{"id":11792,"date":"2020-11-03T03:50:44","date_gmt":"2020-11-03T03:50:44","guid":{"rendered":"https:\/\/old.icc-jakarta.com\/?p=11792"},"modified":"2020-11-03T03:50:44","modified_gmt":"2020-11-03T03:50:44","slug":"belajar-dari-keberhasilan-dakwah-rasulallah-saw","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/restoration\/v2r5\/belajar-dari-keberhasilan-dakwah-rasulallah-saw\/","title":{"rendered":"Khutbah ke-146, Belajar dari Keberhasilan Dakwah Rasulallah Saw"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>ICC Jakarta\u00a0&#8211;<\/strong> DI bulan Rabiulawal ini kaum muslimin di seluruh penjuru dunia memperingati hari kelahiran Rasulullah Saw. Ulama Ahlusunnah kebanyakan meyakini bahwa Rasulullah saw lahir pada tanggal 12 Rabiulawal, sementara sebagian besar ulama Syi\u2019ah atau sebagian dari ulama Syi\u2019ah meyakini bahwa kelahiran Rasulullah saw jatuh pada tanggal 17 Rabiulawal. Masalah perbedaan tanggal kelahiran Rasulullah adalah masalah sejarah. Betapa banyak masalah-masalah sejarah orang berselisih pendapat mengenai peristiwanya dan tanggal terjadinya peristiwa tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Imam\nKhomeini, pendiri Republik\nIslam Iran,\nmelihat perbedaan ini sebagai kesempatan untuk mengumumkan pekan persatuan\nuntuk menyatukan dua pendapat antara Ahlusunnah\ndan Syi\u2019ah mengenai tanggal kelahiran Rasulullah saw. Di pekan itulah orang\nmenggelar acara peringatan dan kegembiraan untuk memperingati kelahiran\nRasulullah saw dalam sebuah suasana persaudaraan di antara kaum muslimin. Sebagian\nkomunitas atau masyarakat muslimin di dunia memperingati milad Rasulullah saw\ndengan waktu yang panjang.\nBukan\nhanya\npada tanggal belasan melainkan pada seluruh bulan Rabiulawal. Banyak pula di negara-negara lain yang\nmemperingati milad Rasulullah saw bahkan lebih dari satu bulan seperti misalnya\ndi Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sementara\nada sekelompok orang dari kaum muslimin yang menamakan dirinya Salafiyah\u2014atau yang lebih dikenal\ndengan sebutan kelompok Wahabi\u2014menyebut\nbahwa memperingati milad Rasulullah saw adalah sebuah perbuatan yang bid&#8217;ah. Karena itu, mereka menolak dan bahkan menentang\npelaksanaan seperti ini.\nDalam\nmenjawab apa yang mereka katakan, kita katakan bahwasanya masing-masing orang\npunya pendapatnya dan masing-masing orang punya kebebasan untuk memilih\npendapat apa pun. Ulama kaum muslimin,\nselain kelompok Salafi dan Wahabi,\nmenggelar peringatan milad Rasulullah saw bukan memandangnya sebagai sebuah\nperbuatan yang bid\u2019ah. Mereka menggelar peringatan\nitu dengan tujuan supaya bisa mendekatkan diri mereka kepada Allah Swt melalui\nperingatan-peringatan tersebut.\nKarena\nitu, tidak wajar jika\nsekelompok kaum muslimin memaksakan kehendak dan pandangannya kepada kaum\nmuslimin lainnya\nuntuk mengikuti mereka.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Apa\npun juga peringatan milad Rasulullah saw adalah kesempatan bagi kita untuk\nmelihat dan\nmempelajari ulang keteladanan yang telah ditinggalkan oleh Rasulullah saw, baik\ndari kehidupan beliau maupun perilaku beliau, atau kata-kata beliau dan\nsifat-sifat beliau bagi kaum muslimin. Akhlak Rasulullah saw dan keteladanan yang\nbeliau miliki bukanlah cerita dan dongeng yang membuat takjub dan terheran-heran dengan ketinggian\nakhlak beliau. Akhlak dan perilaku Rasulullah saw adalah sebuah keteladanan\nyang mesti kita ambil dan kita terapkan dalam kehidupan kita supaya hal-hal\nyang berhubungan dengan Rasulullah saw tidak hanya berada pada wacana,\npemikiran belaka atau\ndalam teks-teks tertulis. Akan tetapi, ia bisa disaksikan dalam\nkehidupan nyata dalam\nkehidupan kaum muslimin.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Rasulullah\nsaw adalah\nseorang pemimpin yang tidak ada duanya dalam sejarah umat manusia. Beliau adalah seorang\npemimpin yang berhasil menyelamatkan bangsa dan masyarakatnya yang\nterpuruk dalam lembah kenistaan dan kejahiliahan lalu diangkat sedemikian\ntinggi menjadi sebuah masyarakat yang ideal dan teladan bagi masyarakat-masyarakat lain. Karena itu, tidak salah jika\ndikatakan Rasulullah saw\nadalah\npemimpin agama politik dan sosial yang tidak ada tandingannya dalam sejarah. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hal\nitu dia tidak hanya diakui oleh kaum muslimin yang memang mengagungkan\nRasulullah saw, tetapi juga diakui oleh orang-orang nonmuslim. Misalnya, Michael H. Hart, penulis berkewarganegaraan Amerika, pernah menulis satu\nbuku yang mengupas tentang seratus\norang\nyang paling berpengaruh dalam sejarah umat manusia (Buku yang dimaksud berjudul <em>The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History\u2014<\/em>red.)Dia menempatkan Nabi\nMuhammad saw di\nurutan pertama. Dia\nmenyatakan bahwasanya Rasulullah saw\nadalah\nsatu-satunya orang yang telah berhasil mengubah sebuah masyarakat yang terbelakang\ndan masyarakat yang tenggelam dalam kenistaan menjadi masyarakat yang teladan\ndan menjadi model contoh bagi masyarakat yang lain. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Keberhasilan\nRasulullah saw ini\ntidak lepas dari metodologi yang telah dilakukan beliau dalam menyampaikan\namanah tablig ini, yang semua itu ditunjukkan dalam perilaku dan kata-katanya. Apa yang beliau\nsampaikan adalah apa yang beliau lakukan dan yang beliau lakukan adalah yang\nbeliau sampaikan. Beliau\nadalah seorang pemimpin yang bukan hanya berteori tapi juga mempraktikkan apa yang telah\ndisampaikannya. Karena\nitu, sebagai umatnya kita\nharus mengambil peristiwa ini atau kisah biografi Rasulullah dan keteladanan\nini sebagai ilham yang kita wujudkan dalam kehidupan keseharian kita.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Hati yang Lapang<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada\nkesempatan ini saya hanya akan menyampaikan satu contoh saja dari sifat mulia\nRasulullah saw yang\nkita tahu bahwasanya beliau memiliki segudang keutamaan dan kemuliaan. Satu hal yang ingin\nsaya sampaikan pada kesempatan ini adalah hal yang sangat penting di dalam\nmendukung keberhasilan beliau dalam bertablig yaitu sifat <em>syar<\/em><em>h al-<\/em><em>shadr<\/em><em>, <\/em>hati yang\nlapang. Salah\nsatu nikmat besar yang Allah berikan kepada Rasulullah saw dan Allah Swt\nmenyinggungnya dalam ayat suci-Nya adalah nikmat hati yang lapang. Allah Swt\nberfirman kepada Rasulullah saw,\n<em>A<\/em><em>lam nasyrah laka shadrak<\/em><em>.<\/em> Bukankah Kami telah membuat\nhatimu itu lapang. Apa\nyang disebut dengan <em>syar<\/em><em>h al-<\/em><em>shadr<\/em><em> <\/em>atau\nhati yang lapang itu?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hati\nyang lapang adalah hati yang terbuka, yang bisa menerima semua orang, bisa\nmenerima kondisi apa pun juga.\nDia\ntidak mudah diguncangkan oleh kondisi apa pun dan tidak mudah terbawa oleh\nemosi terhadap orang lain.\nItulah\nyang disebut dengan <em>syar<\/em><em>h<\/em><em> <\/em><em>al-<\/em><em>shadr<\/em>. Dan Allah memberikannya\nkepada Rasulullah saw sebagai\nsalah satu karunia besar kepada beliau. Hal inilah yang diperlukan oleh kita semua\nsebagai orang yang hidup di sebuah masyarakat yang di masyarakat kita\npendapat-pendapat dan pemikiran-pemikiran yang beragam ada di hadapan kita. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Orang\nyang memiliki lapang dada bisa menghadapi pemikiran-pemikiran yang berbeda,\nyaitu dengan hati yang lapang dan tidak terbawa oleh emosi saat menghadapinya. Itu pulalah pesan Imam\nAli bin Abi Thalib ketika beliau mengatakan dan memberikan pesan kepada mereka\nyang memiliki kedudukan bahwa kalau orang\ningin\nmenjadi pemimpin,\nmaka alat atau sarana yang harus dimilikinya adalah hati yang lapang. Hal itu pula yang\ndiingatkan oleh Imam Ali bin Abi Thalib ketika beliau mengutus gubernur baru ke\nMesir yaitu Malik Asytar. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Beliau\nberpesan kepada Malik Asytar,\n\u201cWahai\nMalik, orang-orang yang akan engkau\nhadapi ada dua kelompok.\nSatu kelompok adalah\nsaudaramu sesama muslim dan seagama.\nKelompok yang lain\nadalah yang tidak seagama denganmu, tapi dia satu jenis denganmu sebagai sesama\nmanusia. Karena\nitu, lapangkanlah dadamu\nketika berhadapan dengan mereka. Perlakukan\nmereka dengan kasih sayang.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ada\nbeberapa contoh yang direkam oleh sejarah dan buku-buku riwayat yang\nmenceritakan bagaimana Rasulullah saw menunjukkan hati beliau yang lapang dalam\nkehidupan beliau. Kisah\npertama adalah kisah seorang Badui yang masuk menemui Rasulullah saw saat\nbeliau sedang bersama dengan para sahabatnya. Orang desa itu, biasa\ndisebut dengan Badui itu,\nberkata kepada Rasulullah, \u201cYa Rasulullah, aku sudah biasa berkumpul\ndengan istriku saat aku sedang dalam keadaan puasa.\u201d <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tanpa menghardiknya dan\ntanpa marah kepadanya Rasulullah saw berkata, \u201cKalau begitu, supaya bisa mengobati\nkesalahanmu,\nmaka merdekakanlah seorang budak.\u201d <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Si\nbadui berkata, \u201cYa Rasulullah\u2014sampai menujuk kepada lehernya,\n\u201cYa Rasulullah, ini adalah adalah leherku,\nleherku adalah leher seorang budak.\nAku seorang budak ya\nRasulullah.\u201d <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lalu\nRasulullah saw mengatakan\nkepadanya,\n\u201cKalau begitu, puasalah dua bulan berturut-turut.\u201d Orang itu berkata, \u201cYa Rasulullah, satu hari saja aku berpuasa, aku melakukan\nperbuatanku yang salah itu, bagaimana aku bisa berpuasa dua bulan\nberturut-turut.\u201d <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kata\nRasulullah saw, \u201cKalau begitu,\nberilah makan kepada enam puluh\norang miskin.\u201d Dia\nmenjawab, \u201cYa Rasulullah aku tidak punya apa-apa.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Rasulullah\nsaw kemudian\nmeminta sahabat-sahabatnya untuk mengumpulkan harta untuk diberikan kepadanya\nsebagai tebusan harta zakat yang diambil\nuntuk diberikan kepada orang itu supaya dia bisa memberikannya kepada orang fakir sebagai kafarah atas\napa yang dilakukannya pada siang hari di bulan Ramadaitu. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika\ndia sudah mendapatkan zakat itu,\nmendapatkan pemberian dari Rasulullah saw itu, ia mengatakan, \u201cYa Rasulullah, kalau engkau ingin melihat\ndi seluruh Kota Madinah dan sekitarnya, &nbsp;jika\nengkau mencari orang yang paling miskin,\nmaka engkau tidak akan temui kecuali aku.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mendengar\njawaban itu,\nRasulullah saw tertawa sampai gigi seri beliau terlihat. Para sahabat beliau juga tertawa. Lalu Rasulullah saw mengatakan, \u201cAmbil zakat ini. Beri makan keluargamu dengan ini dan\nistigfarlah kepada Allah.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kisah\nkedua adalah seorang Badui datang kepada Rasulullah ketika beliau sedang berada di masjid\nbersama para sahabatnya.\nBadui\nini berdoa kepada Allah, <em>\u201cY<\/em><em>a\nAllah<\/em><em>,<\/em><em>\nampunilah aku dan ampuni Muhammad<\/em><em>. J<\/em><em>angan\nengkau ampuni orang lain selain kami berdua.<\/em><em>\u201d<\/em> Rasulullah saw&nbsp; bertanya, \u201cWahai \u2018Arabi, wahai Badui, mengapa engkau\nberdoa seperti itu? Kalau\nberdoa, doalah yang luas yang bisa mencakup orang-orang lain.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ternyata\nhal itu dipicu oleh sebuah kejadian yang kejadiannya adalah Badui ini, ketika berada di Masjid\nNabi, tiba-tiba dia berdiri\ndan berdiri di pojok masjid.\nLalu\ndia membuang air kecil di situ.\nPara\nsahabat\u2014yang melihat perbuatan\norang tersebut,\nyang menajisi Masjid Rasulullah\u2014bangkit\ndan akan memukul orang itu.\nRasulullah\nsaw menahan para sahabatnya dan mengatakan,\n\u201cBiarkan sampai dia\nmenyelesaikan hajatnya.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Setelah\nselesai Rasulullah saw meminta\npara sahabat untuk membawa air lalu beliau membersihkan dan menyucikan tempat yang\nnajis tadi. Lalu\nbeliau berkata kepada para sahabatnya, \u201cSesungguhnya kalian ini adalah\norang-orang yang diutus dan dibangkitkan oleh Allah untuk memberikan kemudahan bukan\nmemberikan kesusahan.\u201d <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lalu\nRasulullah menoleh kepada orang Badui tadi dan berkata, \u201cWahai Badui, ketahuilah bahwa ini\nadalah masjid.\nMasjid bukan untuk\ndinajisi tetapi dibangun untuk tempat orang beribadah dan menyembah kepada\nAllah.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Rasulullah\nsaw adalah\nseorang nabi yang mendapatkan berita-berita gaib dari Allah Swt. Beliau tahu di antara\nmereka yang berada di sisi beliau ada orang-orang munafik. Kita tahu bahwasanya dalam Alquran al-Karim ada surat yang\ndiberi nama dengan Surah\nal-Munafiqun yang membahas\ntentang orang-orang munafik.\nSelain\nitu juga ada beberapa surah\ndan ayat-ayat suci Alquran yang jumlahnya cukup banyak yang membahas tentang\norang-orang munafik. Rasulullah saw tahu siapa saja mereka dan Rasulullah juga\ntahu apa yang ada di hati mereka, rencana-rencana jahat dan hati-hati busuk\nmereka. Beliau telah mengetahuinya\nberkat wahyu dari Allah. Meski demikian, ketika melihat mereka\ndatang ke masjid dan salat bersama beliau dan para sahabat lain, beliau membiarkan\nmereka dan memperlakukan mereka dengan baik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Yang\ndilakukan oleh Rasulullah saw terhadap mereka adalah memperlakukan mereka sama\nseperti beliau memperlakukan para sahabatnya yang mukmin. Tidak membedakan antara\nmereka dengan kaum mukminin.\nKetika\nmereka masuk ke masjid dan salat bersama Rasulullah saw, beliau tidak membedakan\nperlakuan beliau terhadap mereka dengan perlakuan beliau kepada yang lain. Ketika beliau\nmembagikan harta dari baitulmal kepada kaum muslimin,\nRasulullah saw juga memberikan kepada mereka. Ketika berada dalam\nsebuah peperangan dan mendapatkan rampasan perang, mereka juga mendapatkan\nbagian sebagaimana orang-orang yang lain mendapatkan bagian.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Abdullah bin Ubay bin Salul<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Yang\nkedua, beliau tidak\nmemperlakukan mereka dengan kasar dan keras. Padahal semua tahu\nbahwa orang-orang munafik seringkali mengganggu Rasulullah saw dan melakukan\ntindakan-tindakan keji terhadap Rasulullah saw. Di antara kaum\nmunafikin ada yang paling tersohor di antara mereka yaitu Abdullah bin Ubay bin\nSalul. Banyak\nsekali ayat Alquran menceritakan makar busuk Abdullah bin Ubay dan kelompoknya. Salah satunya adalah\nayat yang ada di surah\nal-Munafiqun. Allah berfirman, <em>yaq<\/em><em>\u00fb<\/em><em>l<\/em><em>\u00fb<\/em><em>na lai<\/em><em>n<\/em><em> raja\u2019n<\/em><em>\u00e2<\/em><em> <\/em><em>i<\/em><em>la<\/em><em> a<\/em><em>l<\/em><em>-m<\/em><em>ad<\/em><em>\u00ee<\/em><em>nati<\/em><em>\n<\/em><em>layukhrijanna\nal\u2019aazzu minha<\/em><em> a<\/em><em>l<\/em><em>&#8211;<\/em><em>ad<\/em><em>z<\/em><em>al<\/em><em>la<\/em><em>.&nbsp; <\/em>Mereka berkata: &#8220;Sesungguhnya jika kita telah\nkembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang\nlemah dari padanya.&#8221; (63: 8). Maksudnya, orang-orang yang\nmulia adalah mereka, sementara yang disebut orang-orang hina adalah kaum\nmuslimin akan kami usir mereka dari Kota Madinah. Allah mengatakan, \u201cMereka yang mengatakan begini tidak tahu\nbahwa kemuliaan adalah milik Allah, milik Rasul dan milik kaum mukminin,\nsementara orang-orang munafik tidak mengetahuinya.\u201d <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika\nayat ini turun,\nyang menceritakan tentang kata-kata busuk dan kata-kata buruk yang dialamatkan\nkepada Rasulullah saw dan mukminin yang keluar dari mulut Abdullah bin Ubay,\nsebagian sahabat mendatangi Rasulullah saw dan mengatakan, termasuk di antaranya Khalifah Kedua Umar bin Khaththab, \u201cYa Rasulullah, izinkan kepada kami\nuntuk menebas leher munafik ini.\u201d\nTapi\nRasulullah saw tidak\nmengizinkannya. Beliau menjawab, \u201cAku tidak ingin orang-orang\nmenyebut bahwa Muhammad telah membunuh sahabatnya sendiri.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika\nkasus Abdullah bin Ubay merebak sedemikian luas di tengah kaum muslimin,\nanak dari orang munafik ini yang kebetulan\njuga bernama Abdullah, yakni Abdullah\nbin Abdullah bin Abdullah bin Ubay bin Salul, mendatangi\nRasulullah saw dan mengatakan, \u201cYa Rasulullah, aku tersiksa sekali\ndengan apa yang dilakukan ayahku kepadamu.\nAku juga mendengar\nbahwasanya sahabat-sahabat mengusulkan untuk membunuh ayahku. Ya Rasulullah, jika engkau izinkan, biar aku saja yang\nmembunuh ayahku.\nJangan orang lain karena aku tidak mau\nhubungan antara aku dengan ayahku menyebabkan ketika aku melihat pembunuh\nayahku ada di tengah-tengah masyarakat, pada tengah-tengah kaum muslimin. Aku menuntut balas balas dendam kepadanya sehingga Allah masukkan\naku ke dalam neraka.\u201d <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Rasulullah\nsaw menjawab\napa yang dikatakan oleh anak yang mukmin ini. Dengan mengatakan, \u201cTidak, aku tidak akan\npernah memerintahkan sahabat untuk membunuh ayahmu. Aku maafkan dan kita akan memaafkan\ndia. Dan\nkita akan sabar terhadap perilaku buruknya.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Diriwayatkan\ndalam sejarah bahwa ketika Abdullah bin Ubay sakit dan mendekati ajalnya\nanaknya datang kepada Rasulullah saw mengatakan, \u201cYa Rasulullah, biasanya kalau ada\norang sakit, engkau selalu\nmengunjungi dan membesuk anak orang yang sakit itu. Sekarang ayahku sakit. Kalau engkau, ya Rasulullah, tidak membesuk dan\ntidak mengunjungi ayahku, ini akan menjadi cela dan aib bagi kami sekeluarga. Kami mohon kepadamu, ya Rasulullah\nsempatkan untuk bisa berkunjung ke ayahku.\u201d Rasulullah kemudian mengatakan pada\npara sahabatnya, \u201cAyo\nkita pergi untuk mengunjungi Abdullah bin Ubay.\u201d\n<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Rasulullah\nsaw berjalan dengan para sahabatnya dan mengunjungi Abdullah bin Ubay yang\nsedang sekarat. Sampai\ndi sana anaknya mengatakan,\n\u201cRasulullah mintakanlah ampun kepada Allah untuk\nayahku.\u201d <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Rasulullah\nsaw mengabulkan permintaan sang anak dan beristigfar untuk Abdullah bin Ubay\nyang munafik itu. Ketika\nmenyaksikan Rasulullah &nbsp;saw beristigfar untuk orang\nmunafik itu, para\nsahabat tidak terima dengan apa yang dilakukan oleh Rasulullah lalu berkata kepada beliau, \u201cYa Rasulallah, mengapa engkau\nberistigfar untuk orang yang jelas-jelas dia adalah munafik.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Coba\nkita perhatikan apa yang terjadi. Rasulullah saw diminta oleh anaknya Abdullah bin Ubay untuk beristigfar dan\nbeliau beristighfar. Kemudian\npara sahabat memprotes Rasulullah saw. Dalam\nmenjawab protes para\nsahabat, beliau mengatakan, Allah Swt dalam ayat\nsuci-Nya memberikan aku pilihan, aku mau beristigfar untuk orang munafik\nataukah tidak dalam ayat-Nya, \u201c<em>Istaghfir<\/em><em>\n<\/em><em>lahum\na<\/em><em>w\n<\/em><em>la<\/em><em>a<\/em><em> tastaghfir<\/em><em>\n<\/em><em>lahum<\/em><em> in\ntastaghir<\/em><em>\n<\/em><em>lahum\nsab\u2019\u00eena marratan fa <\/em><em>l<\/em><em>\u00e2n<\/em><em> yaghfirallahu<\/em><em> lahu<\/em><em>m<\/em>. Kamu\nmemohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah\nsama saja). Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali,\nnamun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampunan kepada mereka. (9: 80). Engkau, wahai Muhammad, beristigfar untuk\norang munafik atau engkau tidak beristigfar untuk munafik, Allah tidak akan\nmengampuni.\u201d Artinya, Allah Swt telah\nmemberikan pilihan kepada Rasulullah saw untuk beristigfar atau tidak. Dan Rasul memilih untuk beristigfar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Puncaknya\nadalah yang disebutkan oleh Allamah Majlisi dalam <em>Bihar<\/em><em> a<\/em><em>l<\/em><em>&#8211;<\/em><em>Anwar<\/em>. Ketika Abdullah bin Ubay\nmeninggal dunia, anaknya mendatangi Rasulullah saw dan berkata, \u201cYa Rasulullah, ayahku\nmeninggal. Aku\nminta engkau memberikan\nbajumu supaya aku bisa menjadikannya sebagai kafan untuk ayahku.\u201d <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Rasulullah\nsaw mengabulkan permintaan itu dan memberikan baju beliau kepada anak itu untuk\ndijadikan sebagai kafan ayahnya. Kita tahu bahwasanya di Madinah pada saat itu\ntidak ada orang yang paling memendam permusuhan, tidak ada orang yang paling\nmembenci, dan tidak ada orang yang paling keji dalam perbuatannya terhadap\nRasulullah saw lebih dari Abdullah bin Ubay. Tapi kita saksikan bagaimana\nRasulullah saw perlakukan Abdullah bin Ubay. Ini adalah pelajaran penting bagi\nkita semua. Jika Rasulullah saw terhadap musuh yang paling berbahaya, musuh\nbebuyutannya,\ndemikian beliau menunjukkan akhlak\nbeliau, bukankah ini adalah pelajaran\nberharga bagi kita, khususnya bagi mereka yang memiliki kedudukan. Mereka yang memiliki\norang-orang yang berada di bawah mereka supaya bisa merangkul semua. Kita hidup di tengah masyarakat\nsupaya bisa merangkul saudara-saudara kita di tengah masyarakat. Mereka bukan musuh kita. Mereka tidak seperti\nAbdullah bin Ubay di mata Rasulullah saw.[] \n\nNaskah ini merupakan khotbah Jumat Direktur ICC Dr. Abdulmajid Hakimelahi, Jumat&nbsp;\n30 Oktober 2020, di ICC, Jakarta. Ditranskrip dan disunting seperlunya\noleh redaksi Buletin Nur al-Huda.\n\n\n\n<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ICC Jakarta\u00a0&#8211; DI bulan Rabiulawal ini kaum muslimin di seluruh penjuru dunia memperingati hari kelahiran Rasulullah Saw. Ulama Ahlusunnah kebanyakan meyakini bahwa Rasulullah saw lahir pada tanggal 12 Rabiulawal, sementara sebagian besar ulama Syi\u2019ah atau sebagian dari ulama Syi\u2019ah meyakini bahwa kelahiran Rasulullah saw jatuh pada tanggal 17 Rabiulawal. Masalah perbedaan tanggal kelahiran Rasulullah adalah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":11791,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"give_campaign_id":0,"footnotes":""},"categories":[50],"tags":[],"class_list":["post-11792","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-khutbah-jumat"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/restoration\/v2r5\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11792","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/restoration\/v2r5\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/restoration\/v2r5\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/restoration\/v2r5\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/restoration\/v2r5\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11792"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/restoration\/v2r5\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11792\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/restoration\/v2r5\/wp-json\/wp\/v2\/media\/11791"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/restoration\/v2r5\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11792"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/restoration\/v2r5\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11792"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/restoration\/v2r5\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11792"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}