{"id":18748,"date":"2025-10-16T13:14:02","date_gmt":"2025-10-16T13:14:02","guid":{"rendered":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/restoration\/v2r5\/?p=18748"},"modified":"2025-10-16T13:15:58","modified_gmt":"2025-10-16T13:15:58","slug":"kelas-tafsir-maudhui-icc-jakarta-menyingkap-akar-kesombongan-dalam-perspektif-al-quran","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/restoration\/v2r5\/kelas-tafsir-maudhui-icc-jakarta-menyingkap-akar-kesombongan-dalam-perspektif-al-quran\/","title":{"rendered":"Kelas Tafsir Maudhu\u2018i ICC Jakarta: Menyingkap Akar Kesombongan dalam Perspektif Al-Qur\u2019an"},"content":{"rendered":"<p>Kelas Tafsir Maudhu\u2018i Islamic Cultural Centre (ICC) Jakarta pada Kamis, 16 Oktober 2025 menghadirkan Syaikh Mohammad Sharifani sebagai pembicara dengan penerjemahan oleh Ustaz Hafidh Alkaf. Kajian kali ini berfokus pada tema kesombongan (al-kibr) \u2014 salah satu sifat tercela yang menyebabkan kejatuhan Iblis dan menjadi sumber berbagai penyakit hati dalam diri manusia.<\/p>\n<p>Syaikh Mohammad Sharifani membuka kajian dengan menjelaskan bahwa kesombongan adalah sifat yang sangat dibenci oleh Allah SWT, sebagaimana disebutkan dalam Surah An-Nisa\u2019 ayat 36:<br \/>\nwa\u2018budull\u00e2ha wa l\u00e2 tusyrik\u00fb bih\u00ee syai&#8217;aw wa bil-w\u00e2lidaini i\u1e2bs\u00e2naw wa bidzil-qurb\u00e2 wal-yat\u00e2m\u00e2 wal-mas\u00e2k\u00eeni wal-j\u00e2ri dzil-qurb\u00e2 wal-j\u00e2ril-junubi wash-sh\u00e2\u1e2bibi bil-jambi wabnis-sab\u00eeli wa m\u00e2 malakat aim\u00e2nukum, innall\u00e2ha l\u00e2 yu\u1e2bibbu mang k\u00e2na mukht\u00e2lan fakh\u00fbr\u00e2<br \/>\n\u201cSembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, serta hamba sahaya yang kamu miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri.\u201d<\/p>\n<p>Beliau menekankan bahwa orang-orang yang disebut dalam ayat ini \u2014 seperti anak yatim dan orang miskin \u2014 merupakan golongan lemah dalam masyarakat. Perintah untuk memperhatikan mereka sekaligus mengandung larangan untuk bersikap sombong. Kesombongan, yang dalam bahasa Arab disebut kibr, biasanya diawali dengan \u2018ujub, yaitu rasa bangga terhadap diri sendiri yang muncul dari khayalan atau angan-angan. Ketika kebanggaan itu tumbuh, seseorang mulai menganggap orang lain rendah.<\/p>\n<p>Hal ini dijelaskan dalam Surah Hud ayat 10\u201311:<br \/>\nwa la&#8217;in adzaqn\u00e2hu na\u2018m\u00e2&#8217;a ba\u2018da dlarr\u00e2&#8217;a massat-hu layaq\u00fblanna dzahabas-sayyi&#8217;\u00e2tu \u2018ann\u00ee, innah\u00fb lafari\u1e2bun fakh\u00fbr. illalladz\u00eena shabar\u00fb wa \u2018amilush-sh\u00e2li\u1e2b\u00e2t, ul\u00e2&#8217;ika lahum maghfiratuw wa ajrung kab\u00eer.<br \/>\n\u201cSungguh, jika Kami cicipkan kepadanya suatu nikmat setelah bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata, \u2018Telah hilang keburukan itu dariku.\u2019 Sesungguhnya dia sangat gembira lagi sangat membanggakan diri. Kecuali orang-orang yang sabar dan beramal saleh; bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.\u201d<\/p>\n<p>Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa kenikmatan sering kali membuat manusia lupa kepada Allah SWT dan berbangga atas apa yang dimilikinya. Padahal, orang yang sabar dan tetap beramal saleh justru mendapat ampunan dan pahala besar.<\/p>\n<p>Dalam Surah At-Takatsur, Allah berfirman:<br \/>\nal-h\u00e2kumut-tak\u00e2tsur, \u1e2batt\u00e2 zurtumul-maq\u00e2bir, kall\u00e2 saufa ta\u2018lam\u00fbn&#8230;<br \/>\n\u201cBerbangga-bangga dalam memperbanyak (dunia) telah melalaikanmu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Sekali-kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu).\u201d<br \/>\nDahulu, orang Arab berbangga atas kabilah dan keturunannya, tetapi sifat itu melalaikan mereka dari akhirat. Orang yang saling berbangga di dunia, kata beliau, adalah orang yang kelak akan melihat neraka Jahim.<\/p>\n<p>Beliau kemudian menyampaikan beberapa riwayat. Dalam hadis dari Imam Musa al-Kazhim a.s., disebutkan bahwa sebaik-baik hal yang bisa dilakukan oleh seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah \u2014 selain mengenal-Nya \u2014 adalah salat, berbakti kepada kedua orang tua, meninggalkan iri hati, berbangga diri, dan kesombongan.<br \/>\nDalam riwayat lain dari Rasulullah saw., disebutkan: \u201cBarang siapa berjalan di bumi ini dengan kesombongan, maka bumi, yang di atasnya dan yang di bawahnya, serta semua makhluk akan melaknatnya.\u201d Artinya, seluruh alam melaknat orang yang sombong.<\/p>\n<p>Syaikh Mohammad Sharifani juga mengutip riwayat dari Imam Ja\u2018far al-Shadiq a.s.: \u201cSebaik-baik pakaian yang kamu kenakan adalah yang tidak membuatmu lalai dari Allah, bahkan mendekatkanmu kepada dzikir, bersyukur, dan taat kepada-Nya. Janganlah pakaian itu menjadikanmu berbangga, riya, atau sombong.\u201d<br \/>\nKesombongan, kata beliau, termasuk bencana agama yang dapat mengeraskan hati manusia.<\/p>\n<p>Dalam wasiat Rasulullah saw. kepada Imam Ali a.s., beliau bersabda: \u201cWahai Ali, siapa yang menuntut ilmu untuk berbangga diri di hadapan orang bodoh, atau untuk mendebat ulama, atau berharap orang-orang mengikuti dirinya, maka tempatnya di neraka.\u201d Menuntut ilmu harus diniatkan untuk mendapatkan keridaan Allah dan pengabdian kepada makhluk-Nya.<\/p>\n<p>Rasulullah saw. juga bersabda, \u201cSegala sesuatu memiliki bencananya: bencana pembicaraan adalah kebohongan, bencana ilmu adalah lupa, bencana ibadah adalah merasa lemah, bencana kedermawanan adalah mengungkit pemberian, bencana keberanian adalah kezaliman, dan bencana kecantikan adalah kesombongan.\u201d<\/p>\n<p>Kesombongan, lanjut beliau, bisa masuk ke dalam diri manusia karena adanya unsur syirik. Dalam ayat wa\u2018budull\u00e2ha wa l\u00e2 tusyrik\u00fb bih\u00ee syai&#8217;aw, orang yang sombong seakan-akan menganggap ada sesuatu selain Allah yang memiliki kekuasaan atas dirinya. Untuk menghilangkan kesombongan, seseorang harus menjauhkan diri dari segala bentuk kesyirikan.<\/p>\n<p>Hal lain yang menumbuhkan kesombongan adalah berbangga terhadap orang lain, sebagaimana disebutkan dalam Surah An-Nisa\u2019 ayat 37\u201338:<br \/>\n(Yaitu) orang-orang yang kikir, menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia yang telah dianugerahkan Allah kepada mereka. Kami telah menyediakan bagi orang-orang kafir azab yang menghinakan. Dan (Allah juga tidak menyukai) orang-orang yang menginfakkan hartanya karena riya kepada orang (lain) dan tidak beriman kepada Allah serta hari akhir. Siapa yang menjadikan setan sebagai temannya, maka dia adalah seburuk-buruk teman.\u201d<\/p>\n<p>Kesombongan juga bisa timbul karena kebodohan, sebagaimana dalam Surah At-Takatsur:<br \/>\nkall\u00e2 lau ta\u2018lam\u00fbna \u2018ilmal-yaq\u00een, latarawunnal-ja\u1e25\u00eem<br \/>\n\u201cSekali-kali tidak! Sekiranya kamu mengetahui dengan yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat (neraka) Jahim.\u201d<\/p>\n<p>Penyebab lainnya adalah kelimpahan nikmat, sebagaimana dalam Surah Saba\u2019 ayat 35:<br \/>\nwa q\u00e2l\u00fb na\u1e25nu aktsaru amw\u00e2law wa aul\u00e2daw wa m\u00e2 na\u1e25nu bimu\u2018adzdzab\u00een<br \/>\n\u201cMereka berkata, \u2018Kami memiliki lebih banyak harta dan anak, dan kami tidak akan diazab.\u2019\u201d<br \/>\nAyat ini menunjukkan bahwa kesombongan sering muncul karena manusia tertipu oleh banyaknya nikmat dunia.<\/p>\n<p>Allah juga memberikan perumpamaan dalam Surah Al-Kahf ayat 32\u201335 tentang dua pemilik kebun:<br \/>\nwa dakhala jannatah\u00fb wa huwa dh\u00e2limul linafsih, q\u00e2la m\u00e2 adhunnu an tab\u00eeda h\u00e2dzih\u00ee abad\u00e2<br \/>\n\u201cDia memasuki kebunnya dengan sikap menzalimi dirinya sendiri (karena angkuh dan kufur). Dia berkata, \u2018Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya.\u2019\u201d<br \/>\nKesombongan telah menutup pandangan manusia dari hakikat kefanaan nikmat dunia.<\/p>\n<p>Dalam Surah Al-Hadid ayat 23, Allah berfirman:<br \/>\nlikai l\u00e2 ta&#8217;sau \u2018al\u00e2 m\u00e2 f\u00e2takum wa l\u00e2 tafra\u1e2b\u00fb bim\u00e2 \u00e2t\u00e2kum, wall\u00e2hu l\u00e2 yu\u1e25ibbu kulla mukht\u00e2lin fakh\u00fbr<br \/>\n\u201c(Yang demikian itu kami tetapkan) agar kamu tidak bersedih atas apa yang luput darimu dan tidak terlalu gembira atas apa yang diberikan kepadamu. Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.\u201d<br \/>\nAyat ini sekaligus menggambarkan makna zuhud: tidak sedih karena kehilangan dunia, dan tidak berlebihan dalam kegembiraan atas apa yang dimiliki.<\/p>\n<p>Terakhir, beliau menjelaskan bahwa kesombongan juga dapat timbul karena tertipu oleh kehidupan dunia, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Hadid ayat 20:<br \/>\ni\u2018lam\u00fb annamal-\u1e25ay\u00e2tud-dun-y\u00e2 la\u2018ibuw wa lahwuw wa z\u00eenatuw wa taf\u00e2khurum bainakum wa tak\u00e2tsurun fil-amw\u00e2li wal-aul\u00e2d\u2026<br \/>\n\u201cKehidupan dunia hanyalah permainan, kelengahan, perhiasan, saling bermegah-megahan, dan berlomba-lomba dalam banyaknya harta dan anak keturunan. (Perumpamaannya seperti) hujan yang tanamannya mengagumkan para petani, lalu mengering, kamu lihat menguning, kemudian hancur.\u201d<\/p>\n<p>Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa ayat ini menggambarkan lima fase kehidupan manusia di dunia: masa kanak-kanak (0\u201310 tahun) diwarnai permainan, masa remaja (10\u201320 tahun) oleh hura-hura, masa dewasa (20\u201330 tahun) dengan berhias diri, masa paruh baya (30\u201340 tahun) dengan saling berbangga diri, dan masa selanjutnya (40 tahun ke atas) dengan berbangga atas kelimpahan nikmat dan keturunan.<\/p>\n<p>Semua fase ini, jika tidak diarahkan dengan kesadaran tauhid, hanya akan menjerumuskan manusia ke dalam kesombongan duniawi yang memperdaya. Sebagaimana penutup ayat tersebut:<br \/>\n\u201cKehidupan dunia (bagi orang-orang yang lengah) hanyalah kesenangan yang memperdaya.\u201d<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kelas Tafsir Maudhu\u2018i Islamic Cultural Centre (ICC) Jakarta pada Kamis, 16 Oktober 2025 menghadirkan Syaikh Mohammad Sharifani sebagai pembicara dengan penerjemahan oleh Ustaz Hafidh Alkaf. Kajian kali ini berfokus pada tema kesombongan (al-kibr) \u2014 salah satu sifat tercela yang menyebabkan kejatuhan Iblis dan menjadi sumber berbagai penyakit hati dalam diri manusia. Syaikh Mohammad Sharifani membuka [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":18751,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"give_campaign_id":0,"footnotes":""},"categories":[14],"tags":[],"class_list":["post-18748","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/restoration\/v2r5\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18748","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/restoration\/v2r5\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/restoration\/v2r5\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/restoration\/v2r5\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/restoration\/v2r5\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=18748"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/restoration\/v2r5\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18748\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":18750,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/restoration\/v2r5\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18748\/revisions\/18750"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/restoration\/v2r5\/wp-json\/wp\/v2\/media\/18751"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/restoration\/v2r5\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=18748"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/restoration\/v2r5\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=18748"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ex-server-speedypage-transit.aliridof.com\/icc\/restoration\/v2r5\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=18748"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}