{"id":9067,"date":"2019-04-22T04:01:53","date_gmt":"2019-04-22T04:01:53","guid":{"rendered":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/?p=9067"},"modified":"2019-04-22T04:01:54","modified_gmt":"2019-04-22T04:01:54","slug":"apakah-tuhan-itu-dapat-lihat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/2019\/04\/22\/apakah-tuhan-itu-dapat-lihat\/","title":{"rendered":"Apakah Tuhan Itu Dapat Lihat?"},"content":{"rendered":"\n<p>Ada sebuah ungkapan dari Imam Ali Karramallahu Wajha yang menyebutkan ketika beliau ditanya apakah engkau melihat Tuhanmu. \u201cAku tidak menyembah Tuhan yang tidak Aku lihat.\u201d Sepintas dapat disimpulkan bahwa Tuhan itu dapat dilihat dan disaksikan oleh manusia. Namun persoalannya bahwa segala sesuatu yang dapat dilihat dan diindera oleh penglihatan sifatnya materi dan tentu Tuhan tidak memiliki identitas sebagaimana segala sesuatu yang dapat dilihat. Bagaimana Anda menjelaskan hal ini. Terima kasih. <\/p>\n\n\n\n<p>Jawaban:\n<\/p>\n\n\n\n<p>Dalil-dalil rasional memberikan kesaksian bahwa Tuhan\ntidak akan pernah dapat dilihat oleh indra penglihatan. Karena, mata kepala\nhanya dapat melihat benda-benda atau -lebih tepatnya- sebagian kualitas dari\nbenda-benda tersebut. Dan mata tidak akan pernah dapat melihat sesuatu yang\nbukan benda atau tidak memiliki kualitas kebendaan. Dengan kata lain, sekiranya\nsesuatu dapat dilihat dengan mata kepala, niscaya ia memiliki ruang, sisi dan\nmateri. Sementara Dia lebih unggul dari semua ini. Ia adalah wujud Nir-batas.\nAtas dasar ini, Dia berada di luar alam materi, sebab materi segala sesuatu itu\nterbatas. <\/p>\n\n\n\n<p>Banyak ayat dalam Al-Qur\u2019an yang menceritakan \u2013misalnya-\nBani Israel dan permintaan mereka untuk melihat (<em>ru&#8217;yah<\/em>) Allah Swt.\nDengan tegas, Al-Qur\u2019an menafikan kemungkinan untuk dapat melihat Allah Swt. <\/p>\n\n\n\n<p>Anehnya, mayoritas pemeluk mazhab Ahli Sunnah\nberkeyakinan bahwa sekiranya Tuhan tidak dapat dilihat di dunia ini, Dia akan\ndapat dilihat pada Hari Kiamat kelak. Penyusun tafsir <em>Al-Man\u00e2r<\/em>\nmenegaskan, \u201cIni adalah akidah Ahlusunah dan ulama hadis.\u201d<a href=\"#_ftn1\">[1]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Lebih aneh lagi, para pemikir kontemporer (baca: para\ncendekiawan) juga cenderung kepada penafsiran seperti ini, bahkan, dengan getol\nmembela pendapat ini. Sementara kerapuhan pandangan ini sangat jelas sehingga\ntidak memerlukan pembahasan. Karena, relasi dunia dan akhirat (dengan\nmemperhatikan prinsip Kebangkitan [<em>ma&#8217;\u00e2d<\/em>] Jasmani) tidak berbeda dalam\nmasalah ini. Yakni, apakah Allah swt yang memiliki wujud nonmateri pada Hari\nKiamat akan berubah menjadi wujud materiel dan dari derajat\n&#8220;Nir-batas&#8221; akan merosot ke derajat &#8220;terbatas&#8221;? Apakah Dia\npada Hari Kiamat akan berubah menjadi benda dan subjek sifat-sifat benda? Dan\napakah dalil-dalil rasional atas kemustahilan melihat Allah Swt. tidak\nmemberikan perbedaan antara dunia dan akhirat? Sementara dalil rasional dalam\nranah pembahasan ini tidak dapat berubah.<\/p>\n\n\n\n<p>Adapun dalih yang dibawakan oleh sebagian mereka, yaitu\nbahwa boleh jadi di alam lain, manusia dapat melihat dan menangkap dalam pola\nlain, tidak dapat diterima sepenuhnya. Sebab, sekiranya maksud melihat ini\nadalah menangkap dengan pola materiel dan fisikal, bukan dengan mata hati dan\nkekuatan akal yang dapat menyingkap keindahan Tuhan, asumsi ini mustahil\nberlaku pada Tuhan, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak. <\/p>\n\n\n\n<p>Maka itu, pandangan di atas yang menyatakan bahwa manusia\ntidak dapat melihat Tuhan di dunia ini, akan tetapi mukminin dapat melihat-Nya\npada Hari Kiamat, adalah sebuah kepercayaan yang irasional.<\/p>\n\n\n\n<p>Satu-satunya alasan yang menyebabkan mereka membela\nkepercayaan ini adalah hadis yang disebutkan di dalam kitab-kitab induk hadis\nmereka yang menyebutkan bahwa Tuhan bisa dilihat pada Hari Kiamat. Akan tetapi,\ntidakkah kerapuhan pandangan ini \u2013berdasarkan hukum akal- merupakan dalil atas\nadanya intervensi terhadap hadis itu dan invaliditas kitab-kitab yang memuat\nhadis-hadis seperti ini? Jika kita tidak tafsirkan hadis ini sebagai penyaksian\nmata hati atau sesuai dengan hukum akal, selayaknya kita tinggalkan saja\nhadis-hadis semacam ini. <\/p>\n\n\n\n<p>Atau, jika dalam sebagian ayat-ayat Al-Qur\u2019an terdapat\nredaksi -yang secara lahir- menyiratkan bahwa Tuhan dapat dilihat, seperti\nayat: <em>\u201cWajah-wajah ketika itu berseri-seri, sembari melihat kepada Tuhannya\u201d<\/em>\n(QS. al-Qiyamah [75]: 23-24) dan ayat: <em>\u201cTangan Tuhan berada di atas tangan\nmereka\u201d <\/em>(QS. al-Fath [48]: 10), semua itu mengandung arti figuratif (<em>maj\u00e2zi<\/em>),\nlantaran tidak satu pun ayat Al-Qur\u2019an yang bertentangan dengan hukum akal.<\/p>\n\n\n\n<p>Menariknya, hadis-hadis Ahlul Bait menafikan dengan tegas\nkepercayaan keliru seperti ini, dan dengan redaksi yang telak mengkritisi\norang-orang yang memegangnya. Misalnya, salah seorang sahabat Imam Ash-Shadiq\na.s., Hisyam berkata, \u201cAku berada di sisi Imam Ash-Shadiq a.s. ketika Muawiyah\nbin Wahab (salah seorang sahabat Imam, -AK.) datang dan berkata, \u2018Wahai putra\nRasulullah! Apa pendapat Anda tentang riwayat yang datang dari Nabi saw. yang\nmenyebutkan bahwa beliau melihat Allah Swt.? Bagaiamana Nabi saw. dapat\nmelihat-Nya? Demikian pula dalam riwayat lain yang dinukil dari beliau saw.,\nbahwa orang-orang mukmin dapat melihat Allah Swt. di Surga. Bagaimana mereka\nakan melihat-Nya?\u2019<\/p>\n\n\n\n<p>Imam Ash-Shadiq a.s. tersenyum dan berkata, \u201cWahai\nMu\u2019awiyah bin Wahab! Alangkah buruknya manusia yang telah berusia tujuh puluh\n-(atau delapan puluh)- tinggal dan hidup di kerajaan Tuhan dan menikmati\nkarunia-Nya, tetapi belum juga mengenal-Nya dengan baik. <\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Wahai Muawiyah bin Wahab! Nabi saw. sekali-kali\ntidak pernah melihat Allah Swt. dengan indra penglihatan ini. Ada dua macam\npenyaksikan; penyaksian dengan mata hati (batin) dan penyaksian dengan mata\nkepala. Setiap orang yang berkata bahwa Nabi saw. menyaksikan Tuhan dengan mata\nhati, ia telah berkata benar. Namun, bila ia mengatakan bahwa Nabi saw.\nmenyaksikan-Nya dengan mata kepala, ia telah berdusta dan ia telah mengingkari Tuhan\ndan ayat-ayat Al-Qur\u2019an. Karena, Nabi saw. bersabda, \u2018Barangsiapa menyerupakan\nAllah dengan hamba-Nya, sungguh ia telah kafir.\u2019\u201d<a href=\"#_ftn2\">[2]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Dalam riwayat yang lain sebagaimana diriwayatkan dalam\nkitab <em>Tauhid Ash-Shaduq<\/em> yang dinukil dari Ismail bin Fadhl yang berkata,\n\u201cAku bertanya kepada Imam Ash-Shadiq a.s., \u2018Apakah Allah dapat dilihat pada\nHari Kiamat?\u2019 Beliau menjawab, \u2018Allah Swt. suci dari semua ini \u2026. Mata tidak\ndapat melihat selain segala sesuatu yang memiliki warna dan kualitas, sementara\nAllah adalah pencipta warna-warna dan kualitas-kualitas.\u2019\u201d<a href=\"#_ftn3\">[3]<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Menariknya, di dalam hadis ini khususnya disebutkan\nkalimat <em>warna<\/em>. Dewasa ini, terbukti bahwa benda itu sendiri tidak dapat\ndilihat; ia akan terlihat beserta warnanya. Maka, jika suatu benda tidak\nmemiliki warna, ia tidak akan pernah terlihat.<a href=\"#_ftn4\">[4]<\/a> <br><\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator\"\/>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref1\">[1]<\/a> <em>Tafsir al-Man\u00e2r<\/em>, jilid 7 hal. 653.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref2\">[2]<\/a> <em>Ma\u2019\u00e2ni al-Akhb\u00e2r<\/em> sesuai dengan nukilan dari tafsir <em>al-Miz\u00e2n<\/em>,\njilid 8, hal. 268. <\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref3\">[3]<\/a> <em>N\u00fbr\nats-Tsaqala\u00een<\/em>, jilid\n1, hal. 753.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref4\">[4]<\/a> <em>Tafsir<\/em> <em>Nem\u00fbneh<\/em>, jilid 5, hal. 381.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ada sebuah ungkapan dari Imam Ali Karramallahu Wajha yang menyebutkan ketika beliau ditanya apakah engkau melihat Tuhanmu. \u201cAku<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":8782,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[1],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9067"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=9067"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9067\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9068,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9067\/revisions\/9068"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media\/8782"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=9067"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=9067"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/iccv1\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=9067"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}