{"id":18555,"date":"2025-09-30T04:47:25","date_gmt":"2025-09-30T04:47:25","guid":{"rendered":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/restoration\/v2r5\/?p=18555"},"modified":"2025-09-30T04:47:25","modified_gmt":"2025-09-30T04:47:25","slug":"prioritas-utama-hauzah-ilmiah-adalah-tablig","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/restoration\/v2r5\/prioritas-utama-hauzah-ilmiah-adalah-tablig\/","title":{"rendered":"PRIORITAS UTAMA HAUZAH ILMIAH ADALAH TABLIG"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center;\"><strong>Oleh: Sayid Ali Khameneni<\/strong><\/p>\n<p>Menurut pandangan yang berlaku saat ini di Hauzah Ilmiah, tablig berada di urutan kedua, sementara urutan pertama adalah untuk hal-hal lain, seperti kedudukan ilmiah dan sejenisnya. Tablig berada di urutan kedua. Oleh karena itu, kita harus melampaui pandangan ini, karena Tabligh berada di urutan pertama. Inilah yang ingin saya sampaikan.<\/p>\n<p>Mengapa kita mengatakan ini? Apa yang kita anggap sebagai tujuan agama? Apa yang dibawa oleh agama Allah untuk dilakukan bagi kita, umat manusia? Baiklah, kita memiliki tujuan akhir, yaitu membuat kita bangkit dan naik dalam jalur khalifah Allah dan jalur manusia sempurna\u2013tentu saja, sesuai dengan kemampuan yang kita miliki\u2013dan inilah tujuan akhir agama. Ada juga tujuan-tujuan menengah dan primer; misalnya, menegakkan keadilan, <em>\u201c\u2026agar manusia dapat berdiri tegak di atas keadilan\u2026\u201d<\/em>(1), atau membangun sistem Islam, <em>\u201cDan tidaklah Kami mengutus seorang rasul melainkan untuk ditaati dengan izin Allah\u2026\u201d<\/em>(2) Pusat ketaatan adalah agama. Ini berarti membangun sistem Islam. Itu termasuk tujuan agama, dan itu adalah tujuan menengah. Atau anggaplah menegakkan kebajikan (makruf), menyebarkan kebajikan, menghilangkan kemungkaran (munkar), serta mempromosikan ucapan yang baik (<em>al-kalim ath-thayyib<\/em>) dan amal saleh, <em>\u201c\u2026kepada-Nya naiklah perkataan-perkataan yang baik dan amal saleh mengangkatnya\u2026\u201d<\/em>(3) Jadi, inilah tujuan-tujuan agama.<\/p>\n<p>Ketika Anda melihat salah satu dari tujuan tersebut, Anda akan menemukan bahwa sarana untuk mencapainya adalah tablig, dan itu tidak mungkin terjadi tanpa Tabligh. Ya, terkadang, secara istimewa, cahaya masuk ke hati seseorang dengan isyarat ilahi, itu adalah pembahasan lain dan hal yang luar biasa, tetapi agama Allah dengan tujuan-tujuan ini dan tujuan-tujuan semacam ini untuk manusia, tidak akan terwujud kecuali dengan tablig. Jadi, tablig menjadi di tingkat dan derajat pertama. Oleh karena itu, Anda melihat penekanan Alquran pada masalah Tablig.<\/p>\n<p>Saya telah kembali ke indeks [istilah] Alquran untuk pembicaraan saya ini. Kata \u201c<em>balagh<\/em>\u201d (penyampaian) atau \u201c<em>balagh mubin<\/em>\u201d (penyampaian yang jelas) disebutkan dalam Alquran sekitar dua belas atau tiga belas kali. \u201c<em>Balagh mubin<\/em>\u201d adalah pemahaman yang tidak menyisakan ruang untuk keraguan, <em>\u201cDan tugas kami hanyalah menyampaikan (risalah) dengan jelas (al-balagh al-mubin)\u201d<\/em>(4); seharusnya tidak meninggalkan ruang untuk keraguan. <em>Al-Balagh<\/em> [berarti] pemahaman, membuat telinga dan hati memahami risalah, dan itu diulang berkali-kali dalam Alquran. Itu diulang dalam dua belas atau tiga belas tempat.<\/p>\n<p>Ini diulang melalui lisan para nabi, <em>\u201cDan tugas kami hanyalah menyampaikan (risalah) dengan jelas (al-balagh al-mubin).\u201d<\/em>(5) Ini diulang dalam firman Allah Ta\u2019ala kepada Nabi saw, <em>\u201c\u2026maka sesungguhnya kewajibanmu hanyalah menyampaikan (al-balagh)\u2026\u201d<\/em>(6) [Terdapat] dari elemen <em>al-Balagh<\/em> itu sendiri, <em>\u201cOrang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah dan mereka takut kepada-Nya dan tidak takut kepada siapa pun selain Allah\u2026\u201d<\/em>(7)\u2013ayat yang dibaca [oleh <em>qari\u2019<\/em> yang terhormat]\u2013dan banyak ayat lain juga dalam konteks ini, <em>\u201cAku sampaikan kepadamu risalah-risalah Tuhanku\u2026\u201d<\/em>(8), <em>\u201c\u2026 Sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu\u2026\u201d<\/em>(9)<\/p>\n<p>Dalam Alquran juga terdapat ungkapan-ungkapan yang sejajar dan sinonim dengan \u201c<em>balagh<\/em>\u201d yang tak terhitung jumlahnya. Berapa kali pengulangan tablig \u201c<em>al-Da\u2019wah<\/em>\u201d (seruan\/ajakan) dalam Alquran! <em>\u201cSerulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik\u2026\u201d<\/em>(10), <em>\u201c\u2026penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kalian kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepada kalian\u2026\u201d<\/em>(11), dan banyak ayat lain dengan ungkapan yang berlabel \u201c<em>al-da\u2019wah<\/em>\u201d. Banyak ayat yang berlabel \u201c<em>al-indzar<\/em> (peringatan) dan <em>al-tabsyir<\/em> (kabar gembira)\u201d. Tentu saja, semuanya adalah dakwah dan tablig. Jika Anda melihat cakupan luas dari Alquran mulia, Anda akan melihat bahwa fokusnya adalah pada tablig. Pada dasarnya, Alquran mulia melihat bahwa para nabi as bertanggung jawab atas tablig.<\/p>\n<p>Bagaimana dengan pewaris para nabi? \u201cSesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi.\u201d Dan kalian yang dianggap sebagai pewaris para nabi, dasar dan esensi misi kalian adalah tablig. Kalian harus menyampaikan. Kalian harus menyampaikan risalah agama dan Allah kepada hati dan telinga. Hati dan telinga siapa? Semua manusia. Tentu saja, ada prioritas juga. Tentu saja, masyarakat kalian memiliki prioritas besar, dan beberapa tempat memiliki prioritas, dan beberapa tempat memiliki prioritas yang lebih rendah, tetapi itu harus sampai kepada semua orang. Kami melihat pentingnya tablig dengan cara ini.<\/p>\n<p>Karena itu, Anda melihat bahwa sunah tablig telah ada di Hauzah Ilmiah sejak awal, yaitu sejak seribu tahun yang lalu. Tentu saja, saya tidak sempat memeriksa dan meninjau lebih banyak\u2013saya tidak punya waktu untuk meninjau\u2013dan inilah yang ada dalam pikiran saya sekarang.<\/p>\n<p>Anggaplah misalnya, zaman Syekh Shaduq ra, buku-buku Syekh Shaduq ra yang beragam ini semuanya adalah tablig: <em>Al-Amali<\/em> adalah tablig, <em>al-Khishal<\/em> adalah tablig, <em>Uyun Akhbar al-Ridha<\/em> adalah tablig; semuanya adalah tablig. Dan itu bukan hanya tablig mazhab; itu adalah tablig akhlak, tablig agama, tablig tauhid&#8230; hal-hal yang sama yang harus kita lakukan.<\/p>\n<p>Sejumlah risalah Syekh Mufid ra dalam menjawab pertanyaan dari berbagai negara\u2013yang diterbitkan beberapa tahun lalu di konferensi Syekh Mufid\u2013adalah tablig.(12)<\/p>\n<p>Syekh Thusi\u2013selain fikih yang mendalam, kuno, dan luar biasa itu\u2013juga memiliki <em>al-Amali<\/em>, maka <em>Amali<\/em> Syekh [Thusi] adalah tablig, dan <em>Amali<\/em> Syarif Murtadha adalah tablig.<\/p>\n<p><strong>Saya katakan: <\/strong>Saya tidak sempat sekarang untuk meninjau dan melihat\u2013kalian memiliki waktu dan ketekunan yang lebih banyak\u2013bagaimana tablig di Hauzah Ilmiah pada abad-abad berikutnya [setelah mereka].<\/p>\n<p>Tetapi misalnya, di abad-abad terakhir, Allamah Majlisi ra\u2013Allamah Majlisi adalah orang yang agung, dan Allamah Majlisi tidak boleh diremehkan. Dia adalah orang yang sangat agung\u2013selain kitab <em>Bihar al-Anwar<\/em> dan sejumlah kitabnya tentang masalah hadis, penjelasan hadis, syarah hadis, dan semacamnya, apa tujuan misalnya dari kitab <em>Haqq al-Yaqin<\/em> dan <em>Hayat al-Qulub<\/em>, yang merupakan kitab-kitab berbahasa Persia? Tentu saja, tablig.<\/p>\n<p>Almarhum Naraqi [juga] memiliki kitab berbahasa Persia, dan setelah itu ada juga kitab-kitab dan beberapa di antaranya ada dalam pikiran saya sekarang. Misalnya, <em>Tafsir Manhaj al-Shadiqin<\/em>(13) dan sejenisnya dalam bahasa Persia. Dalam bahasa Persia untuk siapa? Bahasa Persia bukan untuk para ulama dan cendekiawan dan sebagainya; itu adalah tablig untuk masyarakat umum. Ini berarti bahwa para ulama mementingkan sunah tablig.<\/p>\n<p>Tentu saja, saya tidak sempat [melihat] dari siapa mimbar dan bentuk tablig mimbar ini berasal; saya ingin meninjau jika saya bisa, tetapi misalnya Mulla Husain Kasyifi Sabzawari pada abad kesembilan dan kesepuluh, atau misalnya Wa\u2019izh Qazwini pada abad kesepuluh\u2013dia juga seorang penyair yang hebat\u2013dan yang terlintas di benak saya adalah bahwa mereka adalah ahli mimbar dan mereka pergi dan berbicara, dan sunnah mimbar ini sudah ada sejak zaman itu. Mulla Husain Kasyifi adalah penulis <em>Raudhat al-Syuhada<\/em> dan ratapan yang kita baca sebenarnya diambil dari kitab orang mulia itu.<\/p>\n<p>Demikian juga, di kemudian hari, ulama-ulama besar seperti Syekh Ja\u2019far Syusytari [adalah ahli mimbar]. Syekh Ja\u2019far Syusytari dikenal karena nasihatnya (<em>wa\u2019zh<\/em>). Dia adalah mulla dan fakih yang agung dan tentu saja dia adalah ahli mimbar. Tentu saja, dia tidak boleh dikacaukan dengan Syekh Ja\u2019far Kasyiful Ghitha. Atau almarhum Syekh (Muhammad) Ridha Hamadani al-Wa\u2019izh (pemberi nasihat) dan mulla yang agung\u2013sekali lagi, dia tidak boleh dikacaukan dengan Syekh Aqha Ridha Hamadani penulis <em>Mishbah al-Faqih<\/em>, dia adalah orang lain\u2013dan penulis <em>Hadiyyah al-Namlah ila Ra\u2019is al-Millah<\/em> adalah seorang <em>wa\u2019izh<\/em>.<\/p>\n<p>Di zaman kita, almarhum Amirza Abul Hasan Qazwini, filsuf yang mana Imam [Khomeini] belajar filsafat darinya di masa mudanya, adalah seorang mulla yang agung. Saya melihat Yang Mulia sendiri. Dia salat di halaman salah satu masjid di Tehran ini, dan dia naik mimbar dan orang-orang duduk dan mendengarkan mimbarnya. Sebelum Yang Mulia, almarhum Syahabadi,(14) guru Imam\u2013dan bagaimanapun kami tidak sempat bertemu dengannya\u2013naik mimbar di masjid yang sama itu. Orang-orang ini tidak menganggap naik mimbar sebagai kekurangan kedudukan.<\/p>\n<p>Di kota Masyhad sendiri, almarhum Haj Mirza Husain Sabzawari, dan almarhum Sayid Hasan Qummi,(15) naik mimbar. Artinya, sunah tablig, baik dalam bentuk tulisan, atau naik mimbar, atau menyusun puisi, telah ada di Hauzah Ilmiah, dan ini menunjukkan pentingnya.(16&amp;17)<\/p>\n<p><strong>Catatan Kaki:<\/strong><\/p>\n<ol>\n<li>QS. al-Hadid [57]:25, hal.541.<\/li>\n<li>QS. al-Nisa [4]:64, hal.88.<\/li>\n<li>QS. Fathir (35]:10, hal.435.<\/li>\n<li>QS. Yasin [36]:17, hal.441.<\/li>\n<li>QS. Ali Imran [3]:20, hal.52.<\/li>\n<li>QS. al-Ahzab [33]:39, hal.423.<\/li>\n<li>QS. al-A\u2019raf [7]:62, hal.158.<\/li>\n<li>QS. al-Maidah [5]:67, hal.119.<\/li>\n<li>QS. al-Nahl [16]:125, hal.281.<\/li>\n<li>QS. al-Anfal [8]:24, hal.179.<\/li>\n<li>Syekh Shaduq, <em>al-Amali<\/em>, hal.60.<\/li>\n<li>Konferensi Internasional \u201cSeribu Tahun Syekh Mufid\u201d dalam rangka peringatan 1000 tahun wafatnya Syekh Mufid, 17\/4\/1993.<\/li>\n<li>Ditulis oleh Mulla Fathullah al-Kasyani (wafat tahun 998 H.Q.).<\/li>\n<li>Ayatullah Mirza Muhammad Ali Bid Abadi yang dikenal dengan \u201cAl-Syah Abadi\u201d (1292-1369 HQ).<\/li>\n<li>Ayatullah Uzhma Sayid Hasan Thabathaba\u2019i Qummi (1329-1428 HQ).<\/li>\n<li>Dikutip dari pidato Imam Khamenei dalam pertemuan dengan para mubalig dan pelajar Hauzah Ilmiah pada tanggal 12\/7\/2023.<\/li>\n<li>Sumber: Situs Kantor Samahah al-Qa\u2019id Ayatullah al-\u2019Uzhma al-Khamenei <em>damat barakatuh<\/em> (semoga keberkahannya langgeng).<\/li>\n<\/ol>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Sayid Ali Khameneni Menurut pandangan yang berlaku saat ini di Hauzah Ilmiah, tablig berada di urutan kedua, sementara urutan pertama adalah untuk hal-hal lain, seperti kedudukan ilmiah dan sejenisnya. Tablig berada di urutan kedua. Oleh karena itu, kita harus melampaui pandangan ini, karena Tabligh berada di urutan pertama. Inilah yang ingin saya sampaikan. Mengapa [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":18556,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"give_campaign_id":0,"footnotes":""},"categories":[61],"tags":[],"class_list":["post-18555","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pesan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/restoration\/v2r5\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18555","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/restoration\/v2r5\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/restoration\/v2r5\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/restoration\/v2r5\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/restoration\/v2r5\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=18555"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/restoration\/v2r5\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18555\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":18557,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/restoration\/v2r5\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18555\/revisions\/18557"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/restoration\/v2r5\/wp-json\/wp\/v2\/media\/18556"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/restoration\/v2r5\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=18555"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/restoration\/v2r5\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=18555"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/restoration\/v2r5\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=18555"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}