{"id":18693,"date":"2025-10-09T13:37:39","date_gmt":"2025-10-09T13:37:39","guid":{"rendered":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/restoration\/v2r5\/?p=18693"},"modified":"2025-10-09T13:37:39","modified_gmt":"2025-10-09T13:37:39","slug":"kelas-tafsir-maudhui-icc-jakarta-makna-tadharru-dalam-kehidupan-seorang-mukmin","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/restoration\/v2r5\/kelas-tafsir-maudhui-icc-jakarta-makna-tadharru-dalam-kehidupan-seorang-mukmin\/","title":{"rendered":"Kelas Tafsir Maudhu\u2019i ICC Jakarta: Makna Tadharru dalam Kehidupan Seorang Mukmin"},"content":{"rendered":"<p>Kelas Tafsir Maudhu\u2019i di ICC Jakarta pada Kamis, 9 Oktober 2025, kembali menghadirkan Syaikh Mohammad Sharifani sebagai penceramah dengan penerjemahan oleh Ustaz Hafidh Alkaf. Pada pertemuan kali ini, pembahasan difokuskan pada tema tadharru, yaitu ketundukan dan kerendahan hati seorang hamba di hadapan Allah SWT, serta bagaimana sifat ini menjadi jalan mendekatkan diri kepada-Nya.<\/p>\n<p>Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa tadharru menggambarkan keadaan seseorang ketika menghadapi kesulitan dan menampakkan kelemahannya di hadapan Allah. Dalam Al-Qur\u2019an, Allah sering kali menciptakan kondisi tertentu agar manusia kembali tunduk kepada-Nya. Sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-An\u2018am ayat 42\u201343:<\/p>\n<p>Wa laqad arsaln\u0101 il\u0101 umamin min qablika fa akhadzn\u0101hum bil-ba\u2019s\u0101\u2019i wadl-dlarr\u0101\u2019i la\u2018allahum yatadlarra\u2018\u016bn<br \/>\n\u201cSungguh, Kami telah mengutus rasul-rasul kepada umat-umat sebelum engkau, kemudian Kami timpakan kepada mereka kemelaratan dan kesengsaraan agar mereka tunduk merendahkan diri (kepada Allah).\u201d<\/p>\n<p>Falau l\u0101 idz j\u0101\u2019ahum ba\u2019sun\u0101 tadlarra\u2018\u016b wa l\u0101kin qasat qul\u016bbuhum wa zayyana lahumusy-syaith\u0101nu m\u0101 k\u0101n\u016b ya\u2018mal\u016bn<br \/>\n\u201cNamun, mengapa mereka tidak juga tunduk ketika siksaan Kami datang menimpa mereka? Bahkan hati mereka telah menjadi keras dan setan pun menjadikan indah bagi mereka apa yang selalu mereka kerjakan.\u201d<\/p>\n<p>Menurut beliau, sebelum Allah mengutus seorang nabi kepada suatu kaum, biasanya Allah terlebih dahulu menimpakan kesulitan agar mereka sadar akan ketergantungannya kepada Tuhan. Hal ini ditegaskan dalam Surah Al-A\u2018raf ayat 94\u201395:<\/p>\n<p>Wa m\u0101 arsaln\u0101 f\u012b qaryatin min nabiyyin ill\u0101 akhadzn\u0101 ahlah\u0101 bil-ba\u2019s\u0101\u2019i wadl-dlarr\u0101\u2019i la\u2018allahum yadldlarra\u2018\u016bn<br \/>\n\u201cKami tidak mengutus seorang nabi pun di suatu negeri melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan agar mereka merendahkan diri.\u201d<\/p>\n<p>\u1e60umma baddaln\u0101 mak\u0101na as-sayyi\u2019ati al-\u1e25asanata \u1e25att\u0101 \u2018afaw wa q\u0101l\u016b qad massa \u0101b\u0101\u2019an\u0101 adl-dlarr\u0101\u2019u was-sarr\u0101\u2019u fa akhadzn\u0101hum baghtatan wa hum l\u0101 yasy\u2018ur\u016bn<br \/>\n\u201cKemudian Kami ganti penderitaan itu dengan kesenangan hingga mereka hidup makmur. Mereka berkata, \u2018Sungguh, nenek moyang kami juga pernah merasakan penderitaan dan kesenangan.\u2019 Maka Kami timpakan siksaan kepada mereka secara tiba-tiba tanpa mereka sadari.\u201d<\/p>\n<p>Syaikh Sharifani kemudian menegaskan bahwa ketundukan yang sejati harus ditunjukkan sebelum datangnya waktu yang terlambat, sebagaimana dijelaskan dalam Surah Al-Mu\u2019minun ayat 64\u201366:<\/p>\n<p>\u1e2aatt\u0101 idz\u0101 akhadzn\u0101 mutraf\u012bhim bil-\u2018adz\u0101bi idz\u0101 hum yaj\u2019ar\u016bn<br \/>\n\u201cKetika Kami timpakan azab kepada orang-orang yang hidup bermewah-mewah di antara mereka, seketika itu mereka berteriak meminta pertolongan.\u201d<\/p>\n<p>L\u0101 taj\u2019arul-yauma innakum minn\u0101 l\u0101 tunshar\u016bn<br \/>\n\u201cJanganlah kamu berteriak meminta tolong pada hari ini! Sesungguhnya kamu tidak akan mendapatkan pertolongan dari Kami.\u201d<\/p>\n<p>Qad k\u0101nat \u0101y\u0101t\u012b tutl\u0101 \u2018alaikum fakuntum \u2018al\u0101 a\u2018q\u0101bikum tankish\u016bn<br \/>\n\u201cSungguh, ayat-ayat-Ku selalu dibacakan kepadamu, tetapi kamu selalu berpaling ke belakang.\u201d<\/p>\n<p>Beliau menekankan bahwa tadharru tidak akan berguna bila seseorang menolak ayat-ayat Allah. Dalam Surah An-Nahl ayat 53, Allah mengingatkan bahwa segala nikmat datang dari-Nya, dan kesulitan adalah sarana untuk kembali bersandar kepada-Nya:<\/p>\n<p>Wa m\u0101 bikum min ni\u2018matin fa minall\u0101hi tsumma idz\u0101 massakumudl-dlurru fa ilaihi taj\u2019ar\u016bn<br \/>\n\u201cSegala nikmat yang ada padamu berasal dari Allah, kemudian apabila kamu ditimpa kesulitan, kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan.\u201d<\/p>\n<p>Ayat ini, jelas beliau, menunjukkan bahwa problem kehidupan sering kali dihadirkan oleh Allah untuk menumbuhkan tadharru dan memperdalam rasa penghambaan seorang mukmin.<\/p>\n<p>Dalam lanjutan kajian, Syaikh Sharifani membawakan beberapa riwayat yang menjelaskan makna tadharru.<br \/>\nRiwayat pertama, dari Imam Ja\u2018far ash-Shadiq AS, menukil sabda Rasulullah SAW bahwa menggosok gigi dengan siwak tidak hanya membersihkan mulut, tetapi juga mendatangkan keridaan Allah SWT. Beliau menjelaskan bahwa sebagaimana seseorang membersihkan kotoran dari mulutnya, demikian pula seorang mukmin hendaknya membersihkan dosa-dosanya dengan tadharru, istighfar, ibadah, dan penyucian diri dari perbuatan dosa, baik zahir maupun batin.<\/p>\n<p>Riwayat kedua adalah hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Rasulullah SAW, bahwa Allah berfirman:<br \/>\n\u201cPuasa adalah milik-Ku, dan Aku sendiri yang akan memberi balasannya.\u201d<br \/>\nSyaikh Sharifani menerangkan bahwa puasa mematikan hawa nafsu, menghidupkan hati, menyucikan tubuh dan jiwa, menumbuhkan rasa syukur, serta mendorong kepedulian terhadap kaum fakir. Puasa, kata beliau, juga menjadi sarana bagi seorang mukmin untuk bertadharru di hadapan Allah dan melemahkan dominasi hawa nafsu yang menghalangi kedekatan spiritual.<\/p>\n<p>Riwayat ketiga, dari Imam Ja\u2018far ash-Shadiq AS, menyebutkan bahwa Allah telah menganugerahkan kepada para nabi akhlak-akhlak yang mulia. Seorang mukmin hendaknya memohon dengan tadharru agar diberi akhlak tersebut.<br \/>\nAkhlak itu antara lain: keyakinan, qana\u2018ah, kesabaran, syukur, ketabahan, akhlak mulia kepada sesama, kedermawanan, kepedulian terhadap agama, keberanian, dan kemanusiaan. Sebagian riwayat menambahkan dua sifat lain, yaitu kejujuran dan menunaikan amanah.<br \/>\nMenurut beliau, bila seseorang belum memiliki sifat-sifat tersebut, hendaknya ia berdoa dengan kerendahan hati agar Allah menganugerahkannya.<\/p>\n<p>Syaikh Sharifani kemudian menjelaskan bahwa kesulitan hidup sering kali menjadi sebab seseorang mencapai derajat tadharru. Orang beriman yang diuji tidak seharusnya berputus asa, melainkan bersyukur karena diberi kesempatan untuk mendekat kepada Allah. Dalam Surah Al-Mu\u2019minun ayat 76, Allah berfirman:<\/p>\n<p>Wa laqad akhadzn\u0101hum bil-\u2018adz\u0101bi fa mastak\u0101n\u016b lirabbihim wa m\u0101 yatadlarra\u2018\u016bn<br \/>\n\u201cSungguh, Kami telah menimpakan siksaan kepada mereka, tetapi mereka tidak mau tunduk kepada Tuhannya dan tidak merendahkan diri.\u201d<\/p>\n<p>Menurut beliau, ayat ini menunjukkan bahwa salah satu tujuan ujian adalah agar manusia bertadharru; dan seandainya kaum yang diazab itu mau bertadharru, niscaya azab yang lebih berat tidak akan ditimpakan kepada mereka.<\/p>\n<p>Selanjutnya, Syaikh Sharifani menguraikan manfaat-manfaat tadharru.<br \/>\nPertama, tadharru mendatangkan pertolongan Allah, sebagaimana kisah Nabi Nuh AS dalam Surah Al-Anbiya\u2019 ayat 76\u201377:<\/p>\n<p>Wa n\u016b\u1e25an idz n\u0101d\u0101 ming qablu fastajabn\u0101 lah\u016b fa najjain\u0101hu wa ahlah\u016b minal-karbil-\u2018azh\u012bm<br \/>\n\u201cIngatlah Nuh ketika dia berdoa kepada Kami sebelumnya. Kami memperkenankan doanya dan menyelamatkannya bersama pengikutnya dari bencana besar.\u201d<\/p>\n<p>Wa nasharn\u0101hu minal-qaumilladz\u012bna kadzdzab\u016b bi \u0101y\u0101tin\u0101 innahum k\u0101n\u016b qauma saw\u2019in fa aghraqn\u0101hum ajma\u2018\u012bn<br \/>\n\u201cKami menolongnya dari kaum yang mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat, maka Kami tenggelamkan mereka seluruhnya.\u201d<\/p>\n<p>Kedua, tadharru membawa keselamatan dari kesulitan, sebagaimana kisah Nabi Yunus AS dalam Surah Al-Anbiya\u2019 ayat 87\u201388:<\/p>\n<p>Wa dzan-n\u016bni idz dzahaba mugh\u0101dliban fa dhanna al lan naqdira \u2018alaihi fa n\u0101d\u0101 fidh-dhulum\u0101ti an l\u0101 il\u0101ha ill\u0101 anta sub\u1e25\u0101naka inn\u012b kuntu minadh-dh\u0101lim\u012bn<br \/>\n\u201cIngatlah Zun Nun (Yunus) ketika ia pergi dalam keadaan marah dan menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya. Maka ia berdoa dalam kegelapan, \u2018Tidak ada tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.\u2019\u201d<\/p>\n<p>Fastajabn\u0101 lah\u016b wa najjain\u0101hu minal-ghamm, wa kadz\u0101lika nunjil-mu\u2019min\u012bn<br \/>\n\u201cMaka Kami memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kedukaan. Demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang mukmin.\u201d<\/p>\n<p>Ketiga, tadharru menjadikan seseorang tergolong dalam golongan orang saleh, sebagaimana dijelaskan dalam Surah Al-Qalam ayat 48\u201350:<\/p>\n<p>Fa\u1e63bir li\u1e25ukmi rabbika wa l\u0101 takun ka\u1e63\u0101\u1e25ibil-\u1e25\u016bt idz n\u0101d\u0101 wa huwa makdh\u016bm<br \/>\n\u201cBersabarlah terhadap ketetapan Tuhanmu dan janganlah seperti orang yang berada dalam perut ikan (Yunus) ketika ia berdoa dalam keadaan sedih.\u201d<\/p>\n<p>Law l\u0101 an tad\u0101rakah\u016b ni\u2018matum mir rabbih\u012b lanubidzza bil-\u2018ar\u0101\u2019i wa huwa madzm\u016bm<br \/>\n\u201cSeandainya dia tidak segera mendapat nikmat dari Tuhannya, niscaya dia dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela.\u201d<\/p>\n<p>Fajtab\u0101hu rabbuh\u016b fa ja\u2018alah\u016b minash-sh\u0101li\u1e25\u012bn<br \/>\n\u201cLalu Tuhannya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang saleh.\u201d<\/p>\n<p>Menurut beliau, ayat-ayat ini menunjukkan bahwa tadharru tidak hanya menjadi sebab datangnya pertolongan Allah, tetapi juga jalan menuju kesalehan dan keselamatan dari azab.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kelas Tafsir Maudhu\u2019i di ICC Jakarta pada Kamis, 9 Oktober 2025, kembali menghadirkan Syaikh Mohammad Sharifani sebagai penceramah dengan penerjemahan oleh Ustaz Hafidh Alkaf. Pada pertemuan kali ini, pembahasan difokuskan pada tema tadharru, yaitu ketundukan dan kerendahan hati seorang hamba di hadapan Allah SWT, serta bagaimana sifat ini menjadi jalan mendekatkan diri kepada-Nya. Syaikh Mohammad [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":18694,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"give_campaign_id":0,"footnotes":""},"categories":[14],"tags":[],"class_list":["post-18693","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/restoration\/v2r5\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18693","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/restoration\/v2r5\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/restoration\/v2r5\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/restoration\/v2r5\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/restoration\/v2r5\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=18693"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/restoration\/v2r5\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18693\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":18695,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/restoration\/v2r5\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18693\/revisions\/18695"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/restoration\/v2r5\/wp-json\/wp\/v2\/media\/18694"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/restoration\/v2r5\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=18693"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/restoration\/v2r5\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=18693"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/restoration\/v2r5\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=18693"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}