{"id":18701,"date":"2025-10-10T08:59:16","date_gmt":"2025-10-10T08:59:16","guid":{"rendered":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/restoration\/v2r5\/?p=18701"},"modified":"2025-10-10T08:59:16","modified_gmt":"2025-10-10T08:59:16","slug":"kelas-tafsir-tartibi-icc-jakarta-penciptaan-alam-dan-penetapan-manusia-sebagai-khalifah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/restoration\/v2r5\/kelas-tafsir-tartibi-icc-jakarta-penciptaan-alam-dan-penetapan-manusia-sebagai-khalifah\/","title":{"rendered":"Kelas Tafsir Tartibi ICC Jakarta: Penciptaan Alam dan Penetapan Manusia sebagai Khalifah"},"content":{"rendered":"<p>Kelas Tafsir Tartibi ICC Jakarta pada Jumat, 10 Oktober 2025, menghadirkan Syaikh Mohammad Sharifani selaku penceramah dengan penerjemahan oleh Ustaz Zaki Amami. Pada kesempatan kali ini, pembahasan berfokus pada Surah Al-Baqarah ayat 29 hingga 30, yang menyingkap makna penciptaan alam semesta dan penetapan manusia sebagai khalifah di bumi.<\/p>\n<p>Syaikh Mohammad Sharifani membuka kajian dengan membacakan firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 29:<br \/>\nhuwalladz\u00ee khalaqa lakum m\u00e2 fil-ardli jam\u00ee\u2018an tsummastaw\u00e2 ilas-sam\u00e2\u2019i fa saww\u00e2hunna sab\u2018a sam\u00e2w\u00e2t, wa huwa bikulli syai\u2019in \u2018al\u00eem<br \/>\nDialah (Allah) yang menciptakan segala yang ada di bumi untukmu, kemudian Dia menuju ke (penciptaan) langit, lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit. Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.<\/p>\n<p>Beliau menjelaskan bahwa kata \u201cardl\u201d dalam ayat ini tidak terbatas pada bumi secara fisik, melainkan mencakup seluruh alam semesta. Segala sesuatu di alam raya ini diciptakan untuk kepentingan manusia, sementara alam tidak membutuhkan manusia. Penciptaan alam semesta mendahului penciptaan manusia agar manusia dapat hidup dan mengambil manfaat darinya. Seluruh kenikmatan yang terdapat di alam semesta diperuntukkan bagi manusia dalam batas-batas yang diizinkan oleh Allah SWT. Dalam sebuah hadis Rasulullah SAW disebutkan bahwa Allah berfirman: \u201cAku ciptakan segala sesuatu untuk manusia.\u201d Hal ini menegaskan posisi manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi, yang diberi hak untuk memanfaatkan bumi beserta isinya.<\/p>\n<p>Beliau juga menjelaskan bahwa dari sisi penciptaan, Allah terlebih dahulu menciptakan langit sebelum bumi. Namun dari sisi manfaat dan penggunaan, manusia lebih dahulu mengambil manfaat dari bumi sebelum langit. Dengan demikian, bumi beserta segala isinya telah disempurnakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Sebagaimana contoh yang beliau berikan, seekor kambing mencapai kesempurnaannya ketika dimanfaatkan untuk kebaikan manusia, atau warna menjadi sempurna ketika dapat dinikmati oleh manusia. Adapun manusia sendiri mencapai kesempurnaannya ketika ia dapat berkhidmat kepada Allah SWT.<\/p>\n<p>Selanjutnya, Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa Allah menciptakan tujuh lapis langit atau tujuh tingkatan keberadaan. Al-Qur\u2019an hanya menjelaskan secara rinci mengenai langit pertama, yang dihiasi dengan bintang-bintang, sementara lapisan langit berikutnya tidak dijabarkan secara mendalam. Dalam beberapa ayat disebutkan bahwa langit merupakan tempat para malaikat, dan dari langit pula para malaikat itu turun untuk menjalankan perintah Allah.<\/p>\n<p>Kajian kemudian berlanjut kepada Surah Al-Baqarah ayat 30:<br \/>\nwa idz q\u00e2la rabbuka lil-mal\u00e2\u2019ikati inn\u00ee j\u00e2\u2018ilun fil-ardli khal\u00eefah, q\u00e2l\u00fb a taj\u2018alu f\u00eeh\u00e2 may yufsidu f\u00eeh\u00e2 wa yasfikud-dim\u00e2&#8217;, wa na\u1e2bnu nusabbi\u1e25u bi\u1e2bamdika wa nuqaddisu lak, q\u00e2la inn\u00ee a\u2018lamu m\u00e2 l\u00e2 ta\u2018lam\u00fbn<br \/>\n(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, \u201cAku hendak menjadikan khalifah di bumi.\u201d Mereka berkata, \u201cApakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?\u201d Dia berfirman, \u201cSesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.\u201d<\/p>\n<p>Beliau menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan tujuan penciptaan manusia, yaitu menjadi khalifah di bumi. Allah SWT memberikan kepada manusia karamah atau kemuliaan, yang terbagi menjadi dua jenis:<br \/>\nKemuliaan lahiriah, berupa bentuk fisik yang seimbang dan sempurna, dan<br \/>\nKemuliaan maknawiyah, yakni kehormatan spiritual karena ditetapkan sebagai khalifah di muka bumi.<br \/>\nInilah bentuk penghormatan tertinggi Allah kepada manusia.<\/p>\n<p>Namun, ketika Allah mengumumkan penetapan manusia sebagai khalifah, para malaikat menyampaikan keberatan dengan menyebutkan dua sifat buruk manusia, yaitu suka berbuat kerusakan dan menumpahkan darah. Malaikat juga mengemukakan keutamaan diri mereka yang selalu memuji dan menyucikan Allah. Allah menjawab dengan pernyataan bahwa Allah mengetahui sesuatu yang tidak diketahui oleh para malaikat.<\/p>\n<p>Syaikh Mohammad Sharifani kemudian menyoroti perbedaan antara memuji (tasbih) dan menyucikan (taqdis) Allah. Menurut beliau, memuji berarti mengaitkan Allah dengan sifat-sifat-Nya yang baik, sedangkan menyucikan berarti membersihkan nama Allah dari segala sifat yang tidak layak bagi-Nya. Semua makhluk dapat memuji Allah, tetapi menyucikan adalah bentuk ibadah yang khas bagi malaikat.<\/p>\n<p>Selain itu, perbedaan lain antara memuji dan bertasbih terletak pada arah pengagungan: pujian mengafirmasi kesempurnaan sifat Allah, sedangkan tasbih menafikan segala kekurangan dari-Nya. Dalam kaitan ini, Syaikh Mohammad Sharifani mengutip Surah An-Nazi\u2018at ayat 5:<br \/>\nfal-mudabbir\u00e2ti amr\u00e2<br \/>\nDan (malaikat) yang mengatur urusan (dunia).<\/p>\n<p>Ayat ini menunjukkan bahwa malaikat berperan sebagai perantara antara Allah dan makhluk-Nya, mengatur urusan-urusan dunia dengan izin Allah SWT. Misalnya, turunnya hujan, kesembuhan dari penyakit, dan berbagai urusan alamiah lainnya terjadi melalui perantara malaikat, karena ketinggian wujud Allah yang tidak terjangkau oleh makhluk.<\/p>\n<p>Kembali kepada dialog antara Allah dan para malaikat, Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa pertanyaan malaikat dapat dipahami dalam dua kemungkinan. Pertama, sebagai bentuk keingintahuan untuk memahami hikmah di balik penciptaan manusia. Kedua, sebagai bentuk keberatan berdasarkan pengetahuan mereka tentang sifat-sifat buruk manusia.<\/p>\n<p>Muncul pertanyaan menarik: Bagaimana para malaikat mengetahui bahwa manusia akan berbuat kerusakan dan menumpahkan darah?<br \/>\nBeliau menjelaskan dua pendapat utama di kalangan mufasir.<br \/>\nPendapat pertama menyebutkan bahwa sebelum penciptaan Adam AS, sudah ada makhluk serupa manusia yang berbuat kerusakan, sehingga malaikat mengambil kesimpulan dari hal itu. Namun pendapat ini dianggap lemah.<br \/>\nPendapat kedua, yang lebih kuat, menyatakan bahwa malaikat \u2014 sebagai makhluk suci dan sederhana \u2014 memiliki daya pemahaman spiritual yang tajam dan mampu memahami hakikat makhluk yang lebih kompleks seperti manusia yang terdiri dari unsur material dan nonmaterial.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kelas Tafsir Tartibi ICC Jakarta pada Jumat, 10 Oktober 2025, menghadirkan Syaikh Mohammad Sharifani selaku penceramah dengan penerjemahan oleh Ustaz Zaki Amami. Pada kesempatan kali ini, pembahasan berfokus pada Surah Al-Baqarah ayat 29 hingga 30, yang menyingkap makna penciptaan alam semesta dan penetapan manusia sebagai khalifah di bumi. Syaikh Mohammad Sharifani membuka kajian dengan membacakan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":18702,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"give_campaign_id":0,"footnotes":""},"categories":[14],"tags":[],"class_list":["post-18701","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/restoration\/v2r5\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18701","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/restoration\/v2r5\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/restoration\/v2r5\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/restoration\/v2r5\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/restoration\/v2r5\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=18701"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/restoration\/v2r5\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18701\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":18703,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/restoration\/v2r5\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18701\/revisions\/18703"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/restoration\/v2r5\/wp-json\/wp\/v2\/media\/18702"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/restoration\/v2r5\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=18701"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/restoration\/v2r5\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=18701"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/restoration\/v2r5\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=18701"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}