya, enggan memenuhi\npermintaan itu. Salah seorang pemuda maju ke depan dan berkata kepada tuannya,\n&#8220;Aku siap membeli wanita itu dengan harga dua ratus emas Dinar&#8221;.\nTetapi si wanita itu tidak setuju dengan tawaran pemuda itu. Lalu tuannya\nberkata, &#8220;Kamu tidak ada pilihan lain kecuali harus dijual, kamu harus\nterima tawaran pemuda itu&#8221;. Tapi ia&nbsp;\nmenukas, &#8220;Tunggu sebentar! Pembeliku akan segera datang&#8221;. Lalu\nkau maju ke depan berikan surat itu kepadanya,&nbsp;\nkatakan &#8220;Jika wanita ini berhasrat kepada orang yang mengirim surat\nini, aku akan membelinya&#8221;. Setelah membaca surat yang disodorkan padanya,\nwanita itu merasa senang lalu kau bayar dengan uang ini, serahkan pada tuannya\ndan bawa wanita itu kemari&#8217;.<\/p>\n\n\n\n<p>Bishr berkata, &#8220;Aku kerjakan apa\nyang diperintahkan Imam kepadaku, aku beli wanita itu dari tuannya. Dalam\nperjalanan, ia menceritakan kepadaku sebuah cerita yang mengejutkan. Katanya,\n&#8220;Aku adalah putri Raja Romawi. Datukku adalah sahabat dekat Nabi Isa.\nAyahku menginginkan agar aku menikah dengan keponakannya. <\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Suatu hari, ia mengadakan sebuah\npertemuan akbar di istana dan meminta kemenakannya duduk bersanding denganku di\nsinggasana. Seluruh bangsawan Nasrani dan para pengawal kerajaan berkumpul\nuntuk menikahkan aku dengannya. <\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Tiba-tiba istana berguncang, yang\nmembuat segala sesuatunya berserakan hingga saudara sepupuku itu terjatuh dari\nsinggasana. Meski begitu, mereka tetap bersikeras untuk menikahkanku dengannya.\nMereka kembali mengadakan pertemuan itu, namun kejadian yang sama juga kembali\nterjadi. Para bangsawan Nasrani menganggapnya sebagai sebuah tanda buruk.\nMereka segera &nbsp;meninggalkan istana.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Pada malam yang sama, aku tertidur\ndalam keadaan sedih dan pilu. Aku bermimpi seorang pria dengan cahaya yang\nmemancar dari tubuhnya, datang ke istana. Beberapa orang berkata bahwa pria itu\nadalah Nabi Isa,&nbsp; dan yang lainnya\nberkata bahwa pria itu adalah Rasulullah saw.&nbsp;\nRasulullah saw. berhadapan dengan Nabi Isa as, beliau berkata, &#8216;Aku\nmeminang cucumu untuk cucuku&#8217;.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Nabi Isa as. sangat gembira dengan\npinangan itu. Beliau menerima pinangan Rasulullah saw.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Aku bangkit dari tempat tidurku dan\ntidak mengungkapkan perihal mimpi itu kepada siapa pun. Hingga suatu hari, aku\njatuh sakit dan ayahku memanggil seluruh tabib untuk memeriksa keadaanku. Namun\ntidak satu pun dari mereka yang dapat menyembuhkan sakitku. <\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Aku memohon kepada ayahku untuk\nmembebaskan orang-orang muslim yang ada dalam penjara ketika itu. Ia\nmengabulkan permohonanku. Ia membebaskan tawanan-tawanan muslim. Segera setelah\n&nbsp;itu aku pun sembuh dari sakitku.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Pada malam yang sama, aku sekali\nlagi melihat dua orang wanita yang penuh dengan cahaya. Mereka berkata bahwa\nwanita itu adalah ibunda Nabi Allah Isa as. dan Fatimah putri Rasulullah saw. Fatimah\nmaju ke depan dan berkata kepadaku, &#8216;Jika engkau ingin menjadi istri&nbsp; putraku, engkau harus menjadi muslim&#8217;. Dalam\nmimpi malam itu, Aku menerima Islam melalui tangannya. Lalu ia membawaku\nmenjumpai anaknya Imam Hasan Al-Askari.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Cintanya menawan hatiku dengan kuat,\ndan seluruh badanku lemas siang dan malam. Sampai pada suatu malam, aku melihat\nImam Hasan Al-Askari dalam mimpi. Aku bertanya kepadanya, &#8216;Bagaimana aku dapat\nmenjadi istrimu?&#8217; Beliau berkata, &#8216;Ayahmu dalam waktu dekat ini akan mengirim\nserdadunya untuk berperang melawan serdadu muslim, dan engkau akan berada di\nbarisan belakang serdadu itu. Serdadu muslim akan memenangkan perang itu dan\nengkau akan di tahan sebagai tawanan perang lalu dibawa ke Baghdad untuk\ndijual. Engkau akan dibawa ke Baghdad dengan kapal yang melintasi sungai Furat.\nKapal itu akan berlabuh di sungai itu dan mereka akan membawamu keluar dari\nkapal itu untuk dijual&#8217;. Para pembeli akan datang untuk membelimu. Namun,\ntunggulah sampai seseorang (utusan) datang untuk membelimu. Ia akan datang\ndengan membawa surat dari ayahku. Dialah yang akan menjadi pembelimu dan\nmembawamu pergi&#8217;.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Aku terjaga dari mimpi dan merasa\ngembira.&nbsp; setelah beberapa waktu berlalu,\napa yang diceritakan oleh Imam Hasan Al-Askari dalam mimpi itu terjadi. <\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Wahai Bishr! Hingga saat ini, tidak\nada seorang pun yang tahu akan kisah ini dan mengenali aku. Berhati-hatilah,\njangan engkau ceritakan kisah ini kepada siapapun. Simpanlah kisah ini untukmu\nsaja&#8221;.<\/p>\n\n\n\n<p>Bishr berkata, &#8220;Ketika Nargis\nmenukilkan&nbsp; kisah itu kepadaku, terasa gemetar\nsekujur tubuhku. Sejak saat itu, aku menghormatinya dan menemaninya seakan-akan\naku ini adalah budaknya. Aku membawa beliau ke hadirat tuanku Imam Hadi as.&#8221;\n<\/p>\n\n\n\n<p>Imam Hadi as. bertanya kepada wanita itu,\nbagaimana kisahmu sampai memeluk Islam?&nbsp;\nDia menjawab, &#8220;Anda bertanya sesuatu yang Anda lebih tahu ketimbang\naku.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;Beliau lalu berkata, &#8220;Berita gembira\nuntukmu tentang seorang anak yang akan memenuhi alam semesta ini dengan keadilan\ndan hukum, seorang anak yang dinanti-nantikan oleh seluruh umat manusia&#8221;.<\/p>\n\n\n\n<p>Kemudian beliau memalingkan wajahnya ke\nsaudarinya Hakimah, &#8220;Wahai <em>ukhti<\/em>! Inilah wanita yang kau\nnanti-nantikan selama ini. Bawalah ia bersamamu dan ajarkan Islam kepadanya&#8221;.\nHakimah memeluknya erat dan ia membawanya pergi dengan penuh hormat.<\/p>\n\n\n\n<p><strong><em>Periode\nKehidupan Imam Al-Mahdi ajf.<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Periode kehidupan Imam Muhammad Al-Mahdi\najf. dapat dibagi menjadi tiga bagian:<\/p>\n\n\n\n<ol><li><strong>Pra-Imamah<\/strong><\/li><\/ol>\n\n\n\n<p>Yaitu sejak lahir hingga syahadah\nayahanda beliau, Imam Hasan Al-Askari as. Periode ini berlangsung selama lima\ntahun. <\/p>\n\n\n\n<p>Selama periode ini, Imam Hasan as.\nsenantiasa menjaga putranya ini sedemikian rupa hingga&nbsp; tidak ada yang dapat melihatnya kecuali\nsebagian sahabat-sahabat dan orang-orang yang dekat dengan beliau. <\/p>\n\n\n\n<p>Penjagaan ketat ini beliau lakukan\nlantaran kuatir terhadap penyusupan orang-orang Abbasiyah dan mata-mata mereka\nyang begitu ketat mengawasi kediaman beliau.<\/p>\n\n\n\n<ul><li><strong>Kegaiban Kecil (<em>Ghaibah Sughra)<\/em> <\/strong><\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Yang dimulai pada waktu beliau berusia\nenam tahun dan terus berlanjut hingga usia tujuh puluh enam tahun. Selama\nperiode ini, aparat pemerintahan dan agen-agennya tidak dapat bertemu dengan\nbeliau. Akan tetapi, sahabat-sahabat beliau tetap memiliki kesempatan untuk\nbertemu dengan beliau dan meminta jalan keluar atas masalah-masalah yang mereka\nhadapi.<\/p>\n\n\n\n<p>Selama masa Kegaiban Kecil ini, ada empat\norang yang menjadi sahabat khusus Imam Al-Mahdi ajf., sekaligus menjadi\nperantara antara Imam dan pengikutnya. Mereka membawa dan mengirim surat atau\npun uang dari umat dan menyampaikannya kepada Imam as., juga sebaliknya menyampaikan\njawaban Imam kepada mereka. <\/p>\n\n\n\n<p>Empat sahabat Imam Mahdi as. itu adalah:<\/p>\n\n\n\n<ol><li>Utsman bin Sa&#8217;id<\/li><li>Muhammad bin Utsman<\/li><li>Husain bin Rouh<\/li><li>Ali bin Muhammad\nSumari<\/li><\/ol>\n\n\n\n<p>Periode ini berakhir dengan\nwafatnya sahabat keempat Imam pada 329 H. Sebelum wafatnya, beliau telah\nmenyatakan berakhirnya keperantaraan dan kedutaan. Dengan begitu, Imam Al-Mahdi\najf. segera memasuki periode baru dalam hidupnya, yaitu Kegaiban Besar. <\/p>\n\n\n\n<ul><li><strong>Kegaiban Besar (<em>Ghaibah Kubra<\/em>) <\/strong><\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Sepanjang periode ini &#8211; yang entah sampai\nkapan, hanya Allah swt. Yang Mahatahu- Imam Muhammad Al-Mahdi ajf. menghadiri\nperhelatan dan acara perkumpulan yang diadakan oleh pengikut beliau. Beliau\nhadir tanpa diketahui oleh seorang pun. <\/p>\n\n\n\n<p>Tidak ada satu orang pun yang mengenali\nbeliau. Mereka menganggapnya sebagai orang asing. Setelah Imam meninggalkan\ntempat itu, dengan melihat tanda-tanda yang ada, barulah mereka sadar bahwa\nImam telah datang ke tempat mereka.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Masa Penantian<\/strong><strong><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Imam Al-Mahdi ajf. tidak menunjukkan &nbsp;dirinya kepada <em>fuqaha <\/em>&nbsp;(ulama dan pakar hukum Islam) yang handal\ndalam memecahkan masalah-masalah keagamaan yang mereka hadapi dan masyarakat\nIslam selama kegaiban beliau. Namun demikian, &nbsp;mereka menyediakan lahan dalam rangka\nmenyongsong revolusi yang akan dicetuskan oleh Imam Maksum ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Orang-orang di masa kini, menantikan\nkedatangannya. Penantian ini tidak berarti hanya duduk tanpa ada usaha yang\nberarti sama sekali, pasif, acuh tak acuh, tidak berusaha, dan tidak berupaya\nmembuka jalan bagi kemunculan Imam ajf.Sebaliknya, orang yang menanti\nadalah orang yang penuh pengharapan, berusaha, bekerja, bergerak, sadar dan giat,\nmemiliki keyakinan yang teguh pada Imam Al-Mahdi, sehingga ia &nbsp;melempangkan jalan bagi kemunculan dan\nkedatangan beliau.<\/p>\n\n\n\n<p>Seorang penanti sejati persis ibarat\npendaki gunung, yang menantikan waktu untuk menaklukkan puncak gunung dan\nberjuang untuk mencapai puncak yang ditujunya.Ia senantiasa siap-sedia\nuntuk melakukan apa saja yang diperlukan demi menginjakkan kaki di atas puncak.\nTak pelak lagi<em>, <\/em>ia harus memiliki perencanaan yang matang untuk mencapai\npuncak kesuksesan dan sadar, bahwa duduk diam berpangku tangan tidak akan\nmembawanya kepada tujuan.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan demikian, penantian berarti&nbsp; pergerakan, usaha, upaya, pikiran yang teguh,\nberkarya dan mencipta untuk kemaslahatan umat manusia.Jika prinsip\ndasar ini tidak tertanam &nbsp;secara baik\ndalam masyarakat, umat manusia akan beku, putus asa dan kecewa, serta tidak\nlagi berpandangan optimistis dalam menatap masa depan yang gemilang.<\/p>\n\n\n\n<p>Prinsip Penantian (<em>Intidzarul Faraj<\/em>)\ndalam Islam adalah sebuah prinsip yang tidak dapat dipisahkan dari agama yang\nmemberikan kabar gembira tentang masa depan yang gemilang dan pelaksanaan segenap\nkeadilan sosial bagi seluruh umat manusia.Oleh karena itu, ia membina\ndirinya untuk mewujudkan cita-cita luhur ini sebegitu rupa sehingga ia mampu\nmemerangi dan menghilangkan kegelapan<em>, <\/em>menyingkirkan para sufi gadungan\ndan kaum yang bersikap permusuhan &nbsp;terhadap Imam Mahdi ajf. <\/p>\n\n\n\n<p>Dengan kekuatan pergerakannya yang tak\nterbendung itu, seorang muslim akan menciptakan&nbsp;\nsebuah lingkungan yang siap&nbsp;\nmembentuk pemerintahan tunggal alam semesta.Sehingga, ketika\ntiba masa kemunculan insan yang telah diciptakan Allah swt. dengan pesona\nkepribadian yang luhur ini, seluruh maksud dan tujuan Islam akan menjadi\nkenyataan, <em>Insya Allah<\/em>.Dialah Imam Mahdi ajf.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ICC Jakarta &#8211; Imam Muhammad Al-Mahdi as. lahir pada 15 Sya&#8217;ban 255 H. Kelahiran beliau sungguh menghidupkan harapan<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":9039,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[2],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9038"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=9038"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9038\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9040,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9038\/revisions\/9040"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media\/9039"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=9038"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=9038"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=9038"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}